Ketika Korupsi dijadikan Inspirasi

Kata menantu majikanku, wajahku menampangkan wajah lugu wajah yang mudah ditipu. Entah kebenarannya, buatku mungkin kata lugu lebih mengarah kepada wajah "kampungan", "ndesani" "ndesit" atau apalah namanya. Kampungan, dalam kamus besar bahasa Indonesia, a 1 ki berkaitan dengan kebiasaan di kampung; terbelakang (belum modern); kolot; 2 ki tidak tahu sopan santun; tidak terdidik; kurang ajar;. Melihat artinya, sepertinya aku tak seberapa kampungannya. Apapun pandangannya, aku tetaplah aku yang harus pandai mebawa diri di manapun.
Dari kampungan aku menyelak lembar halaman ingatan sosiologi yang dulu aku pelajari ketika kelas 3 Aliyah. Dalam buku sosiologi terbitan Erlangga dalam bab strata sosial, ada 3 bentuk piramidnya (tapi, barusan aku buka wikipedia kok tambah pening yah lihat strata sosial) yaitu, hight class, midlle class dan lower class. mereka dibagi berdasarkan keturunan, kekayaan tinggkat pendidikan juga penghasilan. Meskipun dalam Islam sendiri tak mengenali strata sosial. Karena di dalam Islam, semua makhluk-Nya adalah sama yang membedakan hanya keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Secara teorinya, aku mungkin memasuki strata nomor 3. meskipun, aku sendiri tak pernah mempedulikan itu semua. Jadi, betul kalau ditarik masalah dari awal, lugu, kampungan dan kelas rendah. Right! setuju! Atau mungkin tukang becak, pekerja bangunan dan tenaga-tenaga kerja tanpa ahli juga menduduki strata nomor 3. Sekali lagi, aku tidak membincangkan secara agama tapi, hanya teori semata. Meskipun dari latar belakang yang beda, status yang berbeda tapi hakikatnya kita memiliki tujuan yang terkadang "sama" Tujuan hidup ingin bahagia, ingin mempunyai lebih sedikit harta, ingin menikah dengan orang yang kita cintai (ini masuk konteks gak yah..??? hahahaha...) ingin mobil yang sederhana dan keinginan-keinginan tujuan lainnya. Yang pastinya, meskipun beragam keinginan tapi, masih pada tujuan yang sama yaitu, memperoleh kebahagiaan di dunia. hanya saja apa dan bagaimana meraihnya, itu konteks lain pula. Untuk yang sudah biasa dan dilahirkan dalam "kutukan" keluarga kaya mungkin mereka bisa saja hidup senang lenang tanpa harus banting tulang. Lain dengan orang-orang yang lahir dalam ekonomi kekurangan terkadang, untuk mencari sebutir nasi seharipun, harus bekerja keras membanting tulang. Kayak kuli bangunan yang harus berpana-panasan. Kayak tukang becak yang nggak jauh beda kerja kerasnya sama kuli bangunan. Gak usah dicontohin lagi kali yah...??? :D membicarakan tukang becak, sebenarnya aku mau mengajak sahabat kepada sebuah cerita. cerita tentangku, yang katanya gadis berwajah lugu dan mudah ditipu :D *pengen ngakak kok yah gak pantes* OK, kembali ke cerita. Pada akhir November 2007, aku pulang ke Indonesia. Karena berasal dari dua buah daerah dan aku seorang warga urbanisasi di kota Cilegon maka baru seminggu aku di sana aku harus kembali melakukan perjalan ke pulau jawa. Tepatnya, Jawa Tengah di kota Pemalang) eh, Pemalang emang kota yah? kayaknya belum deh, apalagi kampungku :D. Jarak Cilegon Pemalang, cukup jauh sekitar 12-13 jam kalau naik bis. Sekalian dengan singgah-singgahnya. Maka, hari itu berpetualanglah aku seorang diri dari kota Cilegon menuju tempat kelahiranku , Pemalang. Aku pernah beberapa kali pulang sendiri tapi, nebeng sama tetangga kampung. Jadi, yah nggak sendiri-sendiri amat. Yang susahnya bis dari Cilegon tidak ada yang turun di Pemalang, biasanya langsung ke Wonosobo, Banjarnegara *eh, jadi inget someone :D* atau nggak paling banter aku harus turun di Tegal. Dan, lebih nggak enak lagi bisnya itu selalu adanya sore hari. Intinya aku melakukan perjalanan malam hari seorang diri. Agak takut-takut ketika tengah malam aku diturunkan di depan terminal Tegal. Ingat, di depan bukan di dalam terminal. Sebetulnya, jaraknya nggak begitu jauh untuk masuk ke terminal. kalau berramai-ramai aku selalu jalan. karena seorang diri maka aku beranikan aja untuk menaiki becak. Karena tengah malam, suasana cukup lengang dan sepi. Aku tidak begitu mengenali keadaan di situ. Saat tukang becak menanyakan dan menawarkan "Mbak, ke terminal lama aja yah, di sana bis yang ke Moga cepat dateng?." Mendengar bisanya cepat dateng aku mengiyakan saja cadangannya. Aku menanyakan juga, seberapa jauh jarak dari sini ke sana. Katanya, dekat saja. Dari Tegal, aku harus menaiki bis lagi menuju Moga, kemudian baru dari Moga aku menaiki angkutan kecil ke kampungku. Maka jadilah, plesir di malam hari dengan menaiki becak dengan jarak antara terminal baru dan terminal lama. Jam satu dinihari. Ada takut yang timbul sedikit khawatir mulai muncul. beruntung, tukang becak itu baik kita mengobrol banyak hal. Aku juga kerap menanyakan, "taksih tebih pak?" (masih jauh pak?). Katanya, "Sebentar lagi mbak di sana." Sungguh sosok seorang ayah yang hebat tengah malam di saat anak dan isterinya tertidur lelap ia masih mencari rizki. Akhirnya, sampailah aku di tepi jalan. Gambaran terminal yang diucapkan oleh tukang becak layu sudah. Ini bukan terminal, ini hanya tepian jalan raya besar. Aku protes, aku kesal aku juga marah. "Pak, kok di sini? Katanya mau dianterin ke terminal?." Masih menggunakan aksen jawa halus. "yah, ini khan terminal lama mbak." menjawab, menggunakan bahasa Tegal "Bapak punya anak perempuan nggak? Khan saya takut di sini, tengah malam lagi?!." Suaraku mulai meninggi. Bukannya apa, aku sebetulnya dikecam rasa takut. Sebetulnya, di situ tidaklah sepi tapi, meskipun sesekali masih ada orang yang lalu lalang tapi, aku dicengkam ketakutan juga. "Iya mbak, lagian saya nemenin di sini sampai mbak dapet bis." Aku masih kesal. Aku diam saja, membiarkan sang tukang becak duduk di atas becaknya. Dan aku duduk di bawah entah pohon apa. Masih tengah malam, bis yang aku tunggu tak juga datang. Aku, lagi-lagi protes dengana bapak tua tadi. Sebetulnya, antara tega dan nggak tega tapi, melihat situasi aku benar-bear kalut. Makanya jadi marah-marah melulu. "Kalau bapak turunkan saya tadi di terminal, khan saya bisa minum atau makan di sana." Kataku mulai egois. Mementingkan diri sendiri. Lama kelamaan, sepertinya tukang becak merasa tidak enak. Dan aku akhirnya kembali meminta diantarkan ke terminal Tegal. "Pak, kalau tadi nggak ke sini khan bapak nggak cape." Kataku setelah kembali melaju di tengah malam buta menuju terminal Tegal baru. "Yah, nggak apa-apa mbak. Toh saya sudah biasa menarik becak dari Tegal ke Pemalang." Mendengarnya, hatiku gerimis. Tegal-Pemalang bukan jarak yang dekat kalau ditempuh dengan sebuah becak. Betapa hebatnya lelaki ini. Lagi-lagi hanya untuk memenuhi suap demi suap nasi anak dan isteri. Akhirnya, kami sampai juga di terminal Tegal baru. ketika aku menanyakan berapa banyak yang harus aku bayar, ternyata uang kecil di tasku tak cukup. Kalau tidak salah, aku hanya memiliki uang Rp.30.000 (30 atau 20 aku lupa)karena kurang, aku menukarkan kepada pedagang kopi. Aku mengulurkan uang itu, kubarengi dengan ucapan maaf. Tukang becak menerimanya, sama-sama juga meminta maaf dan berlalu di depanku. Ada kemirisan melihatnya, ada tangisan saat mengingatnya. Lelaki itu, bertelanjang kaki, lelaki itu memakai topi dengan baju pendek dan celana pendeknya ia mengarungi tengah malam buta dengan menarik becak untuk sesuap nasi. Langkahnya meninggalkan jejak kaki telanjangnya. Aku dibuai duka melihat jejak itu, aku melihat sengsara pada sisa langkah lelaki itu. Duka wajah bangsaku juga duka wajahku sebagai anak bangsa. Rasa tak pantas, ketika aku tadi harus berbicara tinggi padanya. Sebuah pengajaran kecil berharga bahwa sedikit apapun yang kita punya seharusnya harus disyukuri. Dan sebesar apaun cobaan-Nya sudah sepantasnya kita bersikap sabar. Aku yakin, niat tukang becak tadi adalah mencari rizki dengan usahanya. Tapi, dengan caranya yang menghalalkan segala cara, membuatku bertanya "inikah korupsi kecil, dari warga kecil?" Alangkah indahnya ketika tiada kesenjangan sosial dari masyarakat kita. Alangkah indahnya, ketika zakat yang kaya mampu menyentuh para fakir miskin dan lainnya. hanya inspirasi untukku kembali menuliskan kisah ini sebagai bahan mengikuti kontes blog, cerita inspirasi anti korupsi. Tidak semestinya berwajah lugu itu menampilkan keluguan. Tak semestinya kampungan itu terbelakang, kolot dan tidak berpendidikan. Kalau ada tukang becak tadi, mungkin ada yang lebih besar-besar lagi. Tentunya, dengan skala yang lebih besar. Dan yang besar tadi, apa tidak lebih kolot, terbelakang dan tidak berpendidikan ketika mungkin, mereka "merampas" hak tukang becak tadi?. Juga keseimbangan antara mencari untuk dunia juga akhirat. Wallahu'alam Sungguh betapa besar manfaat ilmu, iman dan amal. Ya Allah, ampuni kami hamba yang lemah ini :( Kamus bahasa dari sini

23 komentar:

  1. sebaiknya, sebelum bepergian diperhitungkan masalah waktu, kira-kira sampai tujuan jam berapa, apalagi jika sendirian.Alangkah lebih baik dan amannya, jika ada yang menemani terlebih teman itu adalah mahram ukhti, bagaimanapun waspada dan hati-hati jauh lebih penting.

    Oh ya, soal menyembunyikan gambar dalam spoiler, sebaiknya baca petunjuknya lansung di blog bang Hendro ( http://hendro-prayitno.blogspot.com ) karena saya dapat ilmunya dari sana.

    BalasHapus
  2. @Nuansa pena, betul mas. Niatkan untuk sedekah

    @Abi Sabila, :) syukron jazakumullah atas koreksinya.

    BalasHapus
  3. wakakakkaka... awalannya lucu banget sih naZ...hihihihi

    BalasHapus
  4. Ehm, sebenernya maksud tukang BECAK itu bener NAZ, memang kalo di terminal lama, yang sekarang udah berubah menjadi MALL, itu memang banyak bus yang ke jurusan moga, tapi biasanya SIANG... Entah kalo malam :-D
    Dan ceritanya bener2 menggelitik NAZ... :-)
    Dan moga menang... :-)

    BalasHapus
  5. owh githu ya? bener2, di depan mall. Anaz inget hehehe... Moga nanti ke sana nggak nyasar lagi.

    BalasHapus
  6. Berprasangka baik aja An, mungkin tukang becaknya yg lugu, ga tau kalo bisnya kalo malem ga lewat situ...

    BalasHapus
  7. itu...brp tahun yg lalu, naz...??
    bener kata buwel...terminal lama udah berubah jd mall...
    kenapa gak tlpn buwel aja...kan bisa ditemenin hehehe....

    *semoga Engkau muliakan rezeki pd bapak tukang becak tadi ya Allah...hikz...kacian aku...

    BalasHapus
  8. bener naz
    koruptor itu kolot
    dalam pikiran dan hati nurani

    BalasHapus
  9. ahh..kasihan banget bapak becaknya..
    ngomong2 korupsinya bagian mana sih mbak? aku bingung, hehe

    BalasHapus
  10. Mbak ceritanya menggelitikku...
    Aku jadi membayangkan si tukang becak itu mbak..., yg tetap nggenjot becaknya di pagi buta sementara orang lain sudah terbuai mimpi...
    *sedih mode on*

    BalasHapus
  11. Ikutan kontes juga ya mbak..? Semoga menang deh... Semangat ya...

    BalasHapus
  12. Saya kagum dengan kesabaran tukang becak itu. Begitu luhur..

    BalasHapus
  13. salut dengan tukang becaknya mbak... walau kena marah tetapi mau menerimanya dengan ikhlas... moga berhasil dengan kontesnya ya...

    BalasHapus
  14. ini entri untuk kontestkan. Semua sukses ya.

    BalasHapus
  15. Bismillah ... semoga yang ini masuk.

    Aduh malem banget, Na. Perjalanannya lumayan panjang, ya. Jadi kebayang sama si abang becak. semoga berkah buatnya, juga buatmu, Na.

    Satu lagi, semoga kontesnya sukses ya.

    BalasHapus
  16. Wah, kisahnya menarik Mbakku..sarat hikmah dan pelajaran. Betapa setiap jengkal perjalanan mestnya selalu diindahkan, meski awalnya menyakitkan...

    Salam...

    BalasHapus
  17. waaaah ni artikel ikut lomba juga yaaa sama dunk sama artikel saya ikut lomba juga

    BalasHapus
  18. wajah lugu itu berarti jujur menurut saya. bukan kampungan atau bodoh.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P