Rizki Terbesar

Mungkin dulu aku menganggap, bahwa rizki itu hanya berbentuk materi, uang, mobil mewah atau apalah yang bersifat kebendaan. Mungkin dulu aku tak pernah menganggap, bahwa sahabat yang baik adalah rizki, bahwa orang mengingatkan juga adalah rizki, bahwa kebahagiaan adalah rizki, bahwa nikmat mendengar, melihat atau apapun panca indera juga merupakan rizki. Duh, rupanya, pendek sekali ruang lingkup rizki di mata kecilku. Mungkin dulu aku tak pernah berfikir bahwa rizki terbesar dalam hidup adalah sebuah kesehatan. Dengan rizki kesehatan, aku bisa mencari rizki materi. Ah, rupanya kesehatan adalah rizki termahal menurutku kini.
Kabut pagi belum sepenuhnya tersibak, lampu-lampu penerang malam belum semuanya terpadam. Pun dengan kicau buru-burung gereja, ia belum riuh memenuhi suasana. Baru jam tujuh pagi. Ibu menyuruhku membuka tingkap jendela. Menyibak horden, kemudian menggerakan anak kunci jendela, kubuka tingkap itu seluas-luasnya. Ibu segera menuju tepi jendela, menaikan kedua tangannya dan menggerak-gerakan semampunya. Di tambah dengan satu exercise-exercise kecil. Aku memperhatikan saja gerak-gerik ibu. Suasana sekeliling, kadang lebih menyita perhatianku. Menara kembar petronas yang tinggi menjulang, gedung-gedung tinggi yang berada tak jauh dan berjejer-jejer seolah saling menunjukan tingkat ketinggian, juga satu lagi menara Kuala Lumpur yang menjadi icon negara Malaysia tersebut. Aku merapat, mendekat tepat di sisi pintu jendela setelah ibu menyelesaikan senaman kecilnya. Aku masih memadang ke arah persekitaran. Kadang, dalam keadaan seperti ini, aku bisa menjadi lebih melankolis. Teringat kepada masa lalu juga keberadaanku di sini. Aku berada di tepi jendela, tepatnya di sebuah rumah sakit Kuala Lumpur. Semalaman, aku tidur di sana menemani ibu menggantikan anak-anaknya yang lelah menjaga beberapa waktu lalu. Ibu sudah mulai membaik (Ibu sakit apa sih Naz...??? baca aja di sini) Hanya tinggal menunggu penyembuhan luka saja. Berada di rumah sakit, kadang jenuh juga. Aku hanya mundar-mandir di area kamar saja. Beruntung, ketika mendapatkan kamar yang strategis tepat menghadap bangunan-bangunan kota. Sekurang-kurangnya, ia mengurangi kejenuhan. Meskipun yang aku lihat tak berubah. Meskipun begitu, ada juga yang merubah pandanganku bahwa nikmat sehat, adalah sebuah rizki termahal dalam hidup. Sesekali, aku melihat sebuah kereta dorong yang aku rasa berisi dengan jasad manusia yang telah tiada (kenapa mikir githu Naz) soale, kereta dorong itu ditutupi dari atas sampe bawah terus, sepertinya di dalam itu ada manusia yang membujur dan di belakangnya diiringi beberapa orang :( Selama bolak-balik di dalam kamar, kepalaku memikirkan beberapa hal. Pertama, "Akankah aku bertemu dengan Elpa?" Atau aku memilih menuju Universitas Islam Antar Bangsa (UIA), untuk menghadiri bedah buku Negeri 5 menara. betul-betul pilihan yang berat. Ketika mengatakan kepada ibu hendak menuju LCCT, ibu sepertinya keberatan (jarak rumah sakit menuju bandara LCCT Sepang memang agak jauh). Sejak pagi lagi, Elpa sudah mengirim sms tapi, aku belum membalasnya. Baru setelah beberapa lama dan dia telpon aku tidak mengangkatnya, aku mengiriminya pesan balasan. Bahwa, lagi-lagi aku tak bisa bertemu dengannya. Ada kesedihan yang meresap, tapi aku menyingkirkannya cepat-cepat. Aku yakin, cepat atau lambat kelak aku akan bertemu dengan Elpa juga. Insya Allah... Dengan Elpa, aku tak jadi bertemu. Maka, kesempatan kedua aku memburunya. Setelah menemani ibu makan siang, aku segera menyiapkan diri menuju UIA. Meskipun aku tidak tahu harus menaiki apa dari situ, akhirnya aku nekat juga. Keluar dari rumah sakit, aku mencari taksi menuju stasiun terdekat. Alhamdulilah, saat sedang panas-panasnya berjalan, sebuah taksi muncul di tengah keterikan :D. Maka naiklah aku di situ. Menuju setaisun terdekat, kemudian mencari arah yang tepat untuk sampai ke UIA. Alhamdulilah, dengan segala nikmat sehat yang aku punya, aku sampai juga ke UIA. Dan, akhirnya aku bertemu juga dengan penulis novel Negeri 5 Menara. Semuanya, berkat nikmat sehat yang aku punya. Subhanallah.. bahwa kesehatan adalah rizki terbesar yang aku dapatkan hari ini. Sebuah prolog, tentang keindahan hari ini, tentang melukis hari bersama dengan beberapa penulis juga seorang penerbit yang aku temu hari ini. Beberapa foto, belum sempat terupload :) sebagai barang bukti *USBne rak enek :(*

29 komentar:

  1. ini baru mba anaz,,rizki memang ga bisa kita hitung,,kalau mau menghitunya juga terlalu banyak pabila ada yang bisa menghitungnya itu tidak mungkin,,karena hanya allah yang tau....

    BalasHapus
  2. bisa di sebut riski kalo udah kita pakai dan kita maem kata seorang pintar sih gitu. kalo di telaah gak cuma uang dan materi itu rizki. rizki itu banyaaak banget jenisnya

    bedewei ke miss gaptek belajar neng biar tau cara ngambil theme nya

    BalasHapus
  3. Semoga akan ada kesempatan lain utk dapat ketemu Mbak Elpa. Mungkin kali ini memang belum rejekinya mbak Ana ketemua dg mbak Elpa.

    BalasHapus
  4. Novel Negeri 5 menara bagus ya mbak..? Kemarin waktu pameran aku melihat bukunya tapi gak jadi beli... :(

    BalasHapus
  5. yupz...
    dengan kita bisa melihat adalah suatu rizqi.
    seneng yah klu ketemu sama orang yang selama ini kita kagumi. :D

    BalasHapus
  6. salam sobat
    iya benar mba,
    siapa tahu nanti tak di sangka2 malah datang MBA ELPA ke mba ANAZ,,
    semoga ya,,,

    BalasHapus
  7. trus cerita bedah bukunya mana Naz?

    BalasHapus
  8. Alhamdulilah,,, segla puji bagi alllah..!!!
    aku bisa bertemu dengan blog ini...!!

    karana ini adalah rejeki..hahaha

    BalasHapus
  9. maka nikmat Robmu yang manakah yang kau dustakan? :)

    BalasHapus
  10. aku datang membawa sebuah lagu ciptaan ku untuk mu sahabat...mohon koment ya..

    BalasHapus
  11. Ya setuju, nikmat sehat adalah rezeki terbesar yang harus kita syukuri dan kita manfaatkan dengan baik naz.

    BalasHapus
  12. betul, betul, betul,
    cerita yang menyentuh..
    salam kenal..

    BalasHapus
  13. assalamualaikum..
    hai anaz, sehatkan ? jaga kshatan naz..sbb sngt penting. memang kapan anaz mau ke bandung? sy tunggu beritanya ya?
    salam

    BalasHapus
  14. alhamdulillah..
    semoga dilancarkan slalu segala urusannya..amiin :)

    BalasHapus
  15. harus banyak2 bersyukur ya atas smua rizki yang diberikan

    BalasHapus
  16. Rizki tuh emang buanyaaakkk banget, tapi emang kadang kita ga menyadarinya,,, dan kesehatan adalah salah satunya...

    BalasHapus
  17. Semoga selalu diberikan kesehatan biar bisa menjalankan segala aktivitasnya, amin.

    BalasHapus
  18. setahu saya rizki adalah sesuatu yang sudah di nikmati... :-)
    dan moga selalu berlimpahlah rizki kau ini... :-)

    BalasHapus
  19. Ketemu mbak Elpa salah satunya juga Rizki ya mbak..

    BalasHapus
  20. kesehatan adalah rezki yang paling mahal mba..rajin juga ya ikutan bedah buku hehe...

    BalasHapus
  21. Rizki bukan hanya benda yang nampak...

    BalasHapus
  22. saya setuju mabk klo kesehatan adalah salah satu rezeki termahal,,,
    sebenarnya semua yang ada pada kita rezeki kan ya mbak???
    dan mahal2 semuanya...

    BalasHapus
  23. kesehatan adalah rezeki yang paling penting....

    BalasHapus
  24. jam 2 ntar renacana kami BERTUAH akan ketemuan ma Elpa

    BalasHapus
  25. semoga ibu lekas pulih kesehatannya ya..
    benar juga.. terkadang kita lupa bahwa nikmat rejeki-Nya yg dianugerahkan bukan hanya berupa materi..

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P