Kupinang Kata, menjadi Cerita (Serial Blogger)

Perahu Kolek ke hilir tanjung
Sarat bermuat tali temali
Salam tersusun sirih junjung
Apa hajat sampai kemari?

Sekerat pantun melayu, yang kukutip dari google hampir satu setengah tahun lalu. Kalau ada yang penasaran, buka aja link ini :) Ku pinang engkau, ku pinta ijinnya. Bukan untuk di jadikan isteri, atau kujadikan suami. Ku pinang namamu, untuk motivasiku belajar mengolah kata dalam imajinasiku. Pada postingan tersebut, banyak teman-teman blogger lama yang berkomentar, dan telah mengizinkan aku untuk meminjam namanya untuk dijadikan serial. Terimakasih sebelumnya... Dan, nama-nama yang aku tulis di sini kiranya tidak akan menuntut kelak *halah*... Siap-siap dibaca aja :)


Kelas Baru


Hari masih pagi. Belum menunjukan pukul tuju. Kelas riuh rendah, masing-masing sibuk dengan kesibukannya. Seperti janji-janji semula sebelum libur bermula. Dan sekarang, adalah hari pertama kami menduduki kelas baru, untuk memamerkan hasil buruan libur yang t'lah berlalu. Belum semua masuk kelas, tapi sibuknya sudah hampir melebihi pasar.

Dilla, membawa sejambang kembang edelweis, hasil berburunya ke gunung saat liburan lalu. Entah kepada siapa bunga itu akan diberikan. Lilipery, dengan segelas pasir putih dengan beberapa kerang-kerangnya. Katanya, ia pasir asli dari Bali. Prof ijo, membawa serenteng walang yang sudah diawetkan, kabarnya, ia membawa walang-walang itu dari daerah asalnya di gunung kidul Jogja. Dengan susah payah, ia telah mengawetkan jasad-jasad walang tersebut, untuk menjadi bukti kalau ia benar-benar telah berburu walang.

Trimatra memamerkan hasil desain kaos terbarunya, juga mempromosikan terselubung dengan cara-cara pemesanannya. Buwel, lelaki paling pendiam sejak kelas dua membawa satu buah buku, buku itu penuh dengan puisi-puisinya. Ah, anak itu, meskipun pendiam, ia caring juga dengan kegilaan-kegilaan teman sekelasnya. Fauzi, terlihat lebih cool. Dengan segala aksesorinya, meskipun terlihat aneh. Gimana enggak, semuanya berubah menjadi hitam, bajunya, dilapisi jaket hitam (padahal hari nggak hujan) gelang hitam, jam tangan hitam, sepatu hitam, topi hitam tapi ia tak merubah kacamatanya menjadi kacamata hitam.

Jonk, membawa sirip-sirip juga tulang ikan yang sudah diawetkan. Menurut riwayat Jonk, itulah hasil perburuan selama liburan bersama adik semata wayangnya. Padahal, ia hanya mancing di belakang rumah Ibunya di Tasik (aku geleng-geleng kepala) Ferdi, membawa beberapa gantungan kunci dari beberapa kota, juga negara. Salah satunya, dari Malaysia. Liburan kemarin, ia habiskan untuk jalan-jalan mengelilingi beberapa kota juga negara di asia. Polar, menggelar beberapa foto hasil jepretannya. Ada jembatan Ampera, jembatan Suramadu, kraton Surakarta juga beberapa kota lainnya.

Itu kelompok lelaki, yang perempuan, apa kurangnya. Di pojok sana, masing-masing membawa hasil dari jalan-jalannya. Inuel, memamerkan beberapa foto-foto di atas pohon. Ia meykinkan teman-temannya, kalau ia masih seperti yang dulu, si pemanjat pohon yang tangguh. Masing-masing mendengar, tanpa menyela sedikitpun. Satu demi satu, bertukar cerita apa yang didapatnya. Fanny, menunjukan oleh-oleh Pyramid yang diperolehinya dari Mesir. Juga menceritakan bagaimana serunya saat ia berada di negerinya Cleopatra tersebut. beralih ke Fanda, di depannya, bertumpuk beberapa buku, hasil hunting liburannya, juga ada catatan kecil tentang buku apa saja yang telah dibaca.

Ucik mengeluarkan hasil perburuan dari rumah saudaranya. Kebetulan, ia berkunjung ke rumah saudaranya saat musim libur sekolah sudah mendekati habis, jadi ia masih dapat membawa buah tangan yang didapatkan, sekantung besar buah salak. Yang lain, sumringah melihat oleh-olehnya. Sejak tadi, tiada siapapun yang membawa makanan. Sambil mengupas salak satu persatu, Lidya mulai berkisah tentang liburannya. Selama liburan, konon ia banyak menghabiskan waktu untuk berburu gadget yang murah. Entah berapa kali, ia bolak-balik Cilegon-Jakarta, hanya untuk membeli model blackberry terbaru. Uh, aneh banget deh...

Irma berganti membuka suara, sebelum tangannya sibuk mengeluarkan satu demi satu foto tentang beberapa restoran yang disinggahinya, juga semangat bercerita, tentang bagaimana rasa enaknya makanan yang ia jamah saat di sana. Semua terkesima, oleh nada ceritanya juga membayangkan lezatnya makanan yang diceritakan... Irma tersenyum manis, tangannya meraih tas yang diletakan di atas mejanya. Perlahan, Irma membuka tas tersebut dan mengeluarkan isinya. Semua geng perempuan yang ada di situ berteriak histeris, para pria membalik badan, bertanya apa gerangan yang membuat mereka sehisteris itu. Kontan mereka menyerbu meja perempuan dan kompak bersuara,

"Maaauuuuuuu...."

Irma, membawa sebuah kek baru bertuliskan, kelas "3 bahasa, SMU Graha Sastra" keren banget deh. Aku melirik sekilas, tapi masih enggan mendekati, kerjaku belum siap. fiuhhh, padahal dalam hati takut nggak kebagian juga. Hadeuh...

Yang surprise banget, itu Ratu. Ajaib banget tuh anak. Kali ini, dia memamerkan botol-botol make-up, bukan untuk pamer, tapi dia sekarang ikutan bisnis jual beli kosmetik. Dan tahu kan kalau githu, yah dia sekaligus untuk promosi. Hmmm... Emang pada pinter-pinter anak-anak sekelas ini. Ateh, terlihat ayem di antara teman-teman sekelasnya. Giliran ia bercerita, dengan suara lembutnya, ia mengisahkan bahwa selama liburan Ateh banyak menghabiskan waktunya di pesantren ayahnya. Hanya segitu ceritanya, tak lebih.

Dan, lihatlah Heny... Ada yang berubah. Ia kini memakai jilbab. Ia terlihat lebih cantik (meskipun pada dasarnya ia memang sudah cantik. Heny tak banyak berkisah tentang perubahannya memakai jilbab. Samar-samar, aku mendengar Heny hanya bercerita tentang liburannya untuk mencari jilbab juga baju-baju panjang. Elly, membawa sejambak ilalang. Ia kering, beserta bunganya. Ah, Elly memang perempuan unik di kelasku, itulah menurutku. perempuan bias kata, dengan kalimat bias bersayapnya. Elly, menggemari membuat puisi, ah, aku iri.

Reny mengeluarkan bungkusan dari plastik, beberapa barang recycle yang telah disulapnya menjadi pernak-pernik cantik. Reny, memang rajin. Ia mampu mengubah apa saja yang telah menajdi sampah menjadi barang yang berguna. Nita, ia tak kalah rajin dengan teman-teman lainnya. Ternyata, Nita tak jauh beda dengan Ferdi, ia mengunjungi beberapa negara, Thailand, Philipina, juga Malaysia. Konon, ia males pergi ke Sinagpura, entah kenapa...

Tengah asyik mendengar segala obrolan mereka, tiba-tiba pintu kelas kami digedor kuat-kuat dari luar, "Assalamu'alaikummmm!!" Atta, muncul dengan penampilan barunya, yang nggak baru-baru amat. Hanya memperbarui beberapa aksesoris di seluruh badannya. Kali ini, ia telah berhasil menghijaukan otak kami, gimana enggak, di depan sana, Atta berdiri dengan segala atribut hijaunya, hampir mirip seperti aksesoris yang dipakai Fauzi. Bedanya, fauzi mengenakan warna hitam dan Atta, menggunakan warna hijau. "Green Your Mind" itulah yang selalu didengung-dengungkan oleh Atta.

"Waalikumussalam...." Spontan teman-teman sekelas menjawab. Atta tersenyum... ia memamerkan beebrapa gelang-gelang hijau baru buatannya. Satu persatu, ia membagikan kepada teman-temannya. Setibanya di bangkuku, Atta menegurku...

"Eh, Naz, mana oleh-olehmu? Yang lain dah tunjuk semua, tinggal kamu doank." Aku nyengir... hendak menyembunyikan yang ada di tangan, tapi terlambat, toh Atta sudah melihatnya.

"Aku cuma buat ini." Aku mengangkat tinggi-tinggi celemek yang baru selesai (sedikit lagi) aku hias bagian depannya dengan sulaman.

"Eh, Naz, itu sulamannya kamu kasih gambar apa?" Elly mendekat. Aku nyengir kuda...
"Owh ini... Kucing sama ikan."
"jadi cuma ini hasil liburanmu? Emang kamu nggak ke mana-mana?" Kini bukan hanya Elly yang mendekat, tapi juga beberapa teman lainnya. Mereka membelek-belek hasil jahitanku.

"Yah abis aku cuma di rumah aja, nggak ke mana-mana." Aku mulai manyun...

"Lah, majikanmu apa enggak ngajak kamu jalan-jalan?"

"Yah ngajak sih... Tapi, kan aku harus jaga rumah."

"Ya elah, itu sih bukan ngajak namanya." Hadeuh, susah deh kalau dah gini. Hmmm... Ngomong-ngomong dari tadi kok kayak ada yang kurang yah...???

"Eh, teman-teman, dari tadi kok kita nggak lihat Catur sama si Itik yah? ke mana tuh dua orang anak?" Aku mengalihkan pembicaraan.

"Iya, ke mana tuh dua anak? Nggak mungkin mereka belum pulang liburan. "Atta menimpali

"Lah, emang mereka rencananya ke mana?"

"Kalau si Itik sih mau pulang ke Bali, nah kalau Catur katanya juga mau keliling jawa." Mereka saling menimpali. Tiba-tiba, Dilla dari luar berteriak keras-keras memanggil kami semua.

"Wooiii... teman-temann... Lihat sini...!!!"

Kontan kami semua keluar kelas. Bukan hanya kami yang keluar dari kelas, tapi juga kelas-kelas lainnya. Di gerbang sekolah sana, nampak dua orang yang sepertinya kami kenal. Tak cuma aku yang mengucek-ngucek mata, hampir beberapa teman pun mengucek-ngucek matanya, Reny, sampai melepas kacamatanya dan memakainya kembali...

Ramai-ramai, kita menuju gerbang sekolah. Sementara, dua orang yang kami sangka mengenalnya, memang betul-betul kami mengenalinya, mereka, Itik Bali dan Catur. Itik tersenyum manis, khas senyumnya yang tanpa kumis. Sementara, Catur tersenyum miris. Ia mengelap muka, dagu juga leher dengan ke dua tangannya. Keringat membanjiri tubuh anak itu. Kasihan... Ineul mendekat, memberikan saputangannya. Tanpa diminta. Catur menerima saputangan Ineul. Ia duduk, termenung. Tanpa diminta, kami langsung mengintrogasi masing-masing apa sebenarnya yang terjadi...???

"Jadi, apa maksud loe, Tik? Loe nggak kasihan apa ama si Catur?" Ratu bertanya spontan kepada Itik.

"yah... kasihan sih kasihan. Tapi, janji kan tetap janji. Orang Dia sendiri kok yang janji dan mau menepati." Itik melirik Catur yang masih ngos-ngosan...
"Elo, Tur, lagian mau-mauan aja. Lagian, loe janji apa sih? Sampe kalah begini sama si Itik?" Ratu penasaran. Kami hanya mendengar saja pembicaraan mereka, meskipun sesekali disela oleh kami.

"Aku nggak apa-apa kok. Lagian, ini konsekuensiku, aku dah janji sama si Itik, dan kalian juga saksi atas janji itu." Catur tersenyum dengan sisa-sisa lelahnya.

"Janji apaan...???" Kami terlupa dengan janji yang dibuatnya dengan Itik.
"Alaaahhh.. itu lho, janji Catur yang bakalan menyebrang sampai ke pulau Bali dan Madura. Kan dulu, dia janji kalau nggak sampai ke Bali, nggak mampir ke kampungku, dia bakalan rela mendorong becak dari rumahku ke sekolah. Dan dia, cuma sampe Surabaya perjalanannya" Itik nyengir mengingatkan kami

"Ya ampunnn... Jadi....??? Si Catur nggak sampai ke Bali? terus? Dia ngegoes becak dari rumahmu ke sekolah ini...???" Atta melongo mendengar jawaban Itik, tak juga Atta, kami juga semua ternganga...

Sementara, Catur masih membeku dengan lelahnya. Tapi, ia tersenyum, masih senyum dengan sisa-sisa lelahnya.

47 komentar:

  1. Ha..ha...nanti tak tuntut si Catur aja..
    dasar tukang becak ngga konsekwen, janji ke Bali tapi cuma sampai ujungnya aja..

    BalasHapus
  2. Wekekekeke... kayaknya aku dah nggak wars nih hahahahaha....

    BalasHapus
  3. cerita awal sekolah yang seru banget sob,klo di ketik naskah bisa tiga lembar lebih nich

    BalasHapus
  4. xixixixi,.....anaaaaaaa, kreatif bgt sih ????
    tp ngomong2 siapa yg bikin tuh kek ya ? :p

    makasih mba ana...sdh diajak untuk seru2n dicerita ini ^^

    terharu namaku ada disini :)

    BalasHapus
  5. @Pulsa elektrik, iyah, ada 4 lembar. Nggak nyadar bisa nulis sebanyak itu hehehe...

    @Mbak Irma, lah kan dah beberapa tahun lalu niat ini. Baru terlaksana :D. Yang bikin keknya tukang ngayal huehehehe...

    BalasHapus
  6. waras ga waras sing penting apik tenan je

    BalasHapus
  7. Wah seru dan rame ya.....
    kalau itu jadi kelas beneran pasti seru dan rame
    tapi nggak apa2 nanti aku ndaftar ngisi session berikutnya

    BalasHapus
  8. hahaa...wah cerita yang asik...^__^

    BalasHapus
  9. seru..... ceritanya dilanjutin mbak, sampe ada yg nikah *dikeplak*

    BalasHapus
  10. salam sobat
    cerita menarik mba,
    foto kelas barunya ,sahabat blogger ,
    keren banget

    BalasHapus
  11. hehehe..tau bener mbak kalo selama liburan henny hunting jilbab dan gamis :D
    seru ceritanya, lengkap dengan ke-khas-an masing-masing blogger :)

    BalasHapus
  12. bgusnya... menggugah saya dalam ingatan, saya juga ingin bisa menulis hehe

    BalasHapus
  13. hahahaha.... jadi itik sama catur dapet apa :))..

    ah aku dah gak suka manjat kok :)), keren Oey..!

    BalasHapus
  14. he he he..kreatif...Good...ceritanya kita masih abg semua nih. hahhaa

    BalasHapus
  15. rupanya ini hasil kamu ngilang dari blog ya...hasil semedi.

    BalasHapus
  16. Wah ceritanya keren.. suka banget.. :)

    BalasHapus
  17. Rame bener kelasnya..! asyeeekkk...! :)

    BalasHapus
  18. masih dalam keadaan bingung dan linglung, apa yang sebenarnya terjadi di kelas ini mbak Anaz? Lama tak silaturahmi, rasanya seperti dunia berputar terlalu cepat, meninggalkanku terdiam di tempat. ataukah dunia telah mundur, sehingga menjadikanku seolah sudah uzur?

    Cerita yang menarik mbak!

    BalasHapus
  19. Hehehe...tahu aja kalo aku pendiem.

    Makasih banyak ya mba Anaz, aku diikut sertakan di cerita ini. Salam kangen slalu dariku..

    BalasHapus
  20. Wow, heboh pasti ya kalau kita sekelas beneran. Bisa ribut dan rame melulu. Pasti pak gurunya bingung, hehe.

    BalasHapus
  21. Penasaran banget dengan cerita selanjutnya, mantaps.. Lanjut mbak

    BalasHapus
  22. aku jadi kangen om Polar deh... apa kabarnya ya dia??

    BalasHapus
  23. ngebayangin semua jadi abg hehehehe...
    seruuu!!!
    *_*

    BalasHapus
  24. haiahhhh ... jadi pingin kopdar benerann T_T

    BalasHapus
  25. wow,mantabs ya ka..
    oya,lamz knal ya ka..
    makasih.

    BalasHapus
  26. Setuju ma mbak Elly, pasti gurunya bingung kalo sekelas muridnya antik2 kayak gini. Ngomong2, gurunya siapa yaa??

    BalasHapus
  27. izin koment lagi ya ka...

    BTW seru juga ya ka..
    hhe hhe.

    BalasHapus
  28. cerita awal sekolah yang seru banget tug sip....

    BalasHapus
  29. byuh jadi pingin ada didalam cerita itu, kayaknya seru..

    BalasHapus
  30. He..he.. jadi ingt masa2 skolah dulu... dlanjutin dunk critanya...

    BalasHapus
  31. Kok aku nDak ada di dalem serial ini ya...? Huhuhuhuhu...

    BalasHapus
  32. Lho... kok komenku gak masuk ya..? Padahal selasa kemarin aku udah komen disini lho...?
    Ternyata sekalinya nyoba komen pakai HP malah gak masuk. Ceritanya aku gak bisa buka blog ini pakai kompie kantor, so aku coba pakai HP, karena ingin buru2 komen disini.
    Udah nulis komen panjang banget... eh tahunya gak masuk to? :((
    Duh, lupa deh kemarin komen yg aku tulis apa ya? *mikir.com*

    BalasHapus
  33. Wah, kelasnya ramai banget ya? Kok belum semua disebutkan mbak? Spt mbak Dwina, mbak Ayusnita, mbak Ajeng, mbak Tisti... dan masih banyak lagi.
    Kalau ditulis semua... kelasnya bener2 riuh ya?

    BTW ceritanya seru lho mbak... :)

    BalasHapus
  34. waa..emang nita pernah bilang benci ma singapore? kayaknya nggak deh, rahasia kebencian nita ma singapore kayaknya cuma nita simpan dihati. kok ana tau sih?

    BalasHapus
  35. Baca komennya mbak renny jadi mikir nita yang diatas sapa ya? *bingung

    BalasHapus
  36. sama bingung juga..
    ternyata bukan saya aja yang bingung..

    BalasHapus
  37. waduh catur, yanuar rastafara ya.. hahaha

    BalasHapus
  38. Mbak kok ceritanya belum dilanjutin sih? Nunggu nih... ^_^

    @M.Nieta > salah tulis di komen mbak. Aku pengennya nulis mbak Yusnita... tapi yg terketik Ayusnita... hehehe

    BalasHapus
  39. nyari oleh-oleh aja aaaahhh...
    heheheheee biar ada timpalannya buat ngupi nih..
    twweewww

    BalasHapus
  40. makanya aku malu kalo kolab ama Mba anaz karna mab anaz seorang penulis...aku kan gak PEDE hihihhi

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P