Baju Lebaran

Berapa helaikah baju lebaran anda kemarin?. Atau tidak ada sama sekali...??? Lebaran, identik dengan baju baru, sandal baru, rumah cat baru dan semuanya yang baru. Meski tidak semua orang boleh melakukannya tapi, tak jarang juga yang menjadikan perkara ini menjadi ”wajib.” Padahal, bukan pada baju baru, sandal baru, horden baru ataupun rumah yang di cat baru. Hakikatnya pada hati kita, adakah kita betul-betul menjadi insan yang ”baru” di Idul Fitri?. Semoga Idul Fitri kali ini kita di jadikan sebagai insan Rabbani, bukan insan yang Ramadhani. Amin Ngomong-ngomong baju lebaran, jadi inget waktu kecil. Baju baru menjadi wajib dan di haruskan!, kalo tidak alamat menangis semalaman... Waktu itu, Ibu dan almarhum bapak ku merantau dan aku di tinggal dengan nenek. Menjelang hari raya tiba, orang tuaku ku belum pulang kampung sampai lah tiba waktu mahgrib. Waktu itu aku kecil lagi, mungkin usia lima tahun. Aku pun belum mempunya adik lagi, hanya ada kaka. Menjelang malam, aku dan kaka ku mulai menangis. Nenek, dan saudaraku mendiamkan kita tentunya dengan janji-janji kalo esok kita akan di belikan baju. Aku juga ingat, tetangga ku pun turut mendiamkan kita. Tunggu punya tunggu, akhirnya orang tuaku pulang juga. Tapi sungguh malang, orang tuaku tidak membawa sehelai baju baru pun untuk kita. Lagi menangislah kita, semakin kuat dan semakin hiba. Aku tak bisa bayangkan bagaimana perasaan orang tuaku saat itu. Tapi, orang tuaku menjanjikan akan membelikan kita baju lebaran esok harinya. Sedikit terhibur, walaupun aku tidak yakin orang tuaku akan membelikan baju baru. Aku berfikir tidak mungkin, karena esok sudah hari lebaran. Tapi, sebaik saja aku bangun tidur orang tuaku sudah siap hendak pergi ke pasar ( aku mengira hendak ke pasar ). Segera mereka memandikan aku dan menyiapkan untuk pergi. Orang tuaku hanya mengajak aku, sementara kaka ku di tinggal di rumah. Bukan dekat jarak yang akan kami tuju. Dari Karang sari ke Moga. Di karenakan hari lebaran, kendaraan umum pun tak ada. Aku masih ingat, mereka bergantian menggendongku. Bukan dekat perjalanan yang akan kami tuju, berkilo-kilo jalan yang harus kami tempuh. Tapi, ku lihat ke dua orang tuaku tidak sedikit pun mengeluh. Selama dalam perjalanan, kami banyak melewati kampung dan masjid di situ sudah ramai orang yang hendak melaksanakan shalat idul fitri, Banyak yang memperhatikan kami. Orang tuaku terus berjalan, hingga akhirnya sampailah kita ke Moga, di situ kami tidak menuju ke pasar. Kami menuju ke sebuah rumah, aku tidak tahu pasti bagaimana orang tuaku mengetahui rumah orang tersebut. Mungkin sudah tahu sejak lama. Hari sudah siang, di luar rumah tersebut anak-anak sudah ramai yang berkeliling dengan baju barunya. Terjadi tawar menawar antara orang tuaku dan penjual baju. Aku tak ingat pasti berapa orangtuaku harus membayar baju lebaranku. Yang aku ingat, baju lebaran ku sehelai baju putih kosong dengan rok payung berwarna pink. Gembira bukan main saat itu, akhirnya dapat juga aku memakai baju lebaran. Aku juga tidak ingat pasti baju yang untuk kaka ku. Tidak lama, kami pun pulang. Mobil sudah ada, jadi kami tidak jalan kaki lagi. Sungguh, kalau ku ingat peristiwa ini betapa besarnya kasih sayang orang tua. Mereka rela berkorban, jalan yang kita lewati bukan dekat jauh bahkan sangat jauh. Tak salah ketika ada sebuah pepatah bilang, ” Kasih orang tua sepanjang jalan, kasih anak sepanjang ingatan. ” Ya Allah, semoga saja aku bukan termasuk dari golongan itu. Ya Allah, jadikan aku seorang anak yang selalu mengingati jasa orang tua juga jadikan aku anak yang sholehah untuk orang tuaku, yang mampu mendoakan mereka, yang mampu mensedekahkan sebagian rizki ku atas nama mereka juga jadikanlah aku seorang anak yang tidak menyusahkan mereka. Amiiinn...

0 komentar:

Poskan Komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P