Indonesia, Tidak Begini Seharusnya

Gambar diambil dari sini
Bertahun dulu, ketika aku masih SMU ada sebuah kisah yang membuatku mengurut dada, juga nelangsa. Saat beribu-ribu Tenaga Kerja Indonesia dideportasi dari Negara Malaysia di sebuah pelabuhan Nunukan, Kalimantan Timur. Miris. Betapa buramnya potret sebuah negeri ketika itu. Ribuan Tenaga Kerja Indonesia yang dideportasi, adalah pendatang illegal. Saat itu, Malaysia sedang melakukan pemutihan, melakukan pemulangan Tenaga Kerja Indonesia yang illegal tanpa memberikan hukuman.
Ribuan lelaki dan perempuan berjubel keluar dari sebuah kapal besar. Dengan wajah yang berupa-rupa bentuknya, gambaran kesedihan juga kenelangsaan. Mereka kembali ke negerinya dengan tangan hampa. Terdetik kalimat dalam hati, “Aku tak ingin ke Malaysia. Apapun di negeri sendiri, itu lebih baik” Begitulah, aku berjanji kepada diriku sendiri. Beberapa tahun berlalu. Ibarat sebuah pepatah, “tepian pantai boleh berubah, inikan pula hati manusia” Begitulah… tanpa mengingat kalimatku beberapa tahun dulu yang tak akan ingin pergi ke Malaysia, aku justru tersesat merantau sampai ke Malaysia dan menjadi Tenaga Kerja Indonesia.
Suasana Kedutaan Republik Indonesia, dokumentasi pribadi.
Sampai di Malaysia, ada gelar yang kudapat tak resmi ketika itu. Yah, sebaik menginjakan kaki di KLIA (Kuala Lumpur International Airport) pada 6 Januari 2006, aku resmi menjadi seorang TKI. Gambaran buruk, sudah jelas di benakku saat sebelum kepergianku. Itu juga yang menjadi faktor utama, ibuku merasa berat untuk melepaskan kepergianku. Tapi, dengan segala upaya, aku memohon restu dan do’a kepada ibuku, untuk mengizinkanku menjadi seorang TKI. Dan akhirnya, izin itu kudapat. Aku bekerja di sektor rumah tangga. Jauh dari bayangan tentang segala keburukanku menyandang gelar TKI atau tepatnya menjadi seorang Tenaga Kerja Wanita yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Alhamdulilah, aku bertemu dengan majikan yang baik. Hari demi hari kulalui, tanpa menghadapai masalah. Puji syukur, kepada Illahi. Terlepas dari semua nasib baik yang kugenggam, ada sebuah fenomena yang dihadapkan di depan mataku dalam keseharianku. Tanpa disadari, menjadi seorang TKW juga mengemban sebuah amanah yang berat. Di mana, setiap gerak langkah yang aku lakukan bukan hanya membawa namaku sendiri bukan juga membawa nama orangtua atau kampungku, tapi juga membawa nama bangsa, bangsa Indonesia. Begitu terasa beban itu, saat beberapa kali aku menyaksikan sebuah berita yang menayangkan beberapa kasus kejahatan yang melibatkan warga Negara Indonesia. Kasus pencurian, pembunuhan atau bahkan kasus penganiayaan yang dialami oleh tenaga kerja wanita, khususnya yang bekerja dalam sektor rumah tangga.
Nirmala Bonat, gambar diambil dari sini
Masya Allah… Sungguh nelangsanya saat beberapa kali melihat berita, ketika beberapa warga Negara Indonesia mati begitu saja tertembak oleh polisi karena merampok. Atau ketika menyaksikan seorang perempuan paruh baya yang penuh luka di muka juga hampir seluruh badannya akibat dianiaya majikannya. Lebih terenyuh, ketika menonton TV dan menyaksikan puluhan warga Indonesia yang tertangkap oleh pihak yang berkuasa karena menetap di Malaysia tanpa dokumen. Juga, sesekali aku melihat mereka yang basah kuyup bersembunyi di sebuah tempat penampungan air, toh pada akhirnya tertangkap juga.
Pernah juga, aku menitikan air mata saat sebuah penyerbuan di sebuah tempat lapak bangunan, yang mayoritasnya adalah warga Indonesia. Di sana, Nampak jelas ketika beberapa orang lelaki digiring pihak yang berkuasa ada seorang ibu-ibu sedang menggendong anaknya turut digiring petugas. Duh, ini gambaran negeriku di negeri tetangga. Sebuah fenomena yang entah sampai kapan berakhir. Lagi, lagi dan lagi gambaran itu sering aku tonton baik di layar kaca televisi, atau sekedar membaca surat kabar.
Siti Hajar, gambardiambil dari sini
Lebih terkejut, saat menyaksikan beberapa warga Negara Indonesia yang ditemukan di dekat hotel di Tawau Sabah, perempuan-perempuan yang masih belia. Masih di bawah umur, seharusnya dalam jagaan kedua orang tua. Tapi, mereka terjerat oleh seorang calo, dengan iming-iming akan bekerja di sebuah restoran, nyatanya mereka dipekerjakan di sebuah diskotik dan melayani nafsu buas para lelaki. Innalillahi… Termenung… melihat dan memikirkan, betulkah ini potret buram negeri Indonesia? Teringat, ketika aku menghadiri pengajian akbar di KBRI. Saat itu, Pak Da’i Bahtiar memberikan sambutannya. Memberikan sedikit penggambaran tentang berapa banyak dan jumlah TKI yang ada di Malaysia. Warga Negara Indonesia yang ada di Malaysia berjumlah sekitar 1,2 juta (tahun 2008, sekarang sudah mencecah 2 juta) terdiri dari 14.000 pelajar, 5000 ekspatriat, 11000 pelancong (turis), 500 ribu pekerja illegal, 100 orang TKW dalam penampungan. Dan menurut data imigrasi Malaysia tahun 2007, dari jumlah 300.621 PRT asing, 94,8% atau 294.115 orang merupakan PRT Indonesia. Banyaknya TKW atau TKI yang berada di luar negeri, adalah karena ketiadaannya lapangan kerja di Negara sendiri. Penyediaan lapangan kerja yang terbatas, mengakibatkan beramai-ramianya para tenaga kerja yang memilih untuk ke luar negeri. Dan pilihan terdekat adalah Malaysia. Tak mengapa, bekerja di luar negeri, asala ia memenuhi segala syarat dan ketentuan. Jangan hanya datang, tapi dengan cara illegal. Februari 2010, kerajaan Malaysia akan melakukan razia besar-besaran kepada pendatang asing tanpa izin (PATI). Hampir setiap hari sejak awal bulan februai, menjadi hal biasa buatku, ketika menyaksikan berbagai penangkapan warga asing baik dari Indonesia maupun dari berbagai Negara lainnya. Bahkan, di surat kabar pun aku menemukan berita yang sama. Sampai kapan yah, berita itu tak lagi kutemukan…??? Kadang, aku sedikit membuat andaian. Tak mengapalah kerja di luar negeri, tidak menjadi hal juga saat harus menjadi TKI. Selagi sebelum pergi, ada yang harus dipersiapkan pada kemampuan diri. Juga, sejauh mana kesediaan pemerintah untuk menyiapkan calon-calon TKI ke luar negeri. Sehingga Indonesiaku, tidak menajdi Indonesia-Indonesiaan.
Beberapa TKW bermasalah yang akan segera dipulangkan. gambar diambil dari sini
Ditulis untuk memeriahkan ma Chung blog competition 2010

26 komentar:

  1. haduh, saya ngeri banget liat gambar2 itu, apa memang perlu diperlihatkan mba??

    semoga, ya semoga, para pejuang yang bekerja di luar negeri itu bisa kembali ke Indonesia, karena nanti Indonesia dapat menyediakan lapangan kerja bagi mereka.. hiks hiks

    BalasHapus
  2. hufhhh....miris bacanya sizt antara percaya dan tidak, namun inilah kenyataannya, dimana kita pun tidak dapat menyalahkan pihak tetangga akan tetapi ini disebabkan ekonomi yang memaksa saudara/i kita untuk mencoba mengadukan nasib mereka walau dengan cara yang ilegal...semoga Anaz bisa juga memahami antara hukum bangsa kita dengan tetangga juga takkan sama.

    salam hangat

    BalasHapus
  3. aku juga pernah sekolah di negri orang selama 7 tahun tapi belum pernah di malaysia..
    semua central ekonomi di fokuskan di jakarta padahal hal yang di desa lebih baik apabila kita mau mengembangkannya, semua yang berkata tentang ini adalah ekonomi dan minimnya pekerjaan juga tidak tegasnya suatu bangsa yang di dalamnya juga masih meraup yang dibawah,,ujian buat suatu bangsa adalah untuk di benarkan bukan untuk di perburuk semua itu adalah pahlawan ekonomi yang membawa mata uang asing kedalam negri seperti kita lihat di bandara selamat datang yang di bilang pahlawan,,tapi birokrasi yang rumit dan memanfaatkan uang sehingga stempel pun di minta uang sama imigrasi,,jadi yang mesti di benahi yang mana terlebih dahulu...itu menurutku mba anaz..

    BalasHapus
  4. na'udzubillahimindzalik.. semoga indonesia bisa terus memperbaiki diri..

    BalasHapus
  5. Indonesia....tidak begini seharusnya.
    Sebuah judul yang pas menggambarkan dilema para pahlawan devisa.

    BalasHapus
  6. Wah mbak.., merinding aku...
    Semoga aja masih sempat masuk dan dinilai ya.. Bagus soalnya.

    BalasHapus
  7. Apapun hasilnya tetap berusaha deh mbak... semoga saja usahanya gak sia2..
    Dan semoga saja tulisan ini bisa menang.. :D

    BalasHapus
  8. Masyaallah...begitu nistanya perbuatan mereka mba...

    * Maaf ya mba baru mampir lagi...

    BalasHapus
  9. miris melihat sodara kita diperlakukan tidak semena2 oleh orang lain

    BalasHapus
  10. akhirnya ikutan juga ya neng.. bagus tulisannya

    BalasHapus
  11. masalah sejati antara majikan dan pembantu...

    ya serba salah juga, tidaj ada kontrak khusus dan detail mengenai kerja disana.

    lagi pula, tau sendiri lah siapa "musuhnya" indonesia...

    BalasHapus
  12. miris mba'..
    masuk secara ilegal apapun alasannya memang salah..
    tp perlakuan atas salah itu jg harus memperhatikan HAM juga kan..

    BalasHapus
  13. Sedih dan geram setiap mendengar kisah pilu para TKI kita di luar negeri. Semoga Indonesia (dan warganya) kelak akan mampu melindungi warganya (dan dirinya sendiri) dimanapun mereka berada.

    Semoga berhasil kontesnya, Na.

    BalasHapus
  14. Ayo gabung di Indonesia TOP http://indonesia.gotop100.com

    BalasHapus
  15. geram banget....sebenarnya TKI kita ni ya mbak kurang mendapat perhatian ni dari pemerintah....gerem banget,,,mentang-mentang ilegal..masak di kasih pil anjing gila..udah banyak yang gila gara-gara pergi ke negeri sebrang secara ilegal....meris banget...apalagi beberapa bulan yang lalu pas saya ke kepri...banyak TKI juga yang dideportasi ke selat panjang...kasian banget....

    BalasHapus
  16. Indonesia memang tidak seharusnya begini
    Namun tiada kuasa yang penguasa memberi
    Muak geram marah itulah mungkin kata hati para TKI
    Siapa sangka negeri lupa dana besar devisa untuk RI


    geraaaaaammmmmm.....

    BalasHapus
  17. Ya Allaaaaah miris banget bacanya... Untung mbak dapet majikan yang baik yah... orang yang baik emang bakal dikasih yang terbaik dari Allah.. :))

    Semoga nggak ada lagi tindakan semena-mena buat warga kita yang ada di sana yah..

    BalasHapus
  18. Ngeri aku mbak
    gamabrnya bikin miriss aja

    mbak, aku nekat ikutin lomba, karena menurtku bagus bwt dishare
    sebenrnya artikel yang memang mo dilombakan yang ini
    tapi karena waktu itu kan aku masih ujian semesteran jadi tertunda
    sebelumnya temen2 dah ngevote yang blogger kebanggan jadinya itu duluan yang masuk

    serius lho mbak, itung2 intermezzo gitu. Mosok jurinya baca cerita yang mengharu biru begitu terus?
    kalo bete gimana? trus pusing kepalanya gimana?
    harus ada yang menghibur kan?

    biar ngakak, makanya nyelip satu artikel yang elegant itu
    hehehe

    BalasHapus
  19. Assalamualaikum neng Anaz..
    uffh *tarik nafas sebelum jari2 ini bicara*

    diriku ini gak bisa komen kalo ngeliat yang beginian, sebab saya ini adalah termasuk dari mereka yang pernah mengadu nasib mengais rejeki di negeri kerajaan itu.

    maaf neng, met malem aja dan teruskan perjuanganmu, semoga Allah melindungi. Amin

    BalasHapus
  20. Ya, permasalahan tkw memang membuat miris dan dilematis. Saya berharap kita segera memiliki langkah penyelesaian yang baik dari keruwetan masalah soal tki dan tkw ini. Selamat pagi Anazkia.

    BalasHapus
  21. saia menyimak sajalah...

    saia gag bisa lihat manusia, apalagi perempuan, diperlakukan sadis kek gitu :'(

    BalasHapus
  22. sungguh membaca artikel anda membuat saya sedih bercampur marah,knp?...
    karena sebagai warga negara indonesia saya marah ketika saudara saya yang berniat bekerja disana demi menghidupi keluarganya malah dianiaya seperti itu,apakah salah mereka?..
    apa karena mereka bukan dari golongan atau negara mereka?..dan yang lebih parahnya lagi pemerintah seakan-akan tuli dan pura-pura bisu terhadap masalah ini...semoga allah swt yang akan membalas perlakuan mereka..

    BalasHapus
  23. nah tuh dia
    kadang membuatku malu banget
    ketika malaysia mengusir TKI ilegal.

    duuuh, kenapa sih gak masuk melalui jalur yang legal?? sampe dideportasi begitu...

    ah Indonesia...menyedihkan nian nasib rakyatmu
    tapi pemerintahnya diam saja

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P