3 Hari

3 Hari Minggu kemarin, selama tiga hari aku cukup sibuk. Sebenernya, gak sibuk banget sih Cuma bertambah aja anak-anak yang aku jaga. Kalau hari-hari biasa aku jaga dua anak, waktu itu aku jaga sampai empat anak. Bahkan, waktu hari seninnya sempet lima. Ramai banget tentunya. Aku jadi terfikir, ternyata, begitu berat menjadi seorang ibu apalagi, seorang ibu yang banyak mempunyai anak. Hari pertama, aku bingung juga gak tahu harus mulai dari mana. Kebetulan, waktu itu aku jaga 5 anak sekaligus. Amir, enam tahun yang sudah masuk derjah satu waktu itu libur sekolah. Arwa, lima tahun adik Amir. Nabila, empat tahun. Arief dua tahun adik dari Nabila dan yang paling kecil adalah Aufa empat bulan adik dari Amir dan Arwa. Menjaga kelima-limanya tidak begitu sulit sebetulnya, kecuali Aufa tentunya karena dia masih bayi.Yang paling susah adalah memahami karakter mereka masing-masing. Nabila dengan Arief bangun lebih pagi, berbanding dengan Amir dan Arwa. Selalunya, merekalah yang akan aku mandikan dulu. Kalau Aufa waktu itu tidur, aku sambil-sambil aja buat kerja lain. Setelah jam sepuluh, Wawa (Arwa) biasanya baru bangun. Abis itu, aku baru deh mandiin. Waktu itu, Aufa pun selalunya dah bangun. Karena Amirlah yang paling besar, tak jarang aku bagi tugas memperhatikan Adik-adiknya yang kecil. Misalnya, ”Amir, jangan bagi Arief main air ye.” Selalunya kalau minum, Arief akan banyak main airnya, bukan minumnya. Atau kalau mereka main rumah-rumahan Amirlah orang yang pertama aku suruh mengemas. Tapi, namanya juga anak-anak tetep aja gak bisa di percaya. Terkadang yang beresin malah Wawa dengan Nabila. Susahnya, kalau Nabila dengan Arief dah berantem. Kayak waktu itu, Nabila kalau abis bangun tidur selalunya bad mood. Jadi selalu cari jalan gimana untuk ngambek. Aku abis mandiin Aufa, baru aja aku letakkan Aufa di atas handuk eh, tahu-tahu Nabila lagi berantem ma Arief. Siap tarik-tarik rambut pula tuh. Aku tinggalin Aufa yang masih telanjang, aku leraikan mereka. Pertama Arief yang nangis, lama-lama Nabila pun menangis juga. Akhirnya, bisa juga di pisahkan. Arief ku angkat dan ku letakkan di dekat Aufa. Aufa pun sudah menangis, masya Allah... kalu inget ini gak bisa di bayangin deh tapi, lucu juga ada. Kayaknya, aku pengen deh cerita satu-satu tentang mereka. Dulu aku pernah nulis tentang Arief sekarang, aku mau tulis semuanya lah. Termasuk Adam hakimy. Aku urutin dari yang tertua, Amir, Arwa, Nabila, Arief, Adam dan Aufa.

0 komentar:

Poskan Komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P