One Paid Day Off Campaign, Mustahil!

Sebuah penghormatan, ketika pak Ikbal (Presiden Union Migrant) mengirimkan imel kepadaku, untuk mengikuti seminar,"INVITATION FOR THE LAUNCH OF DOMESTIC WORKERS’ CAMPAIGN TOOLKIT & CAPACITY BUILDING" meskipun ia kesalah tatkala beliau menunjukku untuk mewakili dari pihak UNIMIG. Merasa ada waktu, aku menyanggupi untuk pergi. Meskipun, aku yakin tak tahu alamatnya dan tidak tahu apa yang hendak di bicarakan. tapi, membaca butir-butir imel yang di forwardkan, aku sedikit faham. Sekurang-kurangnya ia berkaitan dengan tenaga kerja. Terutama, menyangkut pembantu rumah tangga. Dalam hati kecil, sebetulnya aku ragu, apa aku mempu untuk mengikuti. Secara, membaca forward e-mailnya, ia full menuliskan bahasa Inggris, tak sedikitpun terselit bahasa Melayu. "Jangan-jangan, forumnya berbahasa Inggris juga nih, aku membatin"
Berdasarkan petunjuk sms, alamatnya mudah saja untuk di cari. Shah's Village Hotel, Petaling Jaya. Menaiki Kereta api, melalui lebih kurang 20 stasiun. Dimana setiap stasiun satu dan lainnya lebih kurang memakan waktu 5-7 menit. Tak begitu jauh memang. Sampai di stasiun Taman jaya, Pak Iqbal bilang naik taksi. Maka, dengan tak ragu aku menuju kumpulan para taksi dan langsung menuju ke TKP. Sesampai di depan Shah's Village Hotel, supir taksi memberi petunjuk, katanya, "kalau hendak pulang, jalan saja ke kanan dari arah hotel, di situ adik bisa langsung naik LRT" Jiah... rupanya, dekat saja dari stasiun. Pelajaran pertama mengikuti seminar, "bermula dari kesalahan, kita menjadi tahu" Meskipun aku cengar cengir mentertawakan kebodohanku. Sampai di lobi Hotel, kembali celingak-celinguk. Lupa mencatat siapa yang mengadakan seminar. Nyoba telfon Pak Ikbal, hpnya sudah off, mungkin beliau sudah menaiki pesawat ke Medan. Maka, bertanyalah kepada recepsionist. Di tanya siapa yang mengadakan, aku asli nyengir kuda. Dasar dudul, mbok yah sebelum pergi itu catet dulu penyelenggara seminar. Beruntung ketika di tunjukan tempatnya, betul. masuk ke ruang seminar, tidak ramai yang datang hanya ada 3 buah meja. Dan, muka-mukanya, Masya Allah. Muka Melayu dikit banget. Asli, langsung jiper! di tanya dari perwakilan mana, Aku bilang mewakili Unimig. panitia menanyakan pak Ikbal, aku bilang beliau ke Medan jadi tidak bisa datang. Sungguh kesalahan besar tatkala pak Ikbal memberikan amanah ini kepadaku. Di meja pendaftaran, seorang perempuan India menyapa dengan bahasa Inggris, aku hanya membalasnya dengan bahasa Melayu. Masuk saja di dalam, aku duduk bersebelahan dengan perempuan melayu. sebelahnya juga lelaki Melayu dan perempuan berkerudung. Sedang meja sebelahku, kelihatan orang-orang India, China lainnya (setelah kenalan, baru tahu kalau mereka dari Vietnam, Filipina dan Mianmar). pembukaan di mulai, dan hasilnya, menggunakan bahasa inggris, asli, setelah di depan lobi hotel aku berhasil nyengir kuda, di dalam seminar aku kembali mlompong kiong. Wekekeke... mentertawakan kebodohan diri. Lagi-lagi, aku membatin. pak Ikbal salah mengamanahkan ini kepadaku. Sewaktu perkenalan, aku cuek aja ngomong bahasa Indonesia dan bilang gak bisa ngomong bahasa Inggris (memalukan!) but, aku cuek aja :D secara, aku sedikit-sedikit boleh faham bahasa inggris tapi, kalau suruh ngomong, jangan harap!. Setelah perkenalan, ada break sebentar untuk sarapan, aku duduk-duduk aja di di situ, tanpa keluar. seorang perempuan berwajah China mendekatiku, dan menanyakan serba sedikit tentang UNIMIG juga keterlibatanku di dalamnya, apa aku perwakilan UNIMIG untuk PRT?. (Jiah, aku bilang aje kagak tahu menahu, secara aku ini baru kenal UNIMIG beberapa bulan lalu). ebetulan aja aku mengenali pak Ikbal (sebenernya, pak Ikbal sudah lama menawarkan aku untuk masuk ke UNIMIG. Akunya aja yang males. . Ini memalukan yang keberapa yah?. Perempuan itu bernama Vivian, tinggi kecil badannya, cantik wajahnya dan lembut tutur katanya. ia mewakili dari CARAM Asia. Sebuah NGO yang bergerak di bidang domestik worker's. Kinerjanya, kalau aku lihat tak jauh beda dengan TELAGANITA (penyelenggara seminar). Yang menarik dari wanita ini, ia memakai t-shirt berwarna oren, di belakangnya bertuliskan, "One Paid Day Off" wah, rupanya ia sedang mengkampanyekan seminggu sekali libur untuk para pekerja domsetic helper. Wah, salut aku. Tapi, aku bener-bener mustahil dengan dengan isu ini. rasanya, ko sulit yah, di aplikasikan? Mengapa...??? to be continue... Dalam seminar ini, aku benar-benar menemukan wajah negeri sebenar Indonesia tentang traficking dan dunia wanita. Sungguh PR yang sangat besar untuk menteri pemberdayaan wanita. (yaelah Naz, mentrinya kagak bakalan baca) Gak ngaruh, yang penting, mbak Elly dan wanita-wanita lainnya baca tulisan ini.

12 komentar:

  1. Hehehe...tersenyum lebar baca pengalaman kamu ini. Persis kayak adik angkatku yg kalo ada acara ga pernah dicatet rinciannya, dan kalo dah sampai di tempat baru kelimpungan cari tahu acaranya di ruang apa dsb.

    One day paid off sudah waktunya diaplikasikan di Indonesia. Tapi ada loh pekerjaan yg mustahil bisa libur, yaitu ibu rumah tangga

    BalasHapus
  2. betul kata fanda tuh ibu rumah tangga gak ada libur, gak ada pensiun pula hihihi

    BalasHapus
  3. ohh jadi judulnya ntu artinya ntu, ga mudeng aku.kukira soal dolar yg dibayar sehari setelah ripiuw *matre*

    BalasHapus
  4. wah , jgn nyengir kuda tyus, klo jadi kuda beneran giman hayo ?

    hidup untuk bekerja, liburnya ntar aja dech, hahhaha, bilang aja ngga pernah libur :P, Mustahil, thu bener banget,hahahah

    BalasHapus
  5. hehe.. iya sama kayak mbak nchi.. tak kirain ini postingan dollar,, hehehe... :p

    BalasHapus
  6. kayaknya harus belajar bahasa inggris tuh mbak hehe

    BalasHapus
  7. wah, keren banget tuh slogannya. cuti sehari ya...

    BalasHapus
  8. trafficking Indonesia memang sangat ruarrrr biasa
    mengalahkan traffic blog
    jika ketimpangan kesejahteraan dengan luasnya lapangan kerja dan UMR yang pantas, kurasa trafficking bakal bisa dikurangi

    BalasHapus
  9. Cuti itu perlu, semoga bisa diperjuangkan

    BalasHapus
  10. ntar kalau ane ke Malaysia, ajak ajak ya ke seminarnya. Lumayan, dapet sertifikat.

    BalasHapus
  11. Waduh berat nih.
    Jangankan disebrang sono nduk. Dijakarta aja susah. Khususnya pekerja di sektor Rumah Tangga.

    Di Warung Istriku aja, aku suka kasian. Kerja gak pernah libur. Habis gimana lagi, kasihan yg makan. Dan justru hari minggu adalah Ramai-ramainya. Karena banyak konsumen Pengiriman dari jauh yg sekalian makan.

    Akhirnya diambil jalan tengah, yang seharusnya pembantu wanita cukup 4 orang ditambah 2 jadi enam. Itu belum di bantu istri dan tenaga laki-laki 2 orang.
    Tujuannya biar gak libur tapi bisa agak santai.

    Nah susahnya kadang cari tenga kerja susahnya minta ampun. sekarang aja kurang, hiksss. Sampai-sampai kalau jam makan siang turun tangan jadi penyuci piring.

    Memang libur sehari tiap minggu perlu sekali. Untuk memberi kesempatan bersosialisasi, dan refreshing.
    Tapi lebih perlu lagi menciptakan suasana kerja yang penuh kegembiraan dan kekeluargaan hingga ada kebersamaan.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P