Pertemuan Adalah Awal Dari Perpisahan

Terbujur mayat seorang lelaki, di sebelah kanan dan kirinya ada beberapa orang yang sedang membacakan Surah Yassin untuknya. Sementara tak jauh dari situ seorang wanita menangis pilu, memeluk kakanya. Aku terpaku menyaksikan adegan drama kehidupan itu. Sedih dan pilu menggayut di kalbu. Tak terasa aku pun menitikan air mata, sejak awal masuk ke rumah itu. Aku beranjak menuju ke bagian depan ruang tamu. Kemudian ku teliti mayat lelaki itu, ku perhatikan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Walaupun tak kuasa menahan kesedihan ku kuatkan juga untuk melihat mayat itu. Benar saja, aku mengenali mayat itu. Kemarin, lelaki itu baru saja menelfonku dan mengabarkan akan pulang hari ini, Tapi, apa yang ku lihat lain dengan apa yang ku hadapi sekarang. Mayat itu adalah bapak ku dan wanita yang manangis pilu di ujung sana adalah ibuku. Sedih tak terkata saat itu. Dulu, kalo bapakku pergi merantau aku boleh menjumpainya lagi. Tapi sekarang, bapakku pergi untuk selama-lamanya. Ajal, jodoh, rizki betul-betul kuasa Allah. Aku tidak menyangka kemarin, aku mendengar suara bapaku untuk yang terakhir kalinya. Walaupun kejadian itu sudah hampir tujuh tahun berlalu aku masih selalu ingat dan ada hikmah di sebalik itu. Aku selalu menanamkan dalam hati bahwa, apa yang kita miliki tiada yang kekal. Pada waktunya, jika Allah hendak mengambil kembali apa yang menjadi Hak-Nya kita pun harus ikhlas. Pun dalam berteman, adakalanya aku selalu mengandaikan bahwa pertemuan itu adalah awal dari perpisahan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P