Indahnya Tersesat

Pernah tersesat di jalan...??? Kalau aku, kayaknya sering banget tuh. Di Serang, yang notabene masih wilayah aku tinggal, aku pernah tersesat. Pernah juga, tersesat di Pemalang, nyasar sampai ke Petarukan. Yang paling jauh, mungkin ketika ke Semarang, aku pernah tersesat juga. Maklumlah, pergi ke kota itu, bermodalkan nekat. Tapi, alhamdulilah, Allah masih melindungiku. Dan sampai tujuan, dengan selamat. Yang paling jauh...??? Yah tersesat ketika jalan di Malaysia. Maklumlah, negara orang, banyak tidak tahu seluk beluk arah jalan. Tak terhitung, entah berapa kali aku tersesat ketika mencari alamat.
Dan kemarin, mungkin ketersesatan, yang tak aku harapkan. Bermula, ketika pagi hari, sekitar jam sepuluh. Aku pergi menuju KBRI untuk memohon surat cuti, di Kuala Lumpur. Awalnya, Ibu mau mengantarku tapi, aku menolak. Alasannya, karena, aku hendak menuju Bank dulu. Maka, pergilah aku menaiki taksi ke UIAM (Universitas Antar Bangsa Malaysia). Di pintu gerbang utama, petugas memeriksa setiap mobil yang masuk, termasuk taksi yang aku naiki. Dan memintaku, menunjukan ID pelajar UAIM. Sopir taksi membuka cermin jendela, dan aku berkata, hendak singgah ke Bank sebentar saja. Alhamdulilah, dibiarkannya taksi berlalu. Masuk saja ke Bank, sudah cukup banyak antrian. Pelajar UIAM dari berbagai bangsa, kalau melihat dari kulit dan parasnya sudah duduk rapi di kursi tunggu. Aku duduk di kursi paling depan. Menunggu giliran, aku meraih novel "Negeri 5 Menara nya, A Fuadi. Jarak seorang disebelahku , nampak seorang pelajar Indonesia yang sedang berbincang dengan temannya. Lamat-lamat aku mendengar, kalau buku tabungannya hilang. Semoga sekarang sudah ketemu. Tak begitu lama, giliranku tiba. Dan, tak sampai lima menit, transaksi selesai. Aku buru-buru keluar dari Bank, segera menunggu bis dan menuju Kedutaan Indonesia. Di depan bulatan UIAM, sebuah bis, nampak melintas. Cepat-cepat aku mengejarnya. Dan tanpa melihat arah tujuan bis, aku segera menaikinya. Di dalam bis, baru aku ngeh, kalu bis yang ku naiki bukan menuju terminal Putra. Tapi, aku diam saja. Dalm hati berujar, "Nanti, dimana tempat yang aku kenal, aku akan berhenti". Rupanya, bis menuju lebuh raya Ampang, yang aku sendiri tidak tahu dimana. Memasuki kota, aku selalu melirik nama dan jalan di papan penunjuk jalan. Sepertinya, semakin jauh saja aku pergi. Tak ayal, ketika bis sampai di perbatasan Chowkit, dan ada tulisan Jalan Tun Razak ke arah kiri, aku turun di halte terdekat. Dari situ, menyebrang jalan dan mencari taksi. Aku sama sekali tak mengenali tempat tersebut. Alhamdulilah, taksi mudah didapat. Tapi, sepertinya, Kedutaan Indonesia jauh dari situ. Tak sampai dua puluh menit, taksi sampai di jalan Tun Razak, Kedutaan Besar Republik Indonesia. Di sebelah kiri jalan, taksi berderet-deret menunggu penumpang. Dulu, salah seorang rakan ekspatriat pernah bercerita. Kalau Kedutaan Indonesia begitu semrawutnya. Orang-orang Indonesia yang hendak mengurus passport dan administrasi lainnya, berjubelan di tepi jalan-jalan raya. Seperti terminal Kampung Rambutan, ujar rakan eskpatriat tersebut. Sampai suatu ketika, Dewan Bandaraya Kuala Lumpur membuat teguran. Dan, sejak saat itu, saat Pak Presiden berkunjung beberapa tahun lalu maka dirubahlah sistem di KBRI. Kini tak lagi semrwaut seperti dulu, tiada lagi antrian panjang di tepi jalan raya. Dan semua urusan, dibuat didalam bangunan KBRI. Masuk saja ke bangunan utama sebelah kanan, aku dihadapkan dengan antrian yang cukup panjang. Kalau duluar saja sudah bertumpuk, didalam, mungkin sudah tak muat lagi orang. Aku mengeluh panjang, membatin akan lama menunggu antrian. Aku langsung menuju meja pengambilan formulir. Bertanya kepada petugas, bagaiman caranya kalau hendak mengambil surat cuti. Petugas meminta passportku dan meneliti satu-satu. Katanya, pihak KBRI tak lagi memberika surat cuti untuk pembantu rumah tangga. Hanya, majikan saja yang diwajibkan membuat surat cuti. Kemudian, petugas menambahkan, karena passportku dibuat di KBRI, maka tak lagi membutuhkan surat cuti kedutaan. Dan, secara langsung, aku sudah bebas fiskal. Aku meyakinkan jawabannya kepada petugas. Dan petugas tersebut mengangguk pasti. (kalau di imigrasi harus bayar fiskal lagi, pingsan deh aku. sekarang khan dua koma lima juta. Gubrak.. aku bakalan nangis..) Selesai dari KBRI, aku kembali mencari taksi. Menuju stasiun Ampang Park. Sampai di Ampang Park, aku mencari telphone umum. Merogoh kantong tas, mencari sisa-sisa koin yang aku minta ke Ibu sebelum pergi. Sampai saat ini, aku belum lagi membeli hape. Agak susah memang, bepergian tanpa hape. Aku menelpon ke rumah anak majikanku, meminta alamat rumah. Yang mengangkat pembantunya, dan aku minta nomor hape menantu majikanku. Cepat-cepat aku mencatat. Yakin semua dah beres aku langsung menuju kasir membeli tiket kereta api, berhenti di Kuala Lumpur Center. Dari situ, aku berganti menaiki ERL menuju Putrajaya. Sampai di stasiun, aku langsung menuju pemberhentian taksi. Dan langsung menuju alamat anak majikanku. Bukan mudah, ketika harus mencari alamat di Putrajaya. Karena supir taksi sudah kelihatan merungut maka, aku putuskan untuk berhenti saja. Dan mencari alamatnya sendiri. Sopir takis ragu tapi, aku meyakinkan kalau aku tahu. Dari sinilah, ketersesatan bermula. Sungguh melelakhkan, ketika harus mencari rumah, yang sama bentuknya. Meskipun ada alamatnya, ia berkelok-kelok. Tak berurut, atau entah aku yang tak mengurutkan. Berulangkali, aku memasuki gang yang sama, jalan yang sama dan alamat yang sama. Tapi, alamat rumah anak majikanku belum kutemu. Sampai aku bertanya, kepada seorang yang kebetulan ada di depan rumah. Karena tak membawa hape, tanpa segan dan malu (sebenernya, nekat) aku meminjam hape orang tersebut. Bersyukur sekali, ketika dengan baik hati orang itu meminjamkan. Dan, ternyata, alamat yang aku catat, salah! Masih bersambung....

17 komentar:

  1. ending nya gimana mbak? :) semoga ketemu ya alamatnya

    BalasHapus
  2. Mbak Anaz hebat yach, bisa begitu kronologis berceritanya.. *terkagum-kagum*

    BalasHapus
  3. lanjutin dong ceritanya, jadi penasaran nech....
    cerita'y bkn penasaran

    BalasHapus
  4. hehehe...

    aku juga sering tersesat kok mbak...

    BalasHapus
  5. ngikutin alur cerita mbak ..
    aku jadi gak bisa pulang... :D
    lam knal mbak :d

    BalasHapus
  6. mbak maaf kalo saya lancang bertanya... emang mbak bener jadi pembantu di malaysia...??? maaf ya mbak maaf sekali lagi...

    BalasHapus
  7. wueehehehe, masih bersambung rupanya.... :))

    btw, lamat-lamat itu apaan, mbak?? pelan2 ya?

    BalasHapus
  8. he he aku juga pernah tersesat lho sewaktu ke Cihampelas Bandung hihihi

    BalasHapus
  9. hm... dikau ke rumah anak majikan atau ke labirin? hihihi... kok ketemunya itu2 ajah? xixixi
    waw.. masih bersambung ya?

    BalasHapus
  10. Ya ampun An...bukan cuma tersesat tp alamatnya jg salah? Tersesat kuadrat nih namanya..

    BalasHapus
  11. haa??... baru tau kalo tersesat tu indah... ::binun::

    BalasHapus
  12. Tersesat untuk menemukan jalan yang lain
    indah tapi tersesat
    keren mbak...

    BalasHapus
  13. aiihh,, salut iihh sama mbak.. berani juga yah sendirian kemana-mana,, apalgi kalo di negeri orang... tapi masih bersambung yah?! oke deehh ditunggu lanjutannya...

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P