Untuk Sahabatku, Mariatul Qibtiyah

Tadi siang, aku online melalui Yahoo messenger dengan salah seorang sahabatku, Mariatul Qibtiyah, sahabat Aliyah. meskipun sering bertukar sapa di Face Book tapi, kita jarang sekali tegur sapa di YM. Dia kini telah menjadi seorang Guru, semoga semangatnya selalu terpacu, untuk mendidik anak-anak negeri yang lebih berpekerti Insya Allah... Berbincang kesana kemari, bicara pertemuan dan kerinduan rupanya, sudah begitu lama kita tidak bersua di dunia nyata. Ujarnya, enam tahun hakikatnya tapi, sesekali kita berjumpa setelahnya. Tapi, aku menyelanya, "sudah empat tahun aku di Malaysia". Artinya, sebegitu lamalah aku tak bertemu dengannya. Tapi, obrolan itu mulai menyimpang.
Di saat aku menyela empat tahun, Ia menukas "Dah mau wisuda dong...???" Aku terkekeh, tertawa guling-guling, menjawab cepat, "Ia, ngegosokin Toga orang". Mendung bergulir, rupanya hari bertanda hujan (meskipun hanya rinai-rinai kecil) aku buru-buru keluar dari kamar, mengangkat jemuran. Balik lagi kekamar, rupanya Qibty memberikan tanda tanya. "Masa sih...???" katanya. Aku jawab aja, "Lah iya, mosok PRT pake Toga? yang ada, paling pake celemek kalau mau masak". Lagi-lagi, aku memberi emo tertawa. Malangnya, untuk kesekian kalinya, Ia tak mempercayai kata-kataku. Padahal, sudah sejak lama, setelah ukhuwah kembali terjalin, aku sudah berkata, bahwa i'm just a maid in Malaysia baik melalui telphone, ataupun via sms. Qibti, sahabat Aliyah yang hanya beberapa bulan saja aku sekelas dengannya. ketika kelas satu, catur wulan tiga (saat itu, masih menggunakan sistem catur wulan). Mungkin, dan bahkan memang, Dia tidak mengenaliku sepenuhnya. Padahal, kalau di runut ceritanya, sudah sekian lama aku menggeluti profesi itu. Sejak aku duduk di bangku sekolah. Mungkin, dulu aku segan atau malu dengan statusku yang hanya pembantu tapi, kini, Alhamdulilah aku menghargainya. karena profesi itulah, aku bisa sekolah meskipun tak sampai kuliah. Ko bisa sih aku sekelas sama Qibti hanya beberapa bulan? Aku sekelas dengannya ketika aku menjadi murid baru di sekolah tersebut. Awalnya, aku belajar di salah satu sekolah yang cukup terkenal di Kabupaten. Dan aku ketika itu ingin sekali bisa memasukinya. Alhamdulilah, aku lolos juga seleksi tapi, ia tak bertahan lama. Belajar di sekolah yang termasuk favorit dengan segudang kegiatan begitu menyita waktuku. Pekerjaan rumah terbengkalai, prestasi sekolah juga terabai. Nilaiku turun drastis, badanku pun semakin kurus layaknya morvinis. Akhirnya, Om Christ (majikanku) memberi saran untuk pindah sekolah. Dengan berat hati, aku mengikuti sarannya. Di situlah, aku mengenali Mariatul Qibtiyah dan sahabat-sahabat lainnya. Aku yakin, ketika itu banyak yang menganggapku "orang kaya" gimana enggak, dateng di anterin ama mobil sedan (Lah om Christ sama Tante Leli yang nganter). Tak heran, ketika beberapa sahabat mulai akrab, ia betul-betul di tanyakan. Dan, untuk sahabat dekat saja, yang aku bilang ia mobil majikanku. Tak semudah itu juga mereka mempercayainya. Aku seperti kelihatan tajir pada luarnya (muka desa tapi, rizki kota wekekeke...) Tapi, fakir pada kenyataannya. Tapi aku gak sedih, semua kulakukan biasa saja. Mungkin Qibti hampir tidak percaya lagi membaca ini :D. Tapi, inilah cerita hidup sahabat. Aku tidak harus malu mengakui asal usulku. jadi, jangan pula kamu ragu-ragu dengan ceritaku. Hanya empat bulan kita satu kelas tapi waktu yang mengakrabkan kita. Dimana, kita masih bisa bersama-sama mengikuti pelatihan jurnalistik di sebuah sekolah (bekas sekolahku dulu khan...??) kita masih bisa di temukan di Rumah Dunia, kita juga pernah sama-sama menginjak SIGMA, tentunya, Aku bukan sebagai pengurus sepertimu tapi, sebagai peserta kegiatannya. Saat itu, Aku sampai ke kantor Kompas bersama dengan angkatan kaka kelasmu. Kini, ibumu bisa tersenyum melihatmu sebagai seorang Sarjana dan kini mengemban gelar "Pahlawan tanpa tanda jasa" Dan Ibuku, hanya mampu tersenyum melihat anaknya hanya mampu menjadi tenaga kerja wanita dan bergelar, "pahlawan devisa." Padahal, dulu ibu kita sama-sama tersenyum ketika melihat kita di pentas sebagai tiga besar terbaik dari masing-masing kelas. Kamu kelas IPA dan aku kelas IPS. Tapi, itulah nasib sahabat. Aku tak pernah menyesalinya. Sekurang-kurangnya, gurauanmu, ku semat di hati. Bahwa aku, masih memimpikan memakai toga, untuk bergelar sarjana (bukan toga merah yah?).
Mariatul Qibtiyah, why you don't believe with me if i'm just a maid? so, look about all my employer's (jiah, sok, padahal mah salah)
Majikan terlama yang pernah aku bekerja. Mereka juga yang menyekolahkanku mula-mula, dan menyemangatiku untuk terus menuntut ilmu. Dulu sih belum punya anak. (Om Christ ma tante Leli)
Kedua anak majikanku setelah lulus Aliyah. Inilah kali pertama aku bekerja mengasuh anak. Yang cowok, aku mengasuhnya sejak bayi, sampai usia dua tahun. Sekarang dah besar, dah lupa mungkin ma aku. "Alfi, mbak Ana kangen..." Keluarga besar majikanku di Malaysia Anak yang aku asuh sehari-hari, Aufa. Selain Aufa, ada juga yang lain sebenernya tapi, uploadnya lama... :D

15 komentar:

  1. Kok sama sih na nama temannya dengan nama teman (malah masih saudara jauh), saya, Maryamal Qibtiah. Ya, apapun asal dilakukan dengan ikhlas dan penuh semangat, pasti mendatangkan Kebarokahan dan ridhoNya. Terus semangat ya Anazkia, kamu hebat dan berbakat. Siapa tau 5 tahun lagi saya menemukanmu sudah jadi penulis hebat, amin. Keep writing.

    BalasHapus
  2. Duh, kalo nglihat namanya MARIATUL QIBTHIYAH mengingatkan buwel pada temen buwel waktu madrasah TK dulu naz......hmmmmm Orangnya cantik, buwel suka.....hihhiihhiih...kok malah curhat sendiri ya....

    Hmmmm btw di postingan lamanya Anaz buwel juga menemukan nama Aufa, tapi nggak paham kalo Aufa ntu Anak asuh nya Anaz... :-)

    Tentang kata2 'SARJANA' nya, semangat ajah NAZ, wong di kitab2 juga nggak ada tuntutan jadi SARJANA kok, adanya menuntut ilmu dan menjadi pandai trus mengamalkannya...hehehehehehe...

    BalasHapus
  3. Salam tuk MARIATUL QIBTHIYAH, Om christ, dan semuanya ajah yak...

    Sukses selalu...

    BalasHapus
  4. Hmm ..nama yang indah MARIATUL Qibthiyah ,nama salah satu istri rosul yg paling dikenal paling cantik...
    *saya salut padamu mba,semangatmu yg membara untuk terus maju dan berkembang,saya doakan semoga segala cita2 mba anaz terkabul amin...

    BalasHapus
  5. Dilengkapi foto juga, jadi hidup ceritanya

    BalasHapus
  6. Bahwa aku, masih memimpikan memakai toga, untuk bergelar sarjana (bukan toga merah yah?).

    masih banyak waktu kok.....don't give up!!! lan ojo sedih

    BalasHapus
  7. tidak ada yg mustahil kok, An. kamu pasti bisa menggapai impianmu.

    BalasHapus
  8. mbak temen ku ada tambahannya Evi Mariatul Qibtiah sama2 jadi guru. Semangat terus ya mbak jangan putus asa

    BalasHapus
  9. luar biasa... saluut padamu mbak...
    menjadi diri sendiri adalah yg terbaik
    wish u find the best

    BalasHapus
  10. sekali lagi alhamdulillah karena mbak anaz bekerja dengan orang-orang yang berhati mulia

    BalasHapus
  11. Lakukan apa yang ada dalam hati dan pikiran, awali dengan tindakan dan minta ijin majikan untuk kuliah dan jangan diakhiri terus raih walaupun banyak masalah dalam perjalanannya mendapatkan Toga, nikmati hasilnya ! Sebagai modal blog bisa dibukukan cari penerbit ! Semoga berhasil ! Amin !

    BalasHapus
  12. Mbak, salut banget aku dengan tekad mbak Ana yang tak surut utk tetap dapat melangkah maju...!!
    Tak banyak orang sepertimu... Aku yakin sekali, dengan tekad mbaj Ana yang sekuat baja, pasti mbak Ana akan mencapai keberhasilan suatu saat nanti.

    BalasHapus
  13. aku terharu banget baca tulisan mbak.. salut banget.. terus berusaha dan berdoa mbak, insyaAllah mbak akan ditunjukkan jalan terbaik yg sudah ditentukan oleh-Nya. amiin.. :)

    BalasHapus
  14. pertama kali baca judul aku kaget. Mariyatul Qibtiyah (MQ). ah, aku inget seseorang. mirip sekali namanya. aku penasaran dan meneruskan membaca tulisan ini.
    setelah tulisan ini aku lanjutkan, aku masih bertanya2 apakah MQ yang kukenal itu yang menjadi bahan tulisan ini. lama aku tak menemukan jawaban dari teka-teki ini (karena tulisannya lumayan panjang hehehe).
    ketika tulisan hampir selesai, apalagi saat ada kata SiGMA dan Rumah Dunia, aku kembali menemukan mozaik teka-teki. apakah MQ yang kukenal itu adalah yang dimaksud ini?
    ah, semoga MQ yang kukenal adalah wanita yang diceritakan di tulisan ini karena aku pernah aktif di SiGMA dan sekarang menetap di Rumah Dunia.
    kebetulankah? ah, mungkin tidak. ^_^

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P