Bawang merah, Bawang Putih

Sewaktu aku kecil, aku sering nginep di rumah tetanggaku. Namanya made Ripah. Tetanggaku itu suaminya seorang guru. Saat suaminya bertugas ke luar kota, aku dengan kaka ku selalu di ajak tidur di rumahnya. Kebetulan anak-anaknya pun belajar di luar kota. Yang paling aku suka saat menginap di rumahnya adalah, saat dia bercerita berbagai dongeng. Waktu itu, di kampung ku belum ada TV. Listrik pun belum ada lagi. Kami hanya menggunakan damar, dari minyak tanah. Berbagai dongeng made Ripah selalu ceritakan dari Bawang merah Bawang putih, Timun mas, Cinderelela, Ande-ande lumut, Hansel & Gratel dan banyak lagi aku pun sudah banyak yang lupa. Tak jarang, made Ripah terlena sebelum menghabiskan jalan ceritanya. Aku dan kaka ku yang terpaku oleh ceritanya kadang selalu membangunkan, mengoyang-goyangkan bahunya ( ” made-made, dereng telas ceritane ” ). Dia pun terkejut, tapi sama sekali gak marah. ” sampai mana tadi...?”. made Ripah pun melanjutkan kembali cerita. Tidak hanya cerita di malam hari, terkadang saat aku menaminya pergi ke kebun untuk menuai cabe pun made Ripah selalu mendongeng. Itulah yang aku suka. Ceritanya pun kadang berulang-ulang tapi, aku tidak bosan untuk mendengar. Begitu kuatnya imaginasi kekanak-kanakkan ku saat itu, aku selalu membayangkan bagaimana rupa bawang merah, rupa bawang putih juga ibu tirinya. Tentunya, tak pernah terbayang sedikitpun rupa mereka seperti Revalina S Temat ataupun Nia Ramadhani. Yang paling aku penasaran wajah cindrelela, tentunya dia sangat cantik. Walaupun Bawang merah, Bawang putih sudah di sinetronkan, aku tidak begitu minat untuk menontonnya. Terlalu berlebihan jalan ceritanya, banyak yang gak masuk akal. Buatku saat medengar dongeng itu lebih mengasyikan. Tapi, sinetron itu ternyata sukses di pasaran. Terbukti banyak orang yang meminatinya. Pun saat sinetron itu di tayangkan di Malaysia, ramai orang yang menonton, ramai orang yang minat walaupun tidak sedikit juga yang mengutuk. Menurut penyelidikan, dari 25 juta rakyat Malaysia yang menonton sinetron ini sebanyak 3 juta lebih. Banyak yang protes untuk segera menghentikan penayangan sinetron itu, yang lebih parahnya sampai masuk ke parlimen. Kononya, kwalitas pekerja banyak yang terjejas. Jam tayang sinetron itu jam tengah tiga sore, saat jam tayang itulah ramai para pekerja yang meninggalkan tempat kerjanya. Semata-mata hanya untuk menonton sinetron. Semakin banyak orang yang memprotes untuk menghentikan penayangannya, semakin banyak juga yang penasaran untuk menonton cerita itu. Akhirnya, sampai ending juga sinetron tu. Saat-saat sinetron ini akan habis, di edarkan juga dalam bentuk CD. Yang lebih mengejutkan, saat aku membaca surat kabar. Ada seorang ibu yang di penjara gara-gara mencuri satu paket CD bawang merah bawang putih di sebuah supermarket. Kenapa ibu itu sampai mencuri CD tersebut...??? karena penasaran, ibu tersebut gak bisa lihat episode terakhir bawang merah bawang putih!!!. Masya Allah, Inalillah..

0 komentar:

Poskan Komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P