Diposting oleh Anazkia Aja | 1 komentar

Upin dan Ipin lagi

Pengen upload Upin lagi, hehehe... kurang kerjaan amat ya? Buat yang minat dan suka, silahkan tengok :)Nah, kalau loadnya lambat, sabar yah, buka aja dulu sampai abis, kalau dah habis buka balik, Insya Allah, Lancar... Betul... betul... betul... :) Nape ek aku suka tengok cite Nie...?? (ops, sowy, kelepasan ngomong Melayu..???) Seru eui nonton Upin dan Ipin. Sederhana, banyak pengajarannya. Selain Ipin, aku juga suka Kampung Boy, sama juga terbitan MOSTI. Sekarang, ane gi berburu Upin N the Gank :) Yang lebih salut, ama dubbernya Upin dan Ipin Nie, rupa2nya, dia nih cewek kecil yang masih imut banget cuma seorang lagi! keren banget khan...???
video

1 komentar:

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P

Diposting oleh Anazkia Aja | 0 komentar

Ku Temukan Karya Rumah Dunia Di Malaysia

Sabtu kemarin, aku kembali berburu buku untuk Klub Buku pertama bulan depan. Fiuh, minggu kemarin sungguh melelahkan, ketika aku mengejar datang ke Fajar Ilmu, ternyata, aku sampai sana dah tutup. Salah aku juga seh... dah magrib, lagian, aku gak tahu kalau ternyata, jam enam sore dah tutup tuh toko buku Indonesia. Penetapan buku Syahadat Cinta, ternyata di rubah tiba-tiba karena bukunya gak ada. Di ganti dengan "Ku Jemput Jodohku, karya Fadlan Al-Ikhwani, penerbit Pro-U Media. Hmmm... harganya cukup murah lumayan, ada sisa bajet kalau githu. Tapi, lihat buku-buku baru di Fajar Ilmu, sungguh membuat rabun mataku, dan aku terpaku di setiap rak buku.
Buku mbak Asma juga ada tapi, sayang banget stoknya gak banyak. Melihat baris-baris buku memaksa otaku untuk menimbang sama ada menambah beli atau cukup satu buku saja. Aku rasa, aku ada sedikit uang lebih batinku. Kembali mengelilingi rak buku, aku menemukan novel "hafalan Shalat Delisa" Tanpa fikir panjang, aku langsung mengambilnya. Keliling lagi, eh, malah dapet antalogi cerpen nya temen-temen Rumah Dunia, Subhanallah... Aku ko yah seneng banget. Padahal, aku tidak berkarya di dalamnya. tapi, hampir semua penulis aku mengenalinya. Hampir tak percaya, ku bolak-balik buku itu, ku lihat isinya. Bener, ini memang tulisan temen-temen di Rumah Dunia. Aku bener-bener salut. Tanpa menimbang lagi, akhirnya buku itu pun aku ambil dan langsung ku bawa ke kasir.

0 komentar:

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P

Diposting oleh Anazkia Aja | 3 komentar

Allah, hari ini, Engkau mebuka mataku

Keindahan Situ Gintung sebelum bencana Allahu Akbar... Jika Kau berkehendak jadi, maka jadilah... Tak bisa terungkapkan dengan kata ketika menyaksikan duka jebolnya tanggul Situ Gintung yang berada di Cireundeu, kecamatan Ciputat Tangerang Banten. Kawasan wisata yang berada tepat di belakang Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini mendadak ramai di bicarakan. Bukan karena keindahan wisatanya yang kini telah tiada tapi, karena jebolnya tanggul ini telah mengakibatkan korban jiwa sebanyak 91 orang sumber detik .com Sabtu, 28/03/2009 21:08 WIB. Foto-foto di atas, aku dapatkan dari berbagai sumber. Musibah ini, benar-benar membuka mataku. Ya Allah, hari ini Engkau telah membuka mataku dengan musibahMu. Semoga aku mampu mengambil hikmahnya. Dan untuk para parpol, apakah ini kesempatan emas untuk mengumbar janji atau hanya meraih simpati...???. Beberapa foto keindahan situ Gintung, foto dari berbagai sumber.
Beberapa Saung, di tepian Situ Gintung Nelayan air tawar Wahana Outbond Situ gintung

3 komentar:

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P

Diposting oleh Anazkia Aja | 0 komentar

Ketika Waktu Semakin Dekat

Mengetahui sesuatu yang menyakitkan, adakalanya lebih menyedihkan. Mencoba menerima apa adanya. Kaki-kaki yang mulai tidak bernyawa, wajah yang mulai tak bermaya. Kini senyum menghamipriku kecut. Seperti sebuah pecut yang akan membuat nyawaku tercabut. Semangat yang ku bangun, runtuh sudah. (Eh, aku mo nulis apa yah?) noraks banget deh...

0 komentar:

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P

Diposting oleh Anazkia Aja | 0 komentar

KBA Kuala Lumpur, Adakah...???

Setelah hampir memakan masa selama satu bulan untuk perkenalan dan sosialisasi, Alhamdulilah Klub Buku Asma Nadia untuk wilayah Kuala Lumpur sudah terbentuk. Meskipun target bulan pertama membaca buku Jilbab Traveler gagal tapi, bukan berarti KBA KL menjadi hilang semangat.
Kemarin, 22 Maret 2009 bertempat di Surau As-Syahidin Sungai way, kami menentukan buku untuk bulan pertama. Niat untuk membaca Jilbab Traveler tidak kesampaian. Ada terjadi sedikit kesalahfahaman antara saya dan pak Asep tentang penitipan buku. Mbak Asma juga tidak jadi datang ke Johor, semakin tipislah harapan untuk mendapatkan Jilbab Traveler di bulan ini. (Mbak Asma, saya masih cari chanel yang mau pulang ke Jakarta :) Tentang nama Kuala Lumpur ternyata, teman-teman keberatan untuk menamakan KBA KL, masalahnya wilayah Sungai Way sudah jauh dari Kuala Lumpur. Jadi, kami ambil kesimpulan mengambil nama KBA Sungai Way. Untuk keanggotaannya terdiri dari, (waduh, afwan… buku catetan saya ketinggalan di Sungai Way) saya korek-korek tas gak ada :(, Insya Allah segera menyusul. Keanggotaannya lumayan banyak sampa sepuluh orang lebih. Untuk KBA pertama, 10 April 2009 bertempat di rumah saya (numpang :) alamatnya, No. 4 Lorong Haji Hassan, Off Jalan Batu Geliga, Taman Melewar Gombak, 48100 Gombak Selangor. Buku yang di baca, Syahadat Cinta karya Taufiqurrahman Al-Azizy. Kesulitan kami untuk menemukan buku-buku Indonesia, membuat kami bingung juga memilih buku. Dua minggu yang lalu, saya mencoba mencari-cari buku mbak Asma di Toko Buku Indonesia tapi, hasilnya nihil. Sempat juga saya bertanya tapi, penjaga kedai bilang, “Dulu buku mbak Asma ada, yang Catatan hati Seorang Isteri. Tapi, dah habis.” :( Ada keinginan juga membaca buku-buku terbitan Malaysia. Tapi, kendalanya adalah teman-teman yang baru datang ke Malaysia tidak faham dengan bahasanya.

0 komentar:

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P

Diposting oleh Anazkia Aja | 6 komentar

Merepih Awan

Kalau hendak di kira, mungkin sudah berpuluh-puluh kali Aku membuka kulkas. Kalau saja kulkas pandai berbicara, mungkin dia sudah mengeluh penat. Tapi, penatnya kulkas, tidak sepenat yang Aku rasakan. Andai saja kamu mempunyai perasaan kulkas, tentu akan ku ceritakan semua duka dan lara ini. Aku kembali membuka kulkas, mencari dan mencari sesuap makanan yang bisa mengisi perutku. Meskipun ia tak mampu juga untuk mengganjal perut.
Ku buka lagi pintu kulkas, isinya, masih sama seperti yang tadi. Tidak ada perubahan padahal. Aku berharap di sana ada ikan asin, tempe atau makanan-makanan kampung yang lain. Kubanting pintu kulkas kuat-kuat. Kesal! Kemarahanku semakin membuat Aku lapar terbayang berbagai makanan sedap di depan mata. Aku mengharapkan anak lelaki majikanku datang membawa makanan. Seperti ketika itu, sudah dua hari Aku tidak menjamah nasi tiba-tiba dia datang membawakan ku nasi bungkus. Saat itu, Aku di hukum gara-gara merusakan blender. Anehnya, setelah makanan itu habis anak majikanku menyuruhku membungkus rapat-rapat bekas makanan dan dia membawanya keluar. Baru Aku tahu, ternyata, ia tidak mau Ibunya mengetahui hal ini. Semua keluarga di rumah ini, sepertinya takut dengan puan. Tapi, sepertinya dia tidak akan datang, kabar terakhir Aku dengar dia sedang berada di Sabah. Menyelesaikan program Dokternya. Baru pukul sembilan pagi, tandanya Aku baru boleh makan dua jam lagi. Ya, dua jam. Niat buruk mulai bermain di kepalaku. Berkejaran satu dengan yang lain. Antara yang baik dan jahat mereka semua marathon mengejar hati dan naluri ku. Untuk memilih, adakah Aku harus terus menahan lapar? Atau, mencuri saja makanan untuk mengisi perut. Aku mulai berontak, fikiranku berkecamuk. Sepertinya, Aku sudah nekat! Aku ambil roti yang ada di meja makan saja. Aku tidak peduli nanti majikanku marah. Yah, roti di atas meja adalah alternative terbaik. Ia lebih aman di makan tanpa mengandungi apapun. Perlahan, Aku kembali ke dapur untuk membuat air Milo. Kalau Aku sebut, ini bukan minuman milo tapi hanya air panas saja yang di campur dengan sedikit serbuk coklat. Rasanya tidak seperti milo, keaslian coklatnya sudah tiada. Tanpa sadar, Aku menghabiskan roti lebih dari dua keping. Tidak seperti yang di jatahkan oleh majikanku dua keeping untuk sarapan pagi. Tiba-tiba, Aku di landa ketakutan yang amat sangat. Takut majikanku kembali menghukumku. Tubuh ini semakin tak berdaya, lemas. Roti yang tadi Aku makan tak mampu menambah tenaga dalam tubuhku. Hukuman apalagi yang akan dia berikan… Aku semakin takut, tubuhku menggigil satu demi satu keringat dingin mulai keluar dari poro-pori kulit. “Duhai Allah, apalagi deritaku hari ini?.” Aku tergesa-gesa menuju ke pintu depan membukakan pintu, majikanku pulang. Mukanya ceria, tak adapun wajah garang seperti biasa, atau selalu bermasam muka ketika dia bertemu dengan ku. “Awak sudah makan a’.” Dengan logat melayu China. Seulas senyum manis di hadiahkan untukku. “E..ee.. Sudah Puan.” Tergagap-gagap Aku menjawab soalan majikanku. Heran, tumben nanyain dah makan belum, biasanya boro-boro. Aku jadi semakin takut, jangan-jangan ini taktik baru atau setelah ini, dia akan menderaku lebih parah lagi. “nah, mi goreng. Makanlah, tadi saya singgah di rumah makan. Kamu makanlah, biar kuat kerja.” “Baik puan.” Aku mengambil bungkusan yang di hulurkan majikanku. Sungguh tidak di sangka, nyatanya majikaku kadang baik juga. Yah meskipun terkadang dan bahkan sering menderaku. Baik fisik maupun mental, tak jarang dia memanggilku “stupid maid” sungguh menyakitkan… Dia juga tak segan-segan menamparku saat Aku berbuat salah. Meskipun kecil kesalahannya, dia sengaja membesar-besarkan. Aku mencoba melupakan kejahatan majikanku. Di dapur, ku buka bungkusan mi sungguh sedap kelihatannya. Ku capai sendok yang Aku letakan di tempat khas ku, kalau gak gini, Aku takut tertukar dengan yang biasa majikan pakai. Lagipun, majikan sudah warning kalau Aku tidak boleh menggunakan barang dan peralatannya untukku. Aku cari tempat yang sesuai, sepertinya Aku akan makan sedap hari ini. Tiba-tiba “Marniiiiiiiiii….!!!” Teriakan majikanku membuat seluruh sendi-sendiku seakan rontok, firasat buruk mulai menghantui ku. Aku yakin, majikanku sedang murka kali ini. “Hei, stupid maid!. Kau makan berapa keping roti tadi?!.” Matanya merah menyala, ibarat Singa yang hendak menerkam mangsanya. Tangan kirinya berkacak pinggang sedang tangan kanannya tepat menunjuk kearah jidatku kemudian mendorong kepalaku. Aku sedikit oleng. “Empat keping Puan.” “Empat keping?. Kamu fikir, ini rumah nenek moyang Kamu yang kamu boleh makan seenaknya?. Berapa aku suruh kau makan roti setiap pagi?.” Masih dengan nada emosi. “Dua Puan.” “Nah, tahu pun awak. Kenapa awak makan lebih dari dua?.” “Saya lapar Puan.” “Aku bagi makan awak, jangan cari alasan. Tak cukup yang Aku bagi selama ini?.” Sekali lagi, tangan kanannya mendorong kepalaku. Aku duduk tersungkur, ketakutan dan sisa kelaparan menambah kelemahan tubuhku. “Pukul berapa Awak makan tadi?.” Aku diam, sama ada Aku harus jujur atau berbohong. “Jam berapa?!. Jawab!.” Sekali lagi dia menolak kepalaku. Berkali-kali Aku menyebut nama Allah dalam hati tapi, apakah Allah masih mendengarku…??? Sedang Aku sendiri jarang sekali menghadap-Nya. “Hei, bodoh!. Kau dengar tak Aku cakap!. Dia mendekatkan mulutnya ketelingaku. Hampir pecah gendang telingaku mendengar teriakannya. “Kau tadi makan pukul berapa!.” “Pukul…” Aku menggantung suara. Mengingat, jam berapakah tadi Aku makan. Kalau Aku berkata jujur, majikanku pasti akan lebih marah. Aku ingat-ingat lagi, sepertinya jam sembilan. Sedang sibuk Aku memikir tiba-tiba dia menjerit lebih keras lagi. “Jam berapa?!!!.” Terkejut dengan teriakannya, otak dan fikiranku tak bisa bekerja sama. “Jam sembilan Puan.” Aku mengumpat dalam hati, kenapa Aku tidak berbohong saja. Betul kata majikanku, Aku memang bodoh. Tanpa belas kasihan, dia menarik rambutku. Di bawanya Aku ke kamar mandi. “Dah memang bodoh, tak tahu aturan, tak dengar cakap orang. Kau buat lagi kesalahan esok, kena kau nanti!.” Dia menghempaskan Aku ke sudut kamar mandi. Kemudian dia cepat-cepat keluar dan mengunci pintu. Aku terduduk lesu. Airmata tanpa permisi mengalir, menjadi teman setiaku ketika Aku berduka. Aku memegang kepala, begitu kuat dia menarik rambutku. Sakitnya, hanya Allah yang tahu. “Ya Allah, kenapa Aku di beri cobaan yang begini berat?. Apa salahku Ya Allah…???.” Mengusik nasib yang sedang ku lalui, kadang Aku tak mampu berfikir normal, selalu menanyakan keadilan Tuhan. Padahal, Aku pun sering tidak adil dengan Sang Pemilik alam. Ibu, andai dulu Aku dengar kata-katamu. Mungkin, Aku tidak akan bernasib seperti ini. Tapi, semua sudah terlambat. “Nak, tidak mudah kerja dengan orang. Apa kamu sanggup…?.” “Marni khan selalu bantu Ibu. Nanti lebih mudah kerja di sana.” “Kerja dengan orang itu lain Nak. Kamu ada peraturan. Apa Marni sanggup?.” “Insya Allah sanggup Bu… Ini untuk kebaikan kita juga Bu. Ibu jangan lupa doakan Marni, biar selamat di Malaysia.” “Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk Marni. Tapi, Ibu keberatan jika Marni harus ke Malaysia.” “Ibu, percayalah pada Marni. Marni sudah besar.” “Ibu tahu Nak, Marni sudah besar. Besar saja tidak cukup untuk bekerja dengan orang. Kita juga harus berjiwa besar. Bolehkah marni tunda keinginan Marni?.” Berjiwa besar. Yah Aku harus berjiwa besar, seperti nasihat Ibu. Teringat lagi kata-kata Ibu, semakin membuat jiwa Marni di runtun sedih. Kalaulah dulu aku tidak memaksa Ibu, tentunya, Ibu tak akan memberika izin Aku kerja di Malaysia. Airmatanya semakin deras… Entah sampai jam berapa Aku akan di kurungnya. Kalau sudah begini, Akupun tak boleh shalat. Ya Allah, dengan dosa dan kesalahanku Aku memang patut di hukum seperti ini. Tapi Ya Allah, ini bukan kehendaku, Aku tidak di berinya waktu untuk menjalankan perintah-Mu. Kalaupun Aku tidak di kurung, majikan melarang Aku untuk shalat. “Aku bayar engkau kat sini untuk bekerja, bukan untuk beribadah!.” Ujarnya suatu ketika dulu. *** “Hei, bangun!.” Aku terkejut. Kakinya menyepakku ibarat benda yang tidak berguna. “Dah puas tidur?, kau buat kerja sekarang!.” “Saya lapar Puan…” “Engkau ni, memang tak tahu malu. Dah buat salah, masih juga minta makan. Kau kerja dulu, baru Aku bagi makan!.” “Saya gak kuat Puan…” Suara ku memelas. Bulir-bulir kesedihan kembali bersimpati. Aku menangis. “Mi, kasih makanlah dulu. Nanti, kalau dia sakit Mami juga yang repot.” Suami majikanku bersuara. Aku benci lelaki ini, lelaki pengecut! Tak ada muka ketika di depan isterinya. Dia begitu takut, bahkan kalau Aku lihat dia memang di kendalikan isterinya. Di bawah ketiak isteri. Majikanku mendengus kesal. “Pergi makan dulu sana!.” Jam menunjukan pukul tiga, tiga puluh petang. Masih ada waktu untuk shalat dhuhur. Senyap-senyap ku intai majikanku. Kedua-duanya ada dalam kamar. Perlahan-lahan Aku menuju kamar mandi mengambil air whudu. Sungguh tatkala dalam keadaan seperti ini, Aku begitu memerlukan Allah dan Aku ingin berlama-lama di atas sajadah. Aku menuju ka dapur setelah semuanya selesai. Mi goreng tadi, masih dalam keadaan terbuka. Inilah makan tengah hari ku, nanti malam, belum tentu Aku dapat makan lagi. Terbuka begitu lama, sepertinya lalat sudah hinggap di sini. Kotoran lalat sembunyi di balik mi. Dengan terpaksa, ku ambil dan ku pilah mana yang boleh di makan. Kalau tidak, Aku bakal lapar sampai esok hari. Tak habis-habis air mata ini mengalir. Ku kemas rumah di temani air mata, di temani luka dan duka. Allah, adakah akan berakhir derita ini…??? **** Selesai shalat Isya, Aku mengemas “Mukena” Ku lipat serapi mungkin dan kusimpan. Sebetulnya, ia tak layak di sebut mukena. Ia baju kurung yang Aku punya satu-satunya, dengan kerudung dan sepasang kaos kaki. Mukenaku, sudah di sita majikanku sejak aku datang mula-mula. Kulirik jam menunjukan pukul dua belas malam. Lebih awal dari biasanya Aku masuk kamar. Jam sepuluh tadi, majikanku pergi ke Langkawai bersama suami dan anak perempuannya yang kecil. Ku rebahkan tubuh di atas tilam, letih dan penat begitu menyengat. Meluruskan otot-otot yang seharian bekerja tanpa mengenal lelah. Ku pandang kipas yang berputar searah, memberikan kesejukan di saat tubuh ini betul-betul panas. Mendadak, Aku berfikiran nekad. Aku ingin lari! Ya, lari. Mungkin ini adalah penyelesaian. Selagi majikanku tiada, inilah kesempatan Aku untuk kabur. Aku mengemas semua barang-barang. Beruntung aku tidak mempunyai banyak barang. Ini memudahkan aku untuk lari. Aku tidak peduli apapun yang aku hadapi nanti, yang pasti, aku harus pergi sebelum majikanku pulang. Pintu kamar kubuka perlahan, seolah-olah takut ada orang mendengar. Padahl, Aku yakin tiada sesiapa dalam rumah ini. Aku menenteng tas yang tidak begitu besar. Ku lewati ruang dapur, ruang tamu dan ruang keluarga. Rumah yang begitu luas, terasa begitu sempit dan menghimpit perasaan dan jiwa ku. Selamat tinggal rumah… Baru saja aku hendak meraih pintu utama, handle pintu tergerak. Aku terkejut. Seakan di timpa beban yang amat berat, tiba-tiba kaki ini terpaku tak bisa di gerakan. Aku menggigil ketakutan. Aku yakin pasti ini majikanku. Aku tak berganjak, diam tak bergerak. Pintu terkuak. Sungguh terkejut, ketika yang datang bukan majikanku. Tapi anak lelakinya. “Kamu mau kemana.” “S..s.. saya, saya.” “mau kabur yah?” Tiba-tiba memotong kalimatku. “Aku tahu, kamu pasti akan mengambil kesempatan selagi mami tiada di rumah.” Aku masih terdiam, tak berganjak. Suara anak majikanku lunak, tanpa marah sedikitpun. “Balik lagi masuk kamar, esok baru kau keluar.” Anak majikanku menyerahkan amplop coklat, isinya aku sendiripun tak tahu. Sementara, aku masih diam… “Masuk kamar cepat!.” Ia menghardik. Aku terkejut dibuatnya. “Baik Tuan.” Aku pun tidak mengetahui nama anak majikanku. Selama lima bulan aku di sini, hanya beberapa kali aku ketemu dengannya. “Tapi, ini apa tuan?” Aku menunjukan amplop coklat. “Itu passport awak, dan dokumen2 kepulangan. Besok, saya hantar awak Bandara.” “Terimakasih tuan…” “Sama-sama.” Anak majikanku beredar ke kamar. Sungguh, aku tidak menyangka akan semudah ini kepulanganku. Aku kembali menenteng tas memasuki kamar. Aku juga tidak tahu kenapa anak majikanku begitu baik. “Ya Allah, terimakasih Engkau telah memberikan pertolongan. Kali ini, kurebahkan tubuh dengan senyuman. “Ibu, besok aku akan pulang.” Aku kembali tersenyum girang. Adakah ibu mengkhawatirkan ku saat ini…??? Jangan risau ibu, esok aku pulang dengan selamat. Ibu, besok aku naik pesawat, seperti yang aku idam-idamkan dulu. Tidak seperti kedatanganku ke Malaysia. Aku harus menaiki tongkang dan harus berenang ketika berada di tepian Pelabuhan. Itu karena aku masuk secara illegal. “Ibu, apakah awan itu jauh?” “Jauh nak, kenapa?.” “Saya ingin memegang awan bu?.” “Awan tak bisa di sentuh nak.” “Kenapa bu?.” “Karena ia hanya gumpalan-gumpalan asap.” “Betulkah ibu?.” “Betul nak.” “Kalau gitu, Marni mau melihat awan lebih dekat.” “Gimana caranya nak, awan khan tinggi?.” “Marni ingin naik pesawat bu…” Dialog ketika aku kecil, ketika aku ingin sekali memgang dan melihat awan. “Ibu, impianku dah hamper tercapai, besok aku akan melihat awan lebih dekat.” Marni pulas tertidur, dalam kebahagiaan ingin bertemu ibunya. Sementara di kamar A Hiong anak majikan merasa resah. Ia takut usahanya gagal kali ini menyelamatkan pembantu maminya. Ia tidak ingin peristiwa silam berulang. Ketika maminya membunuh pembantunya. Namanya di blacklist dari jabatan imigrasi untuk mengambil pembantu. Tapi, dengan bantuan rakan kerjanya, akhirnya maminya bisa mendapatkan pembantu. Oh Tuhan, tolonglah aku… Aku terpaksa mencuri dokumen pembantu dari lemari mami. *** Sungguh indah ketika berada di atas awan. Ya, di atas awan. Aku tidak menyangka benar-benar bisa berada di sana. Aku dapat menyentuhnya. Tapi, kenapa setiap awan yang ku sentuh berserak dan beterbangan…?? Kenapa? Kenapa di sini tiada keindahan seperti yang aku bayangkan…??? Ibu, di mana Ibu. Kenapa ia jauh di bawah sana. Kenapa ibu menangisiku..??? kenapa ibu bersedih? Bukankah aku sudah pulang… Ibu, kenapa ibu tidak menyambut kepulanganku? Ibu, Ibuuuu…“Bangun!. Bangun.!” Marni terjaga dari tidurnya. Terbeliak matanya ketika ia melihat majikannya sudah di depan matanya. Berkacak pinggang, kali ini betul2 merah menyala muka dan matanya. “Duhai Allah, apa yang akan terjadi padaku…” Aku berbisik pelan dalam hati

6 komentar:

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P

Diposting oleh Anazkia Aja | 1 komentar

Malaysia Is My Last Destination

Ku susuri jalan demi jalan, berdiam dari satu rumah ke rumah lainnya, berganti dari majikan yang satu kemajikan yang lain. Tanpa terasa, sudah 13 tahun aku melaluinya. Sungguh waktu yang amat panjang ketika ia berbentuk penantian. Tapi, ku lewati ia sebagai perjalanan hidupku. Perjalanan yang kelak aku yakin ia membawa pelajaran buatku.
Bermula saat aku masih berumur 13 tahun. Keadaan dan kesempitan ekonomi membuatku memaksa mengubur dalam-dalam keinginan untuk melanjutkan sekolah. Meskipun orang tua melarang aku untuk bekerja, apalagi sebagai seorang pembantu rumah tangga tapi, tekad ku tak pernah pupus. Waktu itu aku tinggal di Jawa dengan neneku, sedang kedua orang tuaku tinggal di Cilegon. Ketika itu, aku yakin betul aku masih belum mampu bekerja secara sempurna. Menyapupun tidak betul, apalagi mengepel. Beruntung ketika aku bekerja satu rumah dengan Budeku. Lucu, ketika aku harus menyapu dan mengepel lantai keramik. Maklum, di kampungku masih menggunakan lantai alami, alias tanah saja. Sampai sekarang, aku masih mengingat dengan lengkap alamat rumah yang pertama kali aku bekerja. Tapi aku tidak bertahan lama, aku masih sering menangis mengingati keluarga. Akhirnya aku pulang ke Cilegon. Dari situ pun aku masih kembali menjadi pembantu rumah tangga. Bahkan, aku bekerja lebih jauh. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain sepertinya sudah biasa buatku. Aku semakin terbiasa jauh dengan orang tua. Dan di tempat ke duapun aku tidak lama. Semuanya berubah ketika aku kembali ke Cilegon untuk kedua kalinya. Saat aku melihat temanku bersekolah. Aku pun merayu kepada orang tua akhirnya, orang tuaku mendaftarkan sekolah. Akupun melanjutkan sekolah Mts ketika umurku memasuki 15 tahun. Di saat teman-teman yang seangkatan denganku memasuki kelas 3 Mts. Tapi, ada ketikanya apa yang kita rencanakan di luar kehendak. Allah kembali menurunkan ujian. Demi untuk melanjutkan sekolah yang baru berjalan, aku kembali menjadi pembantu dengan tidak keluar dari sekolah. Ternyata, Allah menurunkan cobaan bersama dengan kemudahan-Nya. Aku di pertemukan dengan majikan yang baik dan penuh pengertian. Aku menganggap majikan ku saat itu sebagai seorang single parent tak hanya itu, dia juga motivator buat ku ketika aku tidak semangat untuk belajar juga ketika aku berhasrat untuk keluar dari sekolah. “Sekarang, memang tidak apa-apa kamu gak sekolah. Tapi, lihatlah suatu ketika nanti”. Ujarnya ketika menasehatiku. Kata-kata itu masih terngiang-ngiang sampai sekarang. Sungguh Allah memberikan kemudahan jalan buatku. Tanpa terasa aku pun mampu menyelesaikan sekolah sampai Aliyah. Meskipun ketika kelas 2 Aliyah aku harus mengikuti kakaku. Sungguh suatu kebahagiaan ketika aku lulus Aliyah. Yang terbayang di kepalaku saat itu adalah meneruskan kuliah. Sayang sekali, keinginan ku kembali terkubur. Sama seperti keinginanku setelah lulus SD. Tak di sangka, aku kembali menjadi pembantu rumah tangga. Sebenarnya, aku berontak, hatiku menolak aku tidak mau bekerja sebagai pembantu lagi. Waktu itu, ada dua pilihan, temanku mengajak untuk jadi guru pendamping. Tapi, ibuku tidak mengizinkan meskipun aku menolak dengan berbagai alasan. Akhirnya, aku akur dengan pilihan orang tua. Kebetulan, orang tua ku kenal baik dengan majikanku yang baru. Dan dia juga teman baik dari majikan ku yang dulu. Tatkala teman-temanku sibuk kesana kemari mencari kerja, aku sudah mendapatkan kerja dengan mudah. Tapi, ada yang membuatku cemburu saat aku bertemu dengan teman-temanku yang sibuk mengurus registrasi kuliah. Cemburu itu ku pendam, ku simpan rapat-rapat aku tidak mau kembali terluka ketika mengingatnya. Pun, tak semua teman-temanku tahu kalau aku bekerja sebagai pembantu. Hanya teman-teman dekat saja yang tahu akan pekerjaanku. Menjadi pembantu untuk yang kesekian kalinya beragam juga perangai orang-orang yang ku temui. Kali ini, majikanku mempunyai anak umurnya baru mencecah 7 tahun, dia pun tengah hamil besar. Jadi, aku akan menjaga dua orang anak. Sungguh amat berbeda kerja kali ini. Sebelumnya, aku tidak pernah mengurusi anak kecil. Membutuhkan banyak kesabaran dan keikhlasan dalam bekerja. Waktu bergulir dengan cepat, tanpa terasa anak yang aku asuh sudah berumur dua tahun. Itu juga menjadikan sebab, dia begitu dekat dengan ku. Adaketikanya, dia lebih akrab denganku berbanding dengan ibunya. Tak heran, ketika tengah malam dia akan berpindah tempat tidur mencariku. Selain sibuk sebagai pembantu, aku juga terkadang memiliki kesibukan sendiri di luar. Mengikuti kegiatan-kegiatan yang aku rasa memberi pelajaran dan pengajaran buatku. Dari situlah, aku banyak mempunyai teman dan ramai kawan. Khususnya dari kalangan mahasiswa. Bergaul dan berteman dengan mereka, membuat fikiranku terbuka dan ada saatnya juga membuat imaginasi tersendiri tersendiri buatku. Terbayang juga di benaku, “Kapankah aku kuliah seperti mereka…???” Aku mengenali seorang teman berasal dari Palembang, seorang teman yang memberikanku penawaran untuk kerja di Malaysia. Aku tergoda dengan tawarannya, meskipun masih bekerja dengan majikan, aku begitu ingin untuk pergi ke Malaysia. Izin dari ibuku, sangat susah aku dapatkan. Dengan berbagai cara dan upaya aku merayu mati-matian kepada ibuku. Aku memberikan keyakinan kalau aku akan baik-baik saja. Ibuku tetap tak bergeming. Tapi, aku tidak menyerah begitu saja, akhirnya izin itu ku dapatkan. Berbekal izin dari seorang ibu, aku akhirnya nekat untuk pergi ke Malaysia. Meskipun aku tahu majikanku terkejut dan kecewa dengan keputusanku aku tetap dengan pendirian untuk menjadi TKW di Malaysia. Sungguh pengalaman baru buatku dan, inilah kali pertama dalam keturunan keluargaku bekerja sampai ke luar Negeri. Pesan ku kepada ibu, “Bu, andaikan saya pulang tinggal nama mohon ikhlaskan ya bu…” Ibu terdiam . Satu azimat yang di ucapkan ibuku, “Nak, di manapun kau berada, bawalah kejujuran. Hanya itu yang bisa Ibu ucapkan.”

1 komentar:

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P

Diposting oleh Anazkia Aja | 1 komentar

Kenapa Perempuan Suka Membeli Pakaian...???

- "Ni, cape nih...???" Aku mengeluh memegang kaki yang memang deh pegel-pegel. "Sama ka, Nini juga cape nih." Tak kalah hebatnya mengeluh dari aku. "Sapa suruh tadi ajak Mama ke sini...???." "Lah, orang tadilah. Nyuruh ke sini." Aku heran, kenapa yah, ko perempuan suka benget beli baju?. Dia rela, jalan berjam-jam demi sehelai dua helai baju baru atau kain baru. Memegang, memandang, meneliti, melihat harga dan melihat dompet cukup atau tidak uangnya. Padahal, kadang aku lihat wajah sudah tidak bermaya tidak ada tenaga...???
Beberapa hari yang lalu, sungguh penyiksaan buatku. Gak mimpi, aku di ajak jalan pagi-pagi ke Masjid India. Mulanya mo berjumpa dengan seseorang. Tapi, sekali pergi, bukan hanya ketemu sama orangnya. Orang dah pergi, malah agenda lain di buatnya. Dan perkara yang aku paling tidak suka ketika harus mengelilingi deretan-deretan kain yang masih berbau baru, juga melihat gunting gunting tajam untuk memotong kain. Paling sebel, ketika harus berhimpitan denga para pengunjung lainnya. Asli, kayak orang gak ada kerjaan.

1 komentar:

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P

Diposting oleh Anazkia Aja | 4 komentar

Mencari Yang Hilang

Pernah gak sih merasa kehilangan...??? Kehilangan yang amat berharga. Ah, rasanya, semua pernah mengalaminya. Tapi, adakah kita berfikir bahwa kehilangan yang paling besar yang selalu kita rasakan adalah...
Kehilangan rasa bersyukur, kehilangan mengingat kematian, kehilangan ketika kita merasa biasa-biasa saja tidak membaca al-Quran. Padahal, rela duduk berjam-jam di depan komputer.

4 komentar:

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P

Diposting oleh Anazkia Aja | 2 komentar

Potret TKW Indonesia Di Malaysia

Ada ketikanya dan memang seharusnya, dalam perjalanan hidup kita harus selalu berfikir dan memikirkan. Tentang tujuan hidup, juga hakikat hidup. Pun ketika jauh dan harus berada di negara orang. Gambaran TKW, biasanya identik dengan kekerasan dan penganiayaan. Apalagi, kalau di Malaysia. Sepertinya, sudah menjadi sinonim kalau Malaysia adalah penganiaya terbesar TKW. Tapi, apakah seperti itu...??? Rasanya tidak. Aku sendiri yang sudah hampir empat tahun bekerja sebagai TKW, alhamdulilah tidak mengalami penderaan bahkan jauh sekali dari penganiayaan.
Sudah hampir empat tahun aku merantau di Negara orang, tidak terasa begitu cepat waktu berlalu Silih berganti. Beberapa waktu lalu, aku ada kesempatan berkunjung ke sebuah surau base campnya temen temen Kilang (Pabrik) yang bekerja Western Digital. Mereka, memang sudah mendapatkan izin untuk menggunakan surau ini sebagai aktifitas harian mereka. Tak hanya itu, pengajian rutin bulanan yang di adakan oleh pihak pabrik pun menjadi sajian mereka ketika menghadapi cuti panjang setelah lelah bekerja. Subhanallah... (Gak nyangka banget khan...???) Mukena Tersusun rapi khan...?? :) Di tengah keterpurukan ekonomi global, western Digital tetap teguh kukuh berdiri. Padahal, beberapa temanku yang bekerja di Texas Instrument sudah kena PHK berama-ramai, juga dari beberapa pabrik-pabrik lainnya. TKI Indonesia sudah mencapai 100.000 yang di pulangkan di awal tahun 2009. Yang masih berada di Malaysia, mereka terkatung-katung tanpa status yang jelas. Meskipun ada yang bekerja kembali tapi, dengan gaji yang sangat minim (Aku menyalahkan agen penyalur tenaga kerja dalam hal ini) Agen benar-benar tidak mau rugi. Padahal, pihak kerajaan Malaysia sudah mengumumkan mengurangkan pembayaran levi pekerja yang kena PHK. Nyatanya, agen tetep ngeyel. kalau ada yang mau pulang harus membayar segala tetek bengeknya, termasuk melunasi levi kerja (Huh!, sungguh tidak adil agen) Kembali ke Western Digital, aktifitas muslimah di sana cukup aktif. Selain kajian rutin yang di lakukan oleh pihak Kilang, mereka juga aktif mengadakan kajian mingguan yang di selenggarakan oleh FOKMA (Forum Komunikasi Muslimah Indonesia di Malaysia). Mereka juga inisatif untuk mengadakan latihan nasyid, sungguh salut aku dengan usaha gigih mereka, terutama, berkaitan dengan agama. Serius Latihan Nasyid...:) Ketika mereka penat lelah setelah seharian bekerja, tempat singgah mereka adalah surau. Di situ, mereka berkumpul, beristirahat, shalat jama'ah dan ba'da Isya baru mengadakan latihan nasyid. Subhanallah... Usaha keras, yang patut di tiru. Ada hidangan strowbery gratis, dari Cameron Highlands Adakalanya, kita harus memandang sisi baik dari segi buruk (ko bisa sih Na...?? ada-ada aja kamu...??? :D) Terbukti, ketika gaung keburukan potret TKW, masih ada gambar kebaikannya (bukankah begitu...?) :) Kunjunganku ku Sana, sebetulnya, ada misi khusus juga, apa tuh..??? Mo sosialisasiin KBA (KBA..??? apalagi tuh...?) ada dech... kita tulis dalam judul lain...OK

2 komentar:

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P

Diposting oleh Anazkia Aja | 5 komentar

Irama Kesedihan

Tiba-tiba, aku merasa sedih. Entah kenapa dan aku merasa ia sangat tiba-tiba. Seperti lagu yang di iringi musik ia terus mengusik dan berbisik. Kalau mau di terusin, narsisnya bisa lebih panjang dan bakalan noraks abis nih... Cuma, kesedihan ini bener-bener jadi irama buat ku. Irama yang memaksa untuk bangun, bangkit dan tidak memeluk kesedihan... Terimakasih sedih, karenamu tentunya, aku tidak akan berfikir seperti itu.

5 komentar:

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P

Diposting oleh Anazkia Aja | 1 komentar

Tidak up to date

Basi banget ya kayaknya...??? Hampir sebulan aku tidak up date blog. Cukup lama. Heran, padahal, semua fasilitas ada. Inilah faktor yang menghambat dan akan menyumbat kemunduran dalam berfikir dan segala hal. :( Mana ilmu yang di dapat...??? Astaghfirullah...

1 komentar:

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P