Komentar Saya Sebagai Pembantu

Kisah ini saya baca di sebuah majalah mingguan wanita pada kolom Ya Tuhan. Membaca kisah ini, saya rasa majikan itu sudah begitu tertekan. Tapi, jujur aja saya salut ama keberaniannya menceritakan semua keburukannya. Termasuk memukul dan memakinya. Saya yakin, tidak semua majikan berani berbuat seperti itu. Kebanyakan majikan, merasa dirinyalah yang paling benar dan pembantu selalu salah. Sebagai pembantu, saya akui memang banyak latar belakang kami yang tidak bersekolah, tidak mengenyam pendidikan tinggi bahkan ada sebagaiannya yang tidak pandai baca dan tulis di tambah lagi dengan tempat asalnya yang berasal dari Kampung. Bukan saya hendak merendahkan orang Kampung. Saya pun dari kampung juga dan saya jelas-jelas orang Kampung. Awal mula saya bekerja sebagai pembantu, saat usia saya baru 13 tahun. Waktu itu, saya baru lulus SD (Derjah Rendah). Di kampung saya, belum ada listrik, masak pake kayu bakar, pokoknya ndesit banget dech... Tapi, saya bangga di lahirkan sebagai anak Kampung. Setibanya di Tangerang (pertama kali saya kerja sebagai pembantu di Tangerang) di situ khan dah kota menurutku. Perlengkapan semuanya ada. Listrik ada, TV ada, Kulkas pun ada pokoke, lengkap banget dech... Aku pun jadi excited begete (kalo kata orang malaysianya, teruja). Menurutku, di situlah mulai terjadi keterkejutan budaya (ari kata bahasa sosiologi mah kalo tidak salah teh culture shock). Bayangkan, dari di kampung yang nggak ada fasilitas apa-apa, tiba-tiba datang ke tempat yang penuh dengan berbagai fasilitas. Tentunya, kalau majikan tidak mengarahkan kita dengan betul, pembantu akan berleha-leha. Pengen nonton Tv aja dan gak mau buat kerja. Di sinilah di butuhkan kerja sama antara pembantu dan majikan. Pembantu janganlah segan bertanya kalo ada masalah yang tidak tahu dan kurang paham. Sebagai majikan pula, ajarlah mereka dengan sabar. Majikan, tentunya memiliki taraf pendidikan yang lebih tinggi. Jangan menyamakan pola pikir majikan dengan pembatu. Jangan anggap mereka sekali ajar langsung faham, ingatlah bahwa kebanyakn dari pembantu adalah orang putus sekolah. Walaupun saya tidak memungkiri juga ada sebagaian pembantu yang mengenyam sekolah sampai SMP bahkan SMU. Dan tidak sedikit juga pembantu yang tidak berpendidikan tapi, mampu membuat kerja dengan bagus. Dalam kasus majikan tadi, sepertinya majikan tidak mengajar langsung kepada Maya dan Maya juga jenis yang malas bertanya sepertinya. Sebetulnya, masih banyak kasus-kasus seperti di atas. Dan saya rasa, ini menjadi tugas para agent pembantu di Indonesia juga kerjasama antara ke dua-dua bangsa. Agent di Indonesia, janganlah hendak meraih untung mereka semahunya saja mengambil orang untuk di jadikan TKW. Selidiki dulu latar belakangnya. Tapi, saya rasa ini mustahil (Insya Allah, saya akan tulis dalam judul lain...). Majikan juga, ambilah pembantu dari agent yang rasmi. Ingatlah, pembantu rumah, bukan saja menyelesaikan kerja-kerja rumah saja. Tapi, ia akan tinggal di rumah dengan anda, menjaga harta anda bahkan menjaga anak anda. Kenali mereka, selami perasaan mereka kalolah anda tidak tahu latar belakang mereka tanyalah sebaik mereka tinggal dengan anda.

0 komentar:

Poskan Komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P