Bercermin Pada Nurani

Selalunya, aku pengajian tiap hari Sabtu tapi, ibu bilang Sabtu ini mau ada acara jadi, aku pergi pengajian hari Jum’at. Dari rumah keluar jam dua lebih ikut ibu sampe halte bis terdekat. Tapi, nunggu bis di sini harus sabar, kadang bias sejaman lebih hanya menunggu bis saja. Alhamdulilah, belum lama aku duduk bis lewat. Sebaik saja naik bis, sopir tuh bilang kalau Cuma sampai Green wood aja, gak sampai ke Stasiun Taman Melati. Aku naik aja, berharap sesampai di Green Wood cepet nungguin bis. Lagian, enaknya di sini, kalau naik bis tiketnya bisa di pake sepanjang hari bayarnya cuma RM. 1 untuk bis tempatan.
Sampai saja di Green Wood, cuaca begitu Panas! Matahari siang itu begitu terik. Di seberang jalan halte, Medan Selera Green Wood. Lalu lalang bis dan beberapa mobil menghembuskan debu-debu yang di terbangkan angin. Ada kalanya aku harus menutup mata dan hidung atau sekedar menundukan kepala. Aku tidak begitu memperhatikan sekeliling, tetep konsentrasi menunggu bas. Meskipun detik berlalu, menit berjalan dan jarum jam pun terus berputar sudah hampir dua jam aku menunggu bis nyatanya, bis yang ku tunggu belum datang juga. Sesekali kutoleh kan muka kebelakang. Seorang anak lelaki remaja asyik bermain dengan seekor kucing. Melihat mereka begitu akrab, aku jadi teringat dengan kucing di belakang rumah, inget ama gambar-gambar kucing di friendster terus inget juga ama temen-temen yang suka ama kucing. Penat bermain dengan anak remaja tadi, kucing itu berlalu. Sewaktu melintas di samping ku, aku sedikit mengusiknya tapi, kucing itu tidak menghiraukan usikan ku. Akhirnya dia kembali pada anak remaja tadi. Sekali lagi, aku lihat mereka bermain, tanpa jemu remaja lelaki itu meladeni kelatah kucing dengan sabar. Aku jadi iri lihat keakrabannya. Sewaktu Kucing itu tidur, remaja lelaki itu menutupinya dengan daun-daun kering dan kotak kardus kecil. Sepertinya, Kucing itu terganggu dengan semua benda-benda yang ada di atas badannya akhirnya terbangun, dan kembali bermain. Bis belum datang juga. Padahal, tadi aku lihat dah satu bis 226 masuk ke Taman Melewar. Mataku kembali tertumpu ke sebelah kanan. Lagi konsentrasi, tiba-tiba ada orang yang mengulurkan tangan kiridi depan ku sambil tangan kanannya menulis anggka 226. Aku mengangkat kepala, rupa-rupa nya anak remaja yang tadi sibuk main dengan Kucing. Aku bingung dengan gelagatnya, kembali Dia menuliskan angka 226 di atas telapak tangan kirinya dengan tangan kanannya. Aku mengganggukan kepala faham, “Ya, aku nunggu bis 226” Terus dia kembali memberi isyarat, kalau bis 226 yang tadi masuk ke Taman Melewar dah belok ke kiri. Jadi, sekarang gak ada bis. Subhanallah… Maha suci Allah, ternyata, remaja lelaki tadi tidak bisa berbicara. Dia gagu, ah, nyata aku begitu beruntung dengan kesempurnaan fisikal yang aku miliki. Berulang kali aku mengucap syukur dalam hati. Dan mengaggumi kebaikan remaja lelaki itu dengan Kucing. Ah, hamba malu dengan-Mu ya Allah… Bis belum datang juga. Anak itu kembali sibuk dengan kucingnya. Ku perthatikan dari atas ke bawah penampilan anak itu, aku tidak menyangka kalau dia tuna wicara. Menyandang tas berwarna hitam bercampur coklat, t-shirt biru, celana tratsute berwarna coklat sandal jepit berwarna biru bercampur hitam. Kulitnya kecoklatan, umurnya kira-kira lima belasan. Maha suci Allah, ingin sekali aku berbincang banyak dengannya, ingin sekali aku menghulurkan buku dan pena di depannya, ingin sekali aku menanyakan namanya. Tapi, aku malu dengan orang di sekelilingku. Hari ini, ku temukan cerminan nurani syukurilah yang ada di depan ku. Ampuni aku ya Allah…

0 komentar:

Poskan Komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P