Bukan Kisah, Laila Majnun

Adalah sebuah kisah nyata, dari sebuah desa. Cerita cinta, tentang beberapa insan manusia. Mungkin, ia tak seheboh hikayat Laila Majnun juga, tak seromantis kisah Romeo dan Juliette sentuhan William Shakespeare. Kadang, heran juga ketika penulis mencari sebuah ilham. Lihatlah, Shakespeare, ia harus rela jauh-jauh datang ke kota London hanya untuk menyewa rumah di Verona, tak jauh dari Colosseum Verona. Konon, Shakespeare ingin menyerap gairah cinta Italia. Maka, lahirlah kisah romantis Romeo dan Juliette.

Ok, back to kisah cinta beberapa insan versi Anazkia. Sekilas pembuka tadi, bukan hendak menyaingi Shakespeare tentunya. Aku juga nggak perlu jauh-jauh ke London :D. Mungkin, kisah ini mengandungi hikmah. Ketika aku kecil-kecil dulu, di desaku, ada seorang gadis namanya Sarti'ah, nasibnya tak seberuntung gadis-gadis lainnya. Seingatku, ia tak mengenyam bangku sekolah sama sekali. Ia cenderung dikucilkan. Bahkan, warga sekitar, menganggapnya "miring" Tuduhan itu, disebabkan ia sering dan bahkan selalu tersenyum, saat melihat siapapun. Nggak nyambung kalau diajak ngobrol. Maka, terjadilah sebuah sindiran siapapun yang cengar-cengir sembarangan, tak segan-segan ia akan mendapat julukan, "Seperti Sarti'ah."

Sarti'ah, tinggal bersama kedua orang tuanya. Ia merupakan anak tunggal. Rumahnya, tepat berada di belakang rumah mbak Tina. Berbeda dengan Sarti'ah yang dianggap miring, justeru mbak Tina adalah kebalikannya. Ia orang yang cukup cantik, tinggi, berkulit putih dan ia adalah salah satu gadis yang beruntung di desaku, karena ia dapat mengenyam bangku sekolah. Bahkan, sampai tingkat SMA. Di kampungku, tahun 90an dulu, jarang sekali yang belajar sampai SMA.

Ayah mbak Tina, seorang warga beretnis China. Secara material, mbak Tina juga dari keluarga berada. Sarti'ah dan kedua orang tuanya, seolah menjadi "pembantu" dalam keluarga mbak Tina (aku nggak tahu pasti apa kaitan antara kedua orang tua Sarti'ah dan mbak Tina). Ketika aku masih di Sekolah Dasar, tersiar khabar, bahwa Sarti'ah akan segera menikah. Kabar itu, membuat seluruh warga di desaku gempar. Gerangan siapa suaminya, hampir dipertanyakan setiap orang. Maka, terlaksanalah pernikahan sederhana itu. Sayangnya, aku tak dapat menyaksikan langsung akad nikah mereka. hanya bisa menghadiri do'a selamat yang diadakan di rumah mbak Tina.

Ketika Sarti'ah menikah, mbak Tina masih berada di bangku SMA. Akhirnya, aku bisa juga melihat sosok suami Sarti'ah. Subhanallah.. Allahu Akbar... Sungguh kuasa Allah. Ratmo namanya, ia berbadan tidak sempurna, dengan tangan kirinya yang lebih pendek, dan cenderung masuk ke dalam. Sementara kakinya, juga tidak sempurna. Saat berjalan pun, ia terpincang-pincang dan matanya, juga sepertinya tidak sempurna. Sepengetahuanku, ia juling, nada bicaranya juga tak jelas. Ah, sungguh sandiwara hidup. Sarti'ah, sosok yang kumal, giginya tersusun rapi, tapi sayangnya ia kuning berderet rapi, menadakan ia tak pernah menggosok gigi. Sementara rambutnya, kelihatan sangat tak terurus.

Aku masih mengingatnya, setiap kali bertemu denganku, ia selalu memarkan giginya, dan tak lupa selalu menegurku. Hingga kini, aku tak dapat melupakan senyumnya. Senyum ketulusan. Hari-hari berlalu. Warga, tak lagi mengunjingkan Sarti'ah. Justeru, mereka kagum dengan suaminya. Ratmo, sungguh sosok suami yang bertanggung jawab. Ketika baru awal-awal lulus SD, aku bekerja di sawah, nguli pada seorang juragan. Di sana, aku sering dan selalu melihat Sarti'ah dan Ratmo bekerja bersama-sama. Tentunya, tidak berbarengan. Karena, kerja perempuan dan lelaki terpisah. Di saat mereka sibuk bekerja, Mbak Tina justeru sibuk di alam persekolahan. Konon ceritanya, ia bercinta dengan seorang lelaki tetangga desa anak seorang kepala desa. Kami semua, memakluminya. Mbak Tina, memang wajar bersanding dengan anak kepala desa tersebut. Hari-hari berlalu.

Hingga pada akhirnya, nasib membawaku pada sebuah kota. Dan aku, tak lagi mengetahui kisah-kisah mereka. terakhir yang aku tahu, Sarti'ah sudah mempunyai anak. Anaknya perempuan, cantik. Tak mengalami kecacatan sedikitpun. Subhanallah... Sungguh kuasa Allah. Sesekali, ketika berada di rantau, aku mendengar khabar juga dari orang-orang yang pulang ke kampung halaman. Katanya, mbak Tina, sudah menikah dengan anak kepala desa. Saat aku pulang ke kampung, aku jarang sekali keluar rumah. Hingga pada tahun 2007 lalu, setelah sekian lama, aku berada di perantauan aku kembali ke kampung halaman. Setelah sebelumnya, aku memijakan kaki di kota Cilegon. Berada begitu lama di parantauan, kadang membuat beberapa orang, tidak mengenaliku. Dan, banyak juga aku tidak mengenali "orang-orang baru" di kampungku.

Orang-orang yang dulu sangat kecil ketika kutinggal, kini justeru sudah besar dan postur tubuhnya, lebih besar dari aku. Tak heran, tatkala beberapa orang menegurku dengan kalimat yang sama, "Mbak Ana kok kecil aja yah...??? padahal, udah sampai ke Malaysia." Kalau dah ditegur githu, biasanya aku akan senyum semanis mungkin tanpa diminta. Dan, saat aku ke rumah teman SD. Aku melintasi rumah Mbak Tina. Rumahnya semakin cantik, dengan bangunan moderen. Sementara, mbak Tina duduk termangu di depan rumahnya. Aku menegurnya berkali-kali, dan memberikan senyuman. Sayangnya, ia sama sekali tak mengenaliku. Barulah, ketika aku menyebutkan nama akhirnya ia kembali mengingatku. Mbak Tina masih cantik. Bedanya kini ia lebih kurus. Wajahnya, tak lagi seceria dulu, pipinya tak lagi gebu bahkan, wajahnya sangat tirus.

Setelah aku bertanya kepada handai taulanku, rupanya, mbak Tina sudah bercerai dengan suaminya. Sungguh gambaran panggung kehidupan. Bertemu, berpisah, semua adalah ketentuan. Yang lebih menyedihkan, tentunya tatkala mendengar kisah sumaminya mbak Tina :(. Sementara, Sarti'ah, ia masih seperti dulu. Dengan rambut tak terurusnya. Dengan senyum ketulusannya, ia masih memamerkan gigi-gigi kuningnya. ia masih suka memakai baju yang modelnya begitu-begitu juga, ia juga masih bertelanjang kaki tak peduli, hujan atau panas menerpanya.

Ketika aku bertemu dengannya di pemandian umum, ia menggendong anak lelakinya itu berarti, Sarti'ah memiliki lebih dari seorang anak. Ia masih menegurku, tersenyum padaku dan menanyakan, soalan yang dia sudah tahu jawabannya. "Ko lagi ngumbai yah, An..???" (kamu sedang mencuci yah, An...?). Ratmo, suaminya masih seperti dulu. Sosok suami yang bertanggung jawab, dengan segala kekurangan pada tubuhnya. Ketika hari panas-panas, menjelang sore ia berkunjung ke depan rumah bu likku. Anaknya, meminta buah jambu. Setelah mendapat keizinan, anaknya langsung meluncur naik ke atas pohon. Aku mengintai, dari balik jendela. Ratmo, masih kelihatan lugu seperti dulu. Setelah selesai mengambil jambu, anaknya segera turun dan menghampirinya. Aku mencari-cari makanan ringan di dalam rumah, ingin kuberikan kepada anaknya. Hanya ada beberapa bungkus kerupuk. Aku segera mengeluarkan dan memberikan kepada anaknya. Ratmo, sekilas melihat ke arahku, meskipun matanya tak tertuju kepadaku. Ia mengucapkan terimakasih. Ratmo, kelihatannya cukup telaten meladeni kelatah dan kelakuan anaknya. Sementara aku, kini tertatih-tatih menuliskan kisah mereka.

Dengan menganggumi kekuasaan-Nya. Sungguh, betapa kemuliaan itu tidak memandang kepada rupa dan derajat manusia. Secara hakikatnya, Ratmo dan Sarti'ah cukup tersisih dari warga desa. Bahkan, sampai kini, kadang mereka masih mendapat celaan. Aku tak pasti, apakah mereka mengenali bahasa tulis. Berbeda, dengan mbak Tina dan anak kepala desa, keduanya mengenali bangku sekolah. Tapi, nasib baik tidak menyebelahi mereka.

11 komentar:

  1. Tentu sarti'ah ,ratmo dan tina beserta keluarganya tersenyum gembira, mereka terkisah di blog anazkia Yak... :-)

    BalasHapus
  2. gebu ntu sama dengan gembil yak naz... :-))

    BalasHapus
  3. Termangu aku akan kisahmu Naz.... memang kehidupan terkadang berjalan seperti itu, apa adanya, yang sederhana dan kekurangan belum tentu kekurangan kebahagiaan, yang kaya raya belum tentu kaya kebahagiaan juga... tergantung dari pribadi yang menyikapi kehidupan ini, jalani dengan penuh rasa syukur niscaya akan timbul sedikit-demi sedikit kebahagiaan yang sampai akhirnya nanti akan mengisi seluruh relung jiwa.

    BalasHapus
  4. berat-berat...bingung bacanya...hehehe...

    BalasHapus
  5. Kisahnya panjang, tapi masih bisa disimak intisarinya na. Ya, kondisi serba kekurangan tidak menghalangi seseorang untuk memperoleh kebahagiaan dan cinta meski wujudnya sederhana.

    BalasHapus
  6. hehhehe ngekek diriku membaca komen a-chen.
    sudah ku duga
    ketika kata gebu dikau tulis
    pasti akan ada komen yang nanyain arti gebu itu apa????

    neng anaz sayang....... hati-hati memilih kata yah.

    hmm kalau mereka tau, mereka pasti terharu karena kisah hidup mereka tertulis manis di sini

    BalasHapus
  7. oooo lupaaaaa

    ada tag yang harus segera diselesaikan

    monggo... silahken datang ke bintang air....

    BalasHapus
  8. Begitulah hidup dengan misterinya mbak...
    Kemujuran dan keberuntungan tak selamanya bersama si rupawan dan si kaya saja.
    Allah sungguh Maha Adil mbak...

    BalasHapus
  9. Selamat malam mbak..., kisahnya membuatku termenung lho. Betapa hidup ini penuh dengan rahasia yang tak mampu kita baca sebelumnya.

    BalasHapus
  10. sayah kagum...kagum karena mbak ana bisa menuliskan cerita yang seolah2 sayah sedang berada disana sebagai mbak ana...

    salam hormat dari sayah..

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P