[FF] Merepih Awan

Aku beku oleh perasaanku. Sayu semakin memenjara ruang hati dan jiwaku. Dingin dan lapar semakin membuatku lemas tak bergerak. Entah sudah berapa jam aku dikurungnya. Aku terduduk lesu. Airmata tanpa permisi mengalir, menjadi teman setiaku saat aku berduka. Aku memegang kepala, begitu kuat dia menarik rambutku, juga mendorong keras kepalaku. “Ya Allah, kenapa Aku di beri cobaan yang sangat berat?. Apa salahku Ya Allah…???.” Mengusik nasib yang sedang ku lalui, kadang aku tak mampu berpikir normal, selalu menanyakan keadilan Tuhan. Padahal, aku pun sering tidak adil dengan Sang Pemilik alam.

Ibu, adakah engkau sedang mendoakanku sekarang...???

***

“Nak, tidak mudah kerja dengan orang. Apa kamu sanggup…?.”

“Marni khan selalu bantu Ibu. Nanti lebih mudah kerja di sana.”

“Kerja dengan orang itu lain, Nak. Kamu ada peraturan. Apa Marni bisa?.”

“Insya Allah sanggup, Bu… Ini untuk kebaikan kita juga Bu. Ibu jangan lupa doakan Marni, biar selamat di Malaysia.”

“Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk Marni. Tapi, Ibu keberatan jika Marni harus ke Malaysia.”

“Ibu, percayalah pada Marni. Marni sudah besar.”

“Ibu tahu Nak, Marni sudah besar. Besar saja tidak cukup untuk bekerja dengan orang. Kita juga harus berjiwa besar. Bolehkah marni tunda keinginan Marni?.”

***

Air mataku kembali menderas. Berjiwa besar. Yah Aku harus berjiwa besar, seperti nasihat ibu. Teringat lagi kata-kata ibu, semakin membuat jiwaku diruntun lara. Kalaulah dulu aku tidak memaksa ibu, tentunya, ibu tak akan memberikan izin aku kerja di Malaysia.

Aku menggeser tempat duduk. Merapatkan kedua tangan dan kakiku yang terasa semakin membeku, aku menggigil lapar semakin memanggil. Sudah kuminum air mentah sejak tadi, tapi ia tak sekalipun mengenyangkanku. "Bu, aku merindukanmu." mendadak aku meracau tak jelas. Perasaanku semakin membias.

***

“Ibu, apakah awan itu jauh?”

“Jauh, Nak. Kenapa?.”

“Saya ingin memegang awan, Bu?.”

“Awan tak bisa di sentuh, Nak.”

“Kenapa, Bu?.”

“Karena ia hanya uap air yang meluap menjadi titik-titik air maka terbentuklah awan.”

“Betulkah, Ibu?.”

“Betul, Nak.”

“Kalau gitu, Marni mau melihat awan lebih dekat.”

“Gimana caranya Nak, awan khan tinggi?.”

“Marni ingin naik pesawat, Bu…”

Dialog ketika aku kecil, ketika aku ingin sekali memegang dan melihat awan. “Ibu, impianku telah tercapai. Aku telah berhasil melihat awan lebih dekat. Aku naik pesawat, Bu." Aku semakin tak tentu, meracau memanggil ibuku, juga mengingati masa laluku. Kenangan itu semakin jauh dan menjauh...

***

Ratri duduk di lobi hotel, menunggu seorang teman yang berjanji akan bertemu di lobi pagi itu. Sudah tiga hari, ia berada di Malaysia karena ada urusan kerja. Iseng, ia meraih surat kabar yang tergeletak di atas meja. Agak susah memahami bahasa Malaysia. Tapi ia masih paham. Dan terpaku pada sebuah berita

"Seorang pembantu rumah ditemukan meninggal di dalam bilik air. Diduga didera oleh majikannya."

Ratri tercekat, ia teringat Mak Ijah, seorang buruh cuci baju di dekat rumahnya yang mempunyai anak gadis semata wayang yang bekerja di Malaysia, Marni namanya.

17 komentar:

  1. Mbak, begitu banyakkah yang mengalami ini? Sedih sekali ya? apa sebenarnya yang membuat Malaysia begitu "terkenal" dengan kekejaman pada TKW?

    BalasHapus
  2. apakah ART yg disurat kabar itu marni?

    BalasHapus
  3. @Mbak Lidya, ini fiksi, Mbak..

    @Mbak Novi, fiksi, Mbak.

    BalasHapus
  4. good luck ya mba anaz..moga menang :)

    BalasHapus
  5. ya ALLAH.... :(
    btw ini kayaknya termaksud cerpen mbak, kalau flashfiction masih kepanjangan

    BalasHapus
  6. atau memang begini ya FF hehe tau ah :P

    BalasHapus
  7. meskipun cuma fiksi, sepertinya memang banyak yang seperti itu, mudah-mudahan TKI bisa bernasib lebih baik

    BalasHapus
  8. aduh ternyata fiksi ya,,
    tapi alurnya dpet banget seperti kejadian marni sang TKW korban dari indonesia itu,,
    salam kenal mbk,,
    sukses selalu untuk mbk,,
    (^_^)

    BalasHapus
  9. Saya tidak dapat berkomentar, sebenarnya..aku begitu asyik membacanya sampai lupa mau berkomentar apa, mbak. Salam. Maaf, aku mengembara ke kota-kota yang jauh sehingga lama baru menyambangi blogmu, mbak. Salam.

    BalasHapus
  10. cerita penuh misteri dan teori ketika ku membaca tiap coretan di blogmu membuat hatiku tersentuh menerbangkan sebuah keindahan kata dan makna penuh tanda tanya, sukses selalu,saya sangat suka dengan cerita yang hampir sama seperti penulis cerpen kelas dunia....sungguh indahnya bahasa tak dapat terdalam dalam setiap tetesan airmata....... lanjutkan sahabat....ceritamu belum selesai

    BalasHapus
  11. heran. permasalahan yang terus berulang pun pemerintah abai. dan lebih anehnya, masih ada yang memilih pemimpin yang sama. pada gak sadar apa ya?

    BalasHapus
  12. BTW, ikut antologi bloggernya pak dirman, gak?

    BalasHapus
  13. Kenapa cerita tentang kesedihan mBak, saya yakin di sana juga ada kebahagiaan, keberhasilan, kesempatan dan kemudahan. Semakin sering kita membahas masalah penyiksaan dan penderitaan, semakin merugikan saudara-saudara kita yang berjuang di sana. Ini hukum alam, Hukum III Newton, "Aksi = - Reaksi"

    BalasHapus
  14. apakah benar, manusia selalu tidak mampu melawan ketidakadilan??tolonglah mbk,..yakinkan kami dg sebuah pengalaman hebat di negeri seberang..bahwa TKW mampu melawan kenistaan dan mampu memperbaiki hidupnya...jelaskan kpd kami siapakah yg patut disalhkan atas semua kisah sedih yg sering dialami oleh para TKW??mgkn sebuah cerita2 darimu bs mewakilinya..

    BalasHapus
  15. Ternyata hanya fiksi saja ya mbk, semoga saja tidak terjadi pada TKI lainnnya yang ada di malaysia, karena di berita-berita begitu banyak sekali TKI di malaysia yang bernasib buruk, moga nasibnya semakin baik.. amin... salam kenal ya mbk?

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P