Jiwa Pembantu

”Dia selalu misahin makanan untuk aku, apa yang dia makan tak selalunya aku boleh makan kadang, aku malah di suruh membuat lauk lain. Aku rela gak makan, kadang berhari-hari. Gimana kalau kejadian itu menimpa kamu.” Akhwat itu tergugu mengadukan masalahnya pada ku. ”Aku ini, jenis orang yang nrimo.” Jawabku klise ”Tapi aku gak bisa! Rasa kemanusiaan aku tertantang, aku rasa terhina.” Dia mulai sedikit emosional. Aku rasa, akhwat ini dah mulai berubah. Dulu, dia tidak begitu emosional saat menceritakan berbagai masalahnya. Tapi sekarang, kalau bercerita suaranya meninggi, sedikit cerewet. ”Waktu itu, aku sampai mau minggat saking gak kuatnya.” Wah, kayaknya emang dah berat nih masalah dia kalau dah sampai pengen minggat segala. ”Aku juga dulu pernah dapat majikan kayak gitu. Kalau di pergi, pulangnya selalu bertanya apa yang aku makan? Dan dia pun selalu memisahkan makanan untuk aku. Selain itu, setiap aku ngobrol ama orang juga di tanyain, apa yang aku bicarakan. Mungkin, kalau aku jadi kamu aku ikut aja apa yang dia suruh. Hakikatnya, memang tidah semudah itu perasaan aku sebagai manusia biasa tertantang tapi, apa hendak di kata itulah resiko ikut orang.” Aku mencoba menjawab soalanya. ”Orang tua aku pun tidak pernah berbuat kayak gini.” Ujarnya mulai mengeluh. Dalam hati aku berucap, ”sejahat-jahatnya orang tua, tentunya tidak akan membiarkan anaknya kelaparan. Ini, kita ikut orang untuk bekerja dan mereka membayar kita tak mustahil kalau terkadang mereka memperlakukan kita semena-mena. Walaupun aku yakin tidak semua majikan kayak gitu. Bekerja sebagai pembantu, inilah resiko yang harus di hadapi. Terkadang, perlakuan majikan sungguh tidak berkeprimanusiaan dan ini mental yang harus di hadapi juga di persiapkan oleh setiap pembantu rumah tangga. Kalau ketemu majikan yang baik, bersyukurlah sesungguhnya, segala kebaikan itu datangnya dari Allah. Inilah jiwa pembantu yang aku cari selama ini. Sebagai pembantu, kadang harus bersikap nrimo. Mungkin, cerita akhwat tadi tidak begitu parah kalau di bandingkan dengan cerita-cerita lainnya ada yang lebih parah bahkan, tak sedikit yang mengalami penderaan fisik dan mental. Bersabarlah, saudariku... Bumi Allah, 17 April 2008/10 Rabiulakhir 1429H

0 komentar:

Poskan Komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P