Dulu, Aku iri Padamu

Pertama kali bertemunya, ketika senja sudah surut di penghujungnya. Temaram malam mulai menutupi terang, samar-samar, aku melihatnya dalam kelam. Magrhib pun sudah berkumandang belum lama. Aku berjalan dengan ibuku. Melihat seragam yang masih di kenakannya, ia sepertinya baru pulang sekolah mungkin, masuk sore. Di perumahan tempat Om Christ tinggal, jarang sekali aku menemukan pelajar berseragam putih abu-abu. Ia memakai jilbab, baju putihnya dimasukan dalam rok, khas anak SMU. Jadi, ketika melihatnya aku begitu senang. Kulemparkan senyuman. Sepertinya, dia bingung melihat keramahanku. Karena masing-masing kelihatan terburu-buru, tiada tegur sapa diantara kami. Aku meneruskan perjalanan bersama ibuku.

Hari-hari selanjutnya, menjadi penantian buatku berharap untuk dapat bertemu kembali. Saat pagi beranjak sekolah, aku melihat-lihat di mana terakhir ia membelokan jalan. Melihat dari awal bertemu, ia memasuki gang sebelum gang yang menuju rumah Om Christ. Itu berarti, ia tinggal di blok B2, sedangkan aku di Blok B3. Sepertinya, belum dijodohkan untuk kembali bertemu dengannya. Hari-hari menanti, tak juga aku berhasil menemui. Sampai suatu hari, aku kembali bertemu dengannya. Seingatku, kami sama-sama pulang sekolah. Kebetulan, dia masuk pagi.

Alhamdulilah... Penantianku untuk berkenalan dengannya tertunai sudah. Rupanya dia memang betul tinggal di blok B2 dan lebih mengejutkan ketika nomor rumahnya sama dengan rumah Om Christ. Itu berarti ia tepat tinggal di belakang rumah Om Christ, hanya ia berada di seberang jalan. Ah, sungguh tak menyangka. Akhirnya, aku punya teman juga. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas 3 Mts, sedangkan dia kelas dua SMU. Tapi umur kita sama. Aku juga seharusnya duduk di bangku yang sama kelas 2 SMU. Tapi aku pernah menganggur dua tahun setelah lulus SD.

Semenjak mengenalinya, aku tak lagi merasa sendiri di kawasan perumahan itu. Sejak bekerja dan ikut dengan Om Christ, aku memang jarang memiliki teman selain teman-teman sekolah. Om Christ tinggal di perumahan yang masih baru dan masih jarang yang menempati perumahan tersebut. Namanya Siti Mutmainah. Sesuai dengan namanya, ia lemah lembut, badannya lebih mungil dari aku, wajahnya bulat, bola matanya besar, putih kulitnya, ada sedikit lesung pipi dalam setiap senyumnya. Dan dia sangat pendiam. Berbeda dengan ku yang kadang cukup "ramai" dua perbedaan yang kontras. Membutuhkan waktu lama untuk menjadi dekat dengannya.

Pernah ketika suatu pagi kami melakukan jogging aku menanyakan banyak hal tentangnya, sampai terucap tanya dariku, "Emang pernah disakiti sahabat yah?." Dia mengangguk, diam tanpa penjelasan. Sejak saat itu aku tak lagi menanyakan banyak hal tentangnya. Toh lama kelamaan keakraban terjalin dengan sendirinya. Tanpa ikrar kami telah menjadi sahabat.

Aku juga dikenalkan dengan sahabat kecilnya yang kebetulan tinggal di perumahan yang sama. Ia tinggal di Blok E agak jauh dari blok kami tinggal. Reynita namanya. Dia berwajah seperti gadis jawa, nampak lembut, tapi Reynita seorang yang menggambarkan ketegasan, juga sangat gemar dalam mempelajari agama. Sebetulnya, keduanya hampir sama. Mutmainah sendiri pernah tinggal di pondok Pesantren. Reynita, masih duduk di kelas 2 MAN 1 Serang, umur kita lagi-lagi sama. Dan latar belakang keluarga mereka, notabene orang yang paham akan hal agama. Mengenali mereka, menjadi nilai tambah tersendiri untuk kehidupanku saat itu. Aku yang hanya seorang PRT dan alhamdulilah, atas rizki-Nya melalui om Christ  sebagai perantara yang menyekolahkan aku. Kami menjadi akrab bertiga.

Meskipun aku lebih akrab dengan Mutmainah karena jarak kedekatan rumah kami. Hingga setelah kelulusanku dari Mts, Om Christ menyarankan aku memasuki SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas) Padahal aku memimpikan sekolah di MAN 2 Serang, yang ketika itu menjadi role model di Kabupaten Serang. Untuk menjaga hatinya, mau tidak mau aku mendaftar juga di salah satu SMEA favorit di kota Serang. Alhamdulilah, aku tidak diterima. Maka menjadi kesempatan emas untuk aku mendaftar di MAN 2 Serang dan akhirnya aku diterima... alhamdulilah.

Setelah aku sekolah di Serang, kita jadi semakin akrab aku, Mutmainah dan Reynita. Meskipun tak satu sekolah, tapi kita satu arah. Mutmainah, di SMU 1 Kramatwatu Serang, Reynita MAN 1 Serang dan aku MAN 2 Serang, lebih jauh dari keduanya. Menjadi hal yang menyenangkan ketika terkadang kami pergi jalan-jalan bersama mengelilingi kota Serang ke Royal Ciceri dan banyak lagi. Juga menjadi hal yang mengasyikan saat kami juga bersama-sama menonton konser nasyid di GOR (Gelanggang Olah Raga) Serang, atau ketika menghadiri acara-acara tertentu di Islamic Center Serang. Dan yang paling berkesan adalah tatkala kami bertiga bersama-sama menuju kota Bogor demi sebuah pengalaman mencari perguruan (dalam episode ini, harus tertawa, apa bersedih yah...?? :D).

Ah, Indahnya persahabatan. Allah telah banyak menolongku, dalam berbagai segi majikan yang baik, juga sahabat-sahabat yang baik. Aku juga mengenali keluarga mereka. Sering berkunjung ke tempat mereka tidur di rumah mereka. Diam-diam, dalam persahabatan kami mungkin ada yang mereka tidak ketahui dariku. Ketika ke rumah Mutmainah, mengenali keluarga mereka, dan bercengkrama dengan keluarga mereka ketika pulang aku sering dihimpit kedukaan. Duka merindukan kehangatan keluarga sendiri dimana ada aku, ayah ibuku juga saudara-saudaraku.

Pernah sekali itu sehari setelah lebaran ketika aku pulang dari rumah Mutmainah, aku pulang dengan kesedihan yang dalam. Sepanjang jalan Pengoreng-Merak aku banyak menitikan air mata. Ah, terlalu cengeng aku tak menghiraukan teguran orang-orang "jahil" di dalam angkot. Bahkan ada yang mengusik "sepertinya, dia lagi sedih." aku tetap memandang, ke luar jendela angkot. Dengan Reynitapun, kadang aku memiliki perasaan yang sama. Tak hanya itu aku juga kadang cukup cemburu kepada mereka. Sewaktu lebaran, ketika mereka menunjukkan baju-baju mereka, kadang aku dibuai sayu, ingin seperti mereka yang setiap kali lebaran hampir selalu membeli bahan baju, menjahitnya dan membeli juga kerudung dan lainnya.

Tak sampai di situ rasa cemburuku. Mutmainah, sering membeli dan bertukar hape, Reynita, mudah sekali dan sering membeli buku dalam jumlah yang banyak. Sedangkan aku, kadang harus lebih cermat mengatur gaji dari Om Christ untuk biaya sekolah, main dan lainnya. Aku sering tertatih dalam finansial ketika itu. bahkan, untuk uang ujianpun, aku harus meminjam pada Mutmainah setengahnya (aku lupa, dah lunas apa belum :D, tolong ingetin Sis). Tentunya, cemburu itu kusimpan rapat-rapat. Aku jarang menyuarakannya. Aku masih bisa tertawa dan tersenyum bersama mereka, itu juga kebahagiaan yang tak terkira.

Itu cerita beberapa tahun dulu. Kini kami jarang berkomunikasi. Maklum, mereka sudah dengan kesibukan keluarganya. Kadang, sering smsku tak berbalas. Kalau tidak menelpon, aku tidak akan mendapat khabar. Dan sekarang mereka telah mempunyai acount facebook memudahkan aku untuk berkomunikasi. Sesekali, aku dengan Mutmainah chating. Bercerita banyak hal tentang masa lalu, kini dan kemudian.

Ada yang membuatku terkejut, ketika beberapa waktu lalu chat dengan Mutmainah. Setelah dia membaca postingan, "Bukan Kisah, Laila Majnun" dia memberikan komentar "Eli sekarang pinter nulis." "Ah, bukankah dulu, teh Mut lebih pinter?." "Iya, itu dulu. Tapi sekarang gak pernah nulis lagi, jadinya tumpul. Aku iri sama Eli." "Iri? untuk apa? mosok githu aja iri...???" "Iri untuk kebaikan khan gak apa-apa Li..??" Deg, aku cukup terkejut. Iri untuk kebaikan...??? Masya Allah.. betapa dhoifnya aku. Dulu, dulu sekali, aku juga sering iri kepadamu sobat, tapi, aku iri dalam bentuk materi. Innalillahi... Bukankah, iri dalam hal kebaikan itu diperbolehkan? yaitu kepada ahli ibadah, juga iri kepada orang kaya yang mendermakan hartanya di jalan Allah. Innalillahi, betapa iriku sangat tak berarti dulu.

14 komentar:

  1. Iri akan suatu kebaikan...? mungkin ini iri yang bernilai positif....

    BalasHapus
  2. iri utk kebaikan boleh aja. asal hati2, jgn sampai jadi iri yg jahat.

    BalasHapus
  3. jadi inget dulu, lembar demi lembar, helai demi helai, langkah demi langkah...
    semuanya terasa kembali, rasa yang nano-nano dan gado-gado. manis, asem, asin pun sepet dan pahit (meskipun tak ada dalam rasa makanan keduanya). Li, kita tau bagaimana diri kita, seberapa jauh,lama ataupun sulit kita untuk bertemu. perjalanan hidup kita terpaut satu sama lain. masa itu adalah dimana kita dalam masa pencarian jati diri, dimana awal untuk memutuskan "akan jadi apakah kita". tentu itu adalah saat yang paling berkesan dalam perjalanan hidup anak manusia. membaca ceritamu tentang temut, ah li kamu sedikit berlebihan, kita tahu kan kesulitan kita masing-masing? tidak ada yang mudah li, kecuali kita menghadapinya dengan dewasa dan berbesar hati (=ikhlas dalam arti sebenarnya). temut minta maaf ya, pasti selama kita kenal dan bersahabat sudah melakukan baa...nynyak kesalahan dan kehilafan sama eli.buktinya baru sekarang temut tau perasaan eli yang dulu-dulu, dosa banget ya temut dah nyakitin perasaan eli, membuat sedih sampe nangis di angkot segala.... dari kemarin -kemarin pun temut pengen ngomong panjang dan lebar seperti bangunan 2 dimensi, tapi ga tau mau mulai dari mana. maafin ya li... temut kira eli sudah berubah banyak, terbukti dengan tulisan tulisan eli, bagus-bagus dan inspiratif, banyak kata-kata baru yang temut ga "dong" (bahasa dunia lain), tapi temut malu bwt komentar, soale yang komen ke eli banyak banget, sepertinya komentar temut jadi tersisihkan...
    ya sudahlah...
    yang pasti sekarang, kita sudah berkumpul lagi, meskipun raga tidak. semoga ukhuwah ini tetap terjaga selamanya, saling mengingatkan dan menasehati dalam kebaikan (jangan bosan li...)amii..n.
    ups, li di garis bawahi ya :Mutmainah, sering membeli dan bertukar hape, kayanya ga deh, temut g pernah punya HP selama SMU... hp pertama tuh dah kuliah itupun pinjem punya kk, n waktu itu kita ber3 memang punya kan..?!

    BalasHapus
  4. saya selalu iri dengan hal-hal yang baik, iri untuk bisa melakukannya.

    BalasHapus
  5. jadi sekarang iri udah baik yak... :-)

    BalasHapus
  6. kayak lagunya Kak Rhoma :

    "dulu aku iri padamu, dulu aku iri padamuu..."

    :D

    (btw, ada cerpen baru tuh di Pojok Pradna ;) )

    BalasHapus
  7. untung dirimu sudah berubah... hohooho... alhamdu???

    BalasHapus
  8. Ternyata, banyak bertebaran 'pelajaran' dari sebuah peristiwa ya mbak..

    BalasHapus
  9. Blh iri asal iri dengan hal2 yg baik darinya, saya setuju itu mbak

    BalasHapus
  10. Iri itu boleh kalau ada manfaat untuk berubah maju, kan berlomba-lomba dalam kebaikan dianjurkan dalam agama.
    sorry gak kebaca post-nya,,,coz panjang banget..

    BalasHapus
  11. aku iri sama mbak anaz :) tapi iri untuk berbuat yg lebih baik gpp kan ya

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P