Akhir Dari Pertemuan

Di rantau, aku mengenali seekor kucing. Hitam warnanya, betina kelaminnya. Awalnya, ia hanya sesekali datang. Hanya lewat sekejap, di belakang rumah. Lama kelamaan, ia semakin kerap datang dan aku mulai memberinya makan. Sejak saat itu, ia mulai selalu datang di belakang rumah. Dan aku, masih selalu memberinya makanan. meskipun kadang berebutan dengan ayam-ayam tetangga. Maka, rutinitas memberi makan kepada kucing menjadi jadwal baru untukku.
Kucing itu hanya di luar, tak pernah sekalipun masuk. Tapi, lama-lama, ia berani masuk juga. meskipun hanya nongkrong di dekat meja gosok, atau sekdar tidur menemani aku yang menggosok baju. Aku membiarkannya. Aku tahu, majikanku tidak menykainya. Semakin lama, ia semakin berani. Dan seperti menganggap, itulah rumah baru dia. Dapur, adalah injakkan selanjutnya. Tapi, ia tak pernah masuk ke ruang tengah. Hanya sebatas dapur, dan tempat gosok baju. Keluarga majikanku mulai meributkannya. Dan, semakin lama, kucing itu semakin berani. Akupun semakin memanjakannya bahkan, sejak saat itu, aku rajin memandikannya. meskipun ia menangis-nangis (mang kucing nangis kek apa yah...???) Dan majikanku, mulai biasa saja dengan kucing tersebut. Pun dengan keluarga lainnya. Bahkan, kita di untungkan, karena, tiada lagi tikus yang berkeliaran di dalam rumah. Sang kucing dah biasa tidur di dalam rumah bahkan, malam hari pun ia tidur dengan lenanya di depan TV. Waktu berlalu, karena kucing sang betina maka, mengandunlah ia. Dan, terlahirlah dari rahimnya dua ekor kucing. Fiuh.. sungguh menguras kesabaran. Semakin besar anaknya, semakin repot aku di buatnya. mencuci kotorannya, jadi agenda sehari-hari. Kadang aku bersungut kesal. Sudah berulangkali aku letakan sang kucing dan kedua anaknya, ia tetap saja pup dan kecing ke tempat sediakala. Semakin besar, bukan semakin pandai seperti emak kucing, sang anak malah semakin meraja lela. setelah main dari luar, ia dengan enaknya masuk ke dalam rumah untuk pup (herannya, dia kalo pup di tempat cuci piring). Akhirnya, aku protes dengan majikanku setelah ia mulai pup di kasur. Dan aku, menyuruh majikanku membuang anak-anak kucing tersebut (Anaz sadis! :( Maka, terbuanglah sang anak kucing yang mulai remaja di sebuah pasar. Dan sang emak kucing di tinggal di rumah. Sang emak kucing memang sudah mulai menua, kerjaannya hanya tidur saja. Aku juga mulai jarang mengurusinya. Tak kerap lagi memandikan. Makan pun kadang terbengkalai (duhai kucing, mohon maafkan aku...) Semakin lama, kucing semakin suka tidur. Dan susah sekali makan. Kalau dulu segala jenis lauk boleh di makannya, sekarang tidak. ia mulai pilih-pilih makanan. Aku sering kesal di buatnya. Dan aku mulai tak peduli. Puncaknya, beberapa hari setelah lebaran kemarin, begitu banyaknya makanan, dia pun enggan menjamahnya (maksudnya, aku letakan di pinggan dia) alhasil, aku semakin cuek ama dia. Dan sejak saat itu, aku mulai jarang melihat kelebatnya. terakhir, dia masuk rumah. Dan ia tidur di bawah meja gosok baju, lama sekali. Tak lagi peduli dengan makan, sebelumnya, ia sudah tercecer pupnya kemana-mana. Padahal, sebelumnya sang emak kucing sangat bijak. Tak pernah pup di rumah. Aku mulai geram lagi dan berniat ingin membuangnya lagi. Sejak saat itu, aku tak ramah lagi sengannya dia pun sepertinya mulai takut denganku :((. Sampai suatu ketika, ia tak lagi nampak batang hidungnya. Tak juga aku mendengar suaranya. beberapa hari. Aku menunggunya. Aku mencarinya. Aku fikir, dia sudah mendapat majikan baru. Dan dalam hati, bersyukur kalau dapat tempat yang lebih baik. Sampai suatu ketika, beberapa hari lalu. tatkala aku sedang mengemas dan menyapu ini itu di halaman, aku terbuka pintu sebelah rumah, tercium bau aroma yangs angat busuk. Mataku mencari ke sekitar, dan, rupanya di bawah meja yang penuh dengan barang-barang sang kucing sudah terbujur kaku. Di kelilingi semut-semut dan beberapa lalat. Ya Allah... tak tergambarkan perasaanku. Aku menangis... Ya Allah... betapa jahatnya aku dengan kucing itu. Dengan berat hati, dengan perasaan bercampur baur, aku menggali lubang untuk menguburkannya. Aku sendiri yang mencangkul tanahnya. Tak terasa, selama menggali lubang, aku terkenang segala sikap jahatku kepadanya. Betapa sedihnya. Betapa naifnya terkadang jiwaku sebagai manusia. bahkan, untuk seekor kucing. Aku menangis.. lebih sedih ketika membayangkan siapa kelak yang akan mencangkulkan tanah pekuburan untukku...??? Ah, air mata itu, dengan murahnya ia mengalir deras. Pun, ketika aku harus mengangkat bangkai sang kucing, juga meletakannya. Sampai disitulah persahabatanku dengannya. Aku yang menguburkannya, aku juga dulu yang sering memarahinya. Inilah akhir dari pertemuan kita... "Kucing, andai kamu tahu rasaku ketika itu..." Dan, untuk sahabat semua, mohon maaf sedalam-dalamnya. Sebentar lagi, sementara waktu, aku menutup blog ini. Insya Allah, awal januari, atau akhir bulan 12 ia ku aktifkan lagi. Terimakasih kepada semuanya, sahabat-sahabat semua yang ku temu di dunia maya. tak mampu menyebutnya aku satu persatu. Ilmu yang ku temu dari sahabat semua begitu berarti. Semoga Allah kembali menemukan kita lagi dalam kebaikan. Insya Allah... kepada sahabat yang baru berkunjung ke blogku dan aku belum mengunjunginya. Insya Allah, sesegera mungkin aku datang ke rumahnya.
Sang kucing bersama kedua anaknya (sungguh penyesalan itu datang terlambat, andai kita tak membuang anaknya... :((

25 komentar:

  1. Akhir sebuah pertemuan.......
    sama sedihnya persis seperti mbak anaz kehilangan kucing itu. Pupuk semangat, maju terus.

    BalasHapus
  2. kemanakah dirimu????
    sedih harus berpisah meski hanya untuk sementara..

    selalu berharap masih kan ada pertemuan lagi meski hanya sesaat saja, sekedar memastikan dirimu baik2 saja, hallah.... bergombal deh gw!!!

    BalasHapus
  3. kemana mbak???
    trus rncaa koalisi partai kita gmn??hehehe
    y udah, aku turut berduka juga ya buat kucing mbak...

    BalasHapus
  4. Ha, postingan ini mantap na. Ya kucingpun harus mengakhiri hidupnya. Anazkia, mau kemana sih ?

    BalasHapus
  5. Koq harus ditutup sih Naz,... Nggak usah deh.
    Aku baru kasih Award buat kamu.

    BalasHapus
  6. Duh..ikut sedih buat si kucing. Tapi kamunya mau kemana sih An? Kok lama banget sampe Desember??

    BalasHapus
  7. Apapun alasanmu menutup 'rumahmu' ini, pasti tujuannya baik...

    Kalau niatnya baik, pasti kita akan di pertemukan kembali..
    amiinn...

    semanagat dan sukses selalau ya..
    dan jgn pernah berhenti menulis dimanapun berada ^_^

    BalasHapus
  8. turut berduka utk kucingnya. mo kemana nih, An?

    BalasHapus
  9. Semoga segera kembali aktif di blog setelah "cuti". emoga Allah kembali menemukan kita lagi dalam kebaikan.

    BalasHapus
  10. wah ikut sedih naz...

    btw anaz mau kemana? lama2 amat ampe januari...duh miss you already hehe

    BalasHapus
  11. hemmm.. terkadang kita memang kehilangan kesabaran say, but it's okey
    yang penting kita skr dah bisa belajar dan mengambil hikmah dalam setiap masalah kita.
    btw mau kemana neh?? ajak-ajak aku dong (ngarep mode on)

    BalasHapus
  12. Mau kemana mBak? Kenapa lama sekali. Selamat berjuang. Saya doakan semoga mBak Anaz selalu bahagia.

    BalasHapus
  13. Loh An, kukira kamu mau off dari dunia maya? Kok malah ngajakin KBO? Boleh aja kalo buat awal Nov. Bukunya tetap To Kill A Mockingbird kah?

    BalasHapus
  14. Sebuah kisah yang amat manis ntuk mengakiri sementara sebuah kebersamaan.

    Semoga hari-hari kedepan jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
    Mohon maaf atas segala kekurang ( ajaran ) yang mungkin saja pernah terjadi dalam komentar2 yang kadangkala daku tak tahu kalau itu menyakitkan.

    BalasHapus
  15. yahhh..penyesalan memang selalu datang terlambat mbak. sudahlah,,nggak usah disesali, yang jelas ini jadi pelajaran :)

    BalasHapus
  16. lah loh emang mau kmana mbak kok di tutup blognya?? padahal aku baru datang :D

    BalasHapus
  17. Selamat beristirahat dari dunia maya...semoga saat datang lagi, kembali dengan fresh kembali ;)

    BalasHapus
  18. Mbak.., mau kemana..? Kok rencana absennya lama banget ?
    Semoga kita dapat segera berjumpa lagi ya mbak.., maaf kalau selama ini aku tak pandai menjaga silaturrahim....

    BalasHapus
  19. Mba ..aku kok jadi sedih ya,mba bilang mau tutup dulu blognya ,mau kemana emangnya ?

    BalasHapus
  20. Duh, buwel jadi pengin nangis naz.....hiks....

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P