Tatkala Embun Senja Menyapa

Minggu-minggu terkahir, cuaca di Malaysia begitu panas bahkan, sangat panas. Mungkin ini akibat dari global warming yang selalu didengungkan. Subhanallah... Siang hari, panasnya betul-betul menyengat. Saat di dalam rumah, aku mencari baju dan kerudung yang sudah belel. Tahun baru China, biasanya keluarga majikanku mengadakan famili day. Tapi, tahun ini dibatalkan, karena ibu majikanku sedang sakit. Sabtu malam 13 Februari salah satu adik majikanku datang beserta dengan keluarganya. Beberapa hari setelah memposting tulisan "Diam" aku memang tidak menyentuh blog. Niatnya, ingin berehat sesaat. Tapi, nasib berkata lain. Sejak hari sabtu sampai selasa aku cukup sibuk. Apalagi, hari senin malam di rumah majikanku mengadakan doa selamat dan memanggil seluruh anggota keluarganya . Hari itu, selain panas juga betul-betul menjadi hari yag cukup lelah. Jangankan untuk posting, membuka laptoppun sudah tak minat. Masuk ke kamar, langsung terkapar tidur.

 
Rabu, 17 Februari. Mendung menyapa pagi. Aku kira ia hanya sesaat tapi, rupanya ia sampai ke petang. dan, sorenya hujan melimpahi bumi yang kupijak. Meskipun tak begitu lebat, ia cukup membasahi tanah-tanah tandus yang kering dalam beberapa hari. Juga, menyuburkan kembali rumput-rumput yang terbiar tak terurus. Sorenya, ketika aku ke belakang rumah aku menghidu bau masa lalu. Masa di mana aku kecil, masa di mana aku dibesarkan. Bau sisa hujan itu menyelubungi seluruh ingatan. Ingatan akan kejadian beberapa tahun dahulu yang masih indah tersimpan di benakku.

Tatkala kecil-kecil dulu saat aku berada di kampung halaman setelah hujan adalah masa yang kami nantikan. Beramai-ramai dengan teman sebaya, aku menyusuri pinggiarn sungai. Menyelinap di sela-sela pohon mawar liar kami memetik bunganya juga, mengutip capung yang hinggap di dahannya. Tak pelak, embun-embun yang bergayut di sela-sela pohon membasahi kepala juga baju kami. tapi, itu tak menyurutkan niat kami. Kami terus berburu, mengejar capung-capung yang sedang tertidur dan bunga-bunga mawar liar yang mekar. Sungguh kenangan yang indah.

Kemudian, kami akan pulang sambil menabur bunga mawar di tepi-tepi jalan. Lantas segera pulang ke rumah, untuk membakar capung-capung di tungku api dapur rumah masing-masing. Sore itu, kami menikmati kudapan capung bakar. Rasanya tak berapa sedap tapi, kami dengan senang hati tetap memakannya. Jangan berharap setelah itu mendapat secangkir teh manis atau kopi apatah lagi susu. Karena minuman kami adalah, teh pahit setiap harinya. Gula, hanya didapatkan ketika nenekku mempunyai lebih uang. Atau aku meminum susu saat ibuku baru pulang dari perantauan. Saat sorenya kami memakan capung bakar, esok paginya kami akan bangun tidur dengan mata susah sekali untuk dibuka. Entah apa yang terkandung di dalamnya, setiap memakan capung pagi harinya mata kami rapat seperti orang sakit mata. Tak hanya mengejar capung, terkadang kami juga berlarian di kebun orang yang memiliki pohon alpukat. Setiap hujan lebat dan angin hebat, pohon alpukat yang berbuah lebat sering berjatuhan. Tak jarang, kami berebut. Tapi tak menjadikan kami ribut.

Sesekali kami hanya memamerkan jenis alpukat yang didapat. Adakalanya, kami mendapatkan alpukat yang sudah masak,juga alpukat yang sudah tua. Hidup di kampung, mengajari kami betul-betul bersahabat dengan alam. Dengan menggerakan buah alpukat ke atas dan kebawah saat bijinya berbunyi maka, itu menandakan kalau alpukat sudah tua. Masa lalu, masa yang paling jauh dan aku tak mampu untuk kembali kesana. Tapi, aku hidup dari masa lalu dan masa lalu menjadi penumpu pada masa depanku.

Sekarang, aku tak mau dan tak akan lagi berburu capung untuk di bakar apalagi, dimakan. Tapi, dulu aku melaluinya. Terkadang, kekurangan diri mengajari banyak hal untuk lebih memperkaya diri. Ketika aku tak mampu kembali ke masa lalu tapi kini masa lalu mengantarku pada cerita di sebuah blog, juga berbagi kepada sahabat semua. Dan, ketika aku tak mampu menjamah masa lalu saat telah tertinggal tapi, tidak dengan blog yang kadang kutinggal. Kemarin, aku "Diam" Tapi, kini aku bercerita dan Alhamdulilah, aku baik-baik saja.

Berkat do'a sahabat blogger semua. Sejak hari selasa16 Februari, internet di rumah tidak bisa diakses (bukan karena nggak bayar) beberapa hari lalu aku online nebeng intenet tetangga. Mungkin, postingan ini juga menunggu internet tetangga dibuka :D jadi, aku buat dulu nalam notes, baru di posting kalau inet dah nyala. Mohon maaf belum bisa BW. Terimakasih kepada sahabat blogger semua yang telah menanyakan khabar :) Alhamdulilah, aku baik-baik saja. Juga ada sedikit yang bertambah di blogku. Aku memasukan nuffnang ke dalam blogku (belajar cari duit) juga, ada banner Klub Buku Online (bukan aku yang buat). Insya Allah, khabar terbaru KBO akan segera terupadet.

17 komentar:

  1. Kalo aku biasanya habis hujan terus kesungai mancing jika sungainya ga banjir.

    kalo banjir yah ga jadi mancingnya,,,,ikannya pada ngumpet dunk.

    BalasHapus
  2. oohh..pantes gak pernah keliatan mbak..

    BalasHapus
  3. nunggu kabar terbaru ajah deh..
    hihi... :D

    BalasHapus
  4. Ternyata ini sebabnya mbak anaz jrng nampak..
    Apa kbr Mbak?

    BalasHapus
  5. capung dibakar?..kasian amat itu capungnya, naz....
    rasanya apa ya..??

    eniwei suasana sehabis hujan, bau tanah basah krn hujan...sedappp ya, naz...hehehe

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah bila dirimu baik-baik saja na. Hujan dan kenangan indah masa kecil, bagian dari kehidupan kita. Saya juga punya banyak kenangan indah dengan hujan ketika kecil dulu. Semoga akses internetnya normal kembali ya.

    BalasHapus
  7. Yah semoga internetnya segera lancar. Pantas di list tidak keliatan..

    BalasHapus
  8. mba....iya ini malaysia keknya panasnya melebihi jakarta ya???tapi alhamdulillah tadi sore JB hujan, jadi lumayan adem.................

    BalasHapus
  9. iya neh, sempet terpukau dengan tampilan nufnangnya Naz... heheheheh
    moga lancar dan sukses naz blognya... dan syukur deh dikau baik2 ajah, sempet khawatir dikau ntu sakit, ntar buwel nggak ada yang mbawelin lagi... hihiihi...
    Dan, ehm... jadi pengin mkan capung... :-)

    BalasHapus
  10. Capung bakar? Hmmm, pengen nyoba juga hihihih

    BalasHapus
  11. memang apapun kondisi langit selalu memberi inspirasi ya sob,..hehe

    BalasHapus
  12. banyak teman-teman yang mengeluh ya kalau disana sedang panas, tidak ada hujan turun. Kebalikan sama di indo hampir tiap hari hujan turun. Smoga cuaca yang panas tidak diikuti dengan hati yang panas

    BalasHapus
  13. capung bakar?? huwahhhhh bayangin aja jijik mbak. rasanya spt apa mbak?

    BalasHapus
  14. Panas ni pun ujian Allah. Bayangkan di neraka kepanasannya 7000 x daripada kepanasan api yg terpanas di dunia.

    BalasHapus
  15. netnya moga sehat selalu
    hehehehe............

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P