Bahasa Sebagai Identitas

Identitas, identik dengan nama, tempat tanggal lahir dan alamat, atau lebih mudahnya, saat kita menunjukkan KTP ( Kartu Tanda Penduduk). Tapi, bagaimanakah dengan identitas kita saat berada di luar negeri?, jauh di rantau orang. Tentulah sekali pada bahasa kita, bahasa Indonesia. ”Di mana bumi di pijak, di situlah langit di junjung” Mungkin peribahasa itu tepat di gunakan saat kita hidup di negara orang, bukan berarti kita melupakan asal usul kita. Dua tahun hidup di negeri orang, meskipun masih satu rumpun tapi perbedaan itu pasti ada. Terutama dalam hal bahasa. Berada di lingkungan orang Melayu, memaksa saya untuk belajar dan berbicara dengan bahasa Melayu. Awalnya mungkin susah tapi, lama kelamaan bisa juga. Alah bisa karena biasa itulah kata orang. Karena kebiasaan itulah, terkadang kita lupa dan leka. Tidak di pungkiri, kebanyakan dari pembantu rumah tangga yang ada di Malaysia, terutama yang sudah lama ( tidak memungkiri juga yang masih baru setahun dua tahun di Malaysia). Mereka lebih pandai berbicara dengan logat Melayunya. Mungkin karena kebiasaan itulah yang menjadikan lidah mereka kaku berbicara bahasa Indonesia. Saat pulang kemarin, saya banyak bertemu dengan mereka yang bekerja di Malaysia sebagai pembantu rumah tangga. Kebanyakan dari mereka, kaku berbicara bahasa Indonesia. Pun saat saya kembali ke Malaysia, kebanyakan dari mereka memang betul-betul kaku mengucapkan sepatah dua patah kata dalam bahasa Indonesia. Padahal, ada di antara meraka yang belum pun dua tahun berada di Malaysia. Saya jadi berfikir, di manakah identitas sebuah bangsa kalau seperti ini?. Bukan kita tidak boleh belajar bahasa bangsa lain tapi, apa yang akan terjadi kalo kita belajar bahasa bangsa lain tapi, kita melupakan bahasa ibu kita sendiri...??? 28 Zulhijjah 1428/ 08 Januari 2008 22:24

0 komentar:

Poskan Komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P