Rp. 300

"Nak, tolong pinjam jagung ke rumah Mbok Tua Sayu. Beras kita sudah habis."
Suatu sore, neneknya menyuruh ia meminjam jagung. bersama dengan sang Kakak, ia berjalan beriringan, menuju rumah Mbok Tua Sayu. Sesampainya di rumah Mbok Tua Sayu, sang Kakak menuyuruhnya membuka kalimat, untuk meminjam jagung. Ia manut, karena ia tahu, Kakaknya lebih pendiam.
Mereka pulang dengan segembolan jagung di gendongan. Bergantian, mereka membawanya ke rumah. Jarak rumah Mbok Tua Sayu dengan rumah neneknya lumayan jauh. Sore itu, ia menunggu makan malam dengan menu utama, nasi jagung. Ia menanti, budenya menumbuk jagung, sampai menjadi tepung, kemudian menanaknya.
Harga beras saat itu, seliternya sekitar Rp.300. Ia tak selalu makan nasi beras. Terkadang, ketika bosan dengan nasi jagung, memakan nasi beras adalah sebuah makanan yang sangat istimewa. Atau sesekali, ketika hanya ada beras sedikit, budenya akan mencampur beras dengan jagung, maka jadilah ia menyantap sega bronjol (Nasi beras dengan campuran jagung).
Sesekali, ia juga disuruh untuk membawa seliter jagung ke penjual gorengan. Dengan menggunakan sistem barter, ia menukar seliter jagung dengan beberapa keping gorengan tempe yang masih mengepul dibungkus daun pisang. Uapnya, kadang membuat ia tak tahan untuk mencicipinya, dan mencuil sedikit demi sedikit pecahan tepungnya. Ia sangat gembira, ketika penjual gorengan sering menghadiahkan sekeping gorengan untuk tambahan.
Ia mempunyai teman, rumahnya berdekatan. Sang teman, kebetulan belajar di sebuah pesantren. Kadang ia diminta mengantarkan teman tersebut ke pesantren, yang tempatnya agak jauh dari kampungnya. Dengan menaiki angkutan umum sekali, dari situ ia harus berjalan kaki. Selama berjalan, ia harus melewati sebuah taman pariwisata, pemandian.
Ia sering mendengar, di dalam situ ada sebuah kolam renang. Pikirannya berkelana. Ia tak pernah melihat sebuah kolam renang. Setiap kali melewati tempat tersebut, ia selalu membayangkan bentuk kolam renang. Selama ini, ia hanya berenang di kali, tak pernah sekalipun dirinya melihat ujud dari kolam renang itu sendiri, selain di buku-buku yang pernah ia lihat.
Setiap mengantar temannya, selalu jatuh pada hari minggu. Di hari minggu itulah, hiruk pikuk keramaian kolam renang selalu terdengar. Gelak tawa, juga kecipak air terdengar begitu indah di telinganya. Ia semakin penasaran. Mengintip di celah-celah pagar, hanya sedikit saja yang mampu ia lihat, mereka, anak-anak kecil seusianya sedang berbahagia dengan keluarganya menghabiskan akhir pekan.
Tapi dia tahu diri. Tak mungkin meminta uang Rp.300 kepada neneknya, kalau hanya untuk mandi di kolam renang tersebut. Ia tahu, kadang untuk membeli beraspun, neneknya tidak cukup uang. Ia pendam saja keinginannya, untuk masuk dan melihat kolam renang yang sering diintainya. Ia malah sering mendengar cerita, dari teman-temannya yang sudah pernah masuk ke sana.
*****
"Mbak Ana, ayo pulang bareng?"
"Gak mau ah. Pulang duluan aja."
"Udah sih, pulang bareng aja."
"Yeee... Aku nggak mau. Udah gih sono, pulang duluan."
"Bener nih? Nggak pake nyasar yah?"
Ternyata, ini kolamnya yang dulu bikin aku penasaran setengah idup
Semprul. Mentang-mentang jarang pulang ke kampung halaman, aku sering diledekin nyasar. Padahal, aku tuh yah masih inget jelas seluk beluk jalan di kampung. Setelah sepupuku beredar dengan motornya, aku berjalan menyusuri pasar Moga, terus menuju ke utara. Aku menuju tempat yang dulu sering kuintai. Yah, sejak lama aku memendam keinginan untuk masuk ke sana...
Ternyata, masuk ke sana tak lagi membayar Rp.300. Tapi, kini menjadi Rp.5000. Aku merogoh tas karung goni pemberian Mbak Reny, mengeluarkan uang selembaran lima ribu, memberikannya kepada penjaga loket. kemudian, masuk ke dalamnya. Sunyi... tak ada keriangan ataupun canda seperti yang kudengar beberapa puluhan tahun lalu. Hanya ada beberapa orang. Ini bukan hari libur, mungkin ini yang mengakibatkan tidak banyak orang yang berkunjung.
Tak banyak yang kulakukan, hanya mengambil beberapa gambar. Sadar tak sadar, aku mengeluarkan air mata, ketika mengarahkan kamera ke berbagai objek. Ada yang mengusik hati kecilku. Dulu, dulu sekali betapa inginnya aku masuk ke tempat itu, tapi setelah aku masuk ke dalamnya, ternyata ia biasa-biasa saja. Bahkan, aku sudah berkunjung ke tempat-tempat yang lebih bagus dari itu.
Ah, Allah ternyata memberikan lebih, dari apa yang aku mau. Hanya saja, aku tidak menyadarinya. Aku buru-buru keluar dari dalam kolam renang, menyusut air mata yang menggenang...
Adakalanya, kita perlu berdamai dengan masa lalu. Masa lalu, waktu yang paling jauh yang tak akan mampu kembali kutemu. Tapi, aku tak harus melupakan masa lalu, karena masa lalulah, yang telah membentukku.

4 komentar:

  1. hampir setiap manusia belajar dari masa lalu, baik dan buruknya.
    mbak anaz kayaknya beneran sibuk sama blog satunya nih, yang ini jarang bener diupdate

    BalasHapus
  2. ga tau kenapa jadi sedih baca postingan ini.. :(
    yah masa lalu, masa lalu, dan masa lalu. Berdamai dengannya, khususnya untuk sesuatu yg tidak mengenakkan, sangatlah susah.
    Susah, bukan berarti tidak bisa, karena kita dibentuk bukan untuk terlalu gampang menyerah.. kita adalah pembelajar.. ^^

    BalasHapus
  3. Wah ceritane nostalgia ya mba :)
    menyentuh banget dan aku bisa ikut merasakan,smangat ya mba.. tapi nasi jagung juga enak lho mba.

    BalasHapus
  4. Benar2 kisah yg menyadarkanku atas kesombongan dan kelalaianku mensyukuri nikmat yang ada.

    Aku terkadang lupa akan masa laluku yang tak seindah saat ini.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P