Menjawab Aprillins dan Newsoul

Dulu, beberapa bulan lalu saat aku posting "Rendahnya Kualitas Pembantu Indonesia di Malaysia" ada beberapa komentar yang ingin langsung aku jawab. tapi, sementara aku pending. Seperti Aprillins yang memberikan komentar seperti ini, "kalau saya kira kaitan antara kekerasan terhadap TKW di sana itu bukan karena kualitasnya yang rendah. Toh kalau kualitas rendah mengapa tetap dipakai? kan bisa dikembalikan kepada penyalur dan protes kepada penyalur, bukan dengan cara disiksa. Masalah kualitas dengan masalah kekerasan itu masing-masing memiliki lapaknya sendiri. Kalau kualitas TKW dari Indonesia rendah saya belum bisa berkomentar karena belum ada penelitian objektif tentang itu. Kan 1 atau 3 orang yang memiliki kriteria yang sama belum tentu mewakili sebagai kesimpulan."
Yah, mungkin aku begitu subjektif membuat penilaian. Tapi, coba lihatlah sekilas tulisan yang aku baca dari salah seorang sahabat facebook. JAKARTA- Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya tuntutan pembubaran terminal 4 mendapat tanggapan melegakan dari banyak pihak, terutama para pekerja migran Indonesia yang selama ini mengklaim sebagai pihak yang dirugikan dengan adanya terminal khusus kepulangan TKI ini. Seperti dilaporkan, konspirasi pemerasan disertai tindak kekerasan dan perlakuan tidak menyenangkan oleh oknum dalam dan luar bandara kerap menimpa para TKI. Di sini, aku juga menjadi korban. Silakan lihat, "Wajah Sebuah Negeri" Uji coba dilakukan mulai Februari, terhadap jalur kepulangan TKI dari Hongkong dan Taiwan. Alasannya TKI dari dua negara tersebut dinilai paling siap mandiri untuk pulang ke daerah asal mereka. Dibanding, TKI asal negara lain. Demikian Menakertrans Muhaimin Iskandar seperti dilansir berbagai media nasional baru-baru ini. Lengkapnya, baca di sini yah... Pertanyaannya, kenapa hanya dua negara saja? Dan pengecualian itu, adalah untuk TKI dari Malaysia dan Timur Tengah. Alasannya, TKI dari Malaysia dan Timur Tengah belum siap mandiri dengan artian atau sama dengan "Tiada kualitas" Jadi, bukan hanya aku yang membuat penilaian seperti itu. Kalau begitu, apakah penilainku terlalu subjektif...??? *Tanya Aprillins :D* Yah, memang mempunyai lapak masing-masing antara kekerasan dan kualitas itu sendiri. Tapi, apa dan kenapa tentu ada sebabnya. Untuk menjawab tulisan ini, sepertinya harus ada penjelasan yang lebih panjang. *Insya Allah, masih ada dalam draft-draft Anazkia* Dan, menjawab komentar mbak Elly pada postingan sebelumnya, tentang Kak Nur. Komentar Mbak Elly, Newsoul said... Numpang tanya, sebenarnya kak Nurnya itu hadir dis ana sebagai peserta di seminar itu Naz...? Kalau iya, kok bisa2nya ia mengalami hal seperti itu. Maksud saya, kalau sudah bisa ikut seminar seharusnya beliau cukup melek untuk tau haknya. Yah, semoga saat tulisan ini muncul beliau (Nur) dalam kisah ini sudah menjalani kehidupan yang lebih baik, amin. Semoga kasus seperti ini tertanggulangi dengan baik. Mbak Elly, ingatkah dengan postinganku, yang menceritakan tentang kedatanganku, pada sebuah seminar yang dalam forum tersebut menggunakan bahasa Inggris?*dan aku hanya mlompong kiong* Ingatkah tentang ceritaku, pada sebuah kisah, tentang 4 orang wanita, yang menari seblum acara dibuka? Ingatkah tentang tulisanku, yang mengisahkan 4 wanita, yang memperkanalkan diri saja, sedikit tergagap-gagap kata-katanya. Semua itu, ada pada tulisan "Rendahnya Kualitas Pembantu Indonesia di Malaysia." Mungkin mbak Elly ingat. 4 orang wanita tadi, adalah penghuni tenaganita. Mereka, sedang mengalami masalah dan disitu sedang berusaha menyelesaikan masalahnya. Ketika itu, ada lebih kurang 10 orang dalam NGO tersebut Yang datang 4 orang, satu diantaranya orang India. Kenapa mereka datang ke seminar? Mereka datang, adalah sebagai "contoh" TKI yang bermasalah. Ada 3 wanita Indonesia, Kak Nur dari Sukabumi, Buraen dari NTT (Nusa tenggara Timur) dan dassini berasal dari Cirebon. Jadi, selama seminar karena kisah Kak Nur banyak diperbincangkan oleh narasumber makanya, dia kelihatan sedih banget. Meskipun forum itu berbahasa inggris dan aku yang emang tulalit tapi, yah sedikit banyak, aku juga paham dengan apa yang dibicarakan. Kak Nur, aku yakin dia juga memahami apa yang dibicarakan narasumber.

6 komentar:

  1. Benar, kualitas satu dua orang belum tentu mewakili semuanya. Belum ada survei yang objektif mengenai ini.

    BalasHapus
  2. Kemampuan pembantu tak bisa digeneralisasikan dengan mengambil subyek sample yang terlalu sedikit
    mungkin perlu ada kajian lebih lanjut terhadap pandangan ini

    BalasHapus
  3. Oh iya ya Na, saya baru ngeh, Kak Nur itu contoh TKI yang bermasalah dari NGO tersebut. Subhanallah, Ana tanggap sekali dengan pertanyaan di tulisannya. Ini yang disebut memiliki tanggung jawab moral terhadap hal yang dikemukakan. Semoga kasus seperti yang menimpa Nur itu tidak terjadi lagi. Peyaki neh na, saya suka gak tahan kalau liat orang bertahan/pasrah dengan sikon yang ada (padahal sebetulnya dia bisa keluar dari sikon tsb kalau saja dia menguatkan diri), harap maklum ya. Terimakasih banyak atas penjelasan ini.

    BalasHapus
  4. Ehm, mantab Naz... :-)
    Cuman si APRILINSnya lagi sibuk kali yak, belum kesini... hiihihih

    BalasHapus
  5. Kalau pak Muhaimin Iskandar sudah menyampaikan demikian ya saya percaya saja.

    Kalau soal kekerasan dan kualitas memang punya lapaknya masing-masing.
    Begini, TKI yang berkualitas maupun tidak itu memiliki kemungkinan untuk menerima kekerasan. Kerja bagus, tapi kalau atasan jahat yaa kena.. kalau kerja jelek, tapi kalau atasan baik ya ga kena.. ada juga yang kerja jelek, dan atasannya juga jahat.. nah ini pasti kenanya parah..

    Kalau menanggapi tulisan "terminal 4 akan bubar" terutama 4 paragraf terakhir, penangkapan oknum itu belum menjadi solusi karena calon pengganti oknum tadi dimungkinkan juga bisa bersikap sama-sama jailnya.. Persoalannya belum jelas di mana letak error yang paling utama apakah pada oknumnya? apakah pada sistemnya? atau pada apa? Yang jelas TKI terkait dengan persoalan tersebut pasti dirugikan.







    note: hati-hati mafia.. jaringannya tersebar di mana-mana

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P