Kenapa TKW Semakin Nekad...??? Suaranya sedu-sedan ketika menceritakan masalah yang di hadapinya. Sesekali , isak tangisnya terdengar bercampur baur antara isakan dan dan cerita, semakin lama suara itu semakin perlahan justeru tangisnya yang semakin kuat, setelah beberapa lama dia baru boleh mengendalikan emosi dan terdiamlah kita. Aku pun bingung mo ngomong apa...??? Beberapa saat, kita terdiam. Aku masih memegang gagang telepon, sesekali mengeluh perlahan membayangkan berbagai ceritanya. ”Saya udah gak sabar mba Ana, saya kerja di sini hendak menggadaikan tenaga, bukan menggadaikan perasaan saya”. Begitulah antara luahannya. ”Yang paling sakit, saat dia kutuk saya tak selamat, pembantu rumah tak tahu diri”. Itulah antara luahan teman ku. Sesama pembantu rumah tangga, aku merasa tersinggung juga denger kata-kata kayak gitu. Aku bayangin kalo posisi aku ada ama dia, tak terbayang aku mau buat apa. Mungkin menangis tiap hari yang aku lakukan. Temanku, bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sudah hampir dua tahun dia bekerja di Malaysia, Sama saja dengan ku. Awal mulanya, dia baik-baik saja dengan majikan dia. Bahkan, sampai sekarang pun dia dengan majikannya masih baik. Yang jadi masalah, saat ibu mertua majikan perempuan tinggal serumah dengan anaknya. Pada awalnya ibu mertuanya itu ok, gak ada masalah dengan temen ku tersebut. Entah penyakit tua atau apa, lama kelamaan ibu mertuanya itu berkelakuan tidak menyenangkan. Apa yang di buat oleh temen saya semuanya tidak betul. Apa yang di kerjakannya selalu di laporkan kepada majikan temen ku. Kebetulan mereka tidur satu kamar. Setiap temenku buka kipas, orang tu selalu gak boleh. Katanya, dinginlah dan berbagai helah lagi. Karena panas, temenku pun tidur di lantai. Tapi, dia pun marah-marah alasannya, susah mau lewatlah apalah. Tambah setres aja temenku ni. Hujung minggu, nenek tu kononnya minta di masakan ketan. Karena sibuk temanku tidak sempat memasak. Esoknya, nenek tu marah gak tahu sebab. Tong sampah rusak, di tuduhnya temen saya yang rusakkan. Piring pecah dikit nyangka temenku juga. Dari situlah dia mulai memaki barbagai kata yang menyakitkan hati. Majikan temenku berpesan,kalo nenek tuh marah-marah jangan di jawab. Maka, diam sajalah temenku itu. Karena dah tak sabar berceritalah ia semuanya denganku. Aku cadangkan, gimana kalo pulang aja..?? kalo emang betul-betul dah gak tahan. Temenku bilang, majikannya gak akan bagi karena kontrak dia masih ada beberapa bulan lagi dan majikannya itu gak mau rugi. Esoknya, aku pun telfon dia. Suaranya masih sayu. Aku pun tanya tentang perkembangan masalahnya. Tanpa berlengah, dia pun bercerita. Tadi malam majikannya menyidang dia. Terus tanya apa yang temanku mahukan..?? Dengan tegas temanku menjawab ingin pulang. Dengar pulang saja majikannya tuh dah takut katanya, gimana engga bentar lagi dia mau naik Haji. Lagian sekarang, orang Malaysia susah mau cari pembantu Rumah tangga dari Indonesia. Mereka pun mencari jalan penyelesaiannya... Akhirnya mereka sepakat, kalo temanku itu tidurnya mo pisah dari nenek tu. Temanku itu, tinggal di sebuah flat kamarnya Cuma ada tiga. Kamar satu lagi nanti, ada orang tuanya majikan perempuan. Temenku di tawarkan tidur ama dia tapi, dia menolak. Akhirnya, mereka membersihkan ruangan yang di belakang lebih tepatnya gudang. Mereka berkemas sampai pagi... Majikan perempuan berpesan sama temenku, jangan menceritakan masalahnya sampai ke kampung. Nanti, orang sangka awak kena dera pula. Sambil memeluk temanku. Saat, ngobrol kayak gitu temenku masih emosional. Dia pun sesekali masih terisak-isak. Aku hanya bisa menenangkannya. Sampai-sampai terlontar kata yang aku tak sangka dia akan mengeluarkan kata-kata itu. ”Saya pun boleh buat kayak orang lain buat mba ana tapi, saya masih sedar”. Ucapnya. Terbayang di benak ku, beberapa kasus TKW yang mencedarakan majikannya. Juga kasus pembantu yang lompat dari Kondominium. Walaupun tak sedikit juga majikan yang mendera pembantunya. Dulu, waktu aku awal-awal datang ada seorang TKW yang di dakwa di pengadilan karena ingin meracun majikannya. Astagfirullahaladzim... Tapi, alhamdulialh temanku tidak melakukanya. ”Kamu masih sanggup?” tanyaku. ”Biarlah mba Ana, empat bulan lagi Insya Allah aku kuat”. Semoga saja.

0 komentar:

Poskan Komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P