Kesuksesan Itu, Relatif

Terkadang, dalam diam aku berfikir, dalam berjalan aku memikir. Apa arti kesuksesan buatku...??? Entahlah.... Aku pun tidak tahu pasti. Di usiaku yang sudah seperempat abad ini, sering tertanya-tanya juga, apa yang sudah aku lakukan dan apa yang paling aku banggakan?. Kalau ngeliat profil orang yang seumuran denganku, mereka dah sukses terbersit juga rasa iri di hati. Pertanyaan nakal pun sering timbul, ”Kenapa aku tidak seperti dia yah...???” Dan banyak lagi pertanyaan kenapa dan mengapa. Kalau diikutkan, kita jadi kufur nikmat, merasa Allah itu tidak adil, tidak bernasib baik dan macam-macam lagi. Dan aku harus cepat-cepat mengusir pertanyaan-pertanyaan ini. 

Anak menantu majikan aku, usianya lebih tua setahun dariku. Dia sudah punya mobil, kuliah lagi ambil master. Waktu ngobrol ama dia, tercetuslah dari mulutku, ”Ka Irina hebat yah, dah banyak buat hal sedang Eli, masih macam ni je” Ujarku. Terus dia menyahut, ”Kita lain... (terusnya lupa dia ngomong apa...???). Tapi, dari sini aku bisa ambil pelajaran berharga. Aku di lahirkan dari sebuah keluarga sederhana, bahkan boleh di bilang miskin. Di salah satu desa di Kabupaten Pemalang, tepatnya di Karangsari. Almarhum bapakku, seorang kuli bangunan, sedang ibuku, seorang ibu rumah tangga. 

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ibuku juga nyambi kerja sebagai pembantu. Masa kecilku, aku habiskan di Kampung sampailah usia 13 tahun. Setelah lulus SD, aku berniat melanjutkan sekolah tapi, karena orang tuaku terlambat datang dari Cilegon akhirnya aku tidak meneruskan sekolah. Untuk mengisi waktu luang, aku ikut nguli dengan budeku. Bayarannya tidak begitu besar, kalau aku tidak salah hanya Rp.700, dan itu pun dibayar seminggu sekali, kalo mandornya gak ada kadang sampai sepuluh hari. Melihat sahabat-sahabat dekatku pergi sekolah, dalam hati teringin juga tapi, aku pendam dalam-dalam keinginan itu. Yang paling aku sedih, kalau kebetulan aku pulang dari sawah itu ketemu temen-temen yang abis pulang sekolah SMP, rasa malu pun ada. 

Tidak lama setelah itu, budeku pergi ke Tangerang kerja sebagai pembantu. Aku dan kaka ku memang selalu tinggal dengan nenek sejak kecil. Orang tua ku merantau di Cilegon, sebelum di Cilegon merantau di Tegal. Beberapa bulan di Tangerang, budeku pulang dengan majikannya. Rupa-rupanya kepulangannya hendak membawaku kerja ke Tangerang, kerja satu rumah dengan budeku. Aku gembira, walaupun Cuma bekerja sebagai pembantu. Dalam benakku, aku gembira hendak pergi ke kota.

Di Tangerang, aku tidak lama mungkin sekitar empat bulan. Karena sudah dekat dengan Cilegon, aku jadi tidak kerasan. Aku ingin tinggal dengan orang tuaku, dari situ aku mulai sering menangis dan akhirnya, aku pulang ke Cilegon. Sementara, budeku masih bertahan di Tangerang. Di Cilegon, aku juga tidak lama. Setelah itu, majikan ibuku memberikan penawaran supaya aku tinggal di Pamulang, nanti mau di suruh kursus jahit. Aku pun akhirnya pergi ke Pamulang. Di Pamulang pun tidak lama, aku kembali lagi ke cilegon.

Untuk yang kedua kalinya aku pergi ke Pamulang, kerja dengan adik majikanku yang sebelumnya. Waktu itu, aku mau di sekolahin di salah satu SMP terdekat. Tapi, akhirnya aku menolak karena orang tuaku sibuk dan kebetulan, kakakku pun sudah tinggal di Cilegon. Kaka ku, hanya sempat menamatkan pendidikannya hanya sampai SMP. Akhirnya aku pulang ke Cilegon. Tidak terasa, sudah dua tahun aku lulus dari sekolah SD. Keinginan untuk bersekolah masih kupendam. Dan Alhamdulilah aku bersyukur kepada Allah, di umurku yang masuk ke 15 tahun aku baru masuk sekolah Mts. 

Aku masih ingat, dari mana uang pendaftaran, uang gaji kakakku. Kakaku, menolong mencuci baju orang yang ngekos di rumah majikan ibu ku (Mba, matur nuwun pisan ya, semoga amalan mu berkah di sisi Allah, dan Allah karuniakan Rahmat-Nya). Pergi sekolah, menjadi rutinitas yang menyenangkan buatku. Akhirnya, bisa juga aku menikmati alam sekolah lagi. Tidak lama aku sekolah, coba’an Allah mulai datang, kekurangan ekonomi, menjadi puncanya. Akhirnya aku ikut dengan orang yang sebelumnya ngontrak di rumah majikan ku. Aku dengan kakakku, sementara kedua orang tuaku, dan kedua adik ku ngontrak. 

Di sinilah mulai kehidupan baru buatku. Kakaku tugasnya, mencuci baju, gosok baju dan kemas rumah. Sementara aku memasak dan kadang menolong kakakku mengemas rumah. Akhirnya, selain belajar, aku juga merangkap jadi seorang pembantu. Awalnya, susah juga karena aku belum begitu pinter masak. Tapi, alhamdulilah semuanya baik-baik aja. Dua tahun setelah itu, kalo tidak salah kakaku menikah. Aku sendirian, sedih juga tapi, aku harus meneruskan perjuanganku. Waktu itu, aku baru saja kelas 3 Mts. Majikanku mencari orang untuk mencuci baju, gosok dan kemas rumah. Sedang aku masih dapat tugas seperti awal, memasak. 

Sampai kelas 2 Aliyah, aku nyambi kerja dan sekolah. Terus, aku ikut kakaku sampai aku lulus Aliyah. Setelah lulus Aliyah, temen-temen sibuk nyari kerja aku pun sibuk juga nyari kerja. Sebenernya, sudah ada penawaran jadi guru pendamping di sebuah sekolah swasta. Aku berminat tapi, ada juga penawaran jadi pembantu Rumah Tangga. Ibuku, kenal dengan orang tersebut. Kakak dan ibuku memberi nasihat supaya aku ambil kerja sebagai pembantu. Sebenarnya, dalam hati aku berontak aku ingin kerja yang lain juga tidak hanya sebagai pembantu saja. 

Tapi, akhirnya aku akur... Dan, sampai lah aku hendak pergi ke Malaysia aku tetap bekerja sebagai pembantu. Lalu, di manakah arti kesuksesan buat ku...??? Sederhana saja, buatku sedikit kesuksesan sudah aku perolehi, bukan berarti, aku tidak menginginkan kehidupan yang lebih baik lagi. Ingat dengan sms seorang sahabat, ”Bersyukur dengan apa yang di beri dan bersabar apabila di uji.” 

Gombak, 30 Oktober 2007 01:05

1 komentar:

  1. Cool .. keren .. menyentuh tapi 'ga cengeng .. optimis .. PD abis .. postingan yg top banget .. 'GA KAYA SINETRON MURAHAN .. keep posting 'mba Anazkia

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P