Sahabatkah Aku...???

Rasanya, hampir semua dari kita, pernah melakukan kesalahan. Baik yang di sengaja, tidak di sengaja dan bahkan, kadang di sengaja-sengaja tidak. Dalam kehidupan, kita pun tak lepas dari namanya pertemuan, perkenalan, pertemanan juga persahabatan. Yang terakhir, mungkin sulit untuk di dapatkan tetapi, begitu mudah untuk di ucapkan. Mencari sahabat, tidak semudah menemukan kata-katanya. Pun untuk menjadi sahabat, tidak gampang untuk melaksanakannya. tatkala sudah menemukan sahabat, mampukah kita juga menjadi sahabat untuknya?. Pertanyaan itu, saat ini selalu menggayut fikiranku. Aku sedang di liputi rasa bersalah, aku bukan sahabat yang baik. Aku seorang yang menggunakan egios di tangga utama dan tidak memperdulikan sekitarnya. Kembali aku di rudung duka, memikir juga aku manusia biasa. yang memiliki sensitiviti juga tak sedikit rasa senrimentil yang cukup tinggi. Teguran sahabatku, menjadi cambuk dan pelitaku saat ini. Cambuk yang mampu memukul segala keegoan dan kesombongan diri. Pelita yang mampu memberikan penerangan pada perbaikan diri. Aku sama sekali tidak berfikir kalau aku selalu di butuhkan dan tidak membutuhkan para sahabatku. Kalau itu persepsi sahabatku, aku mohon maaf yang sedalam-dalamnya.
Aku tahu ketika semuanya dalam proses pencarian jati diri, termasuk diri ku sendiri. Tapi, tahukah sahabat, diam mu terkadang membuat ku sedih. Teguranku yang tak berbalas membuatku berfikir berbagai-bagai, juga segala ocehanku yang tidak di hiraukan membuatku menyimpan butir-butir duka yang tersimpan. Dan aku tak sadar ketika ia membeku di hujung sudut hatiku. Aku tidak tahu ketika hati ini serasa tawar saja, tanpa rasa juga tiada deria. Aku juga kerap bertanya, kemanakah semua rasa persahabatan, di manakah jiwa saling membutuhkan...??? Aku kembali mencari dan menggalinya. Aku tidak menyalahkan sesiapa dalam hal ini. Kalau kau berkata aku seperti anak kecil, mungkin aku akan menjawab, sekarang jiwaku lebih kerdil dari anak kecil. Sering aku merasa seperti orang baru dalam kehidupan sahabat ku (mungkin itu perasaan saja). Tapi, aku banyak mengambil hikmah dari kejadian ini. Ada ketikanya saat aku melakukan kesalahan itu proses untuk aku belajar arti sebuah kebaikan. Buat yang telah menegurku, terimakasih ku ucapkan. Semoga tali silaturrahmi ini kekal juga dalam Ridhonya... Ku menghulur tangan, memohon kemaafan juga tali persahabatan. Saat ini, mencoba menyendiri, menyepi untuk perbaikan diri. Insya Allah... Ya Allah, ketika semua kehendak-Mu kau tetapkan, maka izinkanlah hamba untuk menerimanya dengan ikhlas.

2 komentar:

  1. Teruntuk para sahabat yang telah tersakiti

    BalasHapus
  2. Kode etik persahabatan...
    Saling:
    - mengerti
    - menjaga
    - memahami
    - amanah

    wedeew ko jadi St 12 gini ya diriq...

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P