Dua Persepsi, Dua Negeri

Adalah kisah dua tahun lalu, saat itu aku baru keluar dari hiruk pikuk pesta buku. Ketika itu, tanganku berat menjinjing dua buah palstik berisi buku. Keluar dari ruangan, ada seorang wanita menegurku. Kelihatan ramah menegurku. Aku bingung dibuatnya. Maka kulayan saja segala tanya, kujawab juga segala perkara. Beriringan, kita berjalan menuju tangga. Di eskalator, kita masih berbicara. Kemudian, dia bertanya dari mana aslaku. Maka menjawablah aku, asalku dari Indonesia. Kemudian dia berujar, "owh, orang Indon...???" Seketika, benciku meraja-raja. Aku tak begitu suka dengan sebutan itu. Dan, perempuan itupun berlalu menjauh pergi. Aku tak peduli.
Tak peduli, kuteruskan saja langkahku menuju stasiun kereta api. Sudah hampir jam sembilan malam. Kedua beban ditanganku, seolah semakin berat. Pesta buku dua tahun lalu, adalah paling banyak aku membeli buku. Aku tidak mau menelpon majikanku supaya menjemputku. Aku tahu, kalau aku menelponnya, maka ceramah gartis akan diberikannya. Karena aku terlalu banyak membeli buku Sampai saja di stasiun PWTC (Pusat Dagangan Dunia Putra), ramai juga orang yang menenteng plastik yang sama dan berisi benda yang sama, buku. Tiba menunggu giliran kereta api, ada seorang perepuan mendekatiku. Kali ini, lebih ramah. Dengan senyum manisnya, ia mendekatiku, dan mengulurkan tangnnya. "Assalamu'alaikum ya ukhti..." "Waalaikumussalam..." Aku buru-buru menurunkan beban buku yang kujinjing di tangan. Meletakan begitu saja di lantai stasiun dan menyambut uluran tangannya. "Orang Indonesia, ya?" Tanyanya, yakin. "Mana tahu saya orang Indonesia?" "Itu, baju macam tu, kan pelajar Indonesia selalu pakai." Aku mengingat penampilan sendiri. Memakai baju merah merun dipadukan dengan rok hitam dan kerudung hitam. Mungkin benar juga tebak perempuan tadi. "Dulu saya belajar kat Indonesia." Ujarnya lagi. Aku jadi semangat untuk menanyakan soalan dengannya. "Owh ya, belajar kat mane?" "kat IAIN Riau." "Sekarang belajar kat mane pulak?." "Kat UM (Universiti Malaya), tengah ambik Master.Tinggal kat mane...???" tanyanya lagi. "Saya tinggal kat Gombak." "belajar dekat UIA ke...??(Universitas Antar Bangsa)" "Tak adelah. Saya kerja kat sini." "Keje ape?" "Orang gaji je." Dia bengong. "Eh, betul ke orang Indonesia ni?. Cakap tak macam orang Indonesia pun." "Betulah... Kenapa, mau lawan ngomong bahasa Indonesia? Ayuk..." aku merubah logat bicara menajadi logat Indonesia. "Eh, tak nak-tak nak." Aku tertawa mendengar jawabannya. Kereta api yang kami tunggu akhirnya tiba. Sama-sama kami menuju gerbong yang sama, dan duduk bersebelahan. Selama perjalanan kami masih bercerita banyak hal. Sesekali, perempuan itu menggunakan logat bahasa Indonesia. tentang studynya di Indonesia, juga berkisah tentang perjalananya dari Pulau Sumatera ke Pulau Bali dengan menaiki bus bersama dengan teman-teman kuliahnya untuk melakukan study bunding. Juga singgah di kota Jakarta. Aku juga bercerita, tentang mulianya hati majikan aku, yang memberikan kebebasan juga kepercayaan untukku. Dibolehkannya aku keluar rumah. Diberikannya aku hak memegang passport, sejak dua tahun lalu. Sampai akhirnya, kereta api berhenti di stasiun Masjid Jamek. Kami sama-sama turun, untuk menukar jurusan menaiki kereta api yang lain. Dan kami, berpisah. Indahnya pertemuan singkat itu. Sekilas, sebuah cerita perjalanan. Dua persepsi yang menggambarkan dua kelainan. Aku tidak tahu, kenapa perempuan pertama begitu acuh setelah mengetahui keberadaanku dari Indonesia. Apapun, aku nggak mau berburuk sangka. Toh, pada saat yang sama, aku ditemukan dengan perempuan kedua yang luar biasa ramahnya. Dan di dunia maya ini, aku juga ditemukan dengan berbagai rupa dan ragam tingkah polah manusia. Sama seperti tadi, ada yang cuek, ada yang acuh ada juga yang baik. Khususnya, ketika aku berkomunikasi dunia maya dengan blogger-blogger Malaysia dan Indonesia. Alhamdulilah, sampai saat ini aku menemukan blogger-blogger yang baik. Meskipun ada juga, yang anti pati antara satu dengan yang lainnya. Hanya satu prinsip utama, aku tidak mau saling membenci dan memaki di blog itu saja. Pengunjung bloggku, selain sahabat-sahabat dari Indonesia, juga banyak dari Malaysia. bahkan, ada seorang wartawan Berita Harian dan TV3 yang menyambangi blog acak-kadutku. Ada juga beberapa majikan yang menyambangi blogku, berkisah tentang tingkah polah bekas pembantunya. Sayangnya, ada dari mereka yang memberikan komentar dengan anonymous. Jadi, aku tak bisa berkunjung balik. Padahal, aku open minded aja, siapa saja boleh ke blogku. Yang paling menyebalkan, adalah ketika ada spamer entah dari negara mana ia berasal. Memberikan komentar di beberapa postinganku dengan menggunakan tulisan dan abjad China entah mandarin entah apa. Bodo amat, aku nggak mau peduli. Kalau nyedar, aku nggak bisa bahasa lain selain Indonesia, harusnya tuh orang tahu diri dong. Keselnya, dia selalu nyepam pada hari yang bersamaan, dengan melihat postingan-postingan lamaku. Dan, adalah yang menggembirakan buatku ketika Kontes Blog Berbagi Kisah Sejati diadakan, sungguh tergambar dari slogan "untuk mempererat ukhuwah" banyak dari sahabat-sahabatku yang mengunjungi denaihati. Meskipun, sekarang aku lihat denaihati jarang sekali BW karena kesibukannya, tapi ia kerap membalas komentar-komentar di blognya. Juga ada beberapa sebagian yang ikut kontes mengadd facebooknya denaihati. Subhanallah... Indahnya ukhuwah itu. Semoga langkah kecil ini, menjadi jarak untuk memperindah segala persepsi juga memperpanjang silaturrahmi. Insya Allah... Daftar peserta lomba, silakan klik di sini ya.. Kalau berkunjung ke blogspot, silakan klik banner daftar peserta lomba. Sudah semakin banyak, Alhamdulilah...

12 komentar:

  1. selamat pagi mba ana....

    iya,aku jg pernah mendapat komentr dgn huruf2 cina :(

    semangat membaca dan belajar mba ana memang luar biasa,gak heran tulisan2 mba ana angat berisi ^^
    salute....

    dimana mba diskusi dgn penulis 5 menara ?
    aku belum punya bukunya mba hikss...buku2 yg blm aku baca msh 3 buku di rmh jd blm sempat ke gramedia lg.huhuhu...pengen bgt baca buku itu...

    BalasHapus
  2. dua sikap yg begitu berbeda dalam satu hari, jd ada pelajaran yg bs diambil yah..

    BalasHapus
  3. bisa dijadikan kisah sejati nih na (sayang ga boleh ikutan ya :-))

    BalasHapus
  4. klo ada komentar pake hurup bambua anyaman, kenapa gak di translate aja di google translate, biar ketauan

    BalasHapus
  5. salut deh sama mbak anaz, kadang memang didunia maya ini ada bebeapa orang yang tidak tahu etika dalam memberikan komen nya ya

    BalasHapus
  6. Sekarang Nak cakap Indonesia lah...
    tak nak,...tak nak...

    BalasHapus
  7. ukhuwah sesejuk air putih ketika kehausan..sehangat selimut ketika kedinginan..sesejuk angin lembut ketika terik kepanasan.....

    BalasHapus
  8. Enak banget ya mbak ini merasakan atmosfir yang berbeda dinegara sendiri...
    Banyak stigma negatif tentang malaysia yang saya temukan di forum seperti kaskus.
    Apapun yang menulis tentang malaysia,pasti selalu buruk.
    Padahal pendapat ane sih, orang itu tergantung pribadinya , bukan negaranya. Ya gak?*minta persetujuan.

    BalasHapus
  9. Belanja buku 2 kantong plastik ? Astaga.., banyak bener mbak... Jadi ngiri deh... hehehe

    BalasHapus
  10. Aku belum ketemu ide yg pas mbak... padahal udah berharap banget bisa ikutan di Berbagi kisah sejati... hehehe

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P