Keuntungan Menulis di Blog

Awal mula menulis di blog dulu, saya nggak pernah terpikir kalau tulisan-tulisan duduls saya akan dibaca orang lain. Hanya orang-orang terdekat saja. Lantas ketika mengenali blogwalking dan mengenali teman-teman di dunia maya, baru deh tahu keuntungan-keuntungan ngeblog. Maraknya dunia bloging dan berita portal, membuka mata saya untuk lebih berhati-hati ketika membaca sebuah berita. Tidak harus asal percaya dan hu'uh saja saat baru membacanya. Ada kalanya, kita butuh croscek tentang kebenaran berita tersebut. Dan beberapa bulan lalu, saya sempat emosional ketika membaca sebuah berita portal di detik.com, “Marzuki Alie: TKW PRT Buat Citra Indonesia Buruk “ meskipun ada kebenarannya, tapi saya meradang. Dan membuat postingan khusus di kompasiana, Surat Untuk Pak Marzuki Alie


Pak Marzuki, perkenalkan, saya seorang TKW, atau tepatnya PRT di negara tetangga, Malaysia :) Membaca tulisan di detik.com dengan judul, “Marzuki Alie: TKW PRT Buat Citra Indonesia Buruk “ membuat saya tersenyum. Antara seneng dan sedikit tersinggung. Senengnya, Pak Marzuki Alie ternyata begitu peka memahami masalah ini. Sedikit tersinggungnya, yah karena saya profesinya pembantu rumah tangga, jadi kesannya saya juga sudah merusak citra bangsa Indonesia di mata dunia. Karena kebetulan saya juga TKW. Apa yang diungkapkan oleh Pak Marzuki Alie, ada yang saya betulkan. Ya, memang banyak para TKW (khususnya yang PRT) begitu rendah kualitasnya, begitu kurang ilmu pengetahuannya. Tapi, cara bapak menyampaikan sungguh sangat kurang berkenan ketika saya membacanya. Bapak seolah-olah begitu memojokan kami, para TKW yang berprofesi sebagai PRT. Alangkah lebih indahnya, ketika kalimat-kalimat seperti itu disampaikan dengan lebih santun dan bijak. Di mana tidak begitu merendahkan kami, para PRT. Saya nggak marah, Pak, beneran. Saya juga merasakan hal itu kok. Pernah, suatu hari ketika saya baru mendarat di bandara LCCT-Sepang, beberapa wanita setengah baya dan beberapa tahun lebih tua dari saya mendekati saya. Mereka meminta mengisikan formulir kedatangan, karena mereka, tak pandai tulis dan baca. Jadi, bukankah itu salah satu label keterbelakangan kami, Pak? Jadi saya nggak marah dengan kalimat bapak. Hanya saja, saya kembali berpikir, dengan kalimat yang ditulis di sebuah media online tersebut, ini kalimatnya, Pak “Ada yang tidak bisa membedakan cairan setrika. Akhirnya menggosok baju seenaknya. Makanya majikannya marah. Wajar saja itu setrika menempel di tubuh pembantu,” kisah Marzuki. Ah, bapak, kenapa menggunakan kalimat seperti itu? Atau hanya media online tersebut yang salah menukil kalimat, bapak? Dalam kalimat tersebut, seolah menghalalkan penganiayaan para PRT oleh majikannya karena ketidak tahuan PRT. Apapun bentuknya, sebuah kesalahan dan ketidak tahuan PRT tak menjadi alasan untuk menghalalkan penyiksaan kepada PRT. Ada lho, Pak, yang PRT baik, tapi tetep kena siksa, dera aniaya juga perkosa. Beberapa tahun lalu, Saya pernah menulis sebuah postingan di blog, dengan judul, “Rendahnya Kualitas Pembantu Indonesia di Malaysia” (saya juga kembali posting di kompasiana, silakan klik linknya kalau bapak berkenan). Saya mendapat komentar dari salah seorang mahasiswa di Jakarta, “kalau saya kira kaitan antara kekerasan terhadap TKW di sana itu bukan karena kualitasnya yang rendah. Toh kalau kualitas rendah mengapa tetap dipakai? kan bisa dikembalikan kepada penyalur dan protes kepada penyalur, bukan dengan cara disiksa. Masalah kualitas dengan masalah kekerasan itu masing-masing memiliki lapaknya sendiri. Kalau kualitas TKW dari Indonesia rendah saya belum bisa berkomentar karena belum ada penelitian objektif tentang itu. Kan 1 atau 3 orang yang memiliki kriteria yang sama belum tentu mewakili sebagai kesimpulan.” Membaca komentar teman saya di blog, ada benarnya juga. Kenapa tidak dikembalikan saja? Kenapa meski ada penganiayaan bertahun-tahun? Cadangan bapak untuk memberhentikan pengiriman PRT ke berbagai negara saya sangat mendukung, Pak. Tapi juga harus ada solusinya. Kalau membicarakan menghentikan saja memang mudah, tapi setelah itu, adakah lapangan kerja untuk kami. Bukankah kami juga (katanya) penghasil devisa negara terbesar pertama? Dengan slogan yang amat menyebalkan buat saya, “Pahlawan Devisa” Jadi, bapak, ini adalah PR kita bersama. PR saya, sebagai salah seorang PRT, yang mengemban tugas diplomat tak resmi atas nama anak bangsa di negara orang, juga PR bagi semua lapisan masyarakat yang berada di Indonesia, baik pemerintah, agen, PJTKI dan calon PRT sendiri. Tak semua PRT di luar negeri membawa citra buruk untuk bangsa, Pak. Mungkin ketika sebelum berangkat kami dibekali dengan segala rupa pengalaman, tentunya, saya sangat berharap tiada lagi tindak kekerasan dari majikan kepada PRTnya. Sekian dan terimakasih Mohon maaf jikalau ada kesalahan kalimat Tertanda, Anazkia, seorang TKW, PRT di Malaysia. NB, owh, ya, saya membaca postingan Om Jay tentang pertemuannya dengan bapak, saya suka kalimat terakhir yang ditulis oleh Om Jay, “Beliau juga meminta agar pernyataannya jangan dituliskan sepotong-sepotong agar tak menimbulkan multi tafsir. Tolong disampaikan secara lengkap dan apa adanya.” Semoga ada konfirmasi dari bapak, tentang tulisan di media online berkenaan. Dan ternyata, tulisan tersebut mendapat respon langsung dari beliau. Karena beliau sendiri mempunyai acount di kompasiana. Mengutip komentar beliau... Mbak2 yang saya muliakan. Sebelum acara, saya sdh menyampaikan, betapa senangnya media mengutip sepotong kalimat hanya untuk membuat suasana menjadi gaduh. Dalam pertemuan tadi siang saya sampaikan firman Tuhan “La Taqrabussholah, wa antum shukoroh” kalau firman tersebut dipotong “La taqrabussholah, artinya jangan kamu sholat, maka ummat islam akan berhenti sholat, tapi jelas itu sangat menyesatkan, namun dengan firman lanjutannya ” Wa antum shukoroh” apabila anda mabuk. Kalau kutipan lengkap, maka perintah Tuhan sangat jelas, Jangan Kamu sholat kalau anda mabuk, itulah kira2 seringnya kejadian yang sering membuat suasana menjadi gaduh. Dalam kaitan diskusi tadi siang, ada pertanyaan tentang TKW, yang seringkali menjadi objek pemerasan dsbnya. Secara runtut saya menjelaskan situasi bangsa ini, dengan besarnya jumlahnya pengangguran dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja. Pengalaman saya setiap kali berkunjung ke LN menghadiri forum2 parlemen dunia, saya sebagai ketua DPR selalu berusaha melakukan diplomasi untuk ikut menyelesaikan masalah yang aktual, terakhir masalah TKW, dengan kejadian penyiksaan TKW di Arab Saudi. Dalam forum Asian Parliamentary Assembly, Delegasi Indonesia berhasil memasukkan dalam salah satu resolusinya untuk memberikan perlindungan kepada Tenaga Kerja Asing, khususnya dalam kaitan Indonesia adalah persoalan TKW di Timur Tengah. Saya menceritakan secara gamblang bagaimana kejadian sebenarnya manakala saya berada di Siriah, saya mengunjungi lokasi penampungan TKW yang bermasalah. Cerita itu tidak ditambah dan dikurangi. Lalu kemudian saya bertemu dengan masyarakat Indonesia yang bekerja di Siriah sebagai Tenaga Profesional. Mereka komplain dan marah, kenapa Indonesia mengizinkan TKW yang bekerja di Timur Tengah sebagai PRT, mereka merasakan dampak perlakuan thd mereka. Itulah cerita yang disampaikan dalam diskusi bulanan kompasianer tadi, shg pada kesimpulan saya menyatakan untuk menghentikan pengiriman TKW yang bekerja sebagai PRT, sedang profesi bidan, perawat silahkan diteruskan. Peserta diskusi, saya pikir bisa melengkapinya, krn terlalu capek setiap kali saya harus meluruskan berita media yang jelas melakukan pelintiran berita. Tulisan Surat Kepada Pak Marzuki Alie telah dimuat di majalah peduli yang terbit di Hongkong. Kali ini saya copas di blogspot, untuk Tribun Pekanbaru, semoga dimuat.

12 komentar:

  1. amin... semoga dimuat ya, mbak...
    keuntungan ngeblog emg banyak... yang paling aku suka itu banyak nambah teman... :)

    BalasHapus
  2. see? betapa kuatnya pengaruh sebuah blog dan tulisan dalam penyampaian ide, pemikiran, kritik, dll.
    sebagai "peringatan" juga buat para petinggi negeri bahwa masyarakat sekarang punya kekuatan menyanggah melalui sosmed, salah satunya blog.

    BalasHapus
  3. dari iseng jadi terkenal ya mbak :)

    BalasHapus
  4. Menilai secara proposrsional dan objektif, terjadang memang butuh kebijaksanaan, apalagi telah menduduki posisi di ranah publik.

    Tetap semangat ya naz :)

    BalasHapus
  5. ngeblog itu gitu mbak...
    saat kita belum kenal begitu dekat dengan si blog ini, kita sama sekali belum merasakan manfaatnya.
    tapi setelah kita tahu...sungguh luar biasa manfaatnya.

    BalasHapus
  6. sepertinya isi kepala keluar semua,saya sendiri paling takut liat berita penyiksaan TKW, ngeri kalau saya atau keluarga yg mengalami, sabar ya mba...semoga nasib TKW lebih baik, banyak juga kok yg sukses.

    BalasHapus
  7. Good job Naz...
    salah satu ngeblog ya itu, smoga aspirasi kita didengar sama mereka, tapi sbnrnya bapak yg terhormat itu memang ngomongnya suka sembaranagn sih...kadang2 bete jg dgrnya hehe...

    Anaazz...I'm back hehe smoga gk males bw niy ke tmn2 smuanya...kangeeennn

    BalasHapus
  8. Nah, itu salah satu alasan mengapa mbak mau belajar ngeblog, meski sampai saat ini masih tersendat sendat. Sukses ya Naz...

    BalasHapus
  9. Hanya kepada Yang Maha Pencipta, Penguasa jagad raya ini yang benar2 melindungi nasib TKW.

    Jika berharap terlalu besar pada pejabat negeri ini, khawatir menemukan banyak kekecewaan...

    BalasHapus
  10. wawww
    salut sama kamu..
    yang menjadikan dunia blogging untuk berekspresi... :) :)
    kamu juga aktif di kompasiana ya,,
    bener-bener luar biasa..
    mungkin profil TKW seperti kamu harus lebih banyak di ekpos...
    kalau kalian juga melek teknologi..pandai menulis,,(*jempoll yaaa

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P