Perumpamaan Hidup

Seperti biasanya, aku sering di ajak pergi jalan oleh majikan ku. Terkadang untuk pergi ceramah, pergi pengajian ataupun saat dia pergi ke Masjid Negara sebagai seorang kounselor. Beberapa hari yang lalu, ibu (aku panggil ibu dengan majikanku) mengajakku menghantar kerupuk ke Kuala Lumpur di berbagai tempat. Seperti tahun sebelumnya setiap hendak lebaran kami membuat kerupuk dan menghantarnya ke kawan-kawan majikan ku untuk di edarkan lagi. Ada cerita lucu saat aku ikut menghantarkan kerupuk. Mana tidaknya, untuk mempercepat perjalanan, ibu tidak mencari parkir. Ibu hanya berhenti di depan kantor. Kemudian dia menyuruh ku duduk di tempat kemudi. Di tempat yang ke dua pun demikian, aku di suruhnya duduk di tempat kemudi. Rasa lucu juga saat aku duduk di depan stir mobil. Mana tidaknya aku sama sekali tidak pandai menyetir mobil, saat duduk di depan stir rasa canggung pun ada. Aku juga ngebayangin, gimana kalo tiba-tiba ada temanku, mungkin dia akan mentertawakan ku. Untuk menghilangkan jenuh, ku buka-buka tas ku. Mencari sesuatu yang bisa menghilangkan bosan. Aku selalu menyelitkan buku di dalam tas, kemanapun aku pergi biar kalo lagi bosan gini ada yang bisa baca . Tapi, aku berubah fikiran kebetulan aku juga abis beli kartu lebaran untuk di kirim ke ortu dan temen. Akhirnya ku tulis-tulis aja di kartu lebaran. Sesekali aku menengok kanan-kiri menunggu ibu cepat sampai. Kebetulan waktu itu adalah jam istirahat. Jadi, banyak orang yang lalu lalang di tepi jalan. Tak sedikit pula yang melirik ke arahku. Aku jadi merasa semakin lucu. Aku ngebayangin gimana kalo tiba-tiba ada orang atau polisi yang menyuruh ku keluar dari area itu. Tentunya, aku gak bisa ngapa-ngapain. Mungkin malu pun ada, gak bisa nyetir ko ada di depan kemudi. Sampai sekarang, aku kalo ingat kejadian itu masih tersenyum sendiri. Jadi ingat ama buku motivasinya HM. Tuah, dia mengibaratkan keberhasilan hidup ibarat seorang pilot yang mengendalikan sebuah kapal terbang. Aku pun jadi terfikir dan membuat pengandaian. Sama juga orang yang mengendarai mobil, bisa di jadikan falsafah hidup. Kehidupan kita ibarat mengendarai sebuah mobil, mencari tempat yang akan kita tuju. Yang pertama tentunya kita harus pandai nyetir mobil, kita juga harus tahu jalan yang akan kita tuju, kita juga harus tahu kapan kita harus belok ke kanan dan kapan kita harus belok ke kiri. Walaupun kita sesekali bertanya kepada orang, orang lain hanya sebagai penunjuk jalan bukan yang menentukan jalan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P