Rendahnya Kualitas pembantu Indonesia di Malaysia

Sedikit tulisan, sambungan dari "One Paid Day Off Campaign, Mustahil!" beberapa waktu lalu. Tulisan ini cukup panjang, bahkan masih ada satu seri lagi :) Duh, banyak amat yah?. Ini hanya pandanganku, sebagai objek, bukan mau menghakimi siapa-siapa. Cuma ingin berbagi pandangan, melihat dari berbagai sudut. Kalau ada saran, silakan di tulis di koment.
Sabtu malam, ketika Aku membuka-buka e-mail ada sebuah e-mail dari unimig Indonesia. Sewaktu membukanya, ada sebuah prolog dari Pak Ikbal (Presiden UNIMIG (Unoin Migrant), "Dear Mbak Eli, apakah bisa hadir dalam undangan ini, mewakili UNIMIG? karena saya besok pagi ke Medan, kalau bisa hadir bagus sekali untuk menambah wawasan, sekaligus mewakili UNIMIG dan menambah kenalan." Sudah jam sebelas malam lebih. Kebetulan, ahad itu, Aku memang hendak keluar rumah. Meskipun awalnya hendak berkunjung ke rumah teman maka, Aku merubah haluan untuk mengikuti undangan tersebut. Beruntung, ketika aku belum mengabarkan kedatanganku. Aku segera sms Pak Iqbal dan menyetujui untuk pergi. Sekaligus minta petunjuk arah pergi. Esoknya, aku menuju ke sana, bertempat di Shah's Village Hotel, Petaling Jaya Selangor. Sebetulnya, ketika membaca forward e-maill tersebut Aku sudah ragu karena, semua dari tulisan e-maill itu bertuliskan bahasa Inggris. Jangan-jangan, forum pun berbahasa Inggris. Setelah sampai di sana, kecurigaanku terbukti. Dalam forum seminar itu menggunakan bahasa Inggris. Aku sungguh terkejut. Bermula dari pendaftaran, panitia telah menanayakan kepada ku menggunakan bahasa Inggris. Aku cuek aja berbahasa Melayu, toh orang tersebut faham. Dan aku, berkata kalau wakil dari UNIMIG. Panitia mahfum, kemudian menanyakan keberadaan pak Iqbal. Aku mengambil tempat duduk terdekat dari pintu masuk. Kebetulan, di situ juga aku melihat wajah-wajah Melayu rasanya aku tak canggung. Setelah melihat dua deretan meja di sebelahku semua yang duduk di antara mereka berwajah India, China juga aku rasa bukan orang Melayu. Setelah perkenalan, baru aku mengetahui mereka berasal dari Filipina dan Mianmar. Terasa malu juga dalam hati, kenapa Pak Iqbal tidak memberikan undangan ini kepada yang lebih bijak, aka, ia memiliki kemampuan berbahasa Inggris? tapi, apapun aku tak menyesalinya. Buatku, ini pengalaman yang sangat berharga. Tema dalam seminar tersebut adalah, "INVITATION FOR THE LAUNCH OF DOMESTIC WORKERS’ CAMPAIGN TOOLKIT & CAPACITY BUILDING" Diskusi ini, sebetulnya menerusi diskusi sebelumnya "ONE PAID DAY OFF CAMPAIGN" yang aku sendiri tidak mengikuti. Dan di forum ini juga, aku bisa membuka mata, betapa rendahnya kualitas pembantu Indonesia di Malaysia. Pembukaan dimulai, panitia sedikit menyediakan hiburan. Meskipun tidak seberapa suka dengan sajiannya, aku melirik juga empat orang perempuan yang menari dengan sangat sederhana sekali. Kalau melihat facenya, ia berwajah Indonesia asli dan salah seorang di antaranya berwajah India. Aku berbisik kepada orang sebelahku menanyakan kebenarannya. Dan, jawabannya tepat sekali, ia TKW Indonesia yang tersandung masalah sedangkan yang satunya berasal dari India dan sekarang sedang menunggu proses. Sementara, ia tinggal di Tenaganita (Sebuah NGO bergerak di bidang tenaga kerja bermasalah dan penyelenggara seminar). Acara kembali dilanjutkan dengan sesi perkenalan. Aku memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berterus terang tidak bisa berbicara bahasa Inggris. mereka mahfum. Setelah sampai di hujung meja ke tiga, ketika orang-orang Filipina memperkenalkan dirinya, aku merasa kalau mereka bekerja di sektor rumah tangga. Tiba perkenalan pada empat perempuan penari tadi, mereka bicara tergagap-gagap. Bahkan, untuk berkata "Saya bekerja sebagai pembantu rumah" pun tersendat-sendat. Berbeda, sangat beda dengan orang-orang Filipina tadi. Ah, aku mulai membatin, perbedaan mulai terlihat jelas. Berkali-kali, hati kecil tertanya-tanya. Mengapa hanya kami di forum ini juga mengapa tak ada siapapun yang lebih bijak dari perwakilan kami. Ah, pertanyaan itu kubunuh cepat-cepat. Aku harus mengikuti seminar ini sampai selesai, baik faham ataupun tidak. Itu tekadku. Salah seorang perempuan yang menari tadi, duduk di sebelahku. Di sela-sela acara aku menyelipkan kertas kepadanya, bertanya nama, asalnya juga pekerjaannya. Dan siapa dua orang temannya. Yudian Buraen namanya, ia berasal dari NTT dan kedua temannya berasal dari Jawa. Dia juga menunjukan temannya, yang tepat berada di bangku sebelahnya. Ia selalu menangis, konon, keluarganya di Indonesia terkena musibah gempa. Aku bertanya, apa iya dari Padang? Jawabnya iya. Bingung, padahal tadi menyebutnya dari jawa. Tapi, kalau aku lihat sejak tadi orang tersebut selalu berwajah muram, selama menari pun, ia kelihatan sangat terpaksa sekali. dan selama berjalannya diskusi, ia selalu menangis. (Kisah inilah yang akan ku tulis dalam cerita satu lagi) Sebetulnya, aku banyak tidak memahami materi. Semua materi di sajikan dengan bahasa Inggris. Meskipun, sedikit banyak aku mengetahui hal-hal yang berkaitan. Tentang hak-hak pekerja yang terabaikan khususnya pembantu rumah tangga. Kasus penderaan, tidak di ayar gaji, tidak ada cuti, tidak diperbolehkan berhubungan dengan keluarga dan masih banyak lagi serangkaian langgaran para majikan kepada pekerjanya. Mengikuti dari kasus ke kasus, aku sungguh terenyuh. Betapa banyaknya TKW kita yang terampas haknya? Anehnya ketika pemateri menyajikan ulasannya dan membahas tentang keterkaitan tenaga kerja bermasalah dan kedutaan, banyak sekali yang pihak kedutaan tidak mengetahuinya. Ini memang bukan kisah baru. Tapi, akankah kasus seperti ini yang selalu muncul untuk TKW Indonesia? khususnya di Malaysia. Selama tidak ada kerja sama yang baik, dari hari ke hari bahkan ke tahun beribu masalah TKW akan seperti ini. Hendaknya, perbaikan di mulai dari kualitas TKW sendiri sebelum di berangkatkan. Juga PR untuk para agent penyalur pekerja di Indonesia. Sesi demi sesi terlewati. Aku banyak terdiam. Pun tatkala diskusi diadakan untuk menyelesaikan studi kasus yang diajukan. Untuk menyelesaikan sebuah masalah. Dua masalah yang melibatkan tenaga kerja berasal dari Indonesia dan India. Kedua-duanya, datang ke Malaysia melalui agen. Namun, nasib berkata lain ketika sampai di Malaysia mereka terombang-ambing setelah bekerja. mereka teraniaya, haknya terampas, janjinya tidak tertunaikan. Itulah hakikatnya, tidak sedikit yang telah sampai ke Malaysia pekerjaan dan gaji yang dijanjikan tidak sesuai. Berpindah-pindah majikan, majikan tidak berlaku adil, tidak membolehkan keluar, tidak boleh berhubungan dengan dunia lain, menyuruh masak babi kepada pekerja yang beragama Islam, bekerja lebih dari 12 jam, makan sehari sekali, pelechan seksual dan banyak lagi. Dua kasus terbahas sudah. Masing-masing dari grup membentangkan kajian penyelidikan. Aku, masih tetap terdiam. hanya sebagai penonton. Ah, mirisnya. Andaikan aku mampu berbahasa Inggris. Andaian itu, tetap menari-nari tanpa kupinta. Sementara, aku terbengong-bengong saja menyaksikan grup dari Filipina. Setelah aku selidiki dan amati, mereka, sama sepertiku. Hanya sebagai pekerja rumah. tapi, lihatlah kemampuannya, lihatlah cara berbicaranya. Sangat educated. Berbeda, sangat beda dengan para pekerja dari Indonesia yang sama-sama pekerja rumah tangga. Tersadar, betapa minimnya kualitas pembantu Indonesia di Malaysia. Memang, dari segala hal, Filipina lebih tinggi kualitasnya berbanding tenaga kerja Indonesia. Lihatlah, berapa gaji standar yang ditetapkan pemerintah Filipina lebih dari RM. 1000, sangat jauh dengan pekerja Indonesia yang hanya mencecah sekitar RM.400-500/bulan. Pun dari segi pendapatan majikan, majikan yang mengambil pekerja dari Filipina harus berpenghasilan lebih dari RM. 5000. Berbeda dengan majikan pekerja Indonesia yang hanya diwajibkan berpenghasilan RM.3000. Melihat skill dan kemampuan mereka, aku memang kagum dan salut. Tak heran, ketika pemerintah Filipina bisa dengan mudahnya memberikan peraturan dengan tegas kepada kerajaan Malaysia untuk memberikan syarat dan ketentuan kerja juga gaji. Jauh sekali perbedaannya dengan pemerintah Indonesia. Persetujuan perjanjian antara pihak pemerintah Indonesia dan kerajaan Malaysia cenderung merugikan pekerja rumah tangga. Pekerja rumah tangga yang termasuk ke dalam pekerja informal, susah sekali untuk mendapatkan hak-haknya. Terutama, haknya untuk mendapatkan cuti. Pemerintah Indonesia yang menginginkan gaji pekerja rumah Indonesia dinaikkan menjadi RM.800 mendapat kecaman berbagai pihak di Malaysia. Mereka menganggap, pemerintah Indonesia terlalu berlebihan, sedangkan kualitas pekerja rumah Indonesia sering dipertanyakan. PR kepada pemerintah dan para agen, untuk kembali menaikan kualitas para pekerja rumah tangga sebelum pergi ke negara tempat tujuan. Wallahu'alam...

39 komentar:

  1. hmmmm... semoga ke depannya, kwalitas TKW makin baik dan meningkat tentunya, so pegi ke Malay not for the money only tp juga buat mencari ilmu menuntut ilmu dan menimba banyak pengalaman.

    BalasHapus
  2. Mungkin karena itulah ya mbak, maka orang Malaysia sering merasa tidak puas dengan TKW Indonesia
    Pemerintah harusnya lebih perhatian terhadap masalah ini, dan menentukan standart kualitas untuk TKW yang akan diberangkatkan
    (mungkin juga sudah sebenernya, hanya karena banyak yang berangkat secara illegal ya)

    BalasHapus
  3. moga semakin maju ya, kualitas tkw indonesia... :-)

    BalasHapus
  4. insya Allah bisa diperbaiki, dimulai dari mengubah sebutan TKW dengan yang lebih elegan .. jangan Tenaga Kerja sehingga seolah bekerja dengan tenaga saja .. wallahu a'lam. salam optimis

    BalasHapus
  5. Ya, apa yang Ana tulis secara tidak langsung mulai menjawab pertanyaan saya, tentang banyaknya kasus penganiayaan TKW Indonesia di luar sana. Tentu pengaaniayaan tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun, tetapi rendahnya kualitas tadi telah memicu peremehan TKW Indonesia hingga akhirnya terjadi penganiayaan. Rendahnya kualitas SDM kita, sebetulnya tidak hanya terjadi pada lini TKW, terjadi di semua sektor. Ini Pe-er kita bangsa saya kira, pe-er kita bersama.

    BalasHapus
  6. kuran nya perhatian dari pemerintah,menjadikan para agen di Indonesia menyalahgunakan wewenang
    yg seharusnya para calon TKW ini di berikan pendidikan setarap dengan TKW yg mau pergi ke taiwan biar mereka menguasai bahasa juga keberanian.tp para agen ini menyepelekan bahasa buatnya bs mengikuti lama2 akan bisa,pikiran mereka bahasa sama.kadang mereka tipu agen mempercepat proses yg ada di kepalannya hanya untung,tanpa memikirkan kondisi pekerja kemudian hari.itu kendala di sektor TKW,lain halnya di sektor TKI sepengetahauanku mendapatkan pujian meelebihi dari negara lain.tp sayang sekarang sistem sudah berubah dulu guna sistem company tapi sekarang bnyak menggunakan sistem agensi...kyknya buat situs tentang sistem bgs jg nih jd kepikiran....

    BalasHapus
  7. menurut saia pemerintah krg mengawasi pjtki dlm merekrut tki.saia dl pernah tahu ada tki pake ijasah saudaranya,trus gak ada pelatihan apapun.

    BalasHapus
  8. kalau saya kira kaitan antara kekerasan terhadap TKW di sana itu bukan karena kualitasnya yang rendah. Toh kalau kualitas rendah mengapa tetap dipakai? kan bisa dikembalikan kepada penyalur dan protes kepada penyalur, bukan dengan cara disiksa.
    Masalah kualitas dengan masalah kekerasan itu masing-masing memiliki lapaknya sendiri.

    kalau kualitas TKW dari Indonesia rendah saya belum bisa berkomentar karena belum ada penelitian objektif tentang itu. Kan 1 atau 3 orang yang memiliki kriteria yang sama belum tentu mewakili sebagai kesimpulan.

    BalasHapus
  9. salam sobat
    trims infonya,,
    kalau ternyata kualitas TKW rendah di Malaysia,,
    ya sebaiknya memperbaiki dulu ,,baru berangkat ke Malaysia.

    BalasHapus
  10. Sepertinya ada benarnya tuh!
    Selama ini, sebagaiman yang saya tahu, orang2 Madura banyak yang bekerja di Malaysia dengan melewati jalur belakang. Itu sih saya sering denger2 kayak gitu. Tapi pastinya gak negrti sih.

    Yang kelas, harus ada perbaikan mutu, agar jalinan kerjasama dengan negeri Jira itu tidak tersendat-sendat hanya karena kelakuan oknum-oknum tertentu.

    Salam kenal ya..

    BalasHapus
  11. hmm segitunya yah orang-orang kita disana.,.pemerintah pun belum bisa merangkul semuanya..semoga ke depannya orang-orang kita disana bisa lebih dan pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan :)

    BalasHapus
  12. Mbak ini pengalaman benar daripada keluarga dan teman Malaysia yang mengambil bibik dari Indonesia :

    1. Teman aku bertukar 16 kali pembantu rumah untuk mendapat yang berkualitas.
    2. Adik aku sudah bertukar 8 kali masih belum ketemu yang berkualitas. 1 orang lari dengan pacarnya dan 1 orang lagi lari entah kemana.
    3. Paman aku sudah tidak mahu mengambil pembantu kerana pengalaman 10 orang semuanya tiada kualitas.

    Memang banyak masalahnya... itu tidak termasuk pembantu rumah yang memukul anak majikan, pembantu yang bawa pacarnya ke dalam rumah dan banyak lagi. Bukan tidak ada yang bagus tapi perlu di cari dan semua itu ada ongkosnya.

    BalasHapus
  13. mungkin dari pihat PJTKI harus lebih memperbaiki sistem pelatihannya ya

    BalasHapus
  14. TKW juga perlu diberi pengetahuan masalah hukum negara tempat tujuan
    keep smiling

    BalasHapus
  15. Datang buat membantu memperbaiki Ms. Office nya Mbak...

    Oia Mbak Tukran Link yu,,, Kebetulan linkya mbak udah saya pasang di blog list saya.. Jadi mohon kebijaksanaan mbak buat masang link saya di bloglistnya mbak

    BalasHapus
  16. kapan Indonesia Ngimpor pembantu ya bukan ngekspor

    BalasHapus
  17. yah, pertama-tama emang kualitas pembantu yang harus ditingkatkan... nah kalo itu udah dilakukan gantian pemerintah indonesia yang musti memberikan perlindungan hukum ketika ada kasus...

    BalasHapus
  18. Itu menjadi PR dari pemerintahan baru negeri kita ya. Semoga kali ini TKW mendapat porsi perhatian yg serius.

    An, aku belum tentu bisa ikut KBO loh...

    BalasHapus
  19. Pekerjaan Rumah buat pemerintah khususnya para PJTKI

    BalasHapus
  20. mbak, saya boleh lanjutkan postingannya ga ya, pengalaman saya waktu mengunjungi Qatar?

    BalasHapus
  21. wah, itu sih lingkaran setan, banyak juga PJTKI yang menghalalkan segala cara untuk memberangkatkan TKI ke sono, bahkan banyak yang dibawah umur sudah bisa berangkat.

    BalasHapus
  22. Semoga pemerintah segera dapat menanggulangi.. agar TKW lebih maju...mungkin bukan dari sisi gaji saja tapi dari harga diri juga ...semoga pe-er ini bisa cepat terjawab...

    BalasHapus
  23. sipp...salut ma postinganmu dan cara penyampaianmu ini...renungan yang luar biasa.
    jadi banyak yang bisa dirimu ambil(hikmah maupun ilmu) dari kedatanganmu ke seminar itu khan, meskipun kurang tahu bahasanya...

    BalasHapus
  24. Brazil mengimpor pemain bola, Indonesia mengimpor pembantu.

    BalasHapus
  25. kalo masih rendah berarti musti dtingkatkan lagi, musti ada pelatihan ato pendidikan khusus gitu sebelum dkirim sebagai tenaga kerja ke luar Indonesia

    BalasHapus
  26. PR tuh buat Pemerintah,
    Buat kita, buat semua.

    Kalau gak mau Bangsa ini disebut sebagai Bangsa Rendahan.

    BalasHapus
  27. semoga kedepan warga indonesia tidak ada lagi yang menjadi tkw saatnya bangsa indonesia menjadi tuan rumah di negri sendiri... kalo perlu suatu saat nanti gantian kita import tkw dari malaysia....

    BalasHapus
  28. Ga usah dendam,sedih atau kecewa. Emang segitu kualitas orang kita, jangnkan di negri orang, di negri sendiri juga mengecewakan.

    Harus ada upaya sistemik dari pemerintah untuk mengatasi hal ini. Tapi kalau mental dan sistemnya seperti sekarang ini, Jangan mimpi deh

    BalasHapus
  29. punten, meski ndak bisa bhs inggris, mustinya sbg wakil (dr) indon... ya usahakan mbela bangsa.. yah siapa lagi klo bukan kita ya. cuma sayangnya kelemahan kita itu ilegal sih kebanyakan.. jadi mo bilang apa, awalnya sdh salah yaah

    slm kenal :)

    BalasHapus
  30. hidup TKW.....tapi yang beriman saja, kalo yang nggk beriman moga-moga lekas mendapat hidayah Allah....AAminn...

    BalasHapus
  31. ehm,,
    masalah tkw yah??
    nggak tahu juga dah gimana aku mesti komen
    yang aku pingin nih mbak
    kapan yah malaysia punya tkm (tenaga kerja malaysia) ke indonesia tercinta ini
    hehehe

    BalasHapus
  32. standarisasi kualifikasi TKI yang akan dikirim ke luar negeri sebaiknya dirumuskan untuk dijadikan patokan. jadi klo belum qualified kewajiban agen untuk memberikan pelatihan keterampilan, sehingga TKI mempunyai hak tawar yang lebih tinggi....

    PR yang entah kapan kan terselesaikan mengingat banyaknya "kertas ujian" yang terhampar di meja pemerintah indonesia saat ini....

    Seandainya.......

    BalasHapus
  33. Kesadaran SDM-nya sudah seharusnya di tingkatkan. Karena masih banyak pihak baik dari agen maupun tenaga kerjanya hanya mempunyai tujuan satu yaitu: UANG. Tanpa melihat skilla yang dimilikinya.

    BalasHapus
  34. tulisan ini mestinya masuk Kompas :) atau ada yang berbaik hati untuk meng-email ke Depnaker dan Deplu ?

    artikel yang bagus mbak :)

    BalasHapus
  35. Semuanya bisa diperbaiki, asal ada keinginan dan usaha tuk mewujudkan.....

    BalasHapus
  36. Salam Hormat

    Saya warga Malaysia,ingin saya berkongsi pendapat disini,80% majikan di Malaysia adalah bukan Melayu, mereka lebih gemar pembantu yang boleh berbahasa Inggeris, alasannya, lebih mudah untuk berkomunikasi, oleh itu, pembantu dari negeri yang berbahasa Inggeris lebih mahal gajinya, pada pendapat saya, ini kerana faktor komunikasi yang lebih "baik", kebolehan mereka lebih kurang sama, saya sendiri tidak setuju jika dikatakan warga Filipina itu lebih baik dari warga Indo, cuma sebelum berangkat ke sini, biarlah terlatih dalam menguruskan hal rumah tangga, tidak semua majikan itu akan mengajar menggunakan peralatan dirumah, kerana pada hemat mereka, apabila sudah dibayar pada agen harga yang tinggi, mereka mengharap pembantu yang benar-benar boleh membantu mereka dengan baik, tidak perlu diajar dan disuruh membuat itu dan ini, mengikut pemerhatian saya,ramai yang datang dari luar bandar, dari desa, persekitaran sudah jauh berbeza, akan jadi sedikit kekok (awkward) disitu,yang lain masih boleh menyesuaikan diri dengan mudah, tidak ada masalah, ada satu perkara lagi,saya ingin menasihatkan supaya saudara saya yang beragama Islam ini, jika boleh, biarlah bekerja dengan orang Islam sendiri disini, saya sendiri malu membaca berita tentang warga Indo yang dilayan dengan buruk disini,dahulu perkara ini pernah dicadangkan, tetapi masih memerlukan kerjasama dua negara, saya cuma rakyat biasa yang tidak mampu untuk merubah apa-apa, cuma kita semua boleh bekerjasama untuk hasil dan masa depan yang lebih baik untuk generasi akan datang..

    Akhir kalam, mohon maaf sebesarnya jika ada yang tidak enak dibaca dalam tulisan saya ini, dan selamat menyambut hari raya Aidiladha kepada yang beragama Islam

    -Orang Melayu-

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P