Merepih Awan

Kalau hendak di kira, mungkin sudah berpuluh-puluh kali Aku membuka kulkas. Kalau saja kulkas pandai berbicara, mungkin dia sudah mengeluh penat. Tapi, penatnya kulkas, tidak sepenat yang Aku rasakan. Andai saja kamu mempunyai perasaan kulkas, tentu akan ku ceritakan semua duka dan lara ini. Aku kembali membuka kulkas, mencari dan mencari sesuap makanan yang bisa mengisi perutku. Meskipun ia tak mampu juga untuk mengganjal perut.
Ku buka lagi pintu kulkas, isinya, masih sama seperti yang tadi. Tidak ada perubahan padahal. Aku berharap di sana ada ikan asin, tempe atau makanan-makanan kampung yang lain. Kubanting pintu kulkas kuat-kuat. Kesal! Kemarahanku semakin membuat Aku lapar terbayang berbagai makanan sedap di depan mata. Aku mengharapkan anak lelaki majikanku datang membawa makanan. Seperti ketika itu, sudah dua hari Aku tidak menjamah nasi tiba-tiba dia datang membawakan ku nasi bungkus. Saat itu, Aku di hukum gara-gara merusakan blender. Anehnya, setelah makanan itu habis anak majikanku menyuruhku membungkus rapat-rapat bekas makanan dan dia membawanya keluar. Baru Aku tahu, ternyata, ia tidak mau Ibunya mengetahui hal ini. Semua keluarga di rumah ini, sepertinya takut dengan puan. Tapi, sepertinya dia tidak akan datang, kabar terakhir Aku dengar dia sedang berada di Sabah. Menyelesaikan program Dokternya. Baru pukul sembilan pagi, tandanya Aku baru boleh makan dua jam lagi. Ya, dua jam. Niat buruk mulai bermain di kepalaku. Berkejaran satu dengan yang lain. Antara yang baik dan jahat mereka semua marathon mengejar hati dan naluri ku. Untuk memilih, adakah Aku harus terus menahan lapar? Atau, mencuri saja makanan untuk mengisi perut. Aku mulai berontak, fikiranku berkecamuk. Sepertinya, Aku sudah nekat! Aku ambil roti yang ada di meja makan saja. Aku tidak peduli nanti majikanku marah. Yah, roti di atas meja adalah alternative terbaik. Ia lebih aman di makan tanpa mengandungi apapun. Perlahan, Aku kembali ke dapur untuk membuat air Milo. Kalau Aku sebut, ini bukan minuman milo tapi hanya air panas saja yang di campur dengan sedikit serbuk coklat. Rasanya tidak seperti milo, keaslian coklatnya sudah tiada. Tanpa sadar, Aku menghabiskan roti lebih dari dua keping. Tidak seperti yang di jatahkan oleh majikanku dua keeping untuk sarapan pagi. Tiba-tiba, Aku di landa ketakutan yang amat sangat. Takut majikanku kembali menghukumku. Tubuh ini semakin tak berdaya, lemas. Roti yang tadi Aku makan tak mampu menambah tenaga dalam tubuhku. Hukuman apalagi yang akan dia berikan… Aku semakin takut, tubuhku menggigil satu demi satu keringat dingin mulai keluar dari poro-pori kulit. “Duhai Allah, apalagi deritaku hari ini?.” Aku tergesa-gesa menuju ke pintu depan membukakan pintu, majikanku pulang. Mukanya ceria, tak adapun wajah garang seperti biasa, atau selalu bermasam muka ketika dia bertemu dengan ku. “Awak sudah makan a’.” Dengan logat melayu China. Seulas senyum manis di hadiahkan untukku. “E..ee.. Sudah Puan.” Tergagap-gagap Aku menjawab soalan majikanku. Heran, tumben nanyain dah makan belum, biasanya boro-boro. Aku jadi semakin takut, jangan-jangan ini taktik baru atau setelah ini, dia akan menderaku lebih parah lagi. “nah, mi goreng. Makanlah, tadi saya singgah di rumah makan. Kamu makanlah, biar kuat kerja.” “Baik puan.” Aku mengambil bungkusan yang di hulurkan majikanku. Sungguh tidak di sangka, nyatanya majikaku kadang baik juga. Yah meskipun terkadang dan bahkan sering menderaku. Baik fisik maupun mental, tak jarang dia memanggilku “stupid maid” sungguh menyakitkan… Dia juga tak segan-segan menamparku saat Aku berbuat salah. Meskipun kecil kesalahannya, dia sengaja membesar-besarkan. Aku mencoba melupakan kejahatan majikanku. Di dapur, ku buka bungkusan mi sungguh sedap kelihatannya. Ku capai sendok yang Aku letakan di tempat khas ku, kalau gak gini, Aku takut tertukar dengan yang biasa majikan pakai. Lagipun, majikan sudah warning kalau Aku tidak boleh menggunakan barang dan peralatannya untukku. Aku cari tempat yang sesuai, sepertinya Aku akan makan sedap hari ini. Tiba-tiba “Marniiiiiiiiii….!!!” Teriakan majikanku membuat seluruh sendi-sendiku seakan rontok, firasat buruk mulai menghantui ku. Aku yakin, majikanku sedang murka kali ini. “Hei, stupid maid!. Kau makan berapa keping roti tadi?!.” Matanya merah menyala, ibarat Singa yang hendak menerkam mangsanya. Tangan kirinya berkacak pinggang sedang tangan kanannya tepat menunjuk kearah jidatku kemudian mendorong kepalaku. Aku sedikit oleng. “Empat keping Puan.” “Empat keping?. Kamu fikir, ini rumah nenek moyang Kamu yang kamu boleh makan seenaknya?. Berapa aku suruh kau makan roti setiap pagi?.” Masih dengan nada emosi. “Dua Puan.” “Nah, tahu pun awak. Kenapa awak makan lebih dari dua?.” “Saya lapar Puan.” “Aku bagi makan awak, jangan cari alasan. Tak cukup yang Aku bagi selama ini?.” Sekali lagi, tangan kanannya mendorong kepalaku. Aku duduk tersungkur, ketakutan dan sisa kelaparan menambah kelemahan tubuhku. “Pukul berapa Awak makan tadi?.” Aku diam, sama ada Aku harus jujur atau berbohong. “Jam berapa?!. Jawab!.” Sekali lagi dia menolak kepalaku. Berkali-kali Aku menyebut nama Allah dalam hati tapi, apakah Allah masih mendengarku…??? Sedang Aku sendiri jarang sekali menghadap-Nya. “Hei, bodoh!. Kau dengar tak Aku cakap!. Dia mendekatkan mulutnya ketelingaku. Hampir pecah gendang telingaku mendengar teriakannya. “Kau tadi makan pukul berapa!.” “Pukul…” Aku menggantung suara. Mengingat, jam berapakah tadi Aku makan. Kalau Aku berkata jujur, majikanku pasti akan lebih marah. Aku ingat-ingat lagi, sepertinya jam sembilan. Sedang sibuk Aku memikir tiba-tiba dia menjerit lebih keras lagi. “Jam berapa?!!!.” Terkejut dengan teriakannya, otak dan fikiranku tak bisa bekerja sama. “Jam sembilan Puan.” Aku mengumpat dalam hati, kenapa Aku tidak berbohong saja. Betul kata majikanku, Aku memang bodoh. Tanpa belas kasihan, dia menarik rambutku. Di bawanya Aku ke kamar mandi. “Dah memang bodoh, tak tahu aturan, tak dengar cakap orang. Kau buat lagi kesalahan esok, kena kau nanti!.” Dia menghempaskan Aku ke sudut kamar mandi. Kemudian dia cepat-cepat keluar dan mengunci pintu. Aku terduduk lesu. Airmata tanpa permisi mengalir, menjadi teman setiaku ketika Aku berduka. Aku memegang kepala, begitu kuat dia menarik rambutku. Sakitnya, hanya Allah yang tahu. “Ya Allah, kenapa Aku di beri cobaan yang begini berat?. Apa salahku Ya Allah…???.” Mengusik nasib yang sedang ku lalui, kadang Aku tak mampu berfikir normal, selalu menanyakan keadilan Tuhan. Padahal, Aku pun sering tidak adil dengan Sang Pemilik alam. Ibu, andai dulu Aku dengar kata-katamu. Mungkin, Aku tidak akan bernasib seperti ini. Tapi, semua sudah terlambat. “Nak, tidak mudah kerja dengan orang. Apa kamu sanggup…?.” “Marni khan selalu bantu Ibu. Nanti lebih mudah kerja di sana.” “Kerja dengan orang itu lain Nak. Kamu ada peraturan. Apa Marni sanggup?.” “Insya Allah sanggup Bu… Ini untuk kebaikan kita juga Bu. Ibu jangan lupa doakan Marni, biar selamat di Malaysia.” “Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk Marni. Tapi, Ibu keberatan jika Marni harus ke Malaysia.” “Ibu, percayalah pada Marni. Marni sudah besar.” “Ibu tahu Nak, Marni sudah besar. Besar saja tidak cukup untuk bekerja dengan orang. Kita juga harus berjiwa besar. Bolehkah marni tunda keinginan Marni?.” Berjiwa besar. Yah Aku harus berjiwa besar, seperti nasihat Ibu. Teringat lagi kata-kata Ibu, semakin membuat jiwa Marni di runtun sedih. Kalaulah dulu aku tidak memaksa Ibu, tentunya, Ibu tak akan memberika izin Aku kerja di Malaysia. Airmatanya semakin deras… Entah sampai jam berapa Aku akan di kurungnya. Kalau sudah begini, Akupun tak boleh shalat. Ya Allah, dengan dosa dan kesalahanku Aku memang patut di hukum seperti ini. Tapi Ya Allah, ini bukan kehendaku, Aku tidak di berinya waktu untuk menjalankan perintah-Mu. Kalaupun Aku tidak di kurung, majikan melarang Aku untuk shalat. “Aku bayar engkau kat sini untuk bekerja, bukan untuk beribadah!.” Ujarnya suatu ketika dulu. *** “Hei, bangun!.” Aku terkejut. Kakinya menyepakku ibarat benda yang tidak berguna. “Dah puas tidur?, kau buat kerja sekarang!.” “Saya lapar Puan…” “Engkau ni, memang tak tahu malu. Dah buat salah, masih juga minta makan. Kau kerja dulu, baru Aku bagi makan!.” “Saya gak kuat Puan…” Suara ku memelas. Bulir-bulir kesedihan kembali bersimpati. Aku menangis. “Mi, kasih makanlah dulu. Nanti, kalau dia sakit Mami juga yang repot.” Suami majikanku bersuara. Aku benci lelaki ini, lelaki pengecut! Tak ada muka ketika di depan isterinya. Dia begitu takut, bahkan kalau Aku lihat dia memang di kendalikan isterinya. Di bawah ketiak isteri. Majikanku mendengus kesal. “Pergi makan dulu sana!.” Jam menunjukan pukul tiga, tiga puluh petang. Masih ada waktu untuk shalat dhuhur. Senyap-senyap ku intai majikanku. Kedua-duanya ada dalam kamar. Perlahan-lahan Aku menuju kamar mandi mengambil air whudu. Sungguh tatkala dalam keadaan seperti ini, Aku begitu memerlukan Allah dan Aku ingin berlama-lama di atas sajadah. Aku menuju ka dapur setelah semuanya selesai. Mi goreng tadi, masih dalam keadaan terbuka. Inilah makan tengah hari ku, nanti malam, belum tentu Aku dapat makan lagi. Terbuka begitu lama, sepertinya lalat sudah hinggap di sini. Kotoran lalat sembunyi di balik mi. Dengan terpaksa, ku ambil dan ku pilah mana yang boleh di makan. Kalau tidak, Aku bakal lapar sampai esok hari. Tak habis-habis air mata ini mengalir. Ku kemas rumah di temani air mata, di temani luka dan duka. Allah, adakah akan berakhir derita ini…??? **** Selesai shalat Isya, Aku mengemas “Mukena” Ku lipat serapi mungkin dan kusimpan. Sebetulnya, ia tak layak di sebut mukena. Ia baju kurung yang Aku punya satu-satunya, dengan kerudung dan sepasang kaos kaki. Mukenaku, sudah di sita majikanku sejak aku datang mula-mula. Kulirik jam menunjukan pukul dua belas malam. Lebih awal dari biasanya Aku masuk kamar. Jam sepuluh tadi, majikanku pergi ke Langkawai bersama suami dan anak perempuannya yang kecil. Ku rebahkan tubuh di atas tilam, letih dan penat begitu menyengat. Meluruskan otot-otot yang seharian bekerja tanpa mengenal lelah. Ku pandang kipas yang berputar searah, memberikan kesejukan di saat tubuh ini betul-betul panas. Mendadak, Aku berfikiran nekad. Aku ingin lari! Ya, lari. Mungkin ini adalah penyelesaian. Selagi majikanku tiada, inilah kesempatan Aku untuk kabur. Aku mengemas semua barang-barang. Beruntung aku tidak mempunyai banyak barang. Ini memudahkan aku untuk lari. Aku tidak peduli apapun yang aku hadapi nanti, yang pasti, aku harus pergi sebelum majikanku pulang. Pintu kamar kubuka perlahan, seolah-olah takut ada orang mendengar. Padahl, Aku yakin tiada sesiapa dalam rumah ini. Aku menenteng tas yang tidak begitu besar. Ku lewati ruang dapur, ruang tamu dan ruang keluarga. Rumah yang begitu luas, terasa begitu sempit dan menghimpit perasaan dan jiwa ku. Selamat tinggal rumah… Baru saja aku hendak meraih pintu utama, handle pintu tergerak. Aku terkejut. Seakan di timpa beban yang amat berat, tiba-tiba kaki ini terpaku tak bisa di gerakan. Aku menggigil ketakutan. Aku yakin pasti ini majikanku. Aku tak berganjak, diam tak bergerak. Pintu terkuak. Sungguh terkejut, ketika yang datang bukan majikanku. Tapi anak lelakinya. “Kamu mau kemana.” “S..s.. saya, saya.” “mau kabur yah?” Tiba-tiba memotong kalimatku. “Aku tahu, kamu pasti akan mengambil kesempatan selagi mami tiada di rumah.” Aku masih terdiam, tak berganjak. Suara anak majikanku lunak, tanpa marah sedikitpun. “Balik lagi masuk kamar, esok baru kau keluar.” Anak majikanku menyerahkan amplop coklat, isinya aku sendiripun tak tahu. Sementara, aku masih diam… “Masuk kamar cepat!.” Ia menghardik. Aku terkejut dibuatnya. “Baik Tuan.” Aku pun tidak mengetahui nama anak majikanku. Selama lima bulan aku di sini, hanya beberapa kali aku ketemu dengannya. “Tapi, ini apa tuan?” Aku menunjukan amplop coklat. “Itu passport awak, dan dokumen2 kepulangan. Besok, saya hantar awak Bandara.” “Terimakasih tuan…” “Sama-sama.” Anak majikanku beredar ke kamar. Sungguh, aku tidak menyangka akan semudah ini kepulanganku. Aku kembali menenteng tas memasuki kamar. Aku juga tidak tahu kenapa anak majikanku begitu baik. “Ya Allah, terimakasih Engkau telah memberikan pertolongan. Kali ini, kurebahkan tubuh dengan senyuman. “Ibu, besok aku akan pulang.” Aku kembali tersenyum girang. Adakah ibu mengkhawatirkan ku saat ini…??? Jangan risau ibu, esok aku pulang dengan selamat. Ibu, besok aku naik pesawat, seperti yang aku idam-idamkan dulu. Tidak seperti kedatanganku ke Malaysia. Aku harus menaiki tongkang dan harus berenang ketika berada di tepian Pelabuhan. Itu karena aku masuk secara illegal. “Ibu, apakah awan itu jauh?” “Jauh nak, kenapa?.” “Saya ingin memegang awan bu?.” “Awan tak bisa di sentuh nak.” “Kenapa bu?.” “Karena ia hanya gumpalan-gumpalan asap.” “Betulkah ibu?.” “Betul nak.” “Kalau gitu, Marni mau melihat awan lebih dekat.” “Gimana caranya nak, awan khan tinggi?.” “Marni ingin naik pesawat bu…” Dialog ketika aku kecil, ketika aku ingin sekali memgang dan melihat awan. “Ibu, impianku dah hamper tercapai, besok aku akan melihat awan lebih dekat.” Marni pulas tertidur, dalam kebahagiaan ingin bertemu ibunya. Sementara di kamar A Hiong anak majikan merasa resah. Ia takut usahanya gagal kali ini menyelamatkan pembantu maminya. Ia tidak ingin peristiwa silam berulang. Ketika maminya membunuh pembantunya. Namanya di blacklist dari jabatan imigrasi untuk mengambil pembantu. Tapi, dengan bantuan rakan kerjanya, akhirnya maminya bisa mendapatkan pembantu. Oh Tuhan, tolonglah aku… Aku terpaksa mencuri dokumen pembantu dari lemari mami. *** Sungguh indah ketika berada di atas awan. Ya, di atas awan. Aku tidak menyangka benar-benar bisa berada di sana. Aku dapat menyentuhnya. Tapi, kenapa setiap awan yang ku sentuh berserak dan beterbangan…?? Kenapa? Kenapa di sini tiada keindahan seperti yang aku bayangkan…??? Ibu, di mana Ibu. Kenapa ia jauh di bawah sana. Kenapa ibu menangisiku..??? kenapa ibu bersedih? Bukankah aku sudah pulang… Ibu, kenapa ibu tidak menyambut kepulanganku? Ibu, Ibuuuu…“Bangun!. Bangun.!” Marni terjaga dari tidurnya. Terbeliak matanya ketika ia melihat majikannya sudah di depan matanya. Berkacak pinggang, kali ini betul2 merah menyala muka dan matanya. “Duhai Allah, apa yang akan terjadi padaku…” Aku berbisik pelan dalam hati

6 komentar:

  1. jual vcd Cleopatra Stratan
    Vcd tersebut berisi lagu :
    1.ghita (video original)
    2.Numar pân' la unu (video original)
    3.Noapte buna (video original)
    4.Zunea-Zunea (video original)
    5.Va veni o zi-ntr-o zi
    6.Elefantul si furnica
    7.Zuzu-zuzu
    8.Cutu
    9.Te-am întâlnit
    10.De ce?
    11.Sansa
    12.Oare cât
    13.Surprize
    14. Vino, te astept 3:00
    15. Catelus cu parul cret 3:28
    16. Daruieste 3:45
    17. Gâste-gâste 2:43
    18. Melc-melc 2:42
    19. Refrenul dulcilor povesti 3:00
    20. Lupul, iezii si vizorul 4:17
    21. Mama 3:58
    22. Pasarea pistruie 3:44

    BalasHapus
  2. keduax...
    wedew coment nyang diatas bagus euy. jualan vcd
    wkwkwkwk.
    btw dikulkas ada makanan apa ni, paketin ketempatku yahh..

    BalasHapus
  3. kisah yang menyentuh, apa ini kisah nyata?

    BalasHapus
  4. numpang baca untuk review ngebales awardnya

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P