Buruh Sendal Jepit Migran (kuwalat)

Sore tadi, di selingi lebat dan derasnya air hujan yang mencurah-curah ke bumi dengan sangat terpaksa dan atas sebuah ide aku mencuri foto sendal jepit sang santri. Ide itu muncul, semenjak tengah hari lagi. Niatnya, ingin di pasang di face book. Biar keren, biar lucu, juga biar seru. (Aneh, wong nyuri ko yak foto sendal jepit) :)) Setelah di teliti lebih jelas, aku terdekeh-dekeh di sela-sela hujan dan petir ribut melanda (Alhamdulilah ada di kamar jadi, gak basah kuyup). sendal jepit itu, mereknya swallow warna biru, siap dengan gembok dan rantai terlilit (idene, luar biasa kreatif) Tapi, sepertinya, yang nyuri lebih kreatif lagi (menutup mulut, menahan gelak). Setelah proses pencurian berhasil, cepat-cepat ku upload dalam face book. Melirik jam, aku mengeluh. Waktu cepatnya bergulir. Janji sore ini, harus di penuhi. Aku mengeluh dalam hati, kalaulah aku tidak menrima tawarannya... Tentunya, aku tidak di landa perasaan serba tak kena. Hujan pun masih mencurah dengan lebatnya. Aku kembali menimbang-nimbang sama ada pergi, atau tidak...???
Berdasarkan sebaris janji bermateraikan satelit. Akhirnya, aku memaksa diri untuk datang menepati janji. Meskipun dengan ragu-ragu, meskipun dengan benak bertanya beribu, "Mampukah aku untuk ini semua?." Jam lima yang di tetapkan, aku baru saja beranjak dari rumah. Rinai hujan masih terasa, basah bumi menggenag di semua tempat yang ku lewati. Beruntung, ketika Ina, dengan baik hatinya mau mengantarku ke stasiun Putra (makasih banyak Na... :)) Alhamdulilah, aku tidak kehujanan... Jam lima enam belas menit, aku baru naik Kereta api. Resah, gelisah melanda. Sungguh aku canggung dan ragu untuk menemuinya. Sungguh aku merasa tidak pantas untuk berada di lingkunannya. Arrggghhh... Rasanya, aku ingin kembali ke rumah, mengeram diri dalam kamar, berburu blog, atau sekedar menulis bait-bait cerita yang terkadang tak bernyawa. Mengusir galau, ku buka tasku menarik novel "Hafalan Shalat Delisa" belum beberapa paragraf aku baca, derai-derai air mata mulai menggenang, ku tahan tak ku biarkan dia mengalir. Buru-buru aku mengusap mata. Malu, takut terlihat orang. Aku pun merogoh saku tas menarik hp, mengirim pesan, kalau aku lambat datang karena turun hujan (sebuah alasan yang klise padahal, kalau bisa aku ingin berkata, "Aku tidak mau datang ke pertemuan itu.") Tapi, ia hanya ada di ujung lidah sana tidak terucap juga tidak tertulis dalam ruang-ruang hp yang masih bersisa. Cuaca betul-betul gelap dan mendung menggayut langit Kuala Lumpur. Penumpangpun tidak begitu ramai mendekati stasiun wangsa Maju, sepertinya, orang-orang lebih suka mengurung dirinya dalam rumah. Aku kembali bertanya dalam hati, "Kenapa aku menyanggupi tawaran itu? sebuah tawaran yang aku pun tak tahu...???" Kereta api semakin mendekati KL Central. Aku pasrah aja, Bissmillah ku ucap perlahan, pasrah, tawakal sama Allah. Mungkin, aku bisa belajar banyak dari sini, aku menghibur diri. Sampai saja di KL Central, aku terus melilau ke sekeliling , mencari food court. Sepertinya, pernah nampak hanya saja aku tak pernah singgah. Cepat-cepat ku gapai hp dalam tas. Ku tekan nama yang ku hafal di luar kepala. "Assalamu'alaikum. Pak, food court itu di mana yah?." Tanpa titik, tanpa koma dan tanpa jeda aku mempercepat pembicaraan. "Di lantai tiga. Naik aja." Jawab talian di hujung sana. "Ok, makasih." cepat-cepat aku menutup hp dan cepat-cepat juga aku berjalan ke tangga menaiki lantai tiga. Sampai saja di depan Food Court, aku sungguh terkejut. Aku mengurungkan niat untuk masuk. Di meja paling depan, dekat pintu utama beberapa lelaki yang aku yakin akan ku temui melingkar rapi di sebuah meja panjang. Lemes dan tidak bertenaga aku saat itu. Aku ingin pulang, cepat-cepat pulang. rasanya, aku memang tidak pantas berada di sini. Tapi, bukankah hujan lebat sudah ku redah...??? untuk apa aku jauh-jauh datang berontak hatiku berbisik. Ku ambil lagi hp, ku sms nomor pak Ikbal, pura-pura bertanya, di kusri mana beliau duduk?. Sms di balas, cukup singkat, "Masuk saja." Dengan hati yang berdebar, tenaga yang hampir hilang akhirnya, ku beranikan diri untuk menemui mereka (ternyata, ada perempuannya juga). Alhamdulilah, mereka menerima ku dengan baik. Sepertinya, Pak Ikbal sudah memberikan prolog tentang diriku kepada teman-temannya. Kecanggungan itu tersingkir, keraguan itu terusir. Nyatanya, bathinku tetap gemuruh. Aku betul-betul merasa tidak pantas berada di sana. Kalaulah aku boleh membenamkan diri ke lapisan bumi, mungkin aku akan lakukannya. Di situ aku tidak mengenali sesiapa, wajah pak ikbal yang baru pertama ku temu setelah perkenalan melalui sms dan imel. Tapi, di situ ada wajah yang ku kenal, bang Irvan ketua Persatuan pelajar malaysia di Indonesia. Ya Allah, kenapa aku berada di tempat ini...??? Aku kembali mengeluh. Sodoran kertas tentang komisi KPU dan segelas teh O ais tak juga menyejukan hati dan perasaanku. Terketar-ketar aku menerima copian komisi KPU. Sungguh tugas yang berat buatku. Aku di tawarkan untuk menjadi pemantau pemilu. Ah, rasanya, aku tidak sanggup untuk melakukannya... ya Allah, mudahkanlah ia bagi hamba... Teringat hasil curian fotoku sore tadi. Kalau di ibaratkan posisiku, ibarat sendal jepit yang di rantai dan gembok keadaanku. Aku bukan siapa-siapa hanya pekerja buruh migran, terasa beban ketika di tugaskan. (Apa hubungannya yah ama sendal jepit...???) aku ko jadi mikir, kualat kali yah nyuri2 sendal santri...???

6 komentar:

  1. Ada yg liat sendal jepit saya gak ya...?

    BalasHapus
  2. ada pe-er n award, ambil ya tp jgn lupa pe-ernya

    BalasHapus
  3. hohoho...ternyata sendal jepit bener2 tenar yah? hohoho...sampe di gembok segala...takut bgt di embat...

    BalasHapus
  4. mahalan gembok sama rantainya... :D

    BalasHapus
  5. Tak pikir sendal jepit Swallow hanya ada di Semarang dsk aja..... Ternyata di KL juga ada Swallow..... Hebat!

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P