Senin, ke Padang

Senin pagi, di kampung Kubangputih, cuaca begitu sejuk. Seperti dalam ruangan yang menggunakan AC bersuhu 16 derajat. Menggigil saat badan menyentuh air, apalagi, ketika pagi mengambil air wudhu, gigi sampai bergemlutuk menahan sejuk. Pagi itu, setelah sibuk menelphone kesana kemari, setelah sms yang tk berhenti, juga diselingi menonton editorial di Metro TV, akhirnya, aku jadi juga menghubungi Bu Wati. Dan, niat ke kota Padang hari itu menjadi. Segera aku beranjak dari depan TV, meninggalkan acara editorial hari itu, yang sedang membahas tentang perdagangan bebas. Aku langsung menuju kamar mandi
Tak lama mempersiapkan diri, aku segera diantar ke Padang luar. menunggu travel menuju kota Padang. Etek Yurti kelihatan khawatir sekali. beberakali, aku meyakinkan, kalau aku berani pergi sendiri. Maklumlah, itulah untuk pertama kalinya aku ke kota Padang. Sebelumnya, Etek Yurti juga sudah berbicara panjang lebar dengan Bu Wati. Meyakinkan, kalau aku tidak akan tersesat sampai disana. Owh ya, sampai di Indonesia, aku belum memiliki Hp. Jadi, untuk memudahkan komunikasi, Etek Yurti meminjamkan hapenya untuku. Kebetulan, Etek Yurti memiliki 2 Hp. Tidak lama menunggu travel menuju Padang. Belum sampai 10 menit berdiri disitu, travel sudah ada. Etek Yurti dan Uda Romi, wanti-wanti dengan sopir, kalau aku akan turun di Tunggul Hitam. Bissmillah... Akhirnya, travel pun melaju. Bukittinggi ke Padang, memakan waktu dua jam perjalanan. Aku segera sms bu Wati, mengabarkan kalau aku sudah beranjak jalan menuju Padang. Bu Wati, aku mengenalinya di Malaysia, pada sebuah kajian. Beliau orang Padang, meskipun aslinya orang Jawa. Mengikuti suami, yang sedang belajar di UTM (Universitas teknologi Mara) sedang menyelesaikan program S3. Dan suaminya, seorang Dosen di Universitas Andalas Padang. Kemudian, beliau juga yang mengajari kami (aku dana temen-temen kilang dahulu) mengaji. Dulu, aku rajin mengikutinya, ketika masih ada temen-temen kilang yang belum ter PHK. Tapi kini, setelah teman-teman kilang pulang, aku tak lagi mengikuti rutinitas itu. Menyenangkan mbelajar mengaji dengannya. Aku kembali ke masa silam, dimana aku dan teman-teman diajarkan membaca Qiroati. Atau metode Iqro, lebih terkenalnya. Padahal, katanya, metode Iqro, justeru mencontek Qiroati. Wallahu'alam. Dan desember kemarin, kebetulan Bu Wati pulang ke Padang. Selama perjalanan, matakau awas mengelilingi sekitar. Meskipun pada awalnya, mataku sempat terbuai lena dalam sekejap. Aku melihat kesekeliling, banyak beberapa warga yang sedang membangun rumah, atau ketika melewati sekolah, pun ada pekerja yang sedang membuat perbaikan sekolah. Awalnya aku heran, kenapa banyak sekali yang sedang membangun rumah dan memperbetulkan sekolah...??? Seperti orang tersadar dari mimpi, rupanya, ini bukan sedang membangun rumah atau sekolah baru. Tapi, ini akibat dari gempa. Innalillahi.. aku membatin, rupanya, aku sudah memasuki kawasan-kawasan paska gempa bumi 30 September. Dan, ketika memasuki kota Padang, sisa-sisa gempa itu semakin kelihatan. Masih banyak beberapa bangunan yang teronggok runtuh begitu saja. Dadaku bergemuruh, menahan sesak. Sesak memahami ujian-Nya. Betapa ujian itu, begitu berat ketika kulihat. Beberapa yang kulihat, ada sebuah rumah baru, tapi sudah doyong. Dan sebelahnya, tidak mengalami kerusakan. Sayang sekali, ketika ini, aku tak dapat mengambil foto. Laju kendaraan begitu cepat, aku rasa melebihi 80 KM/jam. Semakin mendekati kota Padang, ada sedikit ketakutan dalam diri, takut tersesat. Gerak jantungku bergetar hebat, aku begitu khawatir. Meredam ketakutan, aku mengingatkan sopir kalau aku turun di Tunggul Hitam. Alhamdulilah, sopir bilang masih jauh. Lega... Tak sampai dua jam, aku sampai juga di Tunggul Hitam. Aku segera sms bu Wati, kalau sudah sampai ke tempat tersebut. Dan aku, buru-buru melintas rel kereta api, menunggu bu Wati di depan sebuah kedai makan. Selain berhubungan dengan bu Wati, aku juga menghubungi Ferdi. Memberi tahu, kalau aku sudah berada di kota Padang. Agak lama menunggu bu Wati, aku berjalan kesebuah warung, membeli surat khabar dan segelas minuman pop ice. Baru beberapa kali menyedot minuman, seorang wanita menegurku. "Ade yang dari Malaysia yah...???" Ujarnya. Aku tertegun, langsung menganggukan kepala dan beratanya, bagaimana beliau itu tahu. Wanita itu tersenyum, dan berkata, kalau bu Wati sudah menunggu di arah depan sana, tempat sebelum aku beranjak tadi. Alhamdulilah... Akhirnya aku bertemu juga dengan bu Wati. Wanita yang menegurku tadi, rupanya tetangganya dan hendak ke pasar. Menaiki motor, akhirnya kami beranjak dari situ, mencari surau, karena waktu dzhuhur, sudah berkumandang sejak beberapa saat tadi. Setelah itu, baru bu Wati mengajakku mencari kedai makan. Kami makan disebuah kedai makannan Padang. Ah, hampir tidak menyangka, kalau aku bisa juga menikmati nasi Padang di mana ia berasal, yaitu, kota Padang sendiri. Selesai menyantap hidangan siang, bu Wati mengajakku kesebuah toko. ternyata, itu toko baju dan juga menjual buku-buku. Aku bertanya, dengan siapa anak-anaknya dirumah. Rupanya, keluarganya yang menjaganya. Meskipun tidak ada jatah membeli baju di Padang tapi, akhirnya aku kepincut juga membeli baju. Tak banyak emmang, hanya beberapa helai. Itupun, menggunakan uang bu Wati dulu. kebetulan, aku memang tak membawa uang lebih, hanya ada uang ringgit di dompet. Selesai belanja, baru bu Wati mengajakku kerumahnya. Cukup jauh jarak rumah bu Wati dari Tunggul Hitam. Dan, rupanya, tempat kuliah Ferdi dekat dengan TUnggul Hitam. Dan aku, membuat janji dengannya, kalau selasa akan kopdar. Alhamdulilah.. Akhirnya, sampai juga di rumah bu Wati dengan selamat. Disini, aku tak banyak mengambil gambar. Hanaya ada beberapa helai gambar bu Wati dan keluarganya jadi, gak usah di upload lah.. :).

23 komentar:

  1. Padang, kota mungil yang menyenangkan na. Saya pernah dua tahun disana, takana juo.....

    BalasHapus
  2. Perjalanan yang menyenangkan, senang mengikuti alur cerita anda bikin penasaran acara kopdar berikutnya! Sukses untuk anda!

    BalasHapus
  3. Asyik bisa jalan-jalan sambil silaturahmi...

    BalasHapus
  4. Jalan-jalan terus nih mbak Anaz. aku belum pernah loh ke Padang

    BalasHapus
  5. Aku juga pengen ke Padang :)
    Blom pernah siy...

    BalasHapus
  6. kayaknya sebulan terakhir ini jalan terus yah Naz..
    Kisah perjalannya menarik, aku belum pernah sih ke Sumatera....

    BalasHapus
  7. alhamdulillah..akhirnya sampai juga di Padang. cerita kopdarnya jangan lupa diposting ya mbak. ditunggu !!

    BalasHapus
  8. Jalan-jalan lagi ya mbak ketemu siapa lagi tuh mbak

    BalasHapus
  9. wah, kalo sedingin itu aku suka tuh. aku suka tempat yg dingin2. tapi bukan kulkas ya.

    BalasHapus
  10. salam sejahtera
    kunjungan balik
    semoga bisa jadi sahabt

    BalasHapus
  11. Jalan -jalan yang menyenangkan ya mba..kapan jalan2 kejakarta mba ?

    BalasHapus
  12. Padang.. Kapan awak samo2 pai kasana lagi ni? awak nio juo pai samo2 uni?
    heheh

    BalasHapus
  13. Akhirnya ceritanya sudah sampai di Padang.. Besok cerita kopdar dengan Ferdi ya mbak..?
    Ditunggu lho kelanjutannya...

    BalasHapus
  14. besok pagi ke Riau lagi ya Mbak.. :D

    BalasHapus
  15. kapan ke jakarta mba ??
    kalo ke jakarta kita ketemuan ya hehe... ^_*

    BalasHapus
  16. wah, kok aku mo koment bingung ya mo ambil bagian mananya.....hehehehehe...
    cerita perjalanan yang asyiiik wes naz... :-)

    BalasHapus
  17. ditunggu kisah2 selanjutnya... :-)

    BalasHapus
  18. hayaaaa smua mengharap kopdar dng anaz,pun aku...hiks yg deket pun lom kesampaian kapan y naz...susah bnget nentuin waktunya cuti kita gak sama itu masalahnya

    BalasHapus
  19. salam sobat
    wah jadi pingin ke Padang,,seperti apa ya, ,,
    siip banget mba ,,kisahnya.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P