Jadikan Masalah Sebagai Peluang

Jadikan masalah sebagai peluang, itulah kata-kata motivasi yang aku dapatkan dari buku motivasi terbaruku. Tentunya, dari penulis yang gak asing lagi buatku, HM. Tuah Iskandar al-Haj. Sebetulnya, dari buku-buku motivasi terdahulu pun sudah ada kata-kata itu tapi, aku tidak begitu mengendahkannya. Entah kenapa aku suka sekali dengan buku-buku motivasi beliau, Mungkin karena penyampaiannya dan gaya bahasanya yang cukup nyantai… Enak di baca dan gak ngebosenin. Walaupun karya-karya Abdullah Al-Qarni, Arie Ginanjar, Dato’ Dr. Fadilah Kamsah dan yang lainnya tidak kalah hebatnya. 

Dalam hidup ini, kita tak lepas dari yang namanya masalah. Walaupun kelihatannya biasa saja dan tidak ada apa-apa, bukan tidak mungkin ianya menyimpan masalah yang terpendam. Jadikan masalah sebagai peluang, jangan jadikan masalah sebagai sebagai masalah ujarnya. Aku, sebagai seorang pembantu, selalu merasa menghadapi masalah. Bahkan, yang bukan masalah pun aku buat jadi masalah, itulah yang bikin pening kepala, lemas tak bermaya, hidup jadi gak tentram, timbulah rasa malas untuk bekerja. 

Apa masalah ku…??? Hmmm… sederhana saja, dengan statusku sebagai pembantu rumah tangga rasa rendah diri, merasa miskin dan tak jarang yang menganggap bodoh kepada statusku sebagai pembantu, itulah masalah ku. 

Lihatlah dialog ini 

”Hallo” Aku mengangkat telpon. 

”Assalamualikum…” Ujar suara di seberang. 

”Waalikumussalam…” Jawabku. 

”Datin ade…???” Tanyanya lagi. 

”Datin tak de, dia tengah keluar. Dengan sapa saya bercakap” Aku balik bertanya. Dan dia sebutlah nama dan tujuan dia menelfon, aku pun dah lupa namanya. Dia menanyakan alamat rumah, karena hendak mengantar undangan nikah. Dalam dia bertanya, aku cari-carilah alamat karena, aku sendri tidak hapal alamat rumah. Sedikit tergagap juga suaraku. 

”Ni sape ye…??? Tannyanya lagi. 

”Saye pembantu rumah datin” 

”ooo… Ade sape-sape lagi tak kat rumah…???” Mendengar suara pembantu, langsung saja nada suaranya berubah. Seolah-olah merendahkan statusku.

”Ade, anak die tapi ada dalam bilik air” jawabku, aku mulai kesal juga. Gimana enggak, dia dah mulai gak ramah.

”tak pelah, nanti saye call balik.” Saya menghempaskan gagang telfon, kesal!. Beberapa kali aku mengalami kejadian ini. 

Dan, lihatlah dialog ini, yang ini lain. Suatu ketika, aku pergi mencari money changer. Biasanya pergi dengan ibu tapi, karena ibu ada di luar kota aku pergi sendirian. Ada anak majikanku, suruh nemenin gak mau. Walaupun gak tahu di mana money changer terdekat aku nekat pergi aja. Tempat yang ku tuju adalah Jusco Wangsa Maju. Walaupun nyasar-nyasar, akhirnya ketemu juga tuh money changer. Tapi, apes banget... di situ gak bisa transfer uang ke Indonesia. Kemudian petugas tuh menunjukan tempat mengirim uang antarbangsa tepat di depan money changer berkenaan. Hualah, dalam hati mah takut juga. Aku gak pernah kirim uang dari Bank. 

Tertulis di situ, CIMB Bank. Akhirnya aku masuk juga, terus nanya-nanya gimana kalo mo kirim uang ke Indonesia. Setelah di kasih penjelasan, aku mengisi formulir Western Union. Waktu lagi ngisi formulir, petugas bank duduk di depan aku. Umurnya, kurang lebih empat puluh tahun, pake kacamata minus. 

”Nak kirim kemane?” Petugas itu bertanya

”Indonesia” Jawabku, tanpa memandang kepada petugas bank. Khusuk membaca satu persatu formulir 

”Orang sini ke orang Indonesia” Dia bertanya lagi

”Indonesia” Jawabku lagi. 

”Belajar...???” Ulangnya. 

”Tak lah, kerja” Aku mulai mengangkat muka melihat wajahnya. 

”Kerja kat mane?.” 

Waduh, banyak tanya juga orang ni, ujarku dalam hati. Aku tidak langsung menjawab pertanyaanya. Melanjutkan mengisi formulir, gak lama setelah itu baru jawab pertanyaannya. ”Pembantu rumah” jawabku pantas. Sepertinya, dia tidak percaya dengan jawabanku, kemudian dia mengambil kad pengenalan pembantu yang ku letakan di atas formulir. Membacanya, sesekali ia melihat ke arahku.Semakin aku jawab, semakin banyak soalan yang di ajukan. Terus aku protes ”Kenapa orang selalu pandang rendah pembantu?”

”Bukan pandang rendah, awak tak macam pembantu” (aku gak ingat pasti dia ngomong apa, yang aku ingat dari gaya awak bicara, cara berpakaian) Mungkin, karena aku pake kerudung kali. Terus, aku tanya soalan lagi.

”Di rumah Encik, ada orang gaji” 

”Ada” Jawab dia 

”Orang mana...???” Tanyaku lagi

”Orang Solo”. Petugas bank pun tanya, dah berapa lama aku tinggal di Malaysia. Entah perbualan apalagi, aku pun sudah tidak mengingatnya lagi. Kemudian petugas bank memberikan pengarahan lagi, gimana caranya mengambil uang. Dan, tempat-tempat yang bisa di tuju di Indonesia diantaranya, Bank Mandiri, Bank BRI, Kantor Pos dan entah apalagi. Setelah semuanya siap, aku pun segera beranjak pulang, karena hari sudah semakin petang. 

Sebaik keluar dari bank, dalam perjalanan pulang, Aku tertanya-tanya dalam hati. ”Pembantu, pembantu begitu rendahkah statusmu...???” Ada seorang teman ku, sesama pembantu pernah bilang, kalo kerja pembantu ini gak jauh beda ama PSK, Cuma beda sedikit aja. Tapi, aku membantahnya habis-habisan. Dia pun bilang, temen-temennya di kampung gak ada yang tahu kalo di Malaysia sini dia bekerja sebagai pembantu, ”aku gak mau di permalukan gara-gara pekerjaanku.” Waktu aku tanya kenapa gak kasih tahu ama temen-temennya. 

Buatku, jadi pembantu tidak memalukan. Cuma yah, itu tadi banyak yang memandang rendah status pembantu, memandang pembantu itu bodoh dan itu, menjadikan aku seorang yang rendah diri. Di sinilah masalahku, dan aku ingin menjadikannya itu sebuah peluang. Caranya...??? Baca buku, tidak hanya buku, apa pun harus kita baca dan yang paling utama adalah membaca Al-qur’an. Karena itu adalah sumber pedoman hidup. Ingat kata temen-temen di rumah dunia, ”Banyak baca banyak tahu, banyak tahu, jangan sok tahu” Itu ku jadikan bekalan. Tidak sekedar baca buku, bacalah alam sekitar terkadang apa yang ku kerjakan pun ku jadikan bahan untuk renungan dan falsafah hidup. Gombak, 29 Oktober 2007 00:07

4 komentar:

  1. Mungkin bukan "pembantu"nya yg bikin mereka malu, Mba. Tapi citra TKI dan TKW yg selalu di blow up di negeri ini kebanyakan yg jelek-jelek saja sehingga membuat banyak orang beranggapan miring. Saya hampir tidak pernah mendengar berita ttg TKI dan TKW yg berprestasi. Oh iya, dulu sebelum ketemu Mba Anaz, ada 1 yg saya dengar. Dia TKW yg bekerja di Hongkong dan sekarang jadi penulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih, Mbak Fitri sudah singgah. Ini tulisan lama hehehe

      Hapus
  2. Anazkia, Maafkan masyarakat kami kerana memandang rendah pada "pembantu Rumah". Walaupun dah maju, kerja bagus, tapi pemikiran mereka masih jumud.
    Sy tak kesal kenal sama kamuuuuuu

    -brendo brenda-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Brendaaaa...

      aaaa...
      Terima kasih sudah singgah ke blog saya :)

      Hapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P