Selasa, di Padang

"Bu, berarti, tergantung pondasi bangunannya yah...???" Mataku melihat ke sekeliling bangunan
"Enggak juga De, kita tidak bisa memprediksi kekuatan sebuah kondisi bangunan dari pondasinya. Itu betul-betul kuasa Allah, menguji kita." Bu Wati menjawab bijak. Sekilas dialog pagi, ketika aku menyaksikan sendiri sisa-sisa reruntuhan gempa yang berada disekitar rumah bu Wati. Rumah di depan bu Wati, kedua-duanya hancur. Pun dengan tetangga sebelah kanannya. Hancur, tak berwujud. tak bisa lagi digunakan. Sementara, rumah bu Wati masih berdiri kokoh.
Selepas ngobrol dan makan pagi, aku mempersiapkan diri bertemu dengan Ferdi. Seorang mahasiswa di sebuah Universitas Negeri Padang. Jam 8 pagi, aku menelphonenya tapi, rupanya tidak diangkat. Aku kira, dia masih tidur. Tak lama setelah itu, Ferdi sms, rupanya sudah ada dikelas dan tidak diperbolehkan mengangkat telphon. Awalnya, janjian jam 9 lebih tapi, rupanya ada kelas tambahan jadi, diundur jam 10an janjian di Tunggul Hitam. Dan kita, sepakat untuk melihat sisa-sisa reruntuhan gempa. Aku tidak tahu, bagaimana caranya kalau hendak menuju tunggul Hitam, tadinya mau naik ojek tapi, tidak boleh sama Bu Wati. Dan, kebetulan, Abangnya bu Wati mau mengantarkan adik-adiknya yang dari Pasaman ke Tunggul Hitam. Akhirnya, aku menumpang. Turun saja dari mobil, ada seseorang yang menegurku. "Mbak Anaz..." Ujarnya. Rupanya, Ferdi sudah nangkring diatas motornya. Bertukar senyum, bertanya khabar. Kedua tangan menangkup diatas dada, menganggukan kepala sebagai pengganti jabat tangan. Tidak menyangka, akhirnya, bertemu juga dengan Ferdi, bloger dari Padang. Sebelumnya, Ferdi mengingatkan aku, untuk membawa helm. Tanpa menunggu lama, akhirnya, kita memulai perjalanan. Melihat, sisa-sisa gempa 30 September. Aku diajak memasuki kota Padang, melintasi sebuah Mall, yang sudah hancur disana sini. Ferdi bilang, ketika gempa terjadi, Ferdi berada didalam. Baru pulang kuliah, sedang makan bersama teman-temannya. Merinding dengernya, ujarkau, "Allah masih melindungi kamu fer." Semakin masuk ke pusat kota, reruntuhan semakin terlihat disana sini bahkan, masih ada yang belum tersentuh, sejak gempa. Sebuah bangunan lama, khas suku Padang. Ferdi menghentikan laju motornya, untuk menyilakan aku mengambil gambar. Hampir disetiap bangunan yang rusak parah, Ferdi berhenti untuk memberi kesempatan aku mengambil gambar. Lagi pula, Ferdi pun belum posting tentang gempa. Aku tersenyum mendengarnya. Ferdi bilang tidak mau ikut-ikutan posting hal yang sama. Entah jalan apa namanya, aku tidak mencatat setiap yang dilalui. Aku hanya erat memegang kamera. Sementara, buku kecil dan pena, tersimpan rapi didalam tas. Kemudian, aku diajak ke kampung China. Disitu, hampir semua bangunan rata dengan tanah. Kalaupun ada, hanya sisa-sisanya. Ya Allah, betapa besar ujian yang kau berikan kepada saudara-saudaraku di Padang. Aku hanya mampu menangis dalam hati, merasa begitu kecil. terkadang, aku selalu mengeluh dengan kehidupanku. ternyata, masih ada yang lebih berat cobaan hidupnya. Aku tak mampu membayangkan, bagaimana sebuah keluarga, yang harus kembali menyusun kehidupannya dari nol lagi. Ya Allah.. Kuatkanlah mereka. Herannya, meskipun bangunan masih banyak yang berserak, mobil berat (apa namanya yah? kalau gak salah buldozer, apa bego?) hanya ada di satu titik. Di kawasan kampung China tadi, hanya ada satu. Selebihnya, tidak ada. Aku bertanya dengan Ferdi, apa Pemda sudah tidak menyediakan. ferdi hanya menggeleng kepala, tidak tahu apa yang hendak dijawab. Aku jadi teringat beberapa bulan dahulu, saat pasca gempa beberapa minggu, Abah, majikanku berkunjung ke kota Padang, menyerahkan bantuan. Abah, mewakili dari YADIM (Yayasan Dakwah Islam Malaysia) bekerja sama dengan YADMI (Yayasan Dakwah Indonesia Malaysia) bersama dengan Bapak Tarmizi Taher menyerahkan bantuan sebesar RM.50.000. Atas saran pak Tarmizi, akhirnya Abah memberikan bantuan itu langsung ke para warga. menyusuri kota Padang, sampai ke pedalaman Pariaman. Di masukannya dalam amplop, dan diberikan kepada setiap kepala keluarga. perkepala keluarga, mendapat Rp.300.000. Pak Tarmizi bilang, tidak usah melalui instansi apapun, karena, akan susah jadinya. Ah, apakah ini birokrasi namanya? Dalam musibahpun, masih dipersulit. Wallahu'alam. Melintas sebentar, di depan hotel Ambacang, pembangunan sudah dimulai. Sebetulnya, geliat membangun sudah terlihat Tapi, aku rasa akan memakan waktu yang cukup lama. Mungkin, beberapa tahun, untuk menjadi Padang, seperti sedia kala. Dari situ, kita pun berjalan kesebuah tepian pantai Padang, tidak singgah, hanya melintas saja. Mengambil gambar, kemudian pergi lagi. Pun, ketika aku diajak kesebuah jalan, dimana jalan itu retak hampir keujung-ujungnya. Innalillahi.... betul-betul merinding. Jalan itu, terbelah Masya Allah, betapa dahsyat dan kuatnya gempa ketika itu. Aku tak mapu membayangkan, di saat-saat kejadian gempa. Kesedihan, begitu terasa, betapa kecilnya aku di mata-Nya. "Ya Allah, jadikan aku orang yang pandai memetik hikmah, pada setipa musibah-Mu" Ferdi juga mengajakku kesebuah jembatan, jembatan Siti Nurbaya. Disanapun, hanya mengambil gambar, kemudian kita jalan lagi. Waktu hampir mendekati tengah hari. Dan saatnya makan siang. Ferdi mengajakku ketempat makan langganannya. Ajo Lolong lama, nama tempat itu. Lokasinya, berdekatan dengan taman makam pahlawan. Cerita mengalir begitu saja, ketika kami menikmati hidangan siang. Fiuh, makan masakan Padang, di kampung halamannya ternyata, pedasnya tidak kira-kira. Aku tak tahan, dan dengan terpaksa menyisakan hidangan makan :(. ferdi senyum-senyum aja ngeliatnya. "kalau aku sih udah biasa mbak" ujarnya bangga.
Selesai makan siang, kumandang azan terdengar. Ferdi mencari masjid, dan kami shalat dhuhur di masjid al-Azhar, berdekatan dengan kampus Ferdi. Alhamdulilah, ada juga kesempatan memperoleh shalat berja'ah. Selesai shalat, bu Wati menelphonku. Menanyakan keberadaanku. Dasar dudul, aku tidak tahu itu ada dimana, baru, setelah bu Wati ngasih ciri-cirinya, aku mengiyakan. Anaz emang dudul! Karena sudah hampir mendekati pukul satu, dan pukul dua Ferdi ada kelas, akhirnya aku pulang. Bersama-sama dengan bu Wati dan keponakannya Ferdi beriringan mengantar aku ke rumah bu Wati. Alhamdulilah.. Perjalanan, yang sarat dengan hikamh, hikmah dari musibah, juga hikmah silaturahmi. Untuk Ferdi, termakasih banyak atas pertolongannya juga, sebagai guide di kota Padang :)
Nampang, abis shalat Dhuhur, minta tolong orang motoin :)
Pake kamera otomatis :)
Ferdi, yang selalu narsis
Disinilah makan siangnya...
Jalan yang terbelah....
Ambacang, pasca tiga bulan gempa
Pantai Padang, yang sunyi pasca gempa
Hotel 5 tingkat tapi, setelah gempa, hanya menyisakan 3 bangunan. Innalillahi...
jembatan Siti Nurbaya
dari atas jembatan Siti Nurbaya
Hanya ada satu, kendaraan berat yang beroperasi, kapan siapnya...???
retak diseluruh bangunan
Tak tersentuh, sejak gempa melanda

23 komentar:

  1. saper yg tak insaf lagi tgk gambar mmg tak tahu la

    BalasHapus
  2. Perjalanan yg luar biasa mba,penuh hikmah ya.

    *Mba kalo nanti pulang keindonesia,mampir dulu aja kejakarta sebelum ke serang ,gimana ?...insyaallah tak jamu kue pisang Epe'nya :)

    BalasHapus
  3. salam sobat
    senag campur haru ya,pastinya sampai di Padang.
    karena melihat banyak gedung yang masih belum diperbaiki..akibat gempa dulu.

    BalasHapus
  4. MIRIS, mendengar bantuan tak sampai ke tangan saudara2 yang berhak.....

    BalasHapus
  5. pembangunanya lambat atau memang kebanyakan yg harus dibenahi ya mbak. tpi poto terakhir yang paling miris melihatnya

    BalasHapus
  6. alhamdulillah..akhirnya mbak anaz bisa kopdar juga. setelah dari padang mo kemana mbak?
    ngomong-ngomong, mbak anaz ternyata jago fotografi jg ya? terbukti angle gambar yang diambil pas banget ^^

    BalasHapus
  7. Cerita yang runtut mbak.. Bagaimana mbak Naz bisa mengingat kejadian sampai ke hal yg terkecil ya? Hebat..

    BalasHapus
  8. met sore..itu jalan terbelah nya seremin ya, An

    BalasHapus
  9. Asyik juga perjalanan kamu ya An, bisa kopdaran juga. Kapan ke Jawa??

    BalasHapus
  10. padang pasca gempa kemarin ya naz...
    menyedihkan kondisi nya

    BalasHapus
  11. Wah..., seru juga jalan2 sekaligus kopdar-nya.
    Aku kira sisa-2 gempa sudah habis... ternyata masih banyak ya mbak..

    BalasHapus
  12. gempa kemaren sememang dahsyat
    ferdi dah mosting kemaren
    penanganan fisik kelihatannya terlambat

    BalasHapus
  13. Smoga diberi kekuatan untuk membangun kembali...

    BalasHapus
  14. moga masing2 diberi kesabaran...makasih udah berbagi ya mbak Ana :)

    BalasHapus
  15. kopdarannya seru naz, foto2nya bikin haru...

    BalasHapus
  16. sabtu
    hujan
    rintik-rintik
    deras
    berhenti

    BalasHapus
  17. tanggal 19 desember saya juga ke Padang..
    tapi hanya tempat persinggahan, karena harus lansung pulang ke Teluk Kuantan (RIAU) ada acara.

    Jadi gak sempat fhoto2..hehe

    salam kenal dari Ir1, anggota baru Blogger...

    BalasHapus
  18. ya ampuunn.. ngeliat foto2nya aja kau merinding,, apalagi kalo ngeliat langsung reruntuhan bekas gempanya yaahh.. innalillahi...

    BalasHapus
  19. waaah.. mantaaaap... eh bisa minta tolong gak?? aku kirimin foto-foto bekas gempa di padang doonk (jalan retak, rumah ambruk, dsb)... gw butuh banget nih.. kirim ke emailku ya: anthony_joddie@yahoo.co.id ; tak tunggu.. 'n sebelumnya : matur nuwun alias makasiiiiih yaaaa... ^^

    BalasHapus
  20. semoga padang akan segera menata kotanya menjadi baik kemabali, ingatlah ini hanya sebuah ujian :), senengnya ketemu ama Ferdi, nanrses juga thu anak, allah masih melindungimu fer :), dan juga kita semua.

    BalasHapus
  21. berkunjuuuung.. (lagi) cuma mo ngucapin: makasih yaaaaaa... atas foto-fotonya ^^

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P