Antara Ndeso, Katro dan Posmo

Hampir setahun lalu, yahoo messenger dalam laptopku, bisa di onlinekan, dua id sekaligus. Ini atas ilmu seorang sahabat, yang memberikan filenya gratis kepadaku. Dan, saat file itu baru diinstall dan langsung digunakan, aku gembira sekali. tersenyum-senyum sendiri. Kebetulan, aku ada beberapa ID yahoo messenger. Maka, akhirnya aku mengaktifkan kedua-dua yahoo messenger tersebut. Dan mengabarkan kepada seorang sahabat di negeri beton sana, kalau YM ku, boleh digunakan dua id. Bahasaku yang exited dodolnya, membuat seorang sahabat di seberang seolah mencibir. Aku pun tiba-tiba nyeletuk, "wah, katro yah aku...??" Entah bercanda maksudnya, atau bergurau saja, sahabat tersebut langsung menambahkan, "baru sadar yah...???" kendesoanku yang baru saja terwujud, betul-betul terusik. Aku rasa tersindir dengan gurauannya. Maka, bersepi-sepilah aku dengannya setelah itu (sekarang enggak lho...)
Mengingat kalimat katro, aku jadi ingat dengan seorang pekerja ekspatriat yang aku temui di salah sebuah forum kepenulisan. Seorang lelaki yang umurnya kurang lebih berumur 40an, bekerja di sektor perminyakan. tepatnya, di Petronas. Beliau duduk disebelahku, bersama dengan seorang anak perempuannya. Bukan kalimat katro yang diucapnya tapi, posmo. Petama kali mendengar kalimat itu, aku bertanya berulang-ulang apa maksud dari kalimat tersebut. Ujarnya, kalimat itu didapat dari sebuah penggalan novel yang dibacanya. Aku sendiri lupa dengan penulis novel tersebut. Menurutnya, posmo adalah keadaan dimana kita sudah melalui zaman-zaman kemajuan. Dan, ingin kembali ke masa dahulu, dimana kita ingin hidup sewajarnya saja. Kalau orang yang beranjak moderen masih menginginkan mobil, justeru, posmo adalah kebalikannya, mereka justeru ingin berjalan kaki. Ketika seorang ingin hidup lebih nyaman dengan rumah mewah dan makanan sedap, posmo juga kebalikannya, mereka justeru ingin hidup di rumah yang biasa saja dan, makan di kedai-kedai yang kecil. Agak susah aku mencerna kalimat Bapak tersebut, mungkin karena kedodolan aku. Kemudian, Bapak tersebut mencontohkan, kalau negara Jepang, adalah negara yang sudah mencapai masa posmo. Negara yang sudah maju tapi, ingin mengembalikan adat dan kebudayaan lamanya. Seperti, duduk melingakt di meja bundar tanpa menggunakan kursi saat makan. (ya iyalah, khan mejanya pendek). Susah banget aku nyerna kalimat Bapak itu (aku lupa nanya namanya :D) wallahu'alam... Back to Ndeso, Katro dan Posmo. Ahad pagi, ketika matahari mulai beranjak dari tirai fajar aku baru bisa menyaksikan keindahan kota Bukittinggi. Sebetulnya, bukan di Bukittinggi. tepatnya, di Kubangputih, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam Sumatera Barat. Masih eberapa kilo lagi, kalau hendak ke Bukittinggi. Cuaca disini begitu sejuk. Meskipun, aku rasa, lenih sejuk lagi kampung halamanku. Jam sembilan pagi, aku berani juga mengguyurkan air keseluruh badan. Brrrr... Dinginnya, seperti menyiram air dari dalam kulkas saja. Tak banyak aktifitas hari itu. Hanya berkunjung kebeberapa handai taulan Etek Yurti, yang mendapatkan oleh-oleh dari Malaysia. Berada disana, tak begitu asing buatku. Ada beberapa orang, yang sudah aku kenali karena sebelumnya pernah singgah ke Malaysia, ke rumah Ibu. Yang aneh, aku betul-betul begitu ndeso, sendeso-ndesonya. Aku yang berasal dari desa, karena begitu lama tak melihat keindahan desa begitu terpesona dengan keindahan kampung Kubangputih. Apalagi, rumah Etek Yurti begitu strategis sekali. Tepat di depan rumah, di seberang jalan, ada bentangan sawah. Pun nunjauh di ujung sana, Gunung Singgalang gagah menjulang. Sementara, di belakang rumah Etek Yurti, masih ada juga bentangan sawah dan lebih jauh lagi ke ujung sana, berdiri dengan kokoh, gunung merapi. Subhanallah... Indahnya kampung itu. Aku betul-betul exited. Mengambil gambar, dari berbagai sudut. Baru kali ini, orang ndesa tapi, nggayani dengan mengambil foto-foto sawah. Padahal, aku dulu biasa-biasa aja kalu melihat sawah (kelamaan kale yah gak lihat sawah...??) Dan, dibelakang rumah juga aku menemukan beberapa pohon stowberry, duh, jadi inget dengan mbak fanny. Puas mengambil foto, menjelang tengah hari selepas makan, Etek Yurti mengajakku ke pasar Padangluar. Tidak begitu jauh dari situ, hanya ongkos Rp.2000. Sederhana pasar disitu, katanya, kalau pagi banyak sekali pedagang dan pembeli yang melakukan niaga di pasar tersebut. Karena hari sore, matahari begitu garang cahayanya. Aku sampai menutup-nutup mata saking panasnya. Tapi, aku salut dengan para pedagang, menjaja jualannya tepat menghadap matahari sore. Subhanallah... Betapa kuatnya mereka mencari rizki. Seindah apapun didesa, adakalanya keburukan pun dengan mudahnya menjelma. Menjelang senja, aku mendengar cerita dari tetangga Etek Yurti, kalau salah seorang anaknya masuk rumah sakit karena terbakar. Mendengar kronologis terbakarnya, sungguh membuatku ternganga. Rupanya, ia terbakar setelah melumuri badannya dengan bensin. Dan, disaat berlumuran bensin tersebut, tiba-tiba mati lampu. Niat baik, adalah hendak memperbetulkannya. Sungguh malang, ketika memegang bagian elektrik, ia tersengat. Sang korban berusaha menghindar, sayangnya, ia justeru terjatuh dikompor yang tengah menyala-nyala. Alhasil, terjawablah beritanya, ia terbakar seluruh tubuh. Saat ku tanya, dengan Etek Yurti kenapa ia rela melumuri badannya dengan bensin, rupanya, ia seorang penagih ganja yang sedang kecanduan. Innalillahi.... Sungguh sangat sulit membedakan katro, ndeso dan posmo...
Adem banget disitu....
Gunung Singgalang dipagi hari, masih tertutup awan.
Gunung merapi...
Jarang2 bisa ngejepret pelangi... :)
njepret dari balik, sela-sela pohon :D
Lihat pohon ini, langsung inget mbak Fanny. Sayang banget, pas gak ada buahnya :)

16 komentar:

  1. wah tanaman strowberry seperti itu ya, baru nglihat neh aku.... :-) ndeso apa katro ya..

    BalasHapus
  2. Gunung singgalang ?.
    pasti ke Bukittinggi nih ceritanya.
    jadi pengen pulang nih.
    Baru tahu nih kalau obat Ngeganuja adalah dengan badan dilumuri bensin.
    Dari mana tuh ceritanya ?.

    BalasHapus
  3. lho di kubang putih ya?
    keknya aku pernah ke tempat temen disana
    dari aur kuning mengaah ke kiri
    jalannya menanjak
    kalo ga salah

    BalasHapus
  4. Gunung merapi bukannya di Magelang ya mbak? Ato memang ada beberapa gunung dg nama merapi ya di Indonesia? Wah,pemandangannya memang indah ya mbak..

    BalasHapus
  5. waahh,, foto2nya bikin ngiler buat ke sana... ^^

    BalasHapus
  6. jalan-jalan didesa memang menyenangkan, seger!

    BalasHapus
  7. Aku belajar beberapa hal disini. Pertama kata posmo, ada hubungannya ama posmopolitan ya? hehehe... Kedua, baru tau klo org kecanduan obatnya melumuri tubuh dgn bensin. Ketiga, baru tau juga kalo di Sumatra ada gunung Merapi juga...

    BalasHapus
  8. @Achen, gak dua2nya.. :)
    @Kabasaran Sultan, iya Pak. Lah, karena gak ada ganja, apa aja bisa dipake Pak.. entahlah...
    @Bang Atta, iya Bang, di Kubangputiah, dari AUr Kuning kemana gak tahu deh, gak merhatiin jalan hehehe...
    @mbak Ajeng, Gunung Merapi di Bukittinggi juga ada :)
    @Yolizz, kapan kita ke jawa?? hehehe
    @Nuansa pena, bener mas ;)

    BalasHapus
  9. Ndeso, Katro dan Posmo....hampir sama saja bagi saya. Beda tipislah, hehe. Lha kadang saya dibilang berpikir "posmo", padahal saya katro dan gaptek. Tidak masalah na, bagi saya kamu posmo kok. Foto-fotonya keren na.

    BalasHapus
  10. eh, kok ada gunung merapinya??

    yg kebakaran tu kasihan bgt mbk..mrinding aku bacanya

    BalasHapus
  11. suasana nya sejuk ya, enak tuh gak ada polusi

    BalasHapus
  12. indah bngt picturenya.. apalagi waktu ada pelanginya :D nice

    BalasHapus
  13. ada pelanginya, pas bgt moment potonya nembak pelangi wkwkw


    eh berati ungkapan ut posmo sama artinya back to nature yak mbak?

    BalasHapus
  14. Cantiknya alam Indonesia btw sy emang orang makassar , kl nggak salah kita temenan ya di fb sayang udah 2 bln ini aku ggak pernah bk fb

    BalasHapus
  15. Subhanallah... pemandangannya indah sekali mbak. Indonesia memang memiliki keindahan alam yang luar biasa ya.. Bersyukurlah mbak Ana bisa menyaksikan keindahannya.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P