Mengapung Bersama Nil

Apa yang sahabat bayangkan ketika berbicara Nil...??? sungai di Mesir kah? Universitas Al-Azhar..??? Atau kisah Firaun yang tenggelam bersama pasukannya. Atau ketika kita membicarakan karya sastra para mahasiswa Al-Azhar maka, kita akan teringat karya-karya besar kang Abik. Penulis fenomenal Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. Juga, menjadi fenomenal saat di filmkannya. Tapi, sekarang aku tidak membicarakan karyanya.

kali ini, untuk pertama kali, aku akan mereview sebuah novel. Tidak percaya diri, itulah kenapa selama ini aku tak pernah posting review. Dan, korban pertama kali reviewku adalah salah seorang sahabatku sendiri(wekekeke.. Rif, diriku mengaku-ngaku sahabatmu, bakalan di ketawain Arwani neh...). Makanya, aku berani untuk mereviewnya. Itung-itung belajar.

Awal membaca novel ini, aku cukup bingung. Ada beberapa babak yang mirip sekali dengan novel Arif sebelumnya "Keping Pasir Gurun Sahara" Secara, dulu dia pernah kirim draft novel tersebut kepadaku. Lama kelamaan, aku baru ngeh, kalau salah satu bab judul dalam novel tersebut pun sama. (weleh.. bingung nih...) Awal cerita, aku sudah di kejutkan dengan adegan kejar-kejaran seorang pencopet. Dan, lebih terkejut lagi saat yang mencopet adalah gadis bercadar. Salwa nama gadis itu, himpitan hidup yang membuatnya nekat berbuat demikian.

Sang Baba yang hanya buruh pencuci lantai apartemen kini tak mampu lagi untuk mengerjakan semuanya. Ia terbaring di sudut kamarnya karena penyakit batuk kering telah menggerogotinya. Salwa dan Ibunya bersusah-susah membanting tulang demi mencari sedikit uang untuk berobat Bapanya. Nasib membawa kepada Salwa yang di pertemukan tanpa sengaja di sebuah kereta api dengan seorang pelajar Indonesia. Niat Salwa yang hendak mencuri dompet Naufal ternyata, dengan ringan tangan Naufal memberikannya(kesamaan ama Kepng Pasir Gurun Sahara yah di sini).

Di sinilah, konflik demi konflik mulai bermunculan. Tanpa di duga, apartemen tempat Salwa bekerja adalah tempat di mana tinggal pak Sunardi pejabat KBRI. pak Sunardi memiliki seorang putri bernama Naila yang kemudian menjadi sahabat Naufal. Runut konflik begitu jelas, meskipun ada beberapa yang nampak begitu di percepat. Kadang, aku gereget sendiri membacanya. Di kejutkan kepada masalah yang sesungguhnya Salwa bukanlah anak dari orang tuanya saat ini.

Ia hanya seorang bayi yang di temukan di sungai Nil, terapung di dalam sebuah peti. Dan Salwa, terlahir dari rahim Nawal Majdi, seorang putri Ikhwanul Muslimin (tahu khan Ikhwanul muslimin..??? kalau gak tahu, klik aja tuh...) dan muslimah yang sangat taat, tapi terhina di mata masyarakat. Di sini aku menganggumi keberanian sang penulis yang mengambil unsur politik. Juga aku cukup tergelak saat membaca adegan Neila anak Pak Sunardi yang sibuk memilih model kerudung tatkala ia baru saja memakai hijab. Imajinasi penulis betul-betul di letakan sebagai seorang perempuan. Bagaimana Arif menjelaskan satu demi satu model kerudung dari overslag, pita bergelombang, gaya timur tengah juga bando. Aku tersenyum-senyum sendiri membacanya. Aku malah baru tahu yang cewek. Setting Mesir begitu kental maka tak heran kalau aku ambil kesimpulan cerita ini menggunakan setting kontekstual. Di mana ia menceritakan tentang sungai Nil, juga Ikhwanul Muslimin yang memang jelas-jelas hanya ada di Mesir. Kalau kisah cintanya sih umum... Sang Baba yang menginginkan Salwa menikah dengan Nufal rupanya menumbuhkan bibit cinta di hati mereka. Sayangnya, dalam masa yang bersamaan, Naufal harus terbang ke Belanda selama tiga minggu untuk urusan dakwah. Di sini, konflik Salwa kembali terangkat, ia harus rela dan pasrah pada nasib yang menjadikannya seorang penari perut. Sangat di luar logika ketika harus membayangkan seorang hafidzah dan mahasiswi Al-Azhar rela meletakan dirinya serendah itu. Tentu saja, ini kembali kepada permainan nasib. Salwa terpaksa! ya Terpaksa! mampukah cinta naufal dan Salwa di satukan? dan, sejauh manakah Salwa rela mengabdikan dirinya menjadi seorang penari perut? Semuanya, penulis ceritakan dengan cukup gambalng. Hanya ada beberapa kritik untuk penulis, mengapa meski ada adegan yang berdua2an antara Salwa dan Naufal. Apalagi, ketika Naufal dan Salwa melarikan diri ke Elminya, dan bertemu dengan Umar. Kenapa Umar tak satu kamar dengan Naufal...??? (halah, kira-kira Arif baca gak yah reviewku...???) hehehehe... Novel yang di tulis oleh mahasiswa Al-Azhar jurusan sastra Arab ini cukup kemas dalam susunan bahasanya. Tak mengherankan memang karena, saat ini penulis pun masih menjabat sebagai ketua FLP (Forum Lingkar Pena). Dan sedang menikmati liburannya di kampung halaman juga mengadakan tour Jawa untuk promosi novelnya.

Kau pernah memberiku Nil Dalam rupa cinta Dalam bias pelangi Hadir gemerlapkan hari Yang ingin kujelang Ingin kumengapung bersama Nil Mengejar cintamu di sana Di telaga surga Karena pernah hidupku Luruh redam Tenggelam dalam badai ketiadaan Lalu kau pegang tanganku Kita jalin kekuatan Bersamamu Bersama kita arungi Nil Dalam lembah cinta yang tak bertepi Dalam titian takdir Illahi
Semua gambar dan di atas aku ambil dari rumahnya Arif Friyadi
Judul: Mengapung Bersama Nil Penulis : Arif Friyadi Jumlah Halaman : 252 Penerbit : Lingkar Pena Publishing House Harga : Rp 29000.00 ISBN : 978-602-843600-7 Terimakasih kepada yang telah mau bersusah2 mencarikan novel ini membungkusnya, juga mengirimkannya.

28 komentar:

  1. Bagus kokn review ini na/ Penasaran, saya pengen cari novelnya. Novel dengan label Islami sepertinya memang sedang booming ya.

    BalasHapus
  2. Wah...akhirnya Ana jadi juga mereview novel. Sudah bagus Ana, mungkin kamu agak kurang teliti aja, karena ada beberapa salah ketik. Selebihnya sudah mengalir kok...
    Ana, sambungan kisahku dah terbit lagi. Kali ini komentarin dong cara penulisannya. Kalo ceritanya sih nyambung agak panjang.

    BalasHapus
  3. Hmmmm ikhwanul muslimiiin...perlu meluncur ke sana deh......

    BalasHapus
  4. wah,, bagus neh novelnya.. udah ada di gramed belum yak?? pengen baca neh...

    foto2nya juga keren!!

    BalasHapus
  5. wuaw.... aq jadi pengen mengapung juga niy di Sungai Nil, hehehehehe

    mau beli niy buku..... ngiler gara2 baca reviewan mbak anaz...

    BalasHapus
  6. woooh...
    iya sih.kalo ada yang bilang sungai nil, pasti ngebayanginnya jadi firaun..
    lumayan bagus kok review nya..
    oiya, jangan lupa komen balik yaaa... ada yang baru nih :D

    BalasHapus
  7. wekekekeke.. tumben nih si teteh
    jangan suruh aqw bca yow coz dikotaq ngga ad yg jual, dari pada beli mendingan penulisnya suruh crita ja hehehe...

    oh ya tu ibu/sodari2nya ada yg jadi pengemis ngga mba ...??? lum genap kalo ngga da crita tuu.... di daerah H-7 ada anak yg minta2 umurnya sekitar 9 tahun anaknya cantik lho hehehe... peace

    BalasHapus
  8. mampir aja dulu ya naz... lagi capek habis 17-an nih...

    BalasHapus
  9. Bagus koq Mbak repiunya, kayaknya seru bngt ceritanya.
    Ayo Mbak Semangat, maju terus pantang mundur, merdeka...!

    BalasHapus
  10. aku rasa sungai nil dan mesir itu berjodoh...
    "indah ya klo kita bisa menemukan jodoh kita yg diberikan tuhan dari langit"

    seingatku itu penggalan dialog AAC

    BalasHapus
  11. Wahh.waahh..sampe merenung aku ngebacanya....bagus mbak...

    BalasHapus
  12. wuahh seru nih, saya juga mesti rajin baca nih, jadi tergoda untuk membuat sesuatu yang bisa di bayangkan oleh orang2 yang baca hohooo

    BTW, mbaaaa ,,, ini udah pinter reviewnya, ayo teruskan hehehehe

    BalasHapus
  13. Keren... udah bisa nulis review yang bagus niy..!!
    Ayo semangat utk nge-review buku-2 lainnya mbak.
    Aku tunggu lho...

    BalasHapus
  14. reviw buku ya.... tapi kok jd ngiler liat sungai nilnya yaa??

    BalasHapus
  15. Selamat pagi Ana,.... review buku yang mantap, dengan wallpaper sungai Nil yang sangat Indah.

    BalasHapus
  16. Kereennn...review nya..
    aku suka, nih..

    dan puisi itu...(ehemm)..aku suka...rasanya spt berada di pinggir sunga nil.

    BalasHapus
  17. oh, buku religius seperti ini memang cocok untuk penerbit lingkar pena. tpi lama aku ga baca nopel baru hiiii

    BalasHapus
  18. wah, saya jadi mengapung nih baca repiunya Anazkia.

    BalasHapus
  19. wah...
    anaz akhirnya mereview and detail sekali...asik bgt deh rasanya jd pgn baca, gk kek aku klo nge-review sangat singkat hahahaha...

    BalasHapus
  20. Kayaknya bagus tuhhhhh
    tapi belinya kejauhan nggak yaaa

    BalasHapus
  21. hmmm...tokohnya cukup manusiawi, dengan labilnya keimanan. Tapi walaupun begitu, masih terasa sangat amat aneh, seorang hafidzah yang taat bisa jadi tari perut, walaupun keadaan yang memaksanya [hmmm...mungkin aku blum baca bukunya kali yah?!] eniwei, review yang menarik mbak ana. mungkin leih difokuskan ke reviewnya, tanpa ada cerita tentang ke tidak pedean ;)

    BalasHapus
  22. mesir.....jadi pengen kesana .......

    pinjem donk naz novelnya hehhhe

    BalasHapus
  23. kayaknya bagus neh novelnya
    aku tunggu peluncurannya deh :D

    BalasHapus
  24. Terima kasih reviewnya, bisa jadi rujukan belanja buku bulan depan untuk koleksi pribadi maupun koleksi perpustakaan sekolah kami.

    Ayo mbak buat review lagi, supaya saya ketularan semangatnya.

    Selamat berjuang.

    BalasHapus
  25. Subhnallah... terimakasih atas postingan tulisannya ukhti ya.. jazakillah khairan. Semoga novel saya bermanfaat untuk bangsa dan agama.. Amin..Arif Friyadi, Penulis Mengapung Bersama Nil.

    BalasHapus
  26. wow.. kenal arif friyadi juga ya? hag hag hag... ternyata punya cukup banyak kenalan masisir nih? :D

    arwani juga tau? wow... xixixixi.. salam kenal dari temennya arwani kalo gitu.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P