Bait-bait terakhir yang dibacakan pada pentas teater musical "Antara" di Istana Budaya sabtu lalu. Inilah pertama kalinya aku menyaksikan teater dengan skala yang cukup besar. Dulu, saat di Rumah Dunia aku sering menyaksikan teater adik-adik kecil yang lucu. Dalam ruangan yang terbuka dan di bawah pohon-pohon dengan kerindangannya. Cukup exited ketika sudah berada di sana. Ndesoni banget aku :D sekurang-kurangnya azam untuk menjejakan kaki di Istana Budaya terlaksana. Alhamdulilah...
Teater ANTARA diterbitkan dalam rangka memperingati Maulidur Rasul. Teater musical ini menampilkan beberapa artis negara juga penyanyinya. Menceritakan tentang kisah Adam dan Hawa yang diturunkan ke dunia karena perbuatan dosanya. Tak hanya itu, isi dari tema teater tersebut adalah semakin banyaknya penyelewengan-penyelewengan para generasi muda pada adat dan budayanya. Yang secara sadar atau tidak telah terjajah pikirannya oleh pihak-pihak tertentu. Hampir dari setiap adegan pada setiap akhirnya akan diikuti dengan nyanyian yang sudah ditentukan dengan konsepnya.
Aku pribadi lebih tertarik kepada audio visual yang ditampilkan pada setiap babak. Juga paparan panggung yang membuatku terkagum-kagum (secara, aku wong ndeso jadi ngelihat yang kek githu yah mlongo :D) Karena, dari awal ditampilkan aku sudah seksama memperhatikan satu demi satu paparan yang ditampilkan. Misalnya, ketika mula-mula ditampilkan seorang pria mengantarkan sebuah prolog bahwa ia diciptakan adalah sebagai khalifah di muka bumi (Adam) layar panggung masih ditutup tirai dan lampu dipadamkan. Sementara, hanya ada lampu besar saja yang hanya fokus ke lelaki tersebut.
Kemudian, setelah itu layar dibuka dan menampilkan sebuah istana kerajaan iblis. dengan cahaya lampu remang-remang (waktu teater main, kita nggak boleh ambil gambar) Lengkap dengan beberapa pasukan setan-setannya. Dialog dari iblis cukup mengelitik hati, di mana dia bersumpah atas nama Tuhan untuk menganggu keturunan Adam sampai akhir dunia kelak. Mungkin, kita sudah biasa mendengarnya. Setelah sang Iblis marah dan beralih ke adegan lain, kemudian layar ditutup lampu digelapkan dan tampilah sebuah nyanyian. begitulah, berselang seli setiap babak. Lagi-lagi, aku memikirkan cepatnya mereka menggantikan paparan panggung (bahasa yang tepat apa sih..??)
Sebetulnya, tidak usah begitu heran ketika menyaksikan persembahan di Isntana Budaya. Karena di situ sudah memasuki standar isnternasional. Tak heran ketika segala sesuatunya hampir lengkap di mataku. Dan, yang lebih salut ketika pada adegan terakhir. Tentang akhir dunia, juga tentang titian sirat. Sebuah jembatan dan dibawahnya gambaran neraka (yang di bawah situ adalah para pemain latar yang menggerak-gerakan kain rentang besar dengan cahaya remang kemerahan.. hihihi.. bener nggak yah pandangan aku?) satu demi satu, manusia-manusi melangkah tak semua sampai ke tujuan. Ada yang baru beberapa langkah ia terjatuh. Ada juga yang sudah setengah jalan ia terjatuh. Memiriskan hati, membayangkan diri nantinya.
Meskipun ia bagus pada persembahan dan tema yang diambil tapi, ia masih ada kekurangan menurutku sebagai bukan seniman. Ikhtilat (bercampurnya lelaki dan wanita) pada adegan para pemain latar membuatku berkerut kening. Tapi, dari awal aku memaksakan diri bahwa pemain latar adalah sebagai pelengkap saja. Tanpa mereka, mungkin jadi hambar. Dan, sound systemnya kayaknya terlalu besar yah? telingan sampe sakit. Apalagi, pas lagu Laskar Cinta sewaktu menggebuk drum keras banget.
Nasha Aziz pemain Hawa
wooooowwww,
ReplyDeleteاللهم صل و سلم و بارك على سيدنا محمد وعلى آله و صحبه أجمعين
(copas frompartelon)
Allohumma Sholli Wa sallim 'alayhi
ReplyDeletewah tata cahaya lampunya bagus ya
ReplyDeletetes komen
ReplyDeleteadegan ikhtilat-nya kok ga di postingin yahh??? jadi penasaran nih..
ReplyDeleteAssalamuaalaikum naz..syukur keinginan nginjakan kaki bahkan bs nonton teater di istana budaya bs terlaksana,napa km gak PD saat berfoto ama artis malaysia,penasaran pingin liat
ReplyDeletehoho.. mantap naz! thanks telah berbagi.. mm kapan yah punya duit bisa kesana? hiks..
ReplyDeletealangkah menyenangkannya bisa menyaksikan sebuah pentas seni...nice
ReplyDeletesuatu pertunjukan yang pasti dipersiapkan dengan matang.
ReplyDeletesaya suka dengan biru dan hijau di situ..bercampur padu.
wah,senangnya bisa nonton teater apalgi dalam skala besar.
ReplyDeletessttt,..jaman SMU dulu aku ambil eskul teater dan beberapa kali ngadain pementasan di kota kami loh mba hehehe... :P
* memorian ahhh.... hehe
Wah, asyik banget nonto teater. Jadi kepengen juga Mbak..
ReplyDeleteAku baru tahu lho, kalau Mbak ternyata termasuk anggota komunitas Rumah Dunia. Makanya pinter nulis....
Lightingnya emang tampak oke banget tuh mbak.. dan dari cerita mbak Ana emang tampaknya pertunjukan itu dipersiapkan dg matang ya?
ReplyDeleteAku baru sekali nonton pementasan teater waktu kuliah di Yogya dulu mbak..., kalau di Madiun sih sampai sekarang gak ada pementasan teater spt itu hehehe
ReplyDeletemba tukeran link ya, linknya sudah saya pasang tp masih nofollow, klo berkenan konfirm ya...
ReplyDeleteAsyik ya na nonton teater. Itu memberi makanan buat jiwa (mengasah otak kanan). Membaca postingan ini membuat saya jadi tau, sedikit, tentang Istana Budaya. Nice post na.
ReplyDeleteyang pemain Hawa itu mirip bunga citra lestari sekilas, hahahahahaha....
ReplyDeleteasyiknya nonton begituan... pasti seru ya... :)
mbak anaz apa kabar? main2 ke blog aku yach, baru update soalnya.. (halah)
met siangh semuaaaaaaaaaaaa
ReplyDeleteayo istirahat makan dulu
Belum pernah liat pentas seni semacam itu. Jadi ingin lihat sekali-sekali.
ReplyDeleteThanks for sharing ya :)
weeeh... emang keren bngt kata2 pembuka itu.
ReplyDeleteJadi pengen nonton, Na. Review kamu bagus. Dan setuju dgn Kang Sugeng, kata-kata pembuka postingamu di atas, potongan kalimat di teater, suka sekali.
ReplyDeleteMampir lagi mbak ...
ReplyDelete