Berfikir Lateral Dan Kreatif

Dalam tetralogi Laskar Pelangi, ada beberapa tokoh-tokoh tambahan yang terbuang. Dalam Laskar Pelangi, ada seorang manusia terbuang bernama Bodenga. Dalam Edensor, ada juga lelaki tua yang ditemui di kota kecil Craniova, Rumania. Seorang lelaki asal Banyumas, yang terdampar disana dan terbuang tanpa diakui negara. Sedih bergelayut, tatkala membaca lembar cerita ini. Juga, dalam Maryamah Karpov, Andrea Hirata juga menceritakan tentang lelaki terbuang. Weh namanya. terpencil, kehidupannya. Ia hidup sendiri, disebuah perahu. Tanpa ada sesiapa, yang mempedulikannya. Bahkan, sampai ia meninggal pun, tak ada yang mengetahui. Tragis!
Dalam kehidupan sehari-hari, sejatinya kita selalu ditemukan dengan kehidupan seperti itu. Dibuang terbuang, atas dasar pemikiran yang sudah terbentuk. Baik buruk, atas dasar persepsi terbanyak. Bukan karena apa dan mengapa tapi, karena sudah banyak yang melakukannya. Hanya analogi. Andai kita seorang kepala desa, kemudian datang dua orang memberi khabar. Salah seorang, memberi tahu bahwa, si Ahmad yang kaya raya, telah kehilangan uangnya sebanyak Rp.100.000.000. Sedangkan berita satunya, mengabarkan bahwa, Si Mamat telah kehilangan uang sebesar Rp.10.000. Agaknya, kemana kita akan pergi dulu? dan, kemana juga warga akan berduyun-duyun dan membicarakan kasus itu? Tentunya, kita akan menuju rumah Ahmad Dulu. Bagaimana tidak, Ahmad yang kaya raya, kehilangan uang yang begitu banyaknya. Sedangkan Mamat, hanya Rp.10.000 saja. Psikologi manusia, sudah terbentuk seperti itu. Sebagai manusia normal, kita akan bertindak dan berfikir mengikuti logika. Jarang sekali hendak menilai dengan mengikuti otak keratifnya. Seorang yang kreatif, mungkin akan pergi ke rumah Mamat, kalau Rp.10.000 hilang, sampai melapor kepada kepala desa. Mungkin saja, uangnya sangat berharga. Orang kreatif, akan berfikir secara lateral. Kalau semua orang pergi ke rumah Ahmad, siap juga yang akan pergi ke rumah Mamat? Tentu saja lebih banyak yang ke rumah Ahmad, Maklum, yang hilang Rp.100.000.000 jumlah yang sangat besar. Ia berita hangat, tetapi kalau terlalu ramai orang mengerumuni suatu hal, Ia sudah tidak menjadi terlalu pelik. Tidak ada eksklusifnya, smeua orang bicara hal yang sama, semua orang ada fakta yang sama. Siapa juara dalam soal ini? Tidak ada sesiapa yang menjadi juara kecuali orang yang pergi ke rumah Mamat. Dia pulang dengan membawa satu berita, yang tidak diketahui oleh orang lain. Dia lebih juara dan juga hebat. Meskipun jumlah kehilangan uang tidak besar, berita mengenainya akan menjadi besar dan si pembawa berita akan terkenal karena, hanya dialah yang ada fakta mengenainya. Sekarang, kita semua perlu berfikir lain sedikit daripada orang kebanyakan berfikir. Apabila kita melihat dan berfikir secara lateral kita akan menjadi luar biasa daripada, yang biasa. Para saintis adalah orang yang berfikir lain daripada orang lain berfikir. Melihat matahari mereka berfikri, bagaimana boleh membawa matahari kedalam rumah. Maka, terciptalah lampu elektrik. Melihat burung, mereka berfikir bagaimana caranya untuk terbang. Maka, terciptalah pesawat terbang. Psikologi manusia biasanya sama. Tentang kisah Ahmad dan Mamat tadi. Bukankah Rp.10.000 tiada nilainya berbanding Rp.100.000.000. Tapi, apa jadinya kalau uang yang Rp.10.000 itu, dimilki oleh seorang anak yatim yang tiada memiliki uang sepeserpun Tentunya, ia sangat berharga dan lebih berharga dari uang Rp.100.000.000. melihat, betapa sesuatu yang berada disebalik sesuatu. biasanya berbeda daripada apa yang biasa. Mengutip dari buku yang telah dibaca, dengan perubahan seperlunya.

16 komentar:

  1. Sebuah analogi yang mantap Naz...
    Pada dasarnya otak tidak didesain untuk kreatif. Namun dengan penerapan tools dari Lateral Thinking tools, otak dapat dilatih untuk bergerak menyamping dari pola yang sudah ada. Akibatnya ini akan membuka persepsi, konsep dan gagasan-gagasan baru.

    BalasHapus
  2. Selalu mati kutu kalu bc tulisan mbk anaz. Keren bgt, detail, ringkas!! *kagum*

    BalasHapus
  3. Ya dengan berpikir lateral, orang mampu menemukan celah dari sesuatu yang dipandang baku/standard. Nice post.

    BalasHapus
  4. Hampir sama dengan Pak Iwan,cuma kadang ketika kita mendapatkan sebuah persepsi baru justru kita merasa ragu karena keengganan kita di anggap 'berbeda' dengan orang lain.
    Inspiratif mbak Naz..

    BalasHapus
  5. otak kreatif atau lateral itu bagaikan kuda dalam permainan catur mbak. kuda berjalan dgn letter L. dia masih bisa jalan walaupun dihadang disegala arah. hehe.

    BalasHapus
  6. Uang seberapapun besarnya menjadi tidak berharga bila kita tak membutuhkan
    Namun menjadi sangat berharga apabila berada di tangan yag membutuhkan..
    sekecil apapun

    BalasHapus
  7. dr analogi yg mbak kasi itu, artinya harus adil jika menolong orang ya, mbak... susah juga klw aku berada dlm analogi itu, pst setidaknya kita bilang sama Mamat "udah, cuma 10000 kok, ntar bisa dicari lagi...". Dilema ya...

    BalasHapus
  8. analogi belum ngerti bener sobat bahasa tingkat tinggi tuh

    BalasHapus
  9. Biasa...manusia punya sifat serakah, sadar ataupun tidak.

    An, ada award buatmu. Ambil di Curhat Fanda ya!

    BalasHapus
  10. huhm.. bener mbak... nilai dari sesuatu itu bukan dari jumlahnya... namun makna dibelakang sesuatu itu sendiri....

    BalasHapus
  11. wahh.. siip neh mbak!! analoginya mantap!!

    btw,, aku punya award lho buat mbak.. dijemput yah :)

    BalasHapus
  12. yup betul sekali Mbak Anaz... sebuah nilai harga tidak ditentukan oleh besar kecilnya rupiah yg ia punya tp seberapa dibutuhkannya rupiah itu dalam keseharian mereka.

    BalasHapus
  13. Kita memang harus berpikir beda. Meskipun seringkali dianggap tidak wajar. Namun sebuah karya besar berasal dari berani berpikir beda atau berani berpikir terbalik.

    BalasHapus
  14. hufh.. emank begitu yaa.. slalu yg trlihat lbh bsr yg menjadi pusat prhatian. pdhl.. maybe yg 'kecil' ya justru hrs d'perhatikan??.. ;)

    tapi mski blng bgtu, d'kehidupan nyata, acapkali qta kebingungan sebenarnya mana yg lbh penting??..

    mmh.. tau ga mba biar otak qta jadi kreatif??.. ;)

    BalasHapus
  15. Wah.., tulisan yang ini mantap bener mbak... Salut.
    Kutunggu lagi tulisan-2 yang lain ya..

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P