3 Perempuan, 3 Perbedaan

Banyak yang bilang, diangkatknya Kartini sebagai pahlawan wanita adalah karena beberapa tulisan-tulisannya yang banyak tersebar di Belanda. Mungkin kita sudah biasa mendengar "Dari gelap, Terbitlah Terang" Ia adalah bentuk ketakjuban Kartini, kepada guru ngajinya Syekh Saleh Darat. Ulama besar pada masa itu. Atas penjelasan surat al-Baqarah, ayat 257. terutama, pada penggalan ayat, "orang yang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya". Sehingga dalam surat-surat Kartini banyak dijumpai kata-kata "dari gelap menuju cahaya". Yang ditulis dalam bahasa Belanda sebagai : "door duisternis toot licht". Yang kemudian dijadikan kumpulan surat Kartini oleh J.H. Abendanon.
Itu pahlawan wanita dari jawa. Ada juga, pahlawan wanita dari Aceh, Cut Nyak Dien yang mengankat senjata ke medan perang, tapi namanya tidak diabadikan sebagai pahlawan bangsa. Juga, ada Ratu Sinuhun dari Palembang. Seorang ratu yang menyusun undang-undang simbur cahaya, sebuah kitab hukum adat yang berlaku bagi masyarakat Palembang (Sumatra bagian Selatan) saat itu. Dan tahun 2008 lalu, para perempuan di palembang, menuntut gelar pahlawan untuk beliau. Itu sekilas tentang tiga perempuan, sosok pahlawan yang keberadaannya sangat memukau keadaan zaman ketika itu. Andaikan mereka hidup di zaman ini, akankah mereka mempunyai blog, seperti perempuan-perempuan kini kebanyakan. 3 perempuan itu, menjadi pahlwan dengan caranya juga dengan perbedaan-perbedaannya. Sebtulnya, aku tak ingin membahas mereka satu persatu. Itu hanya sebuah pengantar, tentang 3 perempuan, yang beberapa hari ini bersarang dikepalaku. Pertama, adalah seorang perempuan ilalang keras kepala, dan sangat yakin dengan sesuatu yang disebut our own purity/our own sense dalam kepenulisanya. Kadang, ia selalu berlindung, dibalik tulisan-tulisan tajamnya. Selalu menggunakan bias kata pada makna-makna yang dituliskannya. Aku mengenlinya di dunia maya, sangat tertutup. Tapi, itu dulu. Kini, ketika aku mengenalinya lebih akrab, aku dibuatnya terkagum-kagum. Pantas saja, tulisannya lain. pantas saja, tulisannya lancar dan mengalir, rupanya ketika kuliah dulu tulisan-tulisannya sudah menebar di berbagai media. Duhai perempuan, engkau kadang membuatku malu dengan segala ocehan tidak pentingku. Kalau hendak bertanya siapa mereka di balik tulisan-tulisannya, tanyalah, siapa karya yang dibaca mereka...??? kadang, kita akan menemukan sedikit tentang mereka. begitulah pada wanita pertama, ia bacaanya beda, pada satu orang perempuan ketiga. dan ada sedikit kesamaan, pada perempuan kedua. Meskipun pada hakikatnya, ketiga-tiga perempuan itu memiliki satu kesamaan, yaitu cinta pada kepenulisan. Perempuan kedua, sang Inong dari Aceh. Perempuan mudah senyum, mudah membuka diri, pada orang yang dikenalinya membuat perempuan ketiga merasa salut pada jalan hidup yang dilaluinya. Perempuan tegar, yang entah kesedihan apa yang disimpan dalam setiap gelak tawanya. Ia ada sedikit kesamaan, pada perempuan pertama. Pada bacaan juga pada penulis. Tapi mereka tetap berbeda pada penulisan. Meski begitu, kedua perempuan pertama dan kedua, tetap membuatku merasa bangga mengenalinya. Peempuan kedua, ia tak sehebat Cut Nyak Dien mengangkat senjata tapi, ia berani mengangkat tema-tema pada beberapa postingannya. tentang, dunia perempuan. Dan, terakhir, adalah perempuan ketiga. Perempuan, yang menurut perempuan pertama lemah lembut dan pembelajar. Juga, menurut perempuan pertama, ia cukup berani bertemu dengan perempuan pertama yang keras kepala. Mungkin ia tak sehebat Kartini, pada tulisan-tulisannya. karena, ia perempuan yang terlalu lugu, pada setiap tulisannya. perempuan yang lembut, tapi cukup ego dalam menulis keakuannya. Ia, tetaplah perempuan dengan kesederhanaannya. yang tak pandai berbias kata, seperti perempuan pertama dan kedua. Terkadang, ia seolah masih dalam tempurung, yang tak bisa sebebas burung. Ah, semoga perempuan ketiga, mampu menjadi perempuan lain yang tak sama pada perempuan lainnya, pada setiap tulisan-tulisannya. Ditulis, dalam rangka pencarian jati diri kepenulisan untuk sang penulis :). terimakasih, kepada perempuan-perempuan yang telah menginspirasi. Juga sahabat yang diulurkannya. :) dan untuk Abi, syukron atas komen-komennya di Friendster dulu yang membahas tentang kartini, ahamdulilah, bermanfaat juga :)

15 komentar:

  1. kalau mbak anaz termasuk ke dalam perempuan yang keberapa nih?

    BalasHapus
  2. Setiap orang memang memiliki inspirator. Sering kali kita terinspirasi dan termotivasi olehnya. Namun tidak pernah ada dua orang yang sama persis dalam karakter, prestasi, dan segalanya. Karenanya kita harus menjadi diri sendiri. Iya kan?

    BalasHapus
  3. akhirnya.. keluar juga tiga perempuan perempuan, beda usia, beda daerah tapi sama2 cinta menulis..

    BalasHapus
  4. Ana adalah perempuan ketiga. Setiap perempuan memiliki karakternya masing-masing dan mencuat lewat catatan yang ditorehkannya.

    BalasHapus
  5. hallo mbak.....
    catatan bagus tentang wanita,,

    BalasHapus
  6. waduh panjang banget ceritanya mbak,,,
    cuma beri khabar aja nih,,,makasih dah mampir..
    ane nih masih nyantri, dua bulan lagi lulus. dan berencana cari beasiswa keluar negeri.
    doakan ya...

    BalasHapus
  7. Semua tercipta dg keunikannya sendiri-sendiri. Orang lain hanya bisa menginspirasi,namun diri kita tetaplah diri kita.
    Selamat siang mbak Naz ^_^

    BalasHapus
  8. aku berharap untuk menjadi yang kedua.... eh bukan jadi yang kedua kayak di lagu itu loh maksud aku... hehehehe.... maksud aku jadi perempuan yang kedua.... :)

    BalasHapus
  9. Aku baek2 saja naz...plurk lagi istirahat kemaren..:D

    BalasHapus
  10. Salam saja buat mereka na. Ya, kita semua menyuarakan pikiran kita.

    BalasHapus
  11. sip naz, tulisan2mu memang selalu sip...

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P