Berburu Tesis Pembantu

Sebelum kutulis ini, ku ucap takziyah sedalam-dalamnya atas meninggalnya pahlawan devisa kita saudari Kartini yang baru berumur 20 tahun dan baru 2 bulan menginjakan kakinya di negri jiran ini. Korban ditemukan dengan kecederaan parah pada kepala di percayai akibat di dera (Berita Minggu, 24 Mei 2009). Semoga amal ibadahnya di terima di sisi-Nya, Insya Allah... Dan, tiada lagi Kartini-Kartini berikutnya yang mati sia-sia demi untuk merubah nasibnya.
Setahun yang lalu tepatnya, ketika 1 Mei 2008 aku menghadiri sebuah pengajian akbar di sebuah masjid Asyakirin KLCC (Kuala Lumpur City Center). Pembicaranya saat itu, Ustdz Didin Hafidudin. Dan tatkala salah seorang ketua panitia menyampaikan sambutannya di situ terucap, bahwa ia adalah seorang Doktor pembantu rumah tangga (wis, aku asli keder). Sudah lama juga aku ingin posting ini tapi, sepertinya aku merasa belum lengkap. Rupa-rupanya, beliau adalah seorang mahasisiwa S3 yang sedang menyusun tesisnya tentang Pembantu Rumah Tangga. Dari situ, aku mulai penasaran. Apa sih yang menarik sampai-sampai seorang calon Doktor pun membuat skripsi tentangnya. Seribu kali sayang saat aku sama sekali tidak mengatahui sosok beliau ketika itu. Hendak bertanya lagi, aku pun tidak mengenalinya dan tidak tahu bertanya kepada siapa. Kenyang search di mbah Google akhirnya, aku menemukan juga tesis yang serupa tentang pembatu rumah tangga oleh salah seorang mahasiswa Malaysia. Lagi-lagi, ini untuk calon Doktor. Tidak tanggung-tanggung, seorang calon Doktor Falsafah (tabik aku). Judulnya, "

PERLINDUNGAN PEMBANTU RUMAH INDONESIA DI MALAYSIA: ANTARA IMPIAN DAN REALITI

di tulis oleh,
(Darul Amin bin Abdul Munaf)Calon Doktor Falsafah di Jabatan Pengajian Asia Tenggara, Fakulti Sastera dan Sains Sosial, Universiti Malaya aku tidak akan membicarakan tulisan belaiu. Hanya saja, ternyata menarik dari segi aspek apapun ketika membicarakan pembantu rumah tangga (wabil khusus, TKW tentunya). Ada juga aku menemukan di sebuah web tentang skripsi dan tesis lagi-lagi tentang pembantu. Sebuah web yang di kelola oleh orang Indonesia. Kalau aku baca lebih lanjut, isinya ada yang sedikit kesamaan dengan tesis di atas. Kembali kepada seorang calon Doktor Mahasiswa Indonesia tadi, aku betul-betul berburu tentang beliau. Meskipun sudah hampir satu tahun berlalu, aku belum juga menemukan identitasnya (maklumlah, pergerakan aku terbatas) Hingga pada suatu waktu, tatkala aku bertemu dengan ketua PPIM (Persatuan Pelajar Indonesia di Malaysia) dan aku mengantongi nomor hpnya aku berani menanyakan tentang beliau. Aku kira, dulu yang mengambil tesis tersebut bernama Pak Askar. Rupa-rupanya, lain di kepala, lain pula jawabannya. Pak Askar adalah seorang enginerring S2. Dan yang aku cari ternyata bernama Pak Muhammad Ikbal mahasiswa UKM (Universitas Kebangsaan Malaysia) Fakultas Psikologi. Dari situ, aku mendapatkan nomor hanphonenya dan sejak itu juga, aku mulai menghubunginya. Pada awalnya, aku bingung harus memberikan intro seperti apa. Ternyata, pak Ikbal cukup friendly. Dan, beliau di amanahkan sebagai presiden UNIMIG(Union Migrant) Indonesia. Melalui beliau juga, aku di mintanya membantu menjadi pemantau pemilu sebulan yang lalu (dan aku berfikir, cukup sekali itu aku mengikutinya) :) Kembali kepada tesis, tak di sangka dan tidak di duga saat kemarin aku mengikuti kajian di sebuah Surau Kilang, aku melihat kelebat Pak Ikbal. Tertanya-tanya juga di dalam hati. Hasrat aku untuk mengajukan soalan beberapa hari yang lalu, kembali muncul di kepalaku. Terfikir, ketika aku akan membuat posting ini aku akan bertanya kenapa beliau mengambil tesis tentang PRT. Rupanya, Allah berkata lain saat aku di temukannya ahad kemarin. Meskipun aku tak bertanya apapun kecuali khabar tapi, aku di beri kesempatan untuk mengisi angket kuesioner untuk penelitian beliau. Hmmm... aneh... aneh... Peserta pengajian yang cukup banyak dan angket yang di bawa terbatas hanya 50 keping aku tak berhasrat sedikitpun untuk mengisinya. Toh banyak yang lain ujar hati kecilku dan ini, mungkin khusus untuk pekerja kilang. Tapi nasib berkata lain, setelah selesai shalat dhuhur, aku malah di suruh ngisi tuh angket sama ketua panitia. Padahal, aku sudah menolaknya :(. But, sure not bad mengisi angket tersebut. Lembar-lembar permulaan soalan-soalan tentang kesehatan, lembar berikutnya, kenyamanan pekerjaan, selanjutnya tentang libur dan jam kerja dan lembar berikutnya tentang pengenalan diri. Termasuk introvertkah atau ekstrovet? (bener gak yah nulisnya) dan lembar terakhir, tentang umur, tempat tinggal, majikan dan gaji. Sepertinya, gajiku akan paling kecil tertulis di situ. Untung aja usah nyebut nama :). Fiuh... selelsai juga ngisi tuh angket. Cukup instant dan cepat, soalnya sudah menunggu mendengarkan Bank Muammalat melakukan promosi. Selesai angket itu, terfikir juga pertanyaan kepada pak Ikbal, ada gak angket untuk para pembantu? :)

18 komentar:

  1. neng memang sangat peduli yang namanya pembantu dan tekawe di indonesia,,aku salut sama neng!! :D Meski aku sedit pusing dengan kata--kata neng dan agak ngambek enggak mau baca posting neng tapi setelah aku sedikit bersabar ternyata aku mendapatkan sedikit hikmah dan pelajaran dari tuuh semua,,ternyata bermanfaat juga ini posting
    Aku juga punya kenalan seorang pembantu tapi dia enggak mendapatkan hak--haknya sebagai manusia,,dia diperlakukan seperti hewan enggak manusiawi banget..kalo teringat tuuh semua aku jadi mellow*huh--huh* :((

    BalasHapus
  2. profesi prt cenderung karena terpaksa, kalau nggak terpaksa pasti sudah ibu tuan rumah. Makanya tidak boleh disia siakan

    BalasHapus
  3. pembantu rumah tangga/TKI yg bekerja di luar negeri itu sebenarnya juga pahlawan lho, pahlawan Devisa Negara. Jadi sudah selayaknya dilindungi oleh Undang2 dan dijaga harga serta martabatnya...

    BalasHapus
  4. pokoke aku tetap semangat mbak anaz. nyambung.com gak yah? nguantukkk....

    BalasHapus
  5. mbak anaz, keknya kalo tanggal 13 juni kecepetan waktunya. saya harus cari bukunya dulu dan membacanya sampe habis. untuk waktu membaca saya hanya punya dimalam hari (menjelang tidur), cuma satu jam atau satu setengah jam. Karna waktu saya sudah banyak dipake untuk dikantor dan dikampus. kalo full baca itupun cuma hari minggu. So, mungkin akhir juni untuk konfrensinya?

    Maaf kalo saya sering telat kesini untuk konfirmasi karna postingannya gak update di tempat saya mbak anaz. ada beberpa sahabat blogger yang gak keupdate juga, saya lagi coba cari permasalahannya ada dimana.

    BalasHapus
  6. saya juga pernah baca di kolom opini salah satu koran harian nasional bahwa hukum Indonesia ini lemah, tidak bisa ditegakkan di negara lain, apalagi tentang tenaga kerja. apa benar?

    BalasHapus
  7. Ikut berbela sungkawa aja atas meninggalnya pahlawan devisa kita Kartini.
    Semoga seluruh amal ibadahnya diterima Alloh Swt, amin.

    BalasHapus
  8. profesi yang cenderung merupakan pelarian kaum wanita untuk menghidupi keluarga.
    profesi yang menjadi salah satu kualitas eksport Indonesia yang paling besar.

    Link saya dimana yah??

    BalasHapus
  9. Nggak tahu deh gua mesti ngomong apa ? udah keburu ngambek duluan pas baca "Korban ditemukan dengan kecederaan parah pada kepala di percayai akibat di dera (Berita Minggu, 24 Mei 2009)" ...

    Gua bukan orang baek...tapi belum pernah mukul perempuan,siapa pun itu.

    BalasHapus
  10. Emang perlu dibuatkan tesis dan penelitian lainnya tentang Pembantu Rumah Tangga, khususnya yang jadi TKW. Biar Pemerintah punya data "faktual" tentang apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang dibutuhkan oleh para TKW itu,

    BalasHapus
  11. wow wow...
    keren neh postinganyya
    soryy baru bsia jalan2, lagi sibuk (sok sibuk ya he he he..)
    sukses selalu ya

    BalasHapus
  12. kenapa sih kok kyknya negara kita ini seperti mainann negara tetaangga, mksdnya wlpn mreka salah, tp negara kita ndak bs brbuat bnyk. apalagi tuh mnygkut klrg krjaan dr sana.
    o iya blognya aku follow yah, n klo ndak keberatan follow balik yah, tengkiuuu

    BalasHapus
  13. Ya, aku setuju dengan pernyataan Ibu Reni. Semoga dengan adaya tesis tersebut, pemerintah dapat mengerti akan apa-apa yang dibutuhkan para tenaga kerja di luar sana. Ya, semoga...

    BalasHapus
  14. pembantu... bisa dibilang pahlawan tanpa tanda jasa gak yaah...???

    BalasHapus
  15. hm... susah juga sih... dilema kasi komennya.
    btw, setuju ama jengsri, kecepetan... soale sayah baru sempet baca buku sabtu minggu euy :(

    BalasHapus
  16. Assalamualaikum..
    mbak anaz akhrinya saya bisa juga berkunjung kesini setelah beberapa hari ngubek-ngubek blog temen.

    tertarik dengan blog mbak anaz, aku follow dan link dulu yah.
    hmm mo nanya nih mbak anaz udah berapa tahun ya di Malaysia?

    BalasHapus
  17. prt oh prt., semoga kelak nasibnya lebih baek ya...

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P