Sebuah Pengharapan (cerpen)

Memenuhi janji dan menagih janji kepada mbak Fanny, ku posting cerita ini yang sudah sekian bulan manis terpendam dalam my document. Ide ceritanya, dari seorang TKW yang beberapa kali ku temu dalam sebuah kajian. Pengorbanan wanita, yang begitu hebatnya menurutku. Wanita yang belum begitu dewasa tapi sudah banyak mengenyam nasib derita dan sengsara. Menggambarkan, betapa menyedihkannya fenomena para TKW kita di luar negeri. Dan inilah PR besar kepada wakil rakyat kelak, semoga mereka tidak hanya mengumbar janji atau mimpi-mimpi tak berarti. Hiruk pikuk kesibukan dan masalah TKI dan TKW di luar negeri, tidak sepenuhnya seratus persen masalah dengan majikan atau agen. Tapi, tak sedikit yang bermasalah dengan warga atau orang Indonesia sendiri. Seorang wanita yang sudah melanglang buana ke Singapura dan Hongkong sampai nasibnya tercampak ke Malaysia dan menderita karena cinta. Khabar terakhir ku dengan, wanita ini sudah kembali menikah, sayangnya... Ia harus kembali mengais rizki nun jauh di negeri beton sana. Adakah di negara kita memang sudak tidak ada lagi lapangan kerja...????
Berat hati aku membuka mata. Rasa ngantuk dan lelah menambah aku enggan untuk bangun. Rasanya, ingin saja aku lena dalam tidur sampai ke esok hari. Tapi, tangisan itu kembali mengusiku. Menjerit tanpa permisi, meminta di kasihani. Ku paksakan juga bangun, meskipun dengan kepala terhuyung-huyung menahan pening. Baru beberapa jam aku tertidur, tangisan itu kembali memaksaku untuk membuka mata dan berjaga. Aku mengangkat tubuh bocah kecil itu. Inilah jalan terbaik ketika aku harus selalu menenangkannya. Rasanya, sudah kering ASI yang ada di tubuh ku tapi, sepertinya dia belum merasa kenyang. Ku letakan anakku, untuk membuat susu formula. Baru beberapa langkah, lengkingan tangisnya menaikan seluruh emosi ku. Kesal dan geram setiap kali menghadapi keadaan seperti ini. Terburu-buru aku membuat susu. Aku meletakannya di atas riba, menggendongnya sambil aku bersandar di birai tempat tidur. Melihat mata kecil itu, hatiku sungguh sayu mata tanpa dosa. Hanya karena keegoisan orang dewasa, ia sudah menjadi korban penderaan seorang ibu. Kadang, aku merasa bukan ibu yang baik, selalu memarahinya. Padahal, ia baru berumur dua minggu, yah dua minggu. Bayi itu masih merah, tali pusatnya pun belum terlepas. Air mata itu kembali mengalir, menangisi nasib anaku juga nasib hidupku. Dalam keadaan seperti ini, aku begitu merasa membutuhkan Sang Maha Pengasih. Meskipun aku tahu, aku tidak begitu mendekati-Nya ketika aku merasa bahagia. Perasaan malu menjalari seluruh tubuh ketika benar-benar merasa begitu miskin saat ini. Miskin dengan segalanya. Sepertinya, aku sudah mengadaikan hidupku dengan sia-sia. Meskipun tujuan utamanya adalah untuk sebuah kebaikan. Ku letakan Arif di atas tempat tidur. Aku kembali memejamkan mata, berharap dapat tidur untuk menghabiskan waktu malam yang hanya tinggal beberapa jam saja. Ku lirik jam, sudah pukul empat pagi. Begitu sunyi, hanya pusingan jarum jam yang menemaniku di separuh akhir malam. Ka Ros belum pulang, sepertinya di kembali lembur. Hari sabtu malam, biasanya kedai makan tempat ka Ros bekerja ramai pengunjung. Tak jarang, ka Ros pulang setelah adzan subuh berkumandang. Mengingat ka Ros, sepertinya ia adalah penolong yang Allah berikan khusus untukku. Tanpanya, mungkin aku terlunta-lunta di Negara orang. Tanpa bantuannya juga mungkin aku sudah meringkuk di penjara. Dia juga yang mengajariku lari dan bersembunyi ketika pasukan RELA (ikatan relawan rakyat Malaysia) mengejar pendatang asing tanpa izin, alias ilegal. Berkat bantuannya juga, aku di kenalkan dengan Bu Syarifah, seorang warga Indonesia yang mengikuti suaminya belajar di sini. Dan dari situ, kemudahan dan bantuan selalu menyertaiku. Mungkin, ini rizki anak ku. Ah, benar memang, terkadang, Allah menurunkan cobaan beserta pertolongannya. Teringat kata-kata bu Syarifah, katanya, Allah tidak mungkin menurunkan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Sedikit pun mata ini tidak mau terpejam. Sudah pukul empat tiga puluh, ka Ros tak muncul-muncul juga. Ku lirik Arif, dia begitu lena. Aku kembali memejamkan mata, memaksa untuk tidur. *** “Rinah, bagun!. Ini, ka Ros bawa sarapan untuk kamu.” Suara ka Ros mengejutkan lena ku setelah semalaman hampir bergadang. “Nanti lah ka, masih ngantuk.” Sedikit pun aku tak berganjak dari tempat tidur. “Cepatlah! Sudah siang, tuh anakmu pun sudah mandi.” Suara ka Ros nyaring sambil mengoyang-goyangkan badanku. Aku menggeliat malas. Mendengar saja Arif sudah mandi, terpaksa aku bangun. Aku malu dengan ka Ros, tak hanya kali ini ia memandikan Arif tapi, sudah beberapa kali. Karena kemalasanku, pernah sekali aku memandikannya dengan air sejuk tak ayal ini membuat ka Ros berang dan tak henti-hentinya memarahi aku. Ka Ros, orang Madura asli. Kalau ngomong, nadanya seperti orang marah-marah. Dulu, pertama kali aku mengenalnya, aku menganggapnya orang yang sombong. Tapi, di sebalik segala kekerasan suara dan suka mengomelnya tersimpan hati yang bersih, sebersih mukanya yang selalu di simbah air wudhu. Pun lain ketika ia melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an begitu indah. Hilang sudah segala kekerasan dan kecerewetan dari mulutnya. Kadang, aku mikir kenapa ka Ros gak ikutan Tilawah Qur’an antar bangsa. “Rinah!, kenapa malah bengong!. Sudah sana, cepat mandi. Susukan anakmu, dari tadi tak menyusu lagi!.” Aku terkejut dengan teriakannya. Tak mau di teriaki untuk yang ke dua kalinya, aku cepat-cepat keluar dari kamar dan menuju kamar mandi di bawah. Rumah dua tingkat tapi, ukurannya sangat kecil. Ada dua kamar di tingkat atas dan di bawah ada kamar mandi, dapur dan sedikit ruang untuk duduk ketika ada tamu datang. Juga terbentang kasur busa untuk Arif ketika siang hari. “Rinah!. Cepat! Ka Ros dah mau berangkat nih!.” “Iya ka.” Aku cepat-cepat membuka pintu kamar mandi. “Mungkin nanti ka Ros pulang telat lagi. Tadi, bos telfon katanya ada yang order makanan untuk pesta ulang tahun.” Ka Ros dengan cekatan membuat air minum. “Katanya, dah mau pergi ka…?.” “Iya, kaka mo sarapan dulu.” Segera ka Ros mengangkat minuman meletakan di bawah dan menghidangkannya untuk kami. Beberapa kueh dan nasi bungkus tersusun rapi di atas dulang. “Tadi malam pulang jam berapa ka?.” “Kaka pulang jam 1 malam. Tapi, tiba-tiba ada operasi pasukan rela. Kaka terpaksa mencari tempat persembunyian yang aman...” Ka Ros tiba-tiba menggantungkan kata-katanya… Aku terkejut dengan penjelasannya. “Beberapa teman kaka pun ada yang kena. Mereka di giring ke balai polisi. Hati-hati Rinah mungkin, nanti suatu ketika pun kaka atau kamu akan mengalami hal yang sama. Ah, sudahlah, mari kita makan. Kita serahkan semuanya sama Allah.” Ka Ros, mengeluh pasrah. Kemudian sedikit demi sedikit mulai menjamah sarapan pagi. Lidah ku terasa kelu, inilah nasib hidup sebagai pendatang illegal. Tak boleh duduk tenang tidak juga bisa merasa senang. Setiap kali, aku, ka Ros dan pendatang illegal lainnya selalu di buru cemas. Takut di tangkap, takut di giring ke balai polis dan takut di penjarakan. Dalam keadaan kalut seperti ini, aku hanya menggantungkan nasib di tangan-Nya. Semoga Allah, masih melindungiku dan anakku juga ka Ros… “Rinah, cepet habiskan makannya. Nggak usah bengong. Nanti, kalu sunyi, pergi saja ke rumah ka Syarifah.” Ka Ros beranjak ke tempat cucian piring. Membasuh tangannya cepat-cepat. Sepertinya, apa yang di lakukan ka Ros, selalu sepantas kilat. Tak jarang, dia pun sering ngomel kalau melihat aku buat kerja. Katanya, leletlah, lambatlah dan alasan lainnya. “Sudah, kaka berangkat dulu. Kamu hati-hati di rumah. Jangan aniaya anak lagi, ada apa-apa, nanti telfon kaka. Itu makan, cepatlah sikit! Lambat betul!.” Terkadang, bahasa melayunya keluar juga. Aku hanya mengangguk-angguk mendengar kalimat-kalimatnya. “Kaka, terimakasih yah.” Hanya itu yang mampu aku ucapkan. Iya lah… Kaka berangkat dulu. Assalamu’alaikum. Nih kunci pintu.” “Waalaikumussalam…” Ku jawab salam perlahan. Beranjak menutup pintu grill dan menguncinya. Sedang pintu biasa ku biarkan terbuka. Ku simpan sisa makanan yang tadi tak habis aku jamah. Ku mulai lagi rutinitas seperti biasa. **** Jam sembilan pagi, suasana begitu sunyi. Beginilah keadaan rumah di sekelilingku. Semua orang sudah pun berangkat mencari penghidupan juga anak-anak yang pergi sekolah. Tetanggaku, sebenarnya banyak orang Indonesia dan sebagaian besar dari mereka tinggal di Malaysia secara haram. Tidak heran, terkadang mereka menghilang saat ada operasi dan muncul kemudian setelah penggeledahan itu berakhir. Arif masih tertidur. Memanfaatkan masa, ku gunakan untuk mengemas rumah dan membasuh baju. Siang nanti, aku akan ke rumah bu Syarifah, menunggu informasi dari BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) dan KBRI. Katanya, Baznas akan memberikan bantuan, juga kabar dari KBRI tentang kepulanganku ke tanah air. Apakah bisa diproses dengan cepat?. Aku kembali teringat kedatanganku mula-mula dulu ke Malaysia. Aku bukan pendatang haram tidak juga illegal, aku memiliki passport, permit kerja juga pekerjaan di sebuah pabrik elektronik di kota Johor. Semua itu berubah, ketika aku mengenali seorang lelaki yang baik budinya, sopan bahasanya dan lembut kata-katanya. Parno namanya. Mengikuti nafsu dan atas nama cinta, aku lari dari Pabrik. Mengikuti mas Parno yang sudah berjanji akan menikahiku. Padahal, aku belum cukup setahun bekerja di Pabrik. Alasan tidak boleh menikah selama bekerja itulah yang membuatku nekat lari dari pabrik. Tentu saja Mas Parno gembira mendengar keputusanku. Tapi, tidak dengan keluargaku mereka semau menentang. Aku tetap bergeming dengan pendirianku. Kalau aku akan menikah secara siri di Malaysia. Di depan seorang kyai, tanpa wali dan hanya ada wali hakim. Semua itu, ku buat tanpa berfikir masak-masak. Tanpa memikirkan akibatnya nanti. Bulan-bulan pertama, semua berjalan lancar. Mas Parno menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab. Aku gembira bukan main, aku berfikir keputusanku menikah sangat tepat. Meskipun aku hanya tinggal di sebuah rumah kongsi yang sangat kecil dan pengap aku begitu menikmatinya. Meskipun aku tidak suka dengan lingkungannya. Rumah kongsi, bukan seperti rumah kebanyakan. Kalau aku menyebutnya rumah burung. Ia berada di atas ruko tingkat paling atas. Setiap kamar berukuran dua kali dua meter tak lebih tak ada jendela begitu pengap. Sepanjang lorong, hampir berisi dua puluhan kamar. Kebanyakan dan hampir semua penghuninya adalah orang Indonesia. Yang bekerja di bangunan dan para isterinya berdagang ala kadarnya. Tak sedikit juga yang tinggal di rumah kongsi pasangan yang bukan suami isteri. Aku sungguh tertekan melihat keadaan ini. Ketika aku hamil, mas Parno begitu gembira. Tak jarang, dia membelikanku macam-macam makanan dan buah-buahan. Katanya, biar bayinya sehat. Aku nurut saja. Gajinya sebagai kuli bangunan cukup untuk kami makan dan masih ada sisa untuk kami tabung. Dengan alasan tidak ada passport, mas Parno tidak pernah sekalipun mangajak aku jalan. Konon, takut kena tangkap. Aku manut saja. Memasuki usia enam bulan kehamilan, mas Parno berubah. Dia jadi sering marah-marah dan selalu tidak pulang ke rumah. Aku sungguh tertekan dengan perubahannya. Sampai kabat terakhir ku dengar, mas Parno ada affair dengan seorang perempuan pekerja di sebuah kedai makan. Aku begitu terpukul, semua hari ku berubah menjadi gelap dan linang-linang air mata. Tiada senyum dan tawa, mas Parno bukan lagi suami yang ku kenal dulu. Setiap pulang, hanya kemarahan dan pukulan yang hinggap di badanku. Aku sungguh tersiksa. Lafadz cerai, di ucapkanya berulangkali. Menikah tanpa di daftarkan, tanpa surat nikah menjadikan aku orang yang begitu kelimpungan. Tidak tahu kemana mencari perlindungan. Hendak menuntut nafkah pun tidak boleh. Aku terlunta-lunta. Beruntung, ketika uang tabunan aku yang pegang. Tapi itu tidak bertahan lama, ketika mas Parno tiba-tiba datang dan menggeledah semua isi rumah. Lesap sudah semua isi tabungan. Bersyukur ketika aku menyisihkan di dompet beberapa hari sebelumnya. Aku kembali terpuruk, tiada perlindungan tiada harapan. Kembali menyesali dan menangisi nasib, kalau tidak mengingat bunuh diri adalah perkara yang di benci Allah, mungkin ini sudah ku jadikan penyelesaian. Tapi, bukankah aku pun sudah melakukan perkara yang di benci-Nya. Aku telah bercerai, tepatnya, aku di ceraikan. Oh Allah, adakah aku mampu menghadapi ini semua…? Terakhir kali aku bertemu dengan suamiku ketika ia pulang ke rumah dengan mata memerah dan memakiku. Dia mencari passport yang memang sengaja aku sembunyikan. Inilah yang mampu aku ambil darinya. Aku mencuri passpornya ketika ia datang ke rumah untuk mengambil uang. Ini semakin membuatnya kalap, aku di sepak dan di tarik rambutnya. Benar-benar tidak memiliki rasa kemanusiaan lagi. Tangisanku, tidak sedikitpun meredakan amarahnya. Dengan segala upaya aku mempertahankan passport, tanpa membagi tahunya ia di mana. Aku tidak peduli dengan amarahnya, maki hamunnya juga dengan pukulannya yang bertubi-tubi mengenai tubuhku. Mungkin, dengan cara inilah aku dapat membalas sakit hatiku. Passportnya, sudah ku titipkan di rumah ka Ros. Lelah mengamuk tanpa menemukan apa yang di carinya, lelaki tak bertanggung jawab itu pergi dengan ancaman. Di tariknya leher baju aku, “Kalau kau tak bagi tahu di mana kau sembunyikan passport aku, siap kau nanti!.”. Dia selalu menggunakan bahasa Melayu, seolah telah lupa dengan bahasa ibu. Aku biar saja dia pergi, aku tahu maksud kata-kata “siap kau nanti” Aku tak peduli meskipun dia nanti akan datang lagi memukulku atau bahkan membunuhku. Aku benar-benar tak peduli. Keputusanku sudah bulat, aku hendak lari. Mengilang dari suamiku. Ka Ros orang yang baru beberapa hari aku kenal menjadi pelabuhan tempat aku bersandar kesedihan dan menumpang hidup. Sampai hari ini, aku tidak lagi bertemu dengannya. Khabar terakhir aku dengar dia sudah masuk penjara. Ah, biarlah, mungkin ini balasan Tuhan. Sedikitpun, aku tidak merasa bersalah karena telah menyembunyikan passportnya. **** Aku tersadar dari lamunan panjang saat terdengar suara Arif terjerit-jerit menangis. Juga bersamaan dengan deringan hp. Aku mendekati hp yang ku letakan berdekatan dengan tempat tidur Arif. “Assalamu’alaikum.” Sapanya di talian sana “Waalaikumussalam.” Ku biarkan tangisan Arif “Dik Rinah, nanti tolong ke rumah ya?.” “Iya Bu, tadi saya habis beres-beres.” “Dik, itu Arif nangis…” Bu Syarifah menegurku. “Iya Bu, tadi baru bangun tidur. “Ya udah dik, nanti kalau dah lapang datanglah ke rumah. Assalamu’alaikum.” Ujarnya mengakhiri perbualan. “Makasih banyak bu. Waalaikumussalam…” Ku angkat Arif dan menyusuinya. Perlahan-lahan, dia senyap dan hening. Wajahnya, betul-betul mewarisi bapaknya. Ini yang terkadang membuatku begitu membencinya. Berulangkali perasaan itu ku tepis dan ku singkirkan. Meskipun berangsur-angsur perasaan itu pergi tapi, nyata-nyata ketika Arif menangis aku lebih sering membiarkannya. Ya Allah, ampunilah segala kelemahan dan kesalahanku. **** Penjelasan dari bu Syarifah ku dengarkan dengan hati yang berbuku menumpuk segala persoalan dan pertanyaan. Rasanya, aku sudah benar-benar buntu. BAZNAS memberikan sumbangan yang cukup banyak RM.800. Di sebalik sumbangan itu, ada juga khabar yang cukup membuatku sedih. Sampai saat ini, KBRI belum mampu membuatkan passport untuk aku dan anakku. Berkali-kali juga Bu Syarifah meminta maaf karena tak berhasil menolongku. Aku jadi merasa tidak enak sendiri. “gak apa-apa bu, bukan ibu yang salah.” Aku mencoba mengurangi rasa bersalahnya. “Dik, gimana kalau pulang lewat jalan “belakang” aja?. Bu Syarifah memberikan alternatif. “Masalah biaya, nanti ibu kembali bincangkan dengan teman-teman ibu. Dan BAZNAS, semoga masih bisa membantu. “Tapi saya gak punya uang bu…” Aku menggantung kalimat. Penawaran untuk pulang lewat jalan “belakang” membuatku sedikit takut. Biaya yang besar dan resiko yang di tanggung membuatku ketar-ketir untuk menerima tawaran itu. “Saya juga tidak berani bu...” “Dik, yakinlah Allah akan menolong kita.” “Tapi saya tidak memiliki keberanian bu…” Suaraku kembali pesimis. **** Berbekalkan segala keyakinan dan motivasi bu Syarifah, akhirnya aku mengambil keputusan untuk pulang ke Indonesia melalui jalan belakang dengan penuh rintangan dan tantangan. Tidak di butuhkan passport juga segala tetek bengek lainnya. Ka Ros begitu sedih mendengar keputusanku. Berunlangkali ia mengucup dahi Arif saat aku berpamitan juga bulir-bulir air mata mengiringi kepergianku. Melewati jalan yang berliku, paginya aku berangkat ke Johor untuk menginap di rumah penduduk. Dua hari kemudian aku baru mendapatkan kapal berlabuh di pelabuhan Johor. Sungguh ini adalah pengalaman yang paling berharga dalam hidup. Aku dan beberapa orang di naikan ke sebuah kapal pencari Lumpur. Dimasukan ke dalam dek paling bawah dan selama perjalanan tidak boleh keluar. Mual dan pening tidak terkira ku rasakan. Bersyukur ketika Arif hanya menangis sesekali saja. Melewati OPL laut perbatasan antara Singapura, Malaysia dan Indonesia kita di pindahkan ke kapal boat yang lebih kecil. Aku bergidik ngeri, membayangkan kelajuan kapal ini. Bismillah, dengan kekuatan yang aku miliki dan demi anakku, aku naik juga ke boat. Tak ku hiraukan lagi nyawaku, ku dekap erat Arif di gendongan, berjuta harapan dan lantunan dzikir ku ucap.” Allah, aku masih mau melihat anakku membesar dan tidak sepertiku.”

35 komentar:

  1. cerpen yang sangat mempesona....
    mengingatkan masa-masa di malaysia dulu...
    nanti kalau ada rezki cukup, pasti ku pergi lagi ke malaysia....
    hehehehhe....
    itu juga harapanku.... melancong pegi malaysia....
    KLCC, JB, yang paling ku suka di johor bahru... Gedung Landmark...
    ada kak amanda disana.... wew.... jadi ingat semua nich.....

    BalasHapus
  2. Ini kisah mbak anaz?
    menarik..dan sungguh menyentuh. apalagi kalimat terakhir, benar-benar menggambarkan kasih seorang ibu. ah,,mbak anaz memang hebat.
    ^^

    BalasHapus
  3. Sangat menyentuh hati mbak, begitu terharu aku membacanya, ada baiknya mbak anaz memikirkan untuk membuat novel tentang para TKI kita disana mbak, aku yakin pasti menarik.

    BalasHapus
  4. mbak... sayah baca cerpennyah nani ajah yaah... :D komeng dulu deh... hihihihi,,,

    BalasHapus
  5. Hmmmmmmmm .... sisi lain soal TKI .
    Sungguh sangat menyentuh betapa dahsyatnya kasih seorang ibu.

    nice story

    BalasHapus
  6. sangat menyentuh...penuh arti yang dalam..salam kenal..

    BalasHapus
  7. nice and long story...
    wah.. mba Anazkia pintar buat cerpen ya...

    BalasHapus
  8. saling terkait..... cerpen yang bagus menurut saya

    BalasHapus
  9. Ini cerpen atau otobiografy sih An, crita tntang km ya?

    BalasHapus
  10. Wah,mbak Fanny sudah berhasil menelorkan junior nih. Bagus...

    BalasHapus
  11. Heheheheh...teruskan mbak....hajar eh kejar tuh mbak fanny....kekekeek...bercanda mbak...

    BalasHapus
  12. Luar biasa, menyentuh.... dan betapa tegar ya?

    BalasHapus
  13. Terasa nyata kisahnya.. Pertanyaan yang sama, kisah pribadi kah?

    BalasHapus
  14. Allahu akbar..allahu akbar..allahu akbar..itu yang selalu bergumam dalam hatiku melihat cerita yang begitu memilukan!!
    Waktu pertama lihat cerita yang panjang membuat aku malas membacanya tapi dengan kesabaran yang aku punya sedikit demi sedikit aku membaca alur cerita dengan seksama dan apa yang ku dapat??
    Cerita yang memilukan dan pengalaman seorang TKW yang tak berdaya dengan keputusannya untuk merit,, semoga pengalamannya dinegri jiran menjadikannya lebih tegar dan tidak melakukan kesalahan lagi untuk merit tanpa restu orang tua..
    untuk para pembaca jangan hanya dibaca saja tapi terapkan cerita diatas didalam hidup kalian,, semoga cerita ini menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua..amiin
    Untuk mbak anazkia:aku sangat berterima kasih sudah menulis cerita yang membuat hatiku mellow dan ini akan kujadikan pelajaran yang berharga
    sukses selalu yaa!!sering--sering posting tentang pengalaman menjadi TKW/TKI trims

    BalasHapus
  15. ceritanya bagus. apalagi diambil dari kisah nyata. gaya ceritamu adalah gaya cerita realistis. berdasarkan kenyataan. Bagus kok. Cocok dikirim ke majalah Kartini atau Femina karena temanya untuk wanita dewasa. kenapa gak coba dikirim aja?

    BalasHapus
  16. kisah yg menarik sekaligus menyentuh mbak... hebattt....

    BalasHapus
  17. maaf, aku kok malah teringat kak ros dari pelem upin dan ipin ya
    hehehe ga nyambung neh

    BalasHapus
  18. mas parno janji akan menikahimu.. duhhh daku jadi patah hati niii (keduluan orang) hhuuhuhuhuhuhu

    BalasHapus
  19. Cerita yang menyentuh mbak Ana. Sisi humanis kita mmg kdg muncul tanpa bs ditolak saat melihat pergulatan manusia lain di sekitar kita ya, termasuk TKW yang mmg banyak di Malaysia. Keep writing sobat.

    BalasHapus
  20. Cerpennya bagus sekali... Temanya juga sangat bagus. Kirim ke majalah dong...

    BalasHapus
  21. subhanallah,,bner2 mnyentuh dan menginspirasi,,

    hebat mba'...

    BalasHapus
  22. cerita yang panjang, hampir tak sanggup ku membacanya, bukan karena panjangnya cerita, tapi cerita yang begitu memilukan, membawaku dalam suasana yang begitu sulit, itu yang kurasakan saat membaca cerpen ini,,,hingga aku mungkin tak sanggup menjalani kehidupan seperti itu. Smoga Allah selalu memberi pertolongan kepada hambanya yang kesulitan, dan semoga Allah memberi petunjuk kepada mereka untuk keluar dari kesulitan itu...

    BalasHapus
  23. pengorbanan yang sangat indah untuk sang buah hati dan buat diri sendiri,
    allah masih sayang sama kita,
    semoga ini bisa menjadi contoh,menjadi pelajaran buat kita semua,menjalin hubungan harus ada bukti,bukan hanya mikir dengan logika,semua harus di pertimbangkan dengan matang dan yakin akan semua yang kita jalanin itu adalah jalan yang terbaik,,
    buat mas Parno ========>>> semoga dia sadar yah,,dan ngga ada mas parno mas parno yang lainnya !:)

    BalasHapus
  24. Keren mbak..
    ternyata ada cerpenis lain selain mbak Fanny
    Cerita tentang TKW tak akan ada habisnya

    BalasHapus
  25. kenanganku tak henti baca cerita tentang hidupmu...kau hanya mimpi ingin hidup lebih baik lagi mernatu, namun yg kau dapat jauh dari mimpi.

    pulang ke kampung dengan anak tanpa bapak pun sudah derita yg tak kunjung berakhir...

    tapi percayalah, Illahi maha adil....yg akan kau dapatkan entah didunia ataupun nanti ditangguhkan di akhirat kelak.

    BalasHapus
  26. Ini gambaran nyata Mayoritas masyarakat Indonesia. Khususnya kalangan Buruh Migrant.

    Standing Aplauss........
    Terus berkarya Nduk.
    Jaga diri sebaik-baiknya

    BalasHapus
  27. *aku semakin merinding lagi*

    "ya Rob berikan kekuatan pada mujahidah2 kami...."

    BalasHapus
  28. sedih bacanya...
    ayoo naz udh dikrm blom ceritanya tuuuh spt yg diblg fanny hehehe...
    pasti dpt deh di kartini

    BalasHapus
  29. sangat menarik artikelnya...
    btw salam perkenalan dari komunitas blogger bekasi
    mau tau acara terbentuknya silahkan lihat di Launching BeBlog

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P