Dialog perjalanan

Kaki Merungut Ada banyak jenis "kaki" di Malaysia, bukan kaki ayam atau kaki kuda tapi, bermacam-macam kaki yang mempunya arti. Misalnya, kaki kikis (cewek matre, yang suka ngabisin duit cowoknya), kaki buku (orang yang suka baca dan beli buku), kaki shopping (orang yang suka shopping), kaki kipas (penyebar gossip, suka manas2in orang) dan masih banyak, "kaki-kaki" yang lain.
Dan, setelah sampai di Indonesia sepertinya, aku berubah menjadi seorang kaki perungut, yang selalu bersungut-sungut sambil menekuk muka mengkerut, sampai-sampai muka semakin terlihat kusut dan butut. Aneh. Aku sampai sebal dengan diri sendiri. Entahlah, mungkin aku salah mind set. Selesai perkara di pelabuhan, kita menuju terminal. mencari travel, yang akan menuju Bukittinggi. Disitu, juga terjadi kesalahpahaman, Yang aku sendiri bingung mencernanya. Pada intinya, mereka berebut penumpang. Entahlah, akupun tak begitu paham dengan bahasa yang diucapkan oleh mereka.
Dari terminal, kita dibawa ke agent travel, disana, kita shalat dhuhur plus ashar dijamak. Baru setelah itu makan siang padahal. dah jam empat sore. Alhamdulilah, makanannya enak dan, harganya masih murah. Di Dumai juga, aku beli sendal jepit, soalnya, sepatuku ancur (hehehe...) Rupanya bukan aku doang, ada juga ibu-ibu yang mengalami hal yang sama. Lebih kurang jam lima, travel mulai beranjak dari agennya. Penumpangnya, hanya aku, Etek Yurti dan seorang ibu beserta dua anaknya yang hendak menuju ke kota Padang. Mobil mulai menyusuri jalan, menembus lalu lintas yang tidak begitu padat menuju Bukittinggi. Dumai, salah satu bagian kota dari Pekanbaru terlihat begitu asing buatku. Inilah kali pertama, aku menginjakkan kaki di pulau Sumatera. Melihat dikanan kiri jalan, pohon kelapa sawit berdiri berjejer-jejer. Meskipun ada juga jarak satu dan lainnya berjauhan. Yang membuatku aneh, adalah bangunan-bangunan rumah yang aku lihat. Rumah itu berdiri diatas genangan air. Dan bertingkat tangga untuk masuk kedalamnya. Disenpanjang jalan itu juga, aku melihat bulatan-bulatan besar pipa paralon, yang Etek Yurti bilang itu adalah saluran minyak. Karena hari sudah mendekati senja, perjalanan itu, ku nikmati alam terangnya sebentar saja. Ketika gelap menyapa dan lampu-lampu mulai menggantikan terangnya siang, aku hanya menyaksikan sekilas-sekilas saja benderang pinggiran kota Dumai. Bahkan, mataku mulai terkantuk-kantuk akhirnya, tertidur. Tak lagi mataku menyusuri keindahan malam. Justeru, dibuai dalam mimpi. Mataku terbuka, ketika hampir jam sembilan malam, travel menghentikan laju kendaraannya. Singgah dirumah makan. Aku dan Etek Yurti buru-buru menuju toilet buang air kecil dan mengambil wudhu. Kuperhatikan sekilas-sekilas, dimana keberadaanku. Tak pasti, aku pun tidak mengetahuinya. Melihat ke layar hape, tertulis nama tempat, Kandis. Owh, rupanya sedang berada di Kandis. Masuk ke ruang shalat, sungguh kesal hatiku. Tempatnya sangat kotor, seperti tidak penah disapu. Hendak memijak lantainya pun geli. Mau tak mau, aku harus shalat juga ditempat itu. kembali harus menjamak takhir shalat maghrib dan Isyaku. Tak banyak yang shalat disitu. Hanya aku, Etek Yurti, seorang wanita dan seorang lelaki yang sama-sama mengerjakan shalat jamak magrib dan isya. Sopir dan ibu beserta dua anaknya tak kelihatan. Selesai shalat, kita menuju ruang makan. Sebetulnya, aku tak begitu lapar. Hanya ingin meminum segelas teh hangat saja. Tapi, berulangkali Etek Yurti menawarkan aku untuk makan, Akhirnya aku akur. Makanan dipesan, hidanganpun datang. Karena tak begitu lapar, aku sepakat dengan makcik Yurti, untuk membagi sepiring nasi berdua. Lagipun, melihat lauknya, tak ada yang berselera. Saat menjamah makanannya, duh, betul-betul tidak enak rasanya. Lauknya pun sudah sejuk, mungkin lauk sejak siang hari. Sudah kepalang tanggung, akhirnya kami menghabiskan juga makanan tersebut. Tak banyak lauk yang kami makan, nasipun hanya satu porsi. tapi, rupanya bayarnya tetap sama. Aku kesel binti kecewa bukan main. Kalau lauknya enak sih enggak masalah, lah ini... (fiuh... kembali deh merungut...) Dan, saat masuk kedalam mobil, rupanya ibu dan kedua anaknya juga merungut. katanya, mahal banget makanan disitu. Sekurang-kurangnya, bukan hanya aku yang merungut. Mobil kembali melanjutkan perjalanan. Akupun kembali dilena kepenatan, hingga terlupa dalam kelelapan. tak lagi menyaksikan jalan sekitar, tak lagi mencuri-curi gambar dari balik kaca jendela mobil. Entah sampai dimana, mobil kembali berhenti. Dan, menurunkan penumpang dibelakngku, menggantikannya ke mobil lain. Jadi, tinggalah kami hanya berdua dengan Etek Yurti. Awalnya, sopir juga hendak mengoper kami ke mobil lain tapi, Etek Yurti keberatan. Akhirnya, sang sopir akur saja. Bahkan, ada penumpang lain yang mengendarai mobil yang kita naiki. kembali menyusuri lintas Sumatera dimalam hari. Etek Yurti bilang, sudah hampir mendekati Bukittinggi. Hampir tengah malam. Ada perbedaan saat menyusuri jalan di wilayah Dumai dan saat memasuki Sumbar. Di Dumai, meskipun jalan tak begitu bagus tapi, bentuk jalannya tidak begitu berkelok. Sedang jalan menuju Bukittinggi, banyak sekali kelokan-kelokan jalan. Aku jadi teringat novelnya A Fuadi "Negeri 5 Menara" dimana ia menggambarkan saat hendak menuju ke pasar Matur melewati kaki kelok ampek puluah ampek, sebuah jalan mendaki tajam dan mengular dengan 44 belokan patah-patah. Bedanya, aku hanya melewati yang 9 belokan. Tapi, tak jauh beda seperti yang digambarkan. Jalanan itu, kelokannya memang seperti ular yang sedangg melingkar dan sangat tajam. Sayang sekali, aku melintasinya saat malam hari. Dan tak bisa melihat jelas. (Baru ketika ke Pekanbaru, aku menyaksikannya... Subhanallah... indah banget pemandangannya) Semakin dekat ke Bukittinggi, aku tidak bisa memicingkan mata. Aku terus memperhatikan liku perjalanan laju mobil. Salut memperhatikan sopir, sepertinya cekap sekali mengendarainya. Meskipun pas dalam kelokan, berani juga ia memintas laju kendaraan didepannya. Kadang, aku sampai menutup mata takut tidak sampai melintas, tiba-tiba ada mobil didepannya. Dzikir-dzikir kecil, tak lepas kulantun dalam hati. Memasrahkan hidup kepada-Nya. Mendekati pukul empat pagi, akhirnya, kami selamat juga ke Bukittinggi. Keluar dari mobil, hawa kesejukan begitu terasa. Gunung Singgalang tergambar dikeremangan pagi. Ditutupi awan memanjang. Sementara, bintang gemintang banyak sekali berkelipan. Iseng, aku snap saja kamera ke atas. dan hasilnya, adalah gelap yang kudapat. Mobil berhenti betul-betul didepan rumah Etek Yurti. ALhamdulilah.... Aku sampai selamat ke Bukittinggi sekitar jam empat pagi. Hampir dua puluh jam perjalanan Malaysia Bukittinggi dengan menaiki ferri dan mobil. Melelahkan tapi, itulah perjalanan dalam kelelahan pun, ada kesenangan.
Gambar-gambar yang berhasil aku curi dari sebalik jendela kaca mobil... hanya sedikit, coz, mobilnya jalannya kenceng-kenceng :D

26 komentar:

  1. Duh, ko lambat banget postingnya yah...??? Soalnya mengejar target gosokan baju yang sepuluh hari gak di gosok :D *bayangin deh, segimana banyaknya... :)*

    BalasHapus
  2. iya neh, dikit bgt foto2nya, mbak...
    aku kan pengen cuci mata dgn foto2 perjalanan mbak... ^_^

    BalasHapus
  3. Tidak sabar menunggu lanjutannya mbak.. ^_^

    BalasHapus
  4. meski sedikit anda sudah membagikan sesuatu yang berharga terimakasih

    BalasHapus
  5. menikamti perjalanan yang Indah,
    salam kenal mba :)

    BalasHapus
  6. ho'oh.. potonya dikit amat neehh,, ntar nambah lagi yaahh potonya,, biar ga ikutan jalan2 tp bisa liat2 dari sini kaann :D

    BalasHapus
  7. he he he..Anaz masih terpengaruh bahasa Melayu. sebalik jendela itu dibalik jendela kan?

    wah, ternyata perjalanan itu gak selalu indah ya. ada aja sisi gak jeleknya yg bikin bersungut2. btw, kaki seribu ada gak, An?

    BalasHapus
  8. Subhaanallah... dari perjalanan ternyata bisa ditulis menjadi postingan yang panjang dan berhikmah

    BalasHapus
  9. ada yang salah Naz :
    "Dumai, salah satu bagian kota dari Pekanbaru terlihat begitu asing buatku."

    seharusnya :
    "Kota Dumai, sama seperti Kota Pekanbaru, sebagai salah satu bagian kota dari Propinsi Riau terlihat begitu asing buatku."
    (pokoknya Dumai merupakan bagian dari Propinsi Riau, merupakan Wilayah Administrasi Pemerintahan dalam bentuk "KOTA" sejajar dengan "Kabupaten")

    "Disenpanjang jalan itu juga, aku melihat bulatan-bulatan besar pipa paralon, yang Etek Yurti bilang itu adalah saluran minyak."

    seharusnya :
    "Disepanjang jalan itu juga, aku melihat bulatan-bulatan besar pipa besi, yang Etek Yurti bilang itu adalah saluran minyak."

    pipa paralon terbuat dari plastik.
    yang Anaz lihat adalah pipa besi yang menyalurkan minyak dari Minas ke Dumai, bertekanan tinggi sekitar 350 psi yang tak akan sanggup dibebankan pada pipa plastik.

    jiahahahahaha....
    mantap...

    BalasHapus
  10. wah., masih bersambung ya.... nunggu lanjutannya wes... :-)

    BalasHapus
  11. jamak ta'khirnya di qoshor nggak naz... :-)

    BalasHapus
  12. mbak anazkia apa kabar..lama saya gk kesini

    BalasHapus
  13. All, makasih komennya. Dan untuk bang Atta, makasih atas koreksinya. Jadi malu, saya ko lupa, padahal, kota Dumai adalah kota terbesar setelah Manokwari :D lupa Bang :( makasih yah...

    BalasHapus
  14. Lama juga ya mbak perjalanannya... 20 jam..!
    Tapi seneng juga sih bisa jalan-2 ke tempat baru ya..? Banyak pengalaman yg didapat pastinya.
    Seru mbak ceritanya..!

    BalasHapus
  15. Seru juga ya perjalanannya..ya iyalah..mbak Anazkia gitu loh..hehehe..maaf baru mampir lagi.

    BalasHapus
  16. jiahhhh, komentku nggak dibales... :-p

    BalasHapus
  17. maksudnyah nggak dijawab, gitu ding....heheheheh

    BalasHapus
  18. Hm....perjalanan yang melelahkan ya na. Dibalik itu, pasti kebahagiaan banyak pula terangkai. Dari dgambar yang diupload, terbayang deh perjalanan Ana> Begitulah sebagian kondisi Sumatera yang didominasi lahan pasang surut, kalau tidak salah foto rumah itu adalah tipe rumah trasnmigrasi di daerah pasang surut. Tak sabar menunggu lanjutannya.

    BalasHapus
  19. Kalo gitu aku termasuk kaki buku ya? hehehe... Moga2 di posting lanjutannya ada lebih banyak foto2 ya, tp bukan yg lagi merengut!

    BalasHapus
  20. Wow.. keren Mbak perjalanannya, kapan ya saya bisa jalan2 kayak gitu, pengin bangeet...

    BalasHapus
  21. baru kali ini bang Atta comment serius dan panjang.
    Asyik ya Anaz bisa jalan-jalan... Kangen jalan-jalan juga nih. Tapi ke pelosok-pelosok kayaknya, baru seru.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P