Diposting oleh Anazkia | 38 komentar

Suatu Sore, Di Sebuah Seminar

Fiuh... Lama gak up date, rasanya, ada yang kaku dalam jemari dan otakku. Aku benar-benar beku untuk merangkai kata menulis kalimat. Kuhitung-hitung, ku kira-kira apa gerangan hendak aku bercerita. Sepertinya, semua ide yang ada menguap sudah. Hendak menuliskan cerita lalu saja, yang sudah lewat beberapa minggu. Sore itu, aku tergesa-gesa menuju halte bus. Berharap tidak lambat sampai tujuan. Nyatanya, aku sudah terlambat. Tak henti-henti aku melirik jarum jam di layar hape, angka tiga sudah melebihi masanya. Aku semakin gelisah (jiah... ko kayak mo bikin cerpen sih...???) rubah haluan ah...
Sore itu, aku minta izin keluar dengan majikanku. Izin ku dapat, tanpa aku harus berdebat. Aku mengikuti sebuah seminar, yang sungguh-sungguh aku "tersesat" di dalamnya. Sebelum pergi, aku selalu melihat apa saja yang harus ada dalam tas dan, passport adalah yang utama. Maklum, tinggal di negara orang, salah sedikit bisa di tangkap, khan berabe. Aku Alhamdulilah beruntung, majikanku menyerahkan passport sejak dua tahun lalu, sebelum pemerintah Indonesia dan kerajaan Malaysia meributkannya. Seperti halnya cuti yang di permasalahkan, majikanku pun sudah memberikannya jauh-jauh hari. Ah, andaikan semua majikan seperti majikanku. Menaiki taksi aku menuju UIAM (Universitas Islam Antar Bangsa Malaysia). Dari logat bicara sang sopir, aku mengenali ia dari Negeri Kelantan. betul jawabannya ketika aku menanyakan kepadanya. Beberapa dialog terlontar, sekali dua kalimat bertukar. Ia menanyakan keberadaanku. Ku jawab saja, bahwa aku orang Indonesia. Tiada keanehan, tiada nada permusuhan, sang sopir bertanya, Apakah aku lahir di Malaysia? ku jawab tidak, aku baru empat tahun tinggal di Malaysia. Pak sopir mengangguk mahfum. Memasuki UIA, aku tepat di berhentikan di depan gedung utama, ketika aku masuk kedalamnya, harus menaiki beberapa tangga. Kebetulan, aku sudah beberapa kali kesana. Sebelumnya, aku sudah menghubungi panitia, di mana keberadaan acara. Rupanya, ia ada di fakultas ekonomi. tak sulit buatku karena, beberapa kali sebelumnya aku juga pernah pergi kesana. hanya kelasnya saja yang beda. Meskipun sudah beberapa kali datang, aku harus kembali menghubungi panitia, untuk menjemputku. Kalau biasanya aku datang ke UIA saat hari libur saja, kali ini, aku datang saat hari biasa. Di mana, para mahasiswanya masih banyak yang bertebaran di seluruh kampus. Banyak sekali ku temu wajah-wajah berbeda rupa dan warna, dari yang putih, sampai hitam, dari yang tinggi, sampai yang paling kecil. Ramadhan memberikan suasana lain di kampus itu. beberapa poster dan ajakan untuk berbuat amal shalih bertebaran. Dan yang paling menarik menurutku adalah spanduk bertuliskan "No Dating" tepat di sebelah masjid utama UIA. Di tengah jalan, aku bertemu dengan seorang ibu, ia menyapaku dan aku bertukar tanya. Ternyata, ia seorang dosen di UII (Universitas Islam Indonesia) di Jogja. Ia tengah menyelesaikan S3 nya di Malaysia. Ia bertanya, apakah aku sedang mengambil master? Aku tersenyum simpul, ku jawab saja aku bekerja. Terlintas jawaban di benakku, sepertinya, aku harus melebelkan PhD (Pembantu Harus Di rumah) jadi gak di tanya2, kuliah apa enggak. Ku harap pertanyaan mereka adalah do'a, karena sudah beberapa kali yang menanyakan, "Lagi ambil master yah" (TK aja aye kagak lulus). Masuk ke ruangan, aku sungguh kebingungan. Aku telat, ruangan sudah penuh. Bu Dosen tadi duduk di bangku paling depan, bersebelahan dengan seorang lelaki. Aku menuju ke belekang, masih ada sisa kursi kosong, nasibnya sama, sebelahnya, seorang lelaki. Aku duduk saja. Diam, tanpa kata. Sebelah kiriku, seorang anak perempuan kecil, sedang khusu membaca buku english. Sungguh aku di buai cemburu, betapa bersyukurnya kamu bisa memahami bahasa itu. Sedang aku setua ini, tak mampu mengeja alpabetnya. Kali ini, aku betul-betul merasa tersesat dalam jama'ah. Biasanya, aku sering mengikuti jama'ah-jama'ah fiksiah dalam seminar. tapi, kali ini sungguh di luar dugaan. Aku mengikuti jama'ah penulis ilmiah. Hmmm... suasana baru yang cukup kaku. Tapi ini sungguh pengalaman seru. Ada empat pembicara di situ. Semua hebat, semua bijak aku terkesima di buatnya. Prof.Dr Mulyadhi Kartanegara, alumnus Chicago University USA sedang membentang "Kiat-Kiat Menulis Buku" Aku tahu, ini di tujukan untuk para mahasiswa yang sedang mengadakan tesis, skripsi atau entah apa namanya. Tapi, ia mencuri perhatianku. Siapa tahu, aku juga bisa menulis buku dengan judul "Menjadi Pembantu, Di Tanah Melayu" Sebagai oleh-oleh untuk Emakku, karena aku tak mampu menghadiahkan rumah untuknya. (Wekekeke... hanya mimpi...) Batas jeda yang di cipta, di gunakan untuk bertanya. Seorang lelaki mengacung jari, mengenalkan diri. ternyata, ia mahasiswa Malaysia, Aku rasa, dialah satu-satunya di situ. Bertanya, dengan soalan yang cukup rumit menurutku. Bahasanya full melayu tapi, ia tetap percaya diri. Masa terlerai untuk berganti kepada pembicara selanjutnya juga untuk rehat sejenak shalat ashar. Sendiri, aku betul-betul sendiri. Ada beberapa yang tadi ku kenal tapi, ia sudah pulang sepertinya. Masuk kembali ke ruang seminar, mengikuti sesi selanjutnya. Kali ini, aku tak lagi duduk di belakang. Agak ke depan, di sebelah kananku, seorang perempuan. Bertanya basa-basi, tidak sengaja, aku keceplosan ngomong bahasa melayu. Di anggapnya aku orang melayu, Aku menukas cepat, berkata, bahwa aku orang Indonesia dan kembali full Indonesian language. Aku pun bertanya tentangnya, rupanya, ia orang Malayisa. Aku betul-betul terkejut kali ini. Baru kali ini aku dengar orang malaysia bisa berbicara bahasa Indonesia dengan fasihnya (baru denger aja kale...) Lantas ia menceritakan serba sedikit tentangnya. Ujarnya, Ibunya berasal dari Mandailing tapi, sudah menjadi warga negara Malaysia. Dan sang ayah, adalah keturunan orang Minang Indonesia. Dan Dia, selama ini belajar dan menetap di Gontor sebuah pesantren di Jawa Timur. Tidak heran, saat ia fasih berbicara bahasa Indonesia. Aku mengangguk-angguk, berfikir. Pak Alwi yang sedang memberikan tema "Menulis Popular" betul-betul tak populer di telingaku. Aku mengingat beberapa bulan lalu, ketika mengikuti sebuah pengajian di sini juga, seorang ustadz berkata, konon 40% dari penduduk Malaysia adalah keturunan Indonesia. Wallahu'alam.

38 komentar:

  1. mengapa hendakan master klau kamu udah punya PhD. hehe. Apapun aku respect sama kamu. Punya cinta mendalam terhadap ilmu. Tak seperti aku. :D

    P/s moga Islam akan dapat menyatukan kembali rumpun negaranmu dengan negaraku.

    BalasHapus
  2. sekali lagi, penuturan dikau bagus. Kata2nya rapih dan beralur. duuhh... kapan yah sayah bisa nulis kaya dikau?

    BalasHapus
  3. tulisan mantap nih...sampe2 gak bisa koment.

    BalasHapus
  4. Ini bukan tentang seminar yang pernah diceritakan ke saya waktu itu naz...? Alhamdulillah, senang sekali melihat semangatmu yang tinggi untuk mencari ilmu Anazkia. Mencari ilmu, memperluas wawasan harus dikejar oleh siapapun, ke penjuru manapun asalkan dengan cara yang diridhoiNya. Buat apa master beneran kalau pikiran cetek, wawasan sempit, dan malas menambah ilmu. Terus semangat ya.

    BalasHapus
  5. walahhh...kayaknya dah layak jadi penulis beneran neeh . Cool posting , semoga kesampaian nulis buku .

    Salam ,

    BalasHapus
  6. aq tersenyum membaca pengalamanmu mbak anaz yang sungguh bersemangat sekali dalam mengikuti seminar.... semangat terus ya mbak anaz.... :D

    BalasHapus
  7. ilmu harus kita kejar
    n jangan lupa koalisinya yach
    hehehehe

    BalasHapus
  8. mantabb naz, kalo boleh ngoment copas buwel ngopas komentnya alang qinie dan newsoul.....hehehhe

    BalasHapus
  9. anaz..
    pa kabarnya ...
    senangnya bisa jalan2 and ikutan seminar dan ketemu dgn bny orang, klo aku mendingan tdr drpd ikut seminar hahahah...

    BalasHapus
  10. berada di Malaysia tidak terasa asing kan...kerana ramai org Indonesia disni

    BalasHapus
  11. mudah2an gak jadi di skiping sama org malaysia

    BalasHapus
  12. stay cool....

    ambil yang baik,,,tinggalkan yang buruk...

    hebat ya mbak,,udah sampai ke Malaysia,,,

    BalasHapus
  13. Mbak Ana.... waahh..ternyata sibuk seminar neh..
    pantesan lama gak update heheheheh... pasti ntar tulisan mbak Ana makin keren aja dong...

    BalasHapus
  14. Kunjung nih!.Salut bngt ama cerita mbak.Mudah2an semangat terus!

    BalasHapus
  15. Apa kabar, Ana ...
    Lama gak terdengar tulisannya, eh muncul-muncul dengan semangat yang kau tularkan ttg mengejar ilmu. Salut, Na!

    BalasHapus
  16. Wah Majikannya baik sekali, senang dong punya majikan yang seperti itu, tidak seperti majikan orang lain yang sulit.
    di malasyia berarti seperti dekat dengan orang indonesia ya? karena orang-orangnya gak jauh beda dengan indonesia.
    salam sukses selalu...
    Mengembalikan Jati Diri Bangsa

    BalasHapus
  17. alhamdulillah..beruntung mbak anaz memiliki majikan seperti itu.
    soal ketegangan antara Indonesia dengan Malaysia, dari cerita mbak tadi, kayaknya nggak terlalu berpengaruh ke masyarakatnya ya? buktinya adem-adem wae tuh!

    BalasHapus
  18. ada maksud lain dari postingan ini........bukan ttg seminarnya.....tp hal/pesan lain yg ella tangkap..

    tp ella lagi males komentar soal itu......maaf ^_^

    BalasHapus
  19. waaaa lama ga apdet neh
    seminarnya menarik juga ya

    BalasHapus
  20. salam sobat
    trims sharingnya mba..

    trims kunjungan dan komentarnya mba
    jangan lupa untuk menerima AWARD dari blog NURANURANIKU ya,,mba

    selamat menyambut hari raya Idhu Fitri
    minal aidhin walfaidzin.

    BalasHapus
  21. enaknya dikau ini , kerja dapet uang tapi masih sempat dan bebas berkeliaran dikampus berburu ilmu :)) hebat dikau kak!!!

    BalasHapus
  22. Haaaaaaaaahahaha....PhD nya bikin awak tertawa!
    Salut buat Anaz.

    BalasHapus
  23. Kunanti karyamu. Saya pesan no. 1.
    Mbak Anaz pernah mendengar tentang mbak Eny Kusuma yang berasal dari Banyuwangi saat ini telah mampu mencetak buku best seller dia juga pernah bekerja di Malaysia. Sekarang laris menjadi trainer.

    mBak Anaz pintar sekali merangkai kata. Saya iri padamu. Ayo teruslah berjuang, wujudkan mimpimu. Bersemangaaaaaaaat!.

    BalasHapus
  24. Ralat, judul buku karangan mBak Eny K adalah Anda Luar Biasa, dia pernah bekerja di Hongkong selama 6 tahun bukan di Malaysia.

    BalasHapus
  25. Kesimpulannya.
    Kita adalah sama.
    Betul nggak Nduk?

    Yang menempatkan kita dimana adalah Takdir Allah.
    Yang menjadikan kita sebagai siapa adalah diri kita sepenuhnya.

    Mantab nih.
    Mau ngandani tapi halus,
    Orang tua kayak saya jadi sadar tanpa di " GURU" i.

    Pinter kamu Nduk.
    Kapan Pulang.
    Mampir ya.
    Ada Megono dan Lodeh untukmu.

    BalasHapus
  26. Mudah2an cita2 menulis buku tadi terwujud. Amiin dan saya yakin seyakin-yakinya bisa terwujud
    Dosen UII jogja memang banyak yang dapat beasiswa ke Malaysia

    BalasHapus
  27. Selamat siang Naz,... mohon maaf baru sempat mampir. Speedy aku trouble nih......

    Saya yakin Naz bisa jadi penulis yang baik...

    BalasHapus
  28. mbak, anda inspiratif sekali..sekalian mau menyampaikan Selamat Hari Saya Idul Fitri 1430 H. mOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN

    BalasHapus
  29. Mbak, salut banget aku dengan semangat mbak Ana dalam mencari ilmu. Aku yakin, dengan semangat yg mbak Ana punya, suatu saat akan dapat lahir juga buku spt yg diinginkan. Amin....

    Selamat Hari Raya Idul Fitri ya...
    Mohon maaf lahir dan batin

    BalasHapus
  30. piye kabare mbak anaz
    ramadhan sibuk terus nih?

    ramadhan disini sepi nyenyet
    maklum bukan negara muslim :)
    tapi tetep semangat dong puasanya, hehe
    gimana puasa di malaysia?

    happy selalu ya mabk anaz.

    BalasHapus
  31. maaf ya naz, buwel lagi malesss ngenet neh.....

    BalasHapus
  32. sungguh aku terbuai oleh tulisanmu....

    eh, Naz..itu ibu2 dosen dr UII jogja kamu tahu namanya gak?...jgn2 dia temanku, kami 1 almamater... :)

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P