Tak Ingin Mengenali Kucing Lagi Tapi...???

Masih inget, dengan cerita "Akhir Dari Pertemuan...???" Kisah tentang persahabatanku dengan seekor kucing, sampai ia mati dan akulah yang menguburkannya dengan berlinang air mata. Sejak saat itu, aku kembali berburu dan mencari kucing baru. Setiap kucing yang melintas dan berkelamin jantan aku berharap ia akan menjadi sahabat baru. Tapi, sayangnya setelah berkali-kali mencari dan menunggu akhirnya, aku ditemukan lagi dengan kucing betina. Fiuh... Nasib.. Nasib.. Padahal, pernah sekali ada kucing yang bagus rupanya, cantik bulunya jantan kelaminnya ia singgah di belakang rumah. Sayang sekali, rupanya ia adalah peliharaan orang :( Dan, aku kembali berkutat dan ditemukan dengan kucing betina, yang sungguh luar biasa cerewetnya.
Sewaktu kucing hitam masih hidup, sebetulnya kucing yang sekarang, dulu ia selalu datang. Tapi, aku selalu menghalaunya. Menurutku, juga keluarga majikanku kucing itu terlalu cerewet. Bising, mengeong kesana kemari. meskipun, ia sudah diberi makan. Aku sering kesal dibuatnya. tapi, yah itu tadi, mungkin sudah nasib dia, dan nasib aku untuk memeliharanya. Akhirnya, dia betah di rumah majikanku. Dan, kebetulan, kucing itu lagi hamil. Bakaln repot lagi aku dibuatnya kalau sudah melahirkan. Sekembalinya aku dari Sumatra bulan lalu, tepat sehari aku baru di Malaysia sang kucing melahirkan anaknya. (Kenapa nggak ngelahirin dari kemarin2 yah...??? pikirku, saat itu) Sewaktu aku sedang bermain dengan Amir, Arwa dan Aufa di belakang rumah tiba-tiba, ia berlari-lari ke dalam rumah, dengan membawa sesuatu di mulutnya. Aku kira ia seekor tikus. Jadi, aku menyuruh Amir untuk mengejarnya dan cepat-cepat menutup pintu. Sayangnya, terlambat. Kucing, sudah berhasil masuk ke dalam rumah. Setelah diamati lebih jauh, rupanya ia membawa seekor anaknya yang berwarna putih. Tidak mau membiasakan kucing itu di dalam ruma, aku buru-buru mencari kardus, dan memasukan bantal kedalamnya. Kemudian, meletakannya di belakang rumah. Selang beberapa lama, sang kucing rupanya kembali melahirkan anaknya. Rupanya, tak hanya seekor tapi, sampai 3 ekor (Aku nggak tahu dimana dia ngelahirin. Tiba-tiba, dah bawa aja kebelakang rumah) Awalnya, sang kucing enjoy saja duduk di dalam kardus bersama dengan anak-anaknya. Dan, akupun kalau malam hari hujan akan memasukannya ke dalam rumah. Hingga suatu malam, aku lupa meletakan kucing itu di dalam rumah. Sampai keesokan harinya aku mencari-cari kelebat anak kucing tersebut tiada. Ada sedikit rasa bersalah. Apalagi, setelah Nini cerita katanya, malam sebelumnya, ada bunyi berisik anjing di belakang rumah. "Jangan-jangan, anaknya di bawa anjing." Pikirku. Sampai beberapa hari lalu, rupanya aku menemukan kucing tersebut di bawah lemari baju tak terpakai. Dan, hanya tinggal dua. Yang seekor lagi sudah tiada. Jangan-jangan, anjing memang membawanya... Susah payah, aku mengeluarkan anak kucing tersebut, mengembalikannya semula ke kotak kardus di belakang rumah. Tapi, lagi-lagi malam harinya sang ibu kucing membawanya ke dalam rumah, melalui celah-celah udara yang terbuka (tempat gosok baju, memang di buat sedikit terbuka) Aku kesal bukan main. Dan puncaknya adalah tadi, ketika pagi-pagi lagi-lagi, aku menemukan segala kotorannya, aku memaksa lagi, mengeluarkan anak-anak kucing tersebut. Sayangnya, induk kucing, lagi-lagi memasukan anaknya kedalam rumah, melalui celah yang biasa. Berhasil di bawa masuk, aku kembali mengeluarkannya. kemudia, ia kembali membawa anaknya satu lagi, ketempat semula, melalui tempat biasa juga. Tapi, sayang, ia tak berhasil. Anaknya terjatuh, yah, jatuh. Aku melihat sendiri anaknya terpelanting dari ketinggian. Astagfirullah... Aku diliputi rasa bersalah. Aku dekati induk kucing, kelihatannya, ia setres, dan langsung mengejar anaknya. Aku juga buru-buru keluar, melihat nasib anak kucing. Anak kucing tergeltak lesu. Napasnya tersengal-sengal, turun naik. Ada cairan yang keluar dari tubuhnya (aku rasa, sang anak kucing sampai terkencing-kencing saking takutnya). Karena dibatasi tembok tetangga, aku tak bisa mengambil anaknya. Seperti orang yang nggak waras, aku justeru memarahi induk kucing. Tapi, emak kucing tuh sayang banget sama anaknya. Lagi-lagi, dia membawanya naik keatas. Dan, sang anak kucing, lagi-lagi terjatuh. Masya Allah... begitu sayangnya induk kucing kepada anaknya. Aku kira, dia takut anaknya diambil lagi. Karena, merasa tak selamat ketika berada di belakang rumah. Lagi-lagi, aku mengeluarkannya. Memasukannya kedalam kotak kardus, menyelimutinya dengan kain yang sudah tak terpakai. Aku lihat, sang anak kucing masih menggigil tapi, ia sudah tertidur. Aku kira, sang induk tidak akan membawanya lagi kedalam rumah. Rupanya, perkiraanku salah. Sekembalinya aku dari kondangan tadi, aku buru-buru ke belakang rumah, melihat keadaan anak kucing. Rupanya, sang induk kucing kembali membawa anak-anaknya ke dalam rumah. Meletakannya di bawah almari yang sudah tak terpakai lagi. Pagi tadi, aku memang benci bukan main. Tapi, melihat gelagatnya, melihat caranya menyayangi anak-anaknya. Ada sedikit sentilan di hati kecil, "terkadang, naluri binatangmu lebih lembut berbanding manusia..." Subhanallah... Jadi terfikir, jadi tertanya-tanya "Sejak semakin banyak ditemukan bayi yang terbuang kini, semakin banyak pula, orang tua yang dibuang oleh anaknya. Innalillahi... Dunia tibalik, atau pemikiran manusia yang terbalik...??? Wallahu'alam."

22 komentar:

  1. Usul mb, untuk kucing pakai istilah 'bunting' aja. Kalaupun diterima..hehe.
    Benar mb, bahwa Dia tak henti2nya menyayangi kita dan menuntun kita, mengenal hal-hal yang baik, melalui segenap ciptaan-Nya.
    Btw,

    BalasHapus
  2. Subhanalloh..... Meski diriku nggak begitu 'cinta' kucing, namun kucingmu sungguh penuh pembelajaran untuk manusia2 sekarang NAz....

    BalasHapus
  3. Duh, Anaz sekarang 'jahat' ya postingan2nya bikin diriku sedih mulu... hiks...

    BalasHapus
  4. Pembelajran yang sangat bagus...

    Thanks ya Mbak atas pembelajrannya..

    BalasHapus
  5. Begitulah, bahkan seekor harimau-pun tak akan memangsa anaknya sendiri. Tapi manusia...?

    BalasHapus
  6. Tulisannya bikin 'ngeres' di hati mbak... :(

    BalasHapus
  7. Naluri binatang lebih "MURNI", jauh dari rekayasa dan tipu muslihat....

    Anak adalah amanah yang dititipkan oleh Tuhan, namun banyak yang disia-siakan....

    BalasHapus
  8. Hehehe, kucing itu selalu mengikutimu ya Na. Bersyukurlah, artinya Dia mmepercayakannya untukmu. Selamat berhari minggu na. Dengarkan Simfoni nYang Indah di blog saya ya.

    BalasHapus
  9. Eh..kok kita sehati ya? Sama-sama posting tentang kucing??

    BalasHapus
  10. hiks.. aku malah takut ama kucing.. (ssssst.. jangan bilang sapa-sapa yah??)

    BalasHapus
  11. kalau ane jadi ingat ama dosa waktu sd, kucing peliharaan ibu saya yang betina waktu dia hamil sering saya siksa, tapi dia gak melawan..terus gak lama malah dibuang dan anak yang dilahirkannya semmua mati. hiks....

    Namanya Pursy, semoga dia tak meminta balasan dengan perbuatan yanng saya lakukan.

    BalasHapus
  12. saya juga punya mbak kucing dan anjing yang sangat saya sayangi

    BalasHapus
  13. apalagi dirumah mertua wah ada puluhan kucinmg tuh

    BalasHapus
  14. walah kucing di tempatku genit mba, banyak suaminya bentar2 bikin anak mulu pusing yang ngusir hehe

    BalasHapus
  15. Subhanallah, aku suka kucing, pernah sampai 24 ekor, ibuku yang mengambil dijalanan, memandikannya, memberi makan, dan menyayanginya!
    pernah salah satu kucing yang manis dikasih adikku bedak....lucu...semua pada bersin..karena kucing berusaha menghilangkannya!
    kadang kita belajar dari binatang, karena kelakuan kita sangat keterlaluan dibandingkan binatang!~

    BalasHapus
  16. serius.... tadogak... alias kangen.. jiaahaa..
    mbka.. cobian shoutmix baru aku dunk.. ya...ya..ya... :D

    BalasHapus
  17. Hmmm inget kok tulisan Mbak Anaz soal Akhir dari Pertemuan. Hmm....sayang jg ternyata dengan kucing. Ada pelajaran yang menarik rupanya di akhir cerita. Mantab mbak.

    BalasHapus
  18. penyuka kucing neh mbak?? waahh.. kalo aku di rumah ga boleh melihara kucing neeehh :(

    BalasHapus
  19. sebuah pelajaran berharga,apapun akan dilakukan orang tua demi anaknya...ah soal kucing semenjak kucing kesayangan ku mati d depanku sampai buat aku sedih tak henti menitikan air mata semenjak itu pula trauma memelihara kucing walaupun aku sayang kucing tp takut di tinggalkan...

    BalasHapus
  20. Ehm..semoga saya bisa menarik pembelajaran dari kisah ini mbak. Terima kasih..
    Jadi ingat 'si putih' saya..

    BalasHapus
  21. hewan aja bisa menyayangi anaknya dengan begitu baiknya, kenapa manusia yang berakal pikiran malah menyia-nyiakan anak2nya.
    banyak manusia yang menjadi lebih buruk daripada hewan

    BalasHapus
  22. yup, dunia sudah makin edan!!!
    banyak pasangan yang begitu susah mendapatkan anak karena banyak masalah. sementara yang dipercayai punya anak, malah dibuang buang...

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P