5 Tahun Bekerja, Tidak dibayar Gajinya

Sebuah coretan, yang sudah lama terpendam dalam file document. Sebuah kisah, tentang wanita. bersyukurlah, wanita yang membaca kisah ini karena, aku yakin ia tak akan mengalami nasib seperti pada wanita yang aku tulis. Tulisan ini, sudah dari tahun kemarin tapi, baru kali ini di publish. Anaz ini, emang suka mbasi2in cerita. Semoga bermanfaat sahabat :)
Dalam sebuah seminar (ada dua cerita sebelumnya, di sini dan di situ :D) yang aku hadiri, aku memperhatikan gelagat seorang wanita yang aku rasa, ia berasal dari Indonesia. (soale, dalam seminar itu, kebanyakan orang Filipina, Myanmar dan Thailand) Wanita itu tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Meskipun kelihatannya sudah berulang kali untuk mengesat lelehan air mata tersebut, tetap saja air mata itu mengalir dengan derasnya. Sesekali, aku masih juga mencuri-curi pandang kepada wanita tersebut. Masih sama. Dengan air mata yang mengalir di kedua matanya. Timbul simpatiku. Andai Ia dekat denganku, mungkin akan kutanya gerangan apa yang membuatnya menangis. Aku berbisik, bertanya kepada temannya yang kebetulan duduk bersebelahan denganku. Katanya, wanita itu sedih, karena keluarganya di Indonesia terkena musibah gempa. Aku begitu penasaran dengan wanita itu. Ketika waktu istirahat tiba dan setelah aku ke mushola untuk menjalankan shalat duhur, aku menuju tempat makan. Ruangan nampak dipenuhi oleh para anggota seminar . Mataku memandang sekeliling, mencari tempat yang sesuai untuk duduk. Juga, mencari teman untuk mengobrol. Melihat meja di tengah, aku melihat wanita tadi. Sayang sekali, tempat yang didudukinya sudah tiada tempat lagi. Akupun menuju meja makan di tepi jendela. Tepat menghadap kolam renang. Selesai menjamu makan siangku. Aku berbincang-bincang sebentar dengan rekan di sebelahku. Dan, melihat ada kursi kosong di tempat wanita tadi, buru-buru aku menuju ke sana. Setelah permisi dulu dengan rekan sebelah tadi. Aku duduk tepat di sebelahnya. Basa-basi, kutanya namanya. Melihat lebih dekat wanita tersebut, aku lebih leluasa bertanya banyak hal. Tak juga nama tapi, juga asal usulnya. Postur badannya kecil bahkan, ia sangat kurus dengan memakai t-shirt kecil dan bercelana jeans. Rambutnya tidak lurus, pendek sebahu keriting kecil-kecil. Rahang pipinya begitu menonjol, kedua matanya cekung, garis-garis ketuaan mulai merayapi wajahnya. Nur Namanya, dari Sukabumi, ia berasal. Perbiancangan mengalir ringan. Aku bertanya, sudah berapa lama ia di Malaysia. Rupanya, sudah enam tahun. Dan, katanya, ia tak pernah pulang. Matanya mulai berkaca-kaca. Kemudian, terciptalah cerita dukanya selama menjadi tenaga kerja. Aku terdiam mendengarnya, sambil sesekali menyela tanya, saat wanita tersebut bercerita. Kak Nur, aku memanggilnya. Ceritanya, sungguh membuatku geleng-geleng kepala. Ujarnya, dulu ia bekerja di sektor rumah tangga. Bekerja pada majikan beretnis China. Sudah lima tahun, ia bekerja, tapi, tak pernah sekalipun dibayar gajinya. Aku sungguh terkejut mendengarnya. Tak bisa membayangkan, bekerja selama itu, tapi tanpa mendapat gaji. Kak Nur pun bercerita, bahwa keluarganya yang di Sukabumi mendapat musibah gempa. Innalillahi... Sungguh musibah bertubi-tubi menimpanya. Aku menggenggam tanggannya, mencoba memberikan sedikit kekuatan. "Kak, Allah memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya." Kak Nur mengesat air matanya cepat-cepat. "Iya, kak Nur kuat. Allah sedang menguji kak Nur." Ujarnya. Aku juga menanyakan tentang pekerjaan majikannya. Katanya, majikannya membuka usaha sendiri. Dengan berniaga segala macam. Adakalanya, ia menjual makanan siap saji. Terkadang juga, majikannya tak bekerja. Sewaktu aku bertanya, tak pernahkah kak Nur menuntut gajinya? Kak Nur bilang, majikannya selalu berjanji hendak membayarnya. Banyak soalan kutanyakan, tentang makanan juga pekerjaannya. Inilah resiko terbesar ketika harus bekerja dengan non muslim. Tidak bermaksud SARA tapi terkadang, majikan tak segan-segan menyuruh pembantunya memasak daging babi. Ternyata, Kak Nur sudah memiliki dua orang anak dan suaminya juga berada di Sukabumi. Selama lima tahun tersebut, tak pernah sekalipun kak Nur menghubungi keluarganya di kampung. Bertanya juga, kenapa kak Nur tidak melarikan diri saja dari majikannya. Kak Nur menggelengkan kepalanya. Ia juga bercerita, kalau majikannya pernah memulangkannya. Tapi, rupanya hanya menipu. Kak Nur dipulangkan melalui laut. Dari pelabuhan Johor, sayangnya dari situ juga, penderitaan belum berakhir. Dengan beberapa orang rekan-rekannya kak Nur justeru tersesat selama tiga hari di hutan belantara. Tanpa makan dan minum akhirnya, kak Nur pingsan. Sungguh tragis! Dari situ, ada beberapa orang yang menolong. Dan dari situ juga, kak Nur diantar kesebuah lembaga NGO (Non Goverment Organization) yang melindungi hak-hak tenaga kerja, Tenaganita namanya. Dan kini, kak Nur sudah hampir setahun berada di sana. Berusaha menuntut haknya, juga berusaha untuk mencari jalan pulang. Anehnya, ketika masalahnya diajukan ke pihak KBRI, pihak KBRI tidak mengetahui apa-apa. Lagipun, secara hukum kak Nur kini tak memiliki identitas apa-apa. Ini lebih menyulitkan proses kepulangannya. Setelah menghabiskan makan siang, aku dan beberapa rekan keluar duduk di sebelah kolam. Kak Nur duduk tepat di sebelahku. Ini membuatku lebih leluasa bertanya banyak hal. Selama bekerja, apa majikan setiap tahun selalu memperpanjang permit kerja? Juga, apakah selama lima tahun di sana, kak Nur pernah memperpanjang passport? Jawabannya, kak Nur hanya geleng-geleng kepala. Dan menyalahkan diri sendiri. "Ka kNur nih, memang bodoh, orang miskin, nggak tahu apa-apa." ucapnya, mulai menuai kesedihan. Aku merasa bersalah telah menanyakan hal itu. Tapi, aku juga memberikan gambaran, passport pembantu, biasanya hanya berlaku sampai tiga tahun. Kenapa kak Nur tak menanyakan kepada majikan? kak Nur terdiam dan menggeleng kepala. Terkadang, pertanyaan seperti ini susah sekali ditemukan jawabannya. Kak Nur bekerja selama lima tahun tanpa memperolehi haknya. Bisikku dalam hati, betapa nasibku jauh lebih baik dari mereka. terimakasih ya Allah, syukurku tak terhingga. Gambaran tenaga kerja wanita, yang cukup menyedihkan. Meskipun tak semua bernasib seperti itu, tapi prosentasenya kalau dilihat semakin banyak. Kalau melihat data-data di KBRI terbaru, memasuki bulan Oktober 2009, sudah hampir mencapai seribu aduan. Mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, yang hanya mencecah sekitar 800an kasus. Kasusnya banyak yang serupa dengan kak Nur, Lagi-lagi menceritakan jelas, "Wajah Sebuah negeri"

24 komentar:

  1. itu si kak Nur kenapa sampe ga tau yang begituan? harusnya ada pelatihan ya supaya bisa ngurus2 sendiri.. kalo udah gitu kejadiannya repot kan yah..

    nah.. solusinya sekarang gimana ya? kalo saya belum bisa ngasih tau.. tapi hal yang mendasar adalah bahwa kak Nur itu WNI yang harus dilindungi oleh RI. Namun, tampaknya sulit untuk direalisasikan.

    BalasHapus
  2. Pemerintah harus segera bertindak nyata nih.

    BalasHapus
  3. Mungkin sulit, tetapi tetap tak luntur harapan, semoga beliau mendapatkan haknya. Ya, karena namanya hak. Sudah dari tahun kemarin ya. Semoga sekarang sudah mendapatkan.
    Oh ya, barusan lihat comment-nya. Salam persahabatan juga. Semoga selalu sehat.

    BalasHapus
  4. Ya, Allah lindungilah Mbakku yang bekerja di Malaysia. Mudahkanah segala urusannya. Dan semoga pemerintah Inodesia tidak menjadi tuli, atau pura-pura tuli. Amin...

    Tidak bisa membayangkan, Mbak, cerita temanmu yang mengerikan. Saya jadi ingat orang2 Madura yag banyak di Malaysia, meski bukan tetangga, palng tidak ada rasa tak terima bila saudara setanah air dilecehkan tanpa adanya upaya pembelaan...

    BalasHapus
  5. selamat pagi, kalau inyong pikir apa ngga sebaiknya menciptakan lapangan pekerjaan sendiri daripada pergi bekerja jau-jauh

    BalasHapus
  6. ga basi ko mas, klo menurut saya cerita seperti ini malah mengingatkan kita dan bisa menjadi pembelajaran buat kita semua...

    BalasHapus
  7. KEsalahan ada dimana ya? apakah penyalur tenaga kerja nya tidak pernah memberitahukan hal2 seperti ini

    BalasHapus
  8. maaf datang sekali lg buat klarifikasi mbak, saya benar2 minta maaf, sebelumnya saya juga pernah salah sebut mbak dipanggi mas...
    sekali lg mohon maaf....

    BalasHapus
  9. kalau samapai 5 thn kebangetan mba anaz,kalau saya sih udah ngamuk tuh

    BalasHapus
  10. wah 5 tahun ga di gaji????? ga kasian apa yah yg mempekerjakan..... moga2 cpt selesai n dapet gaji kan bisa buat mencukupi kebutuhan

    BalasHapus
  11. semoga bisa menjadi perhatian pihak-pihak terkait,,

    BalasHapus
  12. ahh..kasihan banget ya,..
    beliau memang orang hebat yang bisa menahan ujian berat seperti ini,

    BalasHapus
  13. semoga tidak sesuatupun yang tidak baik berkenan dengan dikau, yang sedang disana sahabat, semoge semua rancak, sihat , tak kurang apapun Semoga Selalu Dilindungi Oleh Nya

    BalasHapus
  14. innalillahiwainnailaihi rojingun, semoga ceriya serupa tak terulang lagi andai bisa berharap ...

    BalasHapus
  15. Moga saja peristiwa seperti yang Kak Nur alami tidak terulang pada TKI yang lain...
    hal ini butuh kepedulian pemerintah dan juga kesadaran para TKI yang akan bekerja di LN untuk melengkapi semua persyaratan Adm. serta memilih PJTKI yang resmi.

    BalasHapus
  16. Hmmm... Perlu penembak Jitu untuk Nembakin Pejabat-pejabat KBRI disana.
    Semua Mafia.....

    Ada gak yang mau nyari penembak Jitu.
    Mumpung masih geregetan nih.

    BalasHapus
  17. Duhh.. Sayangnya pemerintah kita terkesan lambat dalam menangani yg begituan yah :(

    Kalo kasusnya udah berat, TKI-nya dah masuk RS, ato dah ditayangin di tipi baru deh bertindak, ckckck.. Semoga lebih baik lagi deh entar..

    BalasHapus
  18. Numpang tanya, sebenarnya kak Nurnya itu hadir disana sebagai peserta di seminar itu Naz...? Kalau iya, kok bisa2nya ia mengalami hal seperti itu. Maksud saya, kalau sudah bisa ikut seminar sehartusnya beliau cukup melek untuk tau haknya. Yah, semoga saat tulisan ini muncul beliau (Nur) dalam kisah ini sudah menjalani kehidupan yang lebih baik, amin. Semoga kasus seperti ini tertanggulangi dnegan baik.

    BalasHapus
  19. Kalau kail panjang sejengkal jangan lautan hendak diduga...maksudnya, jika kita mahu pergi keluar negara (bekerja atau apa2?). Seharusnya lengkapkanlah diri dengan pengetahuan selok belok undang-undang dan hak2 kita supaya tidak menjadi mangsa kerakusan manusia tolol seperti apa yg terjadi keatas Mbak Nur...Syukur beliau sudah terlepas dr azab dunia dan harap memperoleh kehidupan yang lebih baik, kini...

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P