Pertemuan, Awal Dari Perpisahan

Baru saja, aku singgah di blognya Pak Kabasaran Soultan, yang menceritakan tentang anak bungsunya, Purnama. Membaca, diksi demi diksi kata disitu, sesekali aku terharu, mengharu biru. Ada kecemburuan pada sosok Purnama, yang bisa begitu manja kepada Ayahnya. Tertanya-tanya, kapankah aku terakhir kali bermanja-manja dengan Ayahku...??? Sepertinya, aku sudah lupa.
"Ana, besok Bapak pulang." Ujar suara talian diseberang. "Injih Pak.." Setelah beberapa sapaan bertanya khabar, kami berbicara, ringkas saja. Bapak, hanya mengabarkan, hari senin akan pulang. Aku ingat, ketika itu hari minggu. Aku yang sedang asyik bermain ikan dikolam depan rumah Om Christ, menghentikan aktifitas sesaat. Sudah cukup lama juga, Bapak tidak pulang ke Cilegon. Sementara, bapak di Pamulang. Aku memang selalu berjauhan dengan orang tuaku. Tibalah harinya senin, ketika aku masih sekolah di Serang saat itu. Aku menanti-nanti kepulanganku. Karena Bapak berjanji, akan pulang hari itu. Sayang sekali, senin, adalah jadwal terpadat di kelas saat itu. Bimbel Matematika, juga ada ekskul Merpati Putih. Jadilah, kepulanganku saat senja, hampir terbenam. Siang nya, hari begitu terik. Entahlah, hanya aku yang merasa atau semuanya. Bahkan, aku sempat menumpang mandi, di kosan salah seorang teman. Sampai di rumah, hari sudah merayap malam. Tapi, bapakku belum sampai juga. Ada sedikit kekhawatiran. Entah apa yang aku buat, akupun sudah lupa... Saat hari mendekati tengah malam, tiba-tiba ada telepone, mengabarkan kalau Bapak kecelakaan. Dan aku beserta adik-adikku di suruh segera menuju Pamulang, malam itu juga. Saking penasarannya, aku menanyakan keadaan bapak. Tapi, sang penelpon tetap keukeuh, bilang bahwa secepat mungkin aku harus ke Pamulang. Jam sebelas malam, sunyi mulai terasa. Aku dan kakakku, kehilangan ide. Setelah menelpon kesana kemari, akhirnya, diambil keputusan, aku ke Pamulang beserta dua adik dan budeku. Sementara, kakakku, menyusul bersama suaminya malam itu juga. Hampir jam dua belas malam, aku, kedua adikku dan Budekku menunggu bis jurusan Kalideres, di Simpang Tiga Cilegon. Sepi sekali, hanya ada beberapa tukang becak dan lalu lalang kendaraan sesekali. Semenjak mendapat telpon tadi, sebetulnya, hatiku sudah menangis. Menangis, takut dengan keadaan bapakku. Menangis, jangan-jangan, bapakku sudah pergi untuk selamanya. Jadi sepanjang jalan, antara Cilegon-Kalideres air mataku tak henti-henti berderai. Meskipun sesekali hanya isaknya saja. Budekku, membiarkan saja aku demikian. Sesekali, ia mengelu-elus badanku. Sementara kedua adikku, hanya diam membisu. Mereka masih terlalu kecil, untuk memahami sebuah musibah. Hatiku masih menangis, segala doa dan harap ku ucap dalam hati. Ya Allah, andaikan bapakku Kau ambil, maka, berilah hamba keikhlasan untuk menerimanya. Segala harap, kusimpan erat. Segala perkara buruk, kusiapkan bulat-bulat. Bapakku, sosok sederhana yang aku sendiri tak begitu dekat dengannya ketika hidup. Aku dekat dengan bapakku, hanya beberapa waktu ini, tepatnya belum begitu lama. Selama ini, aku, kakakku, ibarat air dengan minyak dengan bapak. Berpisah semenjak kecil, menimbulkan jarak yang begitu jauh buat kami (aku dan kakakku). Sementara kedua adikku, mereka semenjak kecil bersama dengan kedua orang tuaku di rantau. Pernah saat itu, bapak marah-marah denganku karena, aku tidak meneruskan sekolah. Aku justeru bekerja di Tangerang. Aku dan bapakku kembali "perang dingin" Pernah sekali ketika bapakku pulang beberapa hari ke Jawa, sama sekali aku tidak mau bersalaman dengannya :(( :(( :(( Tak hanya sekali aku dan kakakku berbeda argumen dengan bapak. "Perang" diantara kami semakin berlarut-larut. Mengingatnya semua, aku semakin sedih. Bahkan, sempat aku dan kakakku berucap, "Nanti kalau bapak dah tua, juga nyari kita, menyusahkan hidup kita." Lebih kurang seperti itu. Semakin mengingat, semakin deras air mata mengalir. Dan, disaat kedekatanku dengan bapak mulai nampak, kenapa justeru aku mendapat khabar tentang kecelakaan itu...??? Ya Allah, sekali lagi, kalau bapakku pergi, maka berilah keikhlasan pada kami anak-anaknya juga aku yang selalu berperang, saat sehatnya. Innalillahi... Ampuni aku ya Allah... Sampai di Kalideres, sudah melewati tengah malam. Kami mencari kendaraan menuju Muncul dari situ, baru kamu mencari angkutan lagi menuju Pamulang 2. Sampai di depan perumahan Pamulang 2, kita naik becak. Ah, betapa luluhnya hati ini. Mendekati gang rumah yang kami tuju, terpacak sebuah bendera kuning. Yah, bendera kuning. Itu artinya, sebuah bendera kematian. Lagi-lagi, aku menangis. teka-tekiku terjawab sudah. "Bapakku, telah pergi..." Bude memegang erat tanganku, mungkin untuk menyejukkan hati. Semakin mendekat ke rumah yang aku tuju, ramai orang berkerumun. Aku cepat-cepat mencari ibukku. Dan, apa yang aku khawatirkan memang betul. Ibuku sedang menangis, merintih juga sesekali meraung. Bahkan, terlihat lebih histeris ketika bertemu dengan kami (anak-anaknya dan juga Bude, kakanya sendiri) Ibuku lunglai di pelukan bude. Sementara aku, aku hanya tergugu pilu. Ya Allah, ternyata engkau betul-betul telah mengambil bapakku. Tak lama setelah itu, kakak sepupuku datang dari Jakarta. Ia memelukku erat, aku terisak di pundaknya. Aku belum melihat jenazah bapakku. Setelah reda tangis kami. Akhirnya aku, kedua adikku, Bude dan kaka sepupu menuju jenazah bapak. Innalillahi.. Lelaki yang menelponku kemarin, yang mengabarkan hari itu pulang ternyata, ia pulang kembali kepada-Nya. Seluruh badannya, dingin dan beku. Pias, seolah tiada setetes darah lagi di tubuhnya. Aka menekuri satu persatu wajah bapakku. Satu persatu, ku pegang dahi dan pipinya. Sejuk sekali. Dan, ada sisa-sisa airmata di kedua pelupuk matanya. Aku mengusapnya dengan penuh cinta, cinta yang tak akan lagi terkata dan, sampai kapan pun, bapak tak akan mendengarnya. Ah, Bapak, apakah bapak berat meninggalkan kami?. Tangisku sekali lagi pecah tercurah-curah. Ya Allah... Ampuni bapakku juga aku sebagai anaknya. " Wahai Tuhanku, kasihihlah mereka keduanya, sebagai mana mereka telah mendidik aku waktu kecil." (QS, Al-Israa:24) Tiap-tiap jiwa, akan merasakan mati. Maka hanya kepada Kami (Allah).kamu dikembalikan. QS. Al-Ankabut:57)

32 komentar:

  1. maaf ku tak hbs baca,setitik air mata mengalir sudah,km beruntung naz masih bs merasakan kasih sayang,sentuhannya.sedang aku wajahnya pun tak terlintas d benaku hanya sekeping foto yg mengingatkan ku padanya.sentuhannya mungkin ada tp tak kurasa krn umurku tika itu 1 thn.sebetulnya ku pun mau posting tentang kerinduan sesosok ayah tp gak kuat naz ku sdh nangis duluan.aa sudah lah hanya do'a aja bs ku kirimkan padanya

    BalasHapus
  2. mba naz,.... malam ini aku juga terharu dan merasa rindu pada papaku,lama sekali aku tidak mengatakan betapa aku sayang padanya.

    aku bersyukur,papaku masih ada...aku masih bisa mengatakan betapa aku sayang padanya....

    membaca tulisanmu,aku terharu mba...penyesalan sellau datang terlambat tapi doa-doa anak yg sholeh bukankah akan sampai kepadaNYA ?

    mba,....ingatlah dalam doamu ^^

    BalasHapus
  3. ini postingan bener2 jahat....
    krn mengingatkanku kembali pd bapak (almarhum)..
    hiks....

    *semoga Engkau melimpahi rahmat kepada laki2 yg mencintai keluarga dan anak2 mereka, ya Allah yang Maha memuliakan orang2 yang Engkau kehendaki*

    BalasHapus
  4. posting terburu2 begini aja, bisa bikin yg baca terharu....hiks...
    kamu lama2 bisa nulis buku lhoo naz... :)

    sukses, ya...

    BalasHapus
  5. terima kasih mb atas artikel ini. aku bisa merasakan suasana dalam artikel ini. membacanya bisa terlarut, tapi yang paling penting adalah ini bener2 berharga.

    BalasHapus
  6. Mbak..., sungguh aku terharu membacanya. Meski ayahku masih ada, aku jadi rindu padanya... dan ingin bermanja lagi padanya spt dulu...

    BalasHapus
  7. hanya tinggal beberapa baris lagi selesai baca air mata ini sudah tak tertahankan mengalir mengikuti alur cerita, pikiran meloncat jauh ke masa laluku dan sekarang

    dari kecil aq ga pernah ngerasain kasih sayang seorang bapak ... liar sendiri di perantauan tanpa perhatian seorang bapak, pedahal bapakku masih sehat bugar :)

    BalasHapus
  8. naz, tanggungjawab hayoo..dah bikin orang pada kalang kabut ngusap airmata..sedih, pilu membacanya..ah, semoga aku masih diberi waktu untuk membuat Bapakku bahagia...amin..

    BalasHapus
  9. Perpisdahan memang berat na, apalagi dengan orang-orang tercinta. Semoga sang ayahanda tenang di alam sana. Semoga Aanzkia sekeluarga tetap tegar dan tawaqal menjalani hidup meski tanpa beliau. Jangan lupa selalu berkirim doa buat beliau. Bukankah doa anak yang shaleh, shalehah selalu diijabahNya.

    BalasHapus
  10. ليس البكاء لأجل الفراق, ولكن الفراق لأجل اللقاء

    BalasHapus
  11. Jadi menitikkan air mata baca posting ini. Ceritamu mengingatkan aku tuk lebih memperhatikan kedua ortu yang masih diijinkan Tuhan hidup hingga saat ini.

    An, aku tag kamu tuh. Intip di blogku yah...

    BalasHapus
  12. kalo ngomongin soal ayah...nnnggg... bingung mu komen apan hiii...

    BalasHapus
  13. Aku terharu banget membaca postingannya Naz...
    Jadi inget Almarhum Ayah saya...

    BalasHapus
  14. Terharu sekali membaca postingannya ...
    Semoga ALLAH menempatkan Ayahanda tercintanya pada tempat yang sebaik-baik tempat.
    Satu hal yang kita harus pahami bahwa : ....
    ALLAH lebih tahu apa yang terbaik buat kita dibandingkan dengan apa-apa yang kita ketahui.
    Ayah, Bunda dan orang-orang terdekat kita sebenarnya tak pernah jauh dari kita ... mereka akan selalu dapat kita hadirkan dalam hati dan jiwa kita. Meskipun secara physik mereka tidak ada lagi ditengah-tengah kita.

    Ada satu pepatah yang selalu saya ingat ...
    Berasa punya setelah tiada
    Berasa sehat setelah sakit
    Berasa kaya setelah miskin
    Berasa bersama setelah sendiri

    Semoga Naz dan seluruh keluarga diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi Sunnatullah ini.

    BalasHapus
  15. Jiahhhh... jadi kangen Papa...
    hiks...

    BalasHapus
  16. Jiahhhh... jadi kangen Papa...
    hiks...

    BalasHapus
  17. Jiahhhh... jadi kangen Papa...
    hiks...

    BalasHapus
  18. Jiahhhh... jadi kangen Papa...
    hiks...

    BalasHapus
  19. tapi saya yakin, ayahmu pasti bangga padamu, An. Dia selalu memandangmu dg penuh kasih dari atas sana.

    BalasHapus
  20. selalulah berdo'a untuk beliau
    semoga tenang dialam sana
    semoga selalu mendapat pengampunan
    selalulah menjadi anak yang shalehah

    BalasHapus
  21. Duh... kok buwel sedih ya mbaca ini..... Moga Ayahmu selalu sejahtera disana ya Naz, Amiiin...

    BalasHapus
  22. duuuh... postingan Mbak Anaz kali ini benar2 membuat mata saya berkaca, iyah memang seperti itu juga rasanya ketika dulu saya di tinggal Bapak berpulang.

    Hiks... jadi ingat sama Almarhum ni Mbak... T_T

    BalasHapus
  23. assalamualaikum..
    kabar sedih naz..semoga diberikan kekuatan dan Ayahmu semoga diberikan tempat yang istimewa di sisi Allah.
    Amin
    salam

    BalasHapus
  24. Maaf, hanya Jawaban Mu, puisi Di Makam Cikura
    Mu nya pakenya kecil Naz, bukan untuk Tuhan Soalnya... :-)

    BalasHapus
  25. sungguh terharu mbak... moga ayah tercinta kini bahagia di sisiNya...

    BalasHapus
  26. Oiya Naz, Untuk artinya 2 baris terakhir di puisi munajat sayang kalo nggak salah ada di blognya Dhe... hehehehehe, tapi lupa di postingan yang mana....Duhh... :-0

    BalasHapus
  27. Mbak Anaz, cerita ini membuat aku terharu
    bener-bener mengingatkan aku tentang cinta seorang ayah
    (aku habis mampir di blognya mas sugeng, isinya mirip)

    BalasHapus
  28. Yg sabar ya mbak Naz.. InsyaAllah itu adalah yg terbaik untuk beliau.Semoga ALLAH menempatkan Ayah mbak Naz tercinta pada tempat yang sebaik-baik tempat..

    BalasHapus
  29. sampai napas terakhir papah sayah tidak sempat mengatakan bahwa sayah sangat mencintainya..
    tapi sayah sangat bersyukur sayah selalu ada disampingnya sampai malaikat maut menjemputnya..
    sangat bersyukur masih bisa membelikan makanan kesukaannya untuk terakhir kalinya..
    sampai detik ini sayah masih berusaha menerima papahku udah tidak ada..
    karena sayah sangat dekat dengan papah :)

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P