RM.100,000, Untuk Mengkaji Sumbangan HAMKA

Dulu, ketika aku kelas tiga Aliyah, saat sedang menghadapi pelajaran sosiologi, ada kejadian yang cukup "mengenaskan" bagi kami teman-teman sekelas. Hari itu, aku lupa membahas tentang apa. Tapi, guru kami, memberikan sebuah pertanyaan, tentang nama penuh HAMKA. Dan, kalau ada yang tahu, tanpa tes atau ulangan, sang guru akan memberikan nilai 8. Kelas sepi sesaat, tak ada yang menjawab. kemudian, sang guru menambahkan, menjadi 9 nilai yang dipertaruhkan. Satu persatu, wajah-wajah kami direnunginya. Sayang sekali, dari sekitar 30an murid tak ada satupun yang mampu menjawabnya. Memalukan, yah, cukup memalukan. kemudian, sang guru menulis di papan tulis bahwa nama HAMKA adalah akronim dari, Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amarullah. Yang lahir pada, 17 februari 1908 di Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat. Kalau aku tak menulisnya, apakah sahabat blogger tahu, nama penuh Buya HAMKA...???
Kemarin pagi, aku menyaksikan berita disalah sebuah satuTV Malaysia, TV3. Mengabarkan, tentang kerajaan Malaysia yang akan memberikan bantuan kepada yang hendak mengkaji karya dan sumbangan HAMKA, sebesar RM. 100,000 atau, sama dengan Rp. 260.000.000. Wuih, sungguh terkejut aku dibuatnya. terkejut dan salut, kepada kementerian penerangan, komunikasi dan kebudayaan. Dan, siangnya, aku juga membaca khabar serupa disalah satu surat khabar tempatan. Semakin membuka otak bawah sadarku, tentang kejadian beberapa tahun dahulu. Menurut surat kabar Utusan Melayu, sumbangan itu bertujuan untuk mengkaji secara komperhensif sumbangan tokoh tersohor dunia Melayu, Hamka. Menteri, Datuk Seri Dr. Rais Yatim memberitahu, peruntukkan tersebut dalam bentuk beasiswa dan penyelidikan akan diberi kepada seorang penuntut peringkat Ijazah Doktor Falsafah (Ph.D) Dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). kementrian berharap pelajar yang terpilih itu menjadi pakar berkaitan dengan Hamka dari segi sumbangannya dalam penulisan dan 69 karya yang tokoh itu hasilkan.. "Hamka seorang yang unik di Indonesia dan Malaysia serta seorang tokoh yang telah banyak menyumbang terhadap perpaduan antara kedua-dua belah negara ini." Ujarnya. Beliau berkata demikian ketika ditemui selepas meresmikan seminar Serantau Seabad Buya Hamka yang diselenggarakan oleh Fakultas pengajian Islma UKM, Jabatan kebudayaan dan Kesenian Negara serta Ikatan keluarga Mahasiswa Minang di UKM, selasa 26 Januari 2009. Salut dengan usaha yang dilakukan oleh beliau (Datuk Seri Dr. Rais Yatim), beliau yang termasuk sahabat karib dari Buya Hamka sendiri sangat menginginkan, sumbangan itu perlu dilihat daripada segi pembudayaan bahasa yang menjadikan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia sebagai bahasa penghubung masyarakat dan bahasa ilmu. Aku jadi teringat, tentang posting pidato Hamka, ketika beliau mendapatkan gelar doktoralnya dari Universitas Kebangsaan Malaysia puluhan tahun lalu. Kalau yang mau lihat, klik aja disini yah.. :) Aku sendiri, jujur banget, mengenali karya-karya Buya Hamka, setelah berada di Malaysia. tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Di Bawang Lindungan Ka'bah dan lain-lain aku juga baru membacanya saat di Malaysia menyedihkan sekali bukan... :(. Begitu banyak karyanya, antara lain yang sudah ku jamah, Tasawuf Moderen, Sejarah Umat Islam dan beberapa lagi, yang aku lupa judulnya. dari sekian banyak karyanya, aku sedih ketika membaca 'Tasawuf Moderen" buku itulah, yang selalu beliau baca, ketika dalam penjara. Dan, dalam penjaralah, karya Tafsir Al-Azhar dihasilkan. Subhanallah... menulis, seperti sudah menjadi nyawa untuknya. Semoga kita, generasi penerus mampu mengambil hikmah dari semangat Buya Hamka. Menulis, dan menulis. Sekurang-kurangnya, kita tahu, bahwa beliau adalah berasal dari ranah minang. Wallahu'alam. Gambar diambil dari sini Tulisan dipetik dari harian Utusan Malaysia, Selasa. 26 januari 2009 dengan sedikit perubahan bahasa (meskipun masih ada yang serupa)

26 komentar:

  1. sebelum baca, mengamankan yang pertama dulu..

    BalasHapus
  2. Prof.HAMKA,.... adalah sosok panutan yang sulit dicari padanannya di jaman sekarang.
    nama penuh beliau saya dapat waktu SMP Kelas 2 dulu.

    BalasHapus
  3. wah aku malah ga pernah dapet pelajaran tentang Prof hamka, padahal bisa dapet duit mak nyuss tuh

    BalasHapus
  4. dengan dana yang besar itu, nah yang kutakutkan adalah pembelian naskah2 asli Buya Hamka oleh para calo untuk dijual ke Malaysia.
    hmmmmm... miris teriris-iris hatiku

    BalasHapus
  5. Memang pribadi yang langka, seorang tokoh panutan baik bagi bangsa Indonesia maupun Malaysia. Terima kasih sudah dialihbahasakan.

    BalasHapus
  6. Duh, buwel juga nggak begitu paham tentang Prof HAMKA ini Naz, tapi yaa tahu kok singkatannya HAMKA....

    BalasHapus
  7. Buku Prof. Hamka yang pertama kubaca adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk sejak itu saya selalu membaca karangan beliau yang lainnya! Menyesal gak punya koleksinya sekarang, dulu ada dibawa teman gak ada yang kembali!

    BalasHapus
  8. apalagi saya, sama sekali ndak mengenal dekat siapa itu Prof. Hamka, maklum saya ndak pernah kul, hehee....

    BalasHapus
  9. Buya Hamka adalah teladan bagi kita semua
    sikapnya yang netral kepada pemerintah dan sangat disegani di eranya
    sampai saat ini saya juga baru tau nama lengkapnya lewat blog ini
    terima kasih

    BalasHapus
  10. Hamka... aku pernah denger waktu SD ato SMP dulu... tapi baru tau nama lengkapnya dari sini :D

    beliau bener-bener sosok panutan...

    BalasHapus
  11. seseorang yang menginspirasi ya...

    tp aku lupa kapan aku terakhir belajar sejarahnya beliau.

    yukk mari kita teladani beliau...

    BalasHapus
  12. wah kok di asalnya sini ga ada beasiswa buat penelitian karya beliau ya

    BalasHapus
  13. Makasih infonya. ternyata nama Hamka itu akronim ya...

    BalasHapus
  14. nama penuh HAMKA, sebelumnya pernah tahu tapi lupa, bahkan baru ingat setelah baca tulisan ini. Jika ukhti baru membaca karya-karyanya setelah di Malaysia, dianggap menyedihkan, lalu bagaimana dengan saya yang sampai saat ini belum sempat memabacanya, tentunya sangat mengenaskan ya?

    BalasHapus
  15. Saya cuma punya Tafsir Al-Azar untuk karya HAMKA. Subhaanallah, sulit mencari ulama' pemikir dan pahlawan seperti beliau.

    BalasHapus
  16. hiks ya ampn saya juga nebeng malu mba, saya juga baru tahu kepanjangan BUya HAMKA dari tulisan mba hehe malu maluin banget yah.. ngacir ... maluuuu

    BalasHapus
  17. Buya HAMKA...jujur, aku gak tahu.....sekedar dengar nama....BUya HAMKA....

    BalasHapus
  18. Aku suka sekali NOVEL-NOVELnya dan aku juga pernah ziarah tanah kelahiran HAMKA.

    BalasHapus
  19. Salam... makasih atas info namanya,
    Ya.. aku pertamanya membaca bukunya 'Tenggelamnya Kapal Van Der Wick' langsung hingga sekaranf terkesan oleh kata-katanya.

    Sayang sekali belum ada sarjana, (seingat aku) yang menghampiri keilmuannya jaman kini.

    BalasHapus
  20. saya pernah baca nama lengkap HAMKA wkt sekolah, tapi gak inget. thanks udah mengingatkan.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P