Gajinya Berapa...???

Sabtu lalu, aku ke Putrajaya. Menginap di sana. Seolah menjadi kebiasaan rutin, ketika Adam berulang tahun, aku selalu tidur disana. Dan malamnya, meniup balon. Fiuh.. Sayangnya, kali ini aku tak seberuntung tahun-tahun sebelumnya. Aku, Nani, Nini dan mbak Ati setelah bersusah payah, hanya menghasilkan sedikit balon. Beda banget dengan dua tahun lalu. Mungkin karena faktor usia (hahahaha... ngeles. Padahal mah, sakit kepala). Apa hubungannya, gaji sama balon...???
Biasanya, kalau ramai-ramai gitu, kita sesama pekerja rumah tangga (cie.. lebih sopan dikit ah padahal mah, artinya sama, Pembantu!) Para majikan sering membawa pengasuh anak-anaknya. Atau nggak, mbak-mbaknya. Aku suka kalau bertemu mereka. Banyak ragam cerita kudapat dan, menjadi aset untuk aku simpan di file document cerita. Seru! benar-benar seru. Berragam orang yang kutemui, berragam pula cerita yang ku dapat. Inilah hidup. Dan, kebanyakan yang kutemui, adalah para ibu-ibu rumah tangga, yang merantau meninggalkan anak-anaknya. Ketika kutanyakan kemana suaminya, bermacam-macam juga jawabannya. Ada yang sudah meninggal, ada yang masih bekerja di Indonesia bahkan, ada juga yang suaminya, nikah lagi! beu.. Jawaban membosankan! kalau belum sanggup poligami, yah jangan menikah lagi! (ops, ko aye marah-marah yah..??) Emang terbukti khan, belum mampu poligami secara materi, kalau mampu, nggak mungkin dong isteri tuanya merantau jauh-jauh...???. Ah, sudahlah. Aku nggak mau bahas plogami kok. Aku mau bahas, kalau ketemu sama mbak-mbak ini. Di balik kegembiraanku, aku juga kadang sering sungkan dan males (lho katanya tadi seneng..??) Iyah, males dan sungkannya, kalau ditanyain gaji! Sumprit! dari dulu, sepertinya nggak habis-habis deh di tanyain, "GAJI KAMU BERAPA..??" Apa nggak ada soalan lain apa..??? Tapi, kalau aku urut-urut kan, sejak zaman dahulu kala, semenjak zaman purbakala, aku menjadi pembantu rumah tangga soalan, "GAJI KAMU BERAPA" Seolah menjadi hal yang biasa untuk penanya. Padahal, menurutku, itu benar-benar nggak sopan sodara! yah, nggak sopan! Sumprit! Emang sih, ada yang tujuannya baik. Pengen tahu keadaan kita, dibayar apa enggak, baik atau enggak majkan kita, itu semenjak aku kerja di Malaysia. Aku selalu menjawab, "Adalah Kak, alhamdulilah, cukup untuk kebutuhan saya" Sahabat tahu bagaimana raut wajah mereka setelah aku jawab begitu? Ada yang kecewa, ada yang menekuk muka ada juga yang masih penasaran bertanya. Jiah! Nggak penting banget sih...??? Sumpe! nggak penting! Ada berbagai alasan kenapa aku enggan menyebutkan gajiku. Pertama, kalau aku gajinya lebih besar dari sang penanya maka, sang penanya akan merasa berkecil hati, "Kok aku gajinya kecil yah..??" Dan, kedua, kalau gajiku lebih kecil dari sang penanya, mereka akan berkata, "Kok gajinya kecil sih, padahal, kan kamu kerja sudah lama...???" Lihat, itu yang selalu kudapat dari riak-riak wajah mereka ketika menanyakan gaji. kalau bukan aku yang kecewa, yah penanya yang kecewa. Mending, aku tutup mulut aja deh. Wong Emakku aja nggak tahu gajinya berapa :) Kalau mereka seolah-olah sudah mengecilkan gajiku, aku mulai berargumen bahwa, rizki itu, bukan hanya dalm bentuk ringgit. Tapi, juga bentuk kebahagiaan yang aku dapat juga kebebasan dan ketenangan hati. Kalau mau melihat lebih jauh, aku merasa beruntung sekali dengan majikanku. Secara nominal, mungkin gajiku memang kecil. Tapi, secara keseluruhan, aku mendapatkan, apa yang mereka tidak boleh dapat. Misalnya, internet free, 24 jam nonstop.(di Malaysia, mungkin masih jarang tapi, di Hongkong itu sudah biasa) Majikan yang baik, nggak cerewet bahkan, majikanku super baik. Owh ya, majikanku juga sudah pensiun. Dan, kalau lebaran, majikanku juga selalu mengirimkan uang dalam jumlah yang banyak untuk Ibukku. Apa itu bukan rizki juga? Jadi teringat buku yang aku baca. Katanya, 11 cara menambah rizki, tinggkatkan iman dan takwa, memperbanyak sedekah, banyak-banyak berdo-a, berbuat baik kepada ibu bapa, banyakan istighfar, banyakan shalat dhuha, membaca surat al-waqiah, silaturrahim dan membayar zakat. Kategori rizki, bukan hanya uang. Kesehatan pun rizki, kebahagiaan pun rizki, pun dengan sahabat yang baik, ia juga adalah rizki. Mengenali sahabat blogger semua, itu juga rizki bukan...?? :) Jadi, apa pendapat sahabat, ketika ditanya, "GAJINYA BERAPA...???"

33 komentar:

  1. Aku paling ga suka ditanya soal gaji, itu sebabnya aku juga ga pernah nanya berapa gaji orang :)

    BalasHapus
  2. o iyaa...menurutku, soal gaji itu termasuk hal yang rada sensi, lagian...emang ga ada bahan pertanyaan lain? :P

    BalasHapus
  3. gitu ya,,,
    emang sih, kalo masalah gaji, kebanyakan orang sungkan nyebutinnya. aku malah gak tau gajiku berapa, soalnya gak pernah gajian. hehheehehe....

    bagus deh, Salut sama Mbak Anazkia...sebaiknya memang gak usah ngomong masalah gaji kalo ujung-ujungnya bikin gak enak

    BalasHapus
  4. Kupikir, itu aja mb jawabannya. Sudah tepat. Setuju. Kita tidak harus memenuhi keinginan orang.

    BalasHapus
  5. itu hal yang sangat privacy ya padahal

    BalasHapus
  6. sama..henny juga ga suka kalo hal itu ada yang tanyain. entah apa yang ada dipikiran orang-orang yang bertanya tentang itu, seolah mau menakar kehidupan orang lain.

    BalasHapus
  7. Kalo ditanya gaji, saya malu untuk jawab terus terang. Soalnya, hehehehe..rahasia

    BalasHapus
  8. Salam mas. Btw, emang gajinya berapa ya... hehehe

    BalasHapus
  9. Pertanyaan itu memang "risih" bagi kebanyakan orang karena masuk wilayah privasi.

    BalasHapus
  10. hemm,blm pernah ada yg tanya gajiku berapa mba hehehe,... ^^

    BalasHapus
  11. secara aku belom kerja yaahh,, jadi belom pernah ditanyain gituh.. tapi menurut aku sih emang itu ga sopan sih yah,, lagian untuk apa juga siihh?! emang kalo gajinya gede kenapa?! trus kalo gajinya kecil kenapa juga?! emang mau menakar seseorang dari gajinya gituh... hargai privasi orang lainlaahh,, dan kita juga punya hak untuk ga jawab kan :)

    BalasHapus
  12. besarnya gaji bukan jaminan semua kebutuhan dapat terpenuhi. kecilnya gaji bukan pula ancaman kebutuhan tak tercukupi. besar dan kecilnya gaji, tergantung bagaimana cara kita menerima, dan mesyukuri. yang terpenting dari penghasilan adalah keberkahan. lebih baik gaji besar tapi barokah, daripada kecil tapi tidak barokah...tul ndak?

    BalasHapus
  13. Gaji ku brp yah? *tanya mama ahh* loh?!

    BalasHapus
  14. hahaha... aku pernah nanyain gaji berapa sama sahabtku dan dia ga mau jawab

    tpi sahabat yg lain malah uda buka2an soal buku tabungannya sama aku wkwkwk

    BalasHapus
  15. Kalau aku ditanya gajinya berapa, kujawab aku dapat 11 cara menambah rizki dari sahabat anazkia! dan Alhamdulillah itu halal semuanya!

    BalasHapus
  16. Duh, buwel juga paling males kalo ditanya gajinya berapa... :-)
    Yang penting kalo lagi butuh Uang di dompet ada saja itu udah cukup... :-)

    BalasHapus
  17. Bener Naz, Rizki katanya adalah sesuatu yang sudah kita nikmati, jadi sedikit atau besarnya alangkah baiknya selalu disyukuri, karena semuanya adalah cuman pemberianNYA saja....

    BalasHapus
  18. aku juga males jawab kalo di tanyain, tapi aku paling sueneng kalo tanya.... syukur-syukur di bagiin heheh

    BalasHapus
  19. Ngga sopan banget kalo orang tanya masalah gaji
    rasanya kok usil banget sih mbak..
    trus kalo gajinya besar emang mau ngapain?

    BalasHapus
  20. Bener An, paling ga suka kalo ada yg nanya2 gaji. Dan setuju juga bahwa bekerja itu bukan hanya gaji aja yg dikejar. Ketenangan, kepuasan, dll. Jangan terbawa arus yg terlalu memuja uang. Yang menempatkan orang hanya menurut jumlah matematis aja. Pada akhirnya, banyak hal yg mempengaruhi keputusan kita dalam bekerja kan?

    BalasHapus
  21. betul sobat...gaji bukan ukuran dari rizki Allah SWT....
    btw aku follow ya sobat...jgn lupa follow balik yah....makasih

    BalasHapus
  22. yang penting disyukuri, akan terasa banyak ....

    BalasHapus
  23. aku selalu bilang
    BANYAK [sambil melet kepada penanya, sedikit merem dan sok imuet]

    biar mereka tambah geram, karena gajinya lebih dikit, hahha,aku puas liat kayak gtu, muka kecut bin nyaprut, :-P. aku juga benci kalo ada yang tanya gajiku, gajiku banyak, karena aku ngga pernah kurang sedikitpun, percuma aja gaji banyak beneran, tapi ngerasa kurangggggggg terus, allah akan nurutin thu maunya maungso hahaha

    BalasHapus
  24. ya ngga ya ngga, mba ana aku inut inuel kok :p

    BalasHapus
  25. Kupikir, masalah gaji adalah privacy. Tak perlu diceritakan kemana-mana.
    Aku setuju dg sikap mbak Ana, labih baik diam saja.

    BalasHapus
  26. Yang tanya-2 soal gaji orang lain itu sih nekad namanya mbak... :p

    BalasHapus
  27. jadi... yang bener gajimu berapa mbak? ^hallah nanya itu lagih!^

    BalasHapus
  28. Hm, lebih enak kerja di Malaysia dibanding Indonesia ya na. Di kita, internet itu dianggap menurunkan produktivitas pegawai, makanya sebagian perusahaan memblokir beberapa layanan ada yang menurunkan kapasitasnya. Saya senang, senang sekali memebaca membaca bahwa Anazkia menganggap pertanyaan soal gaji berapa itu Tidak Sopan. Begitulah yang seharusnya.

    BalasHapus
  29. aku juga sebel kalo ada yg nanya gajinya berapa.

    BalasHapus
  30. kalau guru disini orang nggak usah nanya mbak kalau golongannya idtahu ya pasti bisa deh nebak berapa gajinya

    BalasHapus
  31. kalau aku nggak pernah ditanya karena mereka tahu aku pengacara (pengangguran banyyak acara)

    BalasHapus
  32. Salary, hm what a pity I am unemployment

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P