Mimpiku, berawal dari Atas Pohon Kopi

Desa Karangsari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang yang terletak di bawah kaki bukit Gunung Slamet adalah tempatku di lahirkan. Sebuah desa yang cukup terpencil. Dengan fasilitas yang tak begitu memadai ketika itu, menjadikan aku selalu bermimpi, untuk pergi ke kota besar, bekerja meskipun pekerjaan itu, hanya sebagai pembantu rumah tangga. Sepertinya tak pernah bermimpi untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi. Meskipun, pernah ketika SD (Sekolah Dasar) dulu Aku menuliskan cita-citaku menjadi seorang Guru. Tapi, cita-cita itu hanya tulisan begitu saja. Tak sedikitpun, mimpi itu memacu semangat belajarku. Juga usahaku untuk menggapainya.
Keluargaku pun, biasa-biasa saja. Bahkan, boleh dibilang miskin. Terlahir dari lingkungan yang biasa-biasa saja, menjadikanku tidak begitu mementingkan cita-cita. Toh, keturunan dari keluargaku tak ada satupun yang mengenyam pendidikan tinggi. Hanya seorang kakaku, yang saat itu masih duduk di bangku SMP. Sedangkan, kaka-kaka sepupuku yang lain, tak lebih dari SD. Sementara, kedua orang tuaku, merantau ke Selat Sunda. Dan aku, tinggal dengan Kaka, Nenek juga saudara-saudara yang lainnya. Impian untuk ke kota, semakin lama semakin kuat. Ditambah dengan keadaan ekonomi keluarga yang tidak menentu. Apalagi, setiap kali melihat tetangga-tetangga yang mudik ke kampung halaman saat lebaran tiba. Aku semakin dibuai mimpi untuk menuju kota. Melihat oleh-oleh yang dibawa juga mendengar cerita-ceritanya tentang kota. Aku selalu terkesima, mendengar cerita kota, dengan segala kesibukan juga fasilitas yang dimiliki oleh sebuah kota. Cerita tentang lampu, tentang TV berwarna, tentang kulkas juga keenakan makanannya. Ah, aku semakin merindukan kota. Rasanya, saat itu juga, aku ingin menuju ke kota. Dan, Jakarta, adalah kota yang ingin sekali kutuju. Tatkala selesai waktu belajar di SD, mimpiku untuk meneruskan sekolah, betul-betul terhenti. Aku tidak meneruskan sekolah. Meskipun sebetulnya orang tuaku keberatan tapi, aku lebih memilih tidak sekolah. Mendengar janji Budeku hendak membawaku ke Banten (Jabar Ketika itu). Betapa gembiranya aku saat itu. Hampir malam-malamnya, aku tidak bisa tidur lena karenanya. Meskipun aku tak bertahan lama di sana dan harus kembali lagi ke desa. Aku tidak jera, impianku masih sama yaitu, ke kota Jakarta. Sekembalinya dari Banten, aku mulai mengadu nasib di desa, dengan menjadi kuli di sawah-sawah orang kaya. Hasilnya yang tidak seberapa, tetap saja membuatku bangga karena bisa membantu perekonomian keluarga. Menjemur diri menjadi kuli di tengah bentang sawah-sawah, menjadi pekerjaan rutinku seawal usia 13 tahun. Terkadang, malu juga kalau harus bertemu dengan teman-teman SD. Apalagi, kalau bertemu teman sebangku. Yang ketika sekolah dulu, selalu bersaing prestasi setiap hari. Semua rasa malu kutepis. Aku harus membiasakan diri dengan keadaan baru. Dan, mimpi ke kota besar Jakarta tetap menduduki peringkat pertama di kepalaku. Ternyata betul, Ia Budeku dengan kedua majikannya. Seingatku, Budeku belum lama kerja di Tangerang. Kenapa meski pulang. Akhirnya, aku baru paham. Kalau ternyata, kepulangan Budeku adalah untuk menjemputku. Menemaninya bekerja di Tangerang, dalam rumah yang sama. Tak terbayangkan betapa gembiranya aku saat itu. Segala mimpi sepertinya sudah menjadi nyata di depan mata. Aku akan segera ke Jakarta. AKu tersenyum lebar, bahagiaku ketika itu betul-betul tak tergambar. Aku tak melihat sekelilingku, tidak juga mempedulikan perasaan Nenek, Kaka dan Budeku yang lainnya. pikiranku hanya satu, ke Jakarta, aku sungguh gembira!. Sungguh begitu cepat. Esoknya, setelah melalui malam yang cukup panjang, aku berangkat juga ke jakarta. Meskipun, harus ke Tegal dulu menuju tempat majikan Budeku, yang kelak juga menjadi majikanku. Di Tegal, aku dan Budeku menginap satu malam di rumah salah seorang anaknya. Dan hari berikutnya, aku baru menuju Tangerang bersama-sama dengan Budeku dan majikanku. Menaiki mobil Panther, meluncur deras menembus kesesakan kota. Rasanya, itulah pertama kali aku menaiki mobil pribadi. Hati kecilku bersenandung, mimpi ke kota hendak menjadi nyata. Meskipun saat berpamitan dengan sahabat mainku, ia menyela, katanya Tangerang bukanlah Jakarta. Tapi, aku cuek saja yang penting, aku hendak ke kota. Dan kini, aku sedang menujunya. Akhirnya, sampailah aku di tempat tujuan. Sebuah perumahan, yang cukup mewah menurutku. "Villa Melati Mas" Dan sampai sekarang, aku masih mengingat jelas alamat juga nomor telpone majikanku yang pertama kali. Di situlah, aku mulai mengenali kehidupan kota dan menghirup udaranya. Di situ juga, aku mengenali TV berwarna, kulkas, kompor gas juga, listrik tentunya. Seperti katak yang baru keluar dari tempurung, aku betul-betul mengalami keterkejutan budaya yang nyata. Aku merasa, desaku begitu tertinggal saat itu. Di rumah itu juga, untuk pertama kalinya aku belajar menyapu dan mengepel lantai. Sangat jauh berbeda dengan keadaan di kampungku. Dimana aku hanya menyapu lantai yang masih tanah. Sementara di kota, aku harus menyapu dan mengepel lantai keramik. Tidak begitu lama aku bekerja di rumah tersebut. Hanya enam bulan. Tidak lama setelah itu, aku justeru berpindah ke Banten, hidup berkumpul bersama dengan orang tuaku, (juga) adik-adikku. Alhamdulilah, akhirnya, Allah memberi kesempatan juga aku tinggal serumah dengan kedua orang tuaku. Meskipun tak lama setelah itu, aku kembali bekerja di Pamulang. Lagi-lagi, hanya sebagai pembantu. Di situ juga, aku mulai berani pergi sendirian PP dari Cilegon, ke Pamulang. Di Pamulang, majikanku beragam kristen. Meskipun begitu, ia baik denganku. Bahkan, aku disuruhnya meneruskan sekolah. Gembira sekali ketika itu. Sayangnya, keinginan itu tidak menjadi nyata. Aku harus kembali ke Cilegon. Di Cilegon, aku tidak memiliki kegiatan apa-apa. Sehari-hari, hanya duduk diam di rumah. Sampai suatu ketika, ada tetanggaku yang baru pindah dari Jawa. Dan dia, juga sekolah di sebuah Madrasah Tsanawiyah. Hatiku tergerak untuk mengikuti jejaknya. Aku mengutarakan niatku pada kedua orang tua dan kakaku yang saat itu juga sudah berada di Cilegon. Meskipun sudah telat selama 2 tahun, Alhamdulilah, aku masih diterima juga di sekolah tersebut. Dan, umur 15 tahun, aku baru menduduki kelas satu. Berbeda dengan teman-teman seangkatanku yang masih berusia 12-13 tahun saat itu. Sungguh kuasa Allah, aku tak menyangka kalau masih bisa sekolah. Meskipun bukan pada sekolah yang mewah. Begitulah, hari-hariku dipenuhi dengan kegiatan baru. Tak lagi berkutat dengan aktivitas harian rumah tangga. Kini berubah, menjadi aktivitas, menulis dan membaca. Betapa bersyukurnya aku ketika itu. Allah telah membuka jalan, untuk aku membuka pikiran. Bagaimana mimpi-mimpi itu harus selalu kukejar. Dari situlah, mimpi-mimpiku bermula. Dan kini, ketika aku membuat kopi, aku selalu mengingat kejadian berpuluh-puluh tahun dahulu. Bahwa, mimpiku, berawal dari atas pohon kopi.

43 komentar:

  1. Tidak semua mimpi memang persis sama dengan realita esok hari. Tapi manusia yang bisa bermimpi atau bercita-cita adalah bukti bahwa dirinya mampu mengaktualisasikan dirinya di tengah alam dan lingkup sosialnya. Tidak bercita-cita justru merupakan simbol individualisme. Maka, tetaplah bercita-cita selama cita-cita itu ada dan belum tercapai.

    BalasHapus
  2. berawal dari manapun... mimpi adalah sebuah harapan yang indah... yang bisa memompa semangat dan memacu diri untuk mewujudkan mimpi itu... nice post...

    BalasHapus
  3. waaah... merinding aku baca ini.. salut deh buatmu!! keepin faith yah! semoga sukses menyertaimu selalu.. :)

    BalasHapus
  4. Wow... sungguh perjalanan hidup yg penuh perjuangan, hampir sama dengan perjalanan hidup yg saya alami...

    BalasHapus
  5. kuasa allah memang tiada taranya
    dan kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi kelak
    terus sekolah ya
    hehehehe

    BalasHapus
  6. cilukbaaa..cilukbaaa..
    ndak mbayar to kalo mo ngintip mbak anazajah:p
    no komen, nyepam yes hehehe *kabur sambil nyomot biji kopi*

    BalasHapus
  7. *Tarik nafas dalam setelah membacanya* Speechless mbak..
    Terima kasih sudah mau berbagi perjalanan hidupnya,karena dengan membaca ini membuat saya makin bersyukur atas hidup saya..
    Terus bermimpi dan berjuang ya mbak.. Allah memeluk mimpi orang2 tulus seperti mbak Naz..

    BalasHapus
  8. Subhanallah...
    Teruslah bermimpi dan bercita-cita, Ana, sebab dengan begitu menunjukkan engkau ada dan bermakna.
    Salut untukmu.
    Semoga Allah swt senantiasa memberi rahmatNya padamu. Amiiin

    BalasHapus
  9. Hidupkanlah mimpi2mu, tapi jangan hidup untuk mimpi :)
    Tetap Semangat !!

    BalasHapus
  10. Segala puji bagi Allah yang menjadikan mimpi-mimpi dan harapan menjadi nyata

    BalasHapus
  11. memang Mbak, Allah gak akan menelantarkan hambanya begitu saja..... ayo semangat ya mbak..... ^^

    BalasHapus
  12. pasti ada aja jalannya kok, semangat terus ya

    BalasHapus
  13. Tulisan yg bagus, An! Tapi lebih dramatis lagi kalo di paragraf awal kamu nyebutin, "Di desa itu ada sebuah pohon kopi di mana aku sering duduk di dahannya sambil membayangkan bla bla bla..." Sehingga klop dgn penutupnya: "Dan kini, ketika aku membuat kopi, aku selalu mengingat kejadian berpuluh-puluh tahun dahulu. Bahwa, mimpiku, berawal dari atas pohon kopi."

    hehehe...Senang memiliki sahabat yg pantang menyerah kayak kamu. Semoga jalanmu selanjutnya diberi kelancaran olehNya ya!

    Btw, mau ngingetin jangan lupa ambil award di rumahku loh!

    BalasHapus
  14. aku kagum sama mbak.. punya sebuah mimpi emang bisa memeacu seseorang untuk terus mencapainya... teruslah bermimpi dan berusaha mbak... :)

    BalasHapus
  15. dari sebuah mimpi seseorang akan memperoleh apa yang ia inginkan, jangan pernah untuk tidak bermimpi, mimpi itu tak mahal..

    BalasHapus
  16. assalamualaikum..
    sy stuju mimpi merupakan sebuah awal cita-cita.
    unik juga berawal dari atas pohon kopi.
    salam

    BalasHapus
  17. i'm coming! *La balik lg jd blogger aah.. ;D ;D ;D *

    Arrghh.. teh ana crita tentang kota La!!! *lebaran idul adha pulang ga teh??..*

    -mank teh ana bkn asli org cilegon ya??.. *pulosari-pamulang... itu dmn c??*

    -critanya blm slese tuh, abz tsanawiyah lanjutin ke SMA-kuliah ga?.. trus bisa da di malaysia gmn??..

    BalasHapus
  18. Hidup berani untuk gagal. Jika mahu tahu lansung ke blog aku.

    BalasHapus
  19. berkunjuuuung lagiii... semangat yah!

    BalasHapus
  20. kebahagiaan sejati salah satunya adalah ketika sesuatu yang semula disangka hanya mimpi namun kemudian benar-benar terbukti dalam kehidupan ini. jangan pernah takut bermimpi, sekalipun gagal paling tidak kita pernah meraihnya dalam mimpi itu sendiri...

    BalasHapus
  21. ternyata spt ini kisah hidupmu, An. saya yakin kamu pasti akan jauh lebih sukses dari sekarang. semangat ya

    BalasHapus
  22. Cerita yang inspiratif..
    Sukses , mbak :)

    BalasHapus
  23. hidup ini penuh perjuangan Naz
    tetaplah semangat
    semoga selalu diberkahi dan dilindungi-Nya

    kalo lai indak mangarati jo komen ambo ka patang, lai biso tanyoan ka umi atau abah.
    indak sulik bana do.
    Baso ambo tak sahaluih baso rajo-rajo.

    jiahahahahahaha

    BalasHapus
  24. Dan Hidupku dimulai dengan segelas kopi......

    BalasHapus
  25. selamat malam jalan jalan sambil minum kopi ahh

    BalasHapus
  26. Assalamualaikum anaz.. terharu win membaca postingan ini. masa lalu merupakan cambuk untuk kita memperbaiki diri dalam hidup dan kehidupan kita. selamat dan sukses untuk semua langkah yang penuh berkah

    trus kapan nih ke medan, ntar jalan2 sampe ke pekanbaru. Mau?

    BalasHapus
  27. Berita duka!!!!
    inna lillahi,,

    telah terjadi di madura,,,
    hari ini

    pemnggalan besar-besaran!!!
    penusukan bertubi-tubi,hingga tersayat keci-kecil!!!

    lalu mereka berteriak…

    teeee…..saaaaatteee!!!!

    BalasHapus
  28. dimana cerita permulaan yang berhubungan dengan pohon kopinya Naz?
    kok dicari2 ga nemu pohon kopi
    idem ma Fanda
    semangat terus ya
    jalani hidup dengan senyuman

    dima carito mulonyo nan bahubungan jo poon kopi Naz?
    lai dicari indak katamu pohon kopi
    samo jo Fanda
    samangaik taruih yo

    BalasHapus
  29. Mbak Ana, ceritanya benar-2 membuatku kehilangan kata-2. Salut benar aku dg usaha mbak Ana mewujudkan mimpi. Mbak Ana punya mental pejuang, dan karenanya aku yakin... mbak Ana akan meraih keberhasilan di kelak kemudian hari.
    Teruslah bersemangat mbak...

    BalasHapus
  30. Subhanallah, perjalanan hidup yang mengharukan, anda punya bakat menulis, manfaatkan itu untuk membuat cerpen atau novel...dan kasihkan kepenerbit! Saya yakin anda bisa! Semangat dan Sukses!

    BalasHapus
  31. Luar biasa banget, Mbak. Salut. Perjuangan tidak akan pernah sia-sia. Semoga mimpinya tercapai! Amin....

    BalasHapus
  32. Wanita yang ulet dan tangguh menghasilkan kisah yg betul luar biasa

    BalasHapus
  33. Terima kasih sahabat sudah datang ke blog saya

    BalasHapus
  34. Saya sudah mau komen dari hari kemarin

    Tulisannya bagus, kapan diterbitkan jadi buku?
    yang penting jadi dulu dan diterbitkan

    BalasHapus
  35. Subhanallah mba, seharusnya aku bersukur dengan semua yang aku punya, inilah kehidupan, semuanya harus muali dari nol, banyak hal yang harus di kejar, dan banyak hal pula harus diyakini, semoga niatku, dan semua impianku jadi kenyataan, semuanya tergantung diri sendiri, mau atau tidak untuk berusaha,

    trimakasih ya allah atas semua nikmatmu kepadaku,
    dan trimakasih mba ana, sharenya, bener kata mba,
    Merendah bukan berarti rendah, mengalah bukan berarti kalah. merendah dan mengalah adalah kemenangan yang hakiki.

    BalasHapus
  36. wew...merinding saiahh bacana,tetep semangat nazz...
    God is never sleep halah..basaku...

    BalasHapus
  37. Sebenernya postingan ini sudah pernah mbaca, tapi kok diriku nggak menemukan kalimat tuk berkomentar ya.....
    hmmmm, setuju tentang pendapatnya mbak fanda, bang atta yang di atas.....
    dan minjem kata2nya Andrea Hirata, kalo nggak salah ntu, teruslah bermimpi karena tuhan pasti kan 'memeluk' mimpi2mu.... :-)

    BalasHapus
  38. Allahu Akbar!

    tidak ada yang tak mungkin terjadi jika kita meminta dengan tulus kepada-Nya.
    penuturan yang sanggup menggetarkan hati saya, mbak. sukses selalu.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P